Bos CEO Bucin

Bos CEO Bucin
bagian 4


__ADS_3

"kamu sudah ngomong ke Kaila, Ga" tanya seseorang dari sisi yang lain, Kaila samar-samar mendengar pembicaraan seseorang menegakkan tubuhnya seketika ketika ada yang menyebut nama yang sama dengannya.


"belum, aku belum menemukan waktu yang pas untuk ngobrol dengannya" jawab seseorang yang lain.


Kaila menajamkan pendengarannya, takut jika dia salah mendengar karena suara itu terdengar tidak asing di telinganya.


"ada apa Kai" pandang Pram heran, Kaila menaruh jari telunjuk ke mulutnya, isyarat agar Pram diam dulu. Kaila meraih ponselnya, beranjak pelan mencari sumber suara yang dia kira tidak jauh dari tempat duduknya.


"mau kemana" berdiri Pram tiba-tiba, "kakak disini aja, aku ada urusan bentar" larang Kaila agar Pram tidak mengikutinya, ia berjalan menjauh menuju sumber suara.


Pram hanya menghembuskan nafasnya berat sambil menatap Kaila yang pergi menjauh. "kamu memang harus menyelesaikan masalahmu sendiri cepat atau lambat, Kai" ujar Pram pelan.


Kaila melihat kearah dua orang yang duduk membelakanginya sambil berpegangan tangan. "apa kita berdua yang datang menjelaskan pada Kaila aja, Ga" kata Kalai menatap Arga.


"aku sendiri aja, biar aku yang menjelaskan semuanya. aku nggak mau kamu dan Kaila saling salah paham" geleng Arga mengelus rambut Kalai lembut.


"maka jelaskan lah sekarang, aku akan mendengarkan" kata Kaila tiba-tiba duduk dihadapan mereka berdua dengan tenang.


"apa yang harus aku ketahui" tatap Kaila terlihat biasa saja, Arga dan Kalai terkejut menatap Kaila yang tiba-tiba ada didepan mereka.


"Kai" seru Arga dan Kalai bersamaan, "kenapa" tatap Kaila tersenyum.


"Kai, maafkan aku" sendu Kalai .


"Kai, biar aku saja yang menjelaskan. Kalai tidak bersalah, aku yang bersalah selama ini aku yang tidak berusaha untuk jujur perihal ini kepadamu" tegas Arga. Kaila mengangguk pelan, tidak berkata apa-apa.


"maafkan aku Kai, aku tidak bisa membohongi hatiku, belakangan ini aku merasa tidak lagi mempunyai rasa untukmu dan ketika aku melihat Kalai ada perasaan ingin selalu melindunginya" pandang Arga, Kaila mengangguk.


"aku juga tidak tahu mengapa dan bagaimana, tapi semenjak kamu kuliah jarak antara kita serasa lebar, aku merasa kamu terlalu mandiri dan kadang aku merasa tersisih dari duniamu. buatku itu menyakitkan Kai" kata Arga, Kaila tersenyum.


"ketika aku tidak sengaja sering ketemu Kalai, aku merasa lebih nyaman dengannya dari pada saat bersama denganmu. maafkan aku Kai, aku tidak bermaksud untuk melakukan ini tapi itu terjadi begitu saja" pandang Arga.


"aku juga tidak bisa memilih untuk bertemu dan menyukai Kalai sebab dia saudara kembar mu. kejadian demi kejadian yang terjadi aku dan Kalai tidak bisa terelakkan, semua terjadi begitu saja Kai. aku minta maaf jika hal ini menyakiti mu, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. sekali lagi aku mohon maaf Kai, maafkan aku yang lebih memilih Kalai" jelas Arga menundukkan wajahnya sesaat dihadapan Kaila, yang masih terdiam mencerna kata-kata Arga barusan.


"Kai" panggil Kalai pelan mencoba untuk menyentuh Kaila, Kaila hanya terdiam menatap Kalai dan Arga bergantian.


"maafkan aku Kai" tatap Kalai meneteskan air mata melihat Kaila yang hanya terdiam membisu. Kaila menatap mereka berdua dengan pandangan yang sulit untuk dijabarkan.

__ADS_1


"terimakasih atas segalanya" tatap Kaila sesaat dan berlalu dari hadapan mereka berdua.


"Kai" panggil Kalai mengejar Kaila dan memeluknya dari belakang. Kaila hanya terpaku diam mendengar Isak tangis Kalai di punggungnya.


"maafkan aku Kai, maaf, maaf" tangis Kalai sesenggukan. Kaila membalikkan badannya memeluk Kalai erat.


"aku memaafkan mu, Kal" ucap Kaila datar, "tidak apa-apa. everything will be alright Kal" hapus airmata Kaila.


"maaf Kai" ucap Kalai berulang-ulang. "hmmm, it's oke" ucap Kaila datar, berjalan mundur menjauh dari Kalai kemudian berbalik dan berjalan keluar cafe tanpa menoleh kebelakang lagi.


"Kai" kata Kalai yang akan mengejar Kaila keluar dari dalam cafe.


"biarkan saya yang menemaninya" hadang Pram agak jauh didepan Kalai, Kalai menatap Pram bingung.


"saya pengajar nya, kebetulan tadi kita ketemu disini" angguk Pram berlalu dari hadapan Kalai untuk mengejar Kaila yang sekarang jauh lebih membutuhkan dirinya.


"biarkan dia sendiri, kau juga harus menenangkan diri Kal" pegang Arga dibahu Kalai.


"tapi, Kai, Ga" tatap Kalai merasakan rasa yang campur aduk tidak karuan. "it's will be alright, sayang" tatap Arga menenangkan Kalai. "ayo, kita juga harus menenangkan diri" ajak Arga agar mereka keluar dari cafe.


Kaila yang berjalan pelan keluar dari cafe dikejar oleh Pram, Pram meraih jemari Kaila dan menggenggamnya erat menariknya untuk masuk kedalam mobil memasang seat belt dan membawa Kaila pergi dari cafe. selama perjalanan, Kaila hanya terdiam membisu, Pram membiarkan Kaila memahami rasa sakit hatinya, membiarkannya merasakan rasa sakit yang hanya bisa dirasakannya sendiri. Pram menepikan mobil kemudian berjalan pelan menuju bukit, Kaila mengikuti langkah Pram, melihat bintang yang bertaburan di langit, tanpa sadar air mata menetes di pipinya


"Kai" sentuh Pram pelan, Kaila menoleh dan menatap Pram dengan pandangan kosong.


"mari pulang" ucap Pram pelan, Kaila hanya diam menatap kedepan melihat kilau rumah-rumah yang berada dibawah sana, terlihat begitu indah seperti kunang-kunang yang berkedip-kedip tiada henti. Pram merengkuh badan Kaila dan memeluknya erat.


"lepaskanlah Kai, aku disini untukmu" bisik Pram pelan ditelinga Kaila. Kaila menangis dalam diam, bersembunyi di dada Pram.


selama kurang dari 1 jam hanya terdengar tangisan Kaila. "pulang ke rumah sekarang yaa" elus kepala Pram, Kaila melepaskan pelukan Pram menggelengkan kepalanya pelan.


"antar aku kerumah Icha aja, aku ingin sendiri dulu" seka airmata Kaila dengan punggung lengannya. Pram mengangguk, beranjak dari tempat mereka duduk.


mobil turun meninggalkan bukit, Kaila menyandarkan kepalanya memejamkan matanya karena sudah tidak bisa lagi membuka matanya yang terasa berat. Pram menoleh sekilas, memastikan keadaan Kaila baik-baik saja walau terlihat berantakan saat ini, mobil berhenti diparkiran apartementnya dan Kaila masih tertidur.


Pram membawa tubuh Kaila ke box ajaib yang akan membawa mereka menuju ruang apartementnya yang berada dilantai 5. sampai didepan pintu, menekan password, segera masuk dan meletakkan Kaila di ranjangnya, melepaskan sneakers dan menyelimuti tubuh Kaila yang teramat letih.


Pram menatap Kaila yang terlihat tidur dengan nyenyak, ia kemudian membersihkan diri, membuat secangkir kopi untuk merilekskan pikiran dan tubuhnya yang terasa penat. membuka ponsel Kaila yang tadi dia kantongi, mencari kontak ayahnya dan mulai menghubunginya. setelah agak lama panggilan keduanya berakhir, Pram menghembuskan nafasnya berat terasa seperti beban berat terangkat dari pundaknya. ia berjalan menuju kamar untuk mengecek keadaan Kaila sebelum kembali ke sofa untuk tidur setelah melalui hari yang membuat gadis yang memasuki relung hatinya menghadapi kenyataan hatinya tersakiti.

__ADS_1


hari telah berganti pagi.


bel apartment berbunyi beberapa kali, Pram terbangun mendengar bunyi bel yang tidak berhenti, berjalan sempoyongan menuju pintu untuk melihat siapa yang tidak sabaran membunyikan bel apartement nya, "Kaila dimana" terobos masuk kedalam Kalai dan ayah setelah bunyi klik pintu dibuka Pram walau belum sepenuhnya terbuka lebar.


"dia tertidur di kamar" kata Pram tersenyum mengerti dengan situasi yang sekarang terasa canggung.


Kalai dan ayah melihat keruangan dimana Kaila masih tertidur dengan nyenyak tanpa terganggu dengan keributan yang mereka ciptakan.


"jam berapa dia tertidur" toleh ayah menatap Pram merasa tidak tenang. Pram yang sedang membuat kopi di pantry menatap ayah Kaila tenang dan menaruhnya dimeja makan.


"kopi, om" senyum Pram meredakan ketegangan yang tercipta diantara mereka karena belum mengenal satu dengan lainnya. "kami pulang dari bukit jam 3 pagi, seperti yang tadi malam sudah saya jelaskan ke om. saya tidak bisa menghubungi om karena alat komunikasi kami berada didalam mobil dan saya tidak bisa meninggalkan Kaila sendirian selama dia disana" jelas Pram tenang.


"dan ini masih jam 6 pagi, biarkan Kaila untuk mengistirahatkan raganya dulu" senyum Pram menyeruput kopi panasnya, ayah menghela nafasnya berat seperti memiliki beban yang sangat berat untuk dikatakan.


"terima kasih, kamu sudah menemani Kaila saat ini" pandang ayah tepat kearah Pram.


"sama-sama om. maaf saya belum memperkenalkan diri dengan pantas sebelumnya karena satu dan lain hal, nama saya Pramudya, saya adalah salah satu pengajar dikampus tempat Kaila. kurang lebih sudah 6 bulan saya mengajar dan kebetulan kami sedang bersama saat itu untuk makan malam sehabis mengerjakan tugas dikampus" perkenalkan Pram mengenai dirinya sendiri kepada ayah Kaila yang berdiri didepannya.


"apa hanya kalian berdua saat itu" tanya ayah seperti menyelidiki kenapa mereka bisa saat itu bersama.


"kebetulan hanya tinggal kami berdua yang ada disana om, teman-teman yang lain telah meninggalkan kampus. makanya saya mengajak Kaila untuk makan dulu sebelum pulang" angguk Pram mengerti kekhawatiran ayah Kaila terhadap anak gadisnya yang tiba-tiba berada di apartement laki-laki asing yang belum pernah ditemui sebelumnya.


"sebelumnya saya meminta maaf karena saya membawa Kaila pulang ke apartement saya, dia berkata belum bisa pulang dan mengatakan untuk mengantarkannya ke rumah Icha sahabatnya dikampus tapi dalam perjalanan Kaila tertidur dan saya tidak tega untuk membangunkannya. karena waktu juga sudah dinihari, saya yang memutuskan untuk membawanya ke apartement saya karena saya tidak tahu rumah Kaila atau rumah Icha" jelas Pram sambil menundukkan kepalanya meminta maaf atas kelancangannya membawa Kaila ke tempatnya tanpa persetujuan keluarga gadis yang membuatnya tidak bisa memalingkan hatinya kepada gadis lain, ayah hanya menyesap kopinya pelan.


"maafkan aku, yah" genggam Kalai menatap ayahnya yang terlihat khawatir atas keadaan kedua putrinya, ayah hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan, "tidak ada yang salah diantara kalian berdua" kata ayah menghela nafasnya sesaat kemudian.


"kalau begitu ijinkan saya untuk membersihkan diri dulu sebentar sementara Kaila juga masih tidur. silahkan anggap rumah sendiri" pamit Pram merasa tidak enak menemui mereka dalam keadaan yang belum rapi.


"silahkan nak, maafkan kami pagi-pagi sudah mengganggu ketenanganmu" senyum ayah mengerti.


"sama sekali tidak om. saya malah merasa senang, keluarga om berkunjung kesini" senyum Pram sambil membereskan sofa yang dipakainya semalam untuk tidur sebelum beranjak menuju ruang tidurnya dimana Kaila masih berada di ranjangnya.


hai.... hai.... hai.... all readers. terimakasih atas kunjungan ke karyaku. terimakasih banyak atas dukungannya terhadap karyaku


luv.... luv.... luv... U all sekebon pisang biar bisa bikin pisang goreng banyak..


thanks a lot pisang sekebon...

__ADS_1


stay healthy all


__ADS_2