
"Jadi ceritanya nyerah Nih? " Deni mulai menggoda. "belum mulai udah nyerah bukan Eka namanya!" ujar Deni lagi
Eka melirik deni sekilas. "Elo sih bandel, nular kan ke adek lo jadinya?"
"Hhaha..., kalo bukan bandel bukan gue namanya!"
"Belagu loh.." Eka mulai menaiki motornya lagi diikuti Deni. "Tenang lah bro adek gue gak sebandel dulu kok. Bisa diatur lebih tepatnya!" Deni memegang bahu Eka karena mendadak balap.
"Lo ngejer apaan sih?" Deni mulai tak nyaman dengan kelakuan Eka yang ugal-ugalan di jalan raya.
"Ngejar ajal" jawab eka asal. Prak... deni menopak kepala Eka dasar gak waras lo, deni jadi geram .
" Bangs*" Eka masih sama balapnya dari sebelumnya. Cuma tangan kirinya mengelus-elus kepalanya yang baru saja di toyor Deni.
•
Bella berjalan beriringan dengan Mita. Mita sedikit heran nyeliat tingkat sabahat di sampingnya. "Tumben diem" Batin Mita sambil membaca berulang-ulang kertas yang dipegangnya.
"Hmhm.." Mita berdeham karna Bella yang terus berjalan padahal Mita masih di belakangnya. "Melamun mulu ntar kesambetan loh!" Mita mulai berjalan mendekati Bella.
" Beb.. "
" Iya "
"Lo keliatan akrab deh sama tuh dokter. he'em,
tapi kok bida seakrab itu sih?" bella mulai penasaran.
"Maksud lo kak alvin?" tanya Mita.
"iya". Bella menjawab cepat dia itu dah menganggap gue sebagai adiknya. Katanya dia punya adik, adiknya mirip banget katanya sama gue, entah itu kebetulan atau emang kenyataan gue juga gak tau, adiknya udah meninggal empat tahun lalu karna kecelakaan iyu sih yang gue tau. Gue sih kenal kak Alvin cukup lama. sebelumnya nyokapnya yang selalu menjadi dokter pribadi gue walaupun itu gak bidangnya tapi gue nyaman. Waktu itu kak Alvin masih melalui Tes Praktek (OSCE). Setelah lulus dia langsung di terima di rumah sakit ini.
" Tunggu - tunggu, jadi maksud lo ayahnya juga dokter?" tanya Bella dan berhenti tepat di depan Mita. "iya, Dokter Ando, seorang dokter spesialis juga, tapi gue kurang tau sih spesialis di bidang apa, tapi yang gue tau kalau bunda sakit pasti dokter Ando tuh yang memeriksa. Jadi gue cukup kenal lah".
"Eh, Mit lo pernah kepikiran gak sih bunda sakit apa?" tanya bella penasaran. Bunda cuma sering kecapean jadi kalo periksa ya ke Dokter Ando". Bella mengangguk mengiyakan perkataan Mita.
"Kak Alvin baru sekitar dua tahunan gitu jadi dokter di rumah sakit ini. setelah lulus dan resmi menjadi dokter kak Alvin mengambil alih. kalau dia mau menjadi dokter spesialis gue. awalnya gue grogi sih. Tapi lama kelamaan gue suka sifatnya dia ramah. Kak Alvin udah menganggap gue jadi adiknya. Umurnya juga terbilang masih muda. Sekitar 27 tahun, dia emang pinter dalam bidang kedokteran jadi wajar di usia muda udah bergelar dokter.
"Oooh.. sambil mengangguk. "Btw dah lo telpon belom pak de? katanya sih jemputnya agak lama" jawab Mita singkat.
"Kruk...kruk.." perut Bella berbunyi. Mita hanya tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya itu. "Kafe yok laper gue?" Bella menarik Mita dengan langkah cepat.
"Dasar giliran laper gak bisa ditahan hu.." Mita kesel jadinya. "Beb kita ke kafe itu aja ya? di situ enak lo!!"
__ADS_1
"Terserah. gue ngikut aja!"
"Eh. tapi dokter alvin ganteng ya?" Bella senyum sendiri sambil mengelus sesekali perutnya yang tak bisa diajak bersahabat. Mita menjawab dengan bersuara sepelan mungkin.
"Lo suka?" Bella langsing menghentikan langkahnya. Sambil memegang tangan Mita. "Lo dengar?" dengar lah telinga gue kan gak bermasalah, yang bermasalah kan mata gue. jawaban Mita membuat Bella sebel.
"Maaf ka gue gak bermaksud muji ke katampan kak Alvin!". Bella meminta maaf melalui hatinya. Eh kok malah melamun, mita menggoyang-goyangan tangannyah di wajah Bella.
"Bel.., ah iya. kok berhenti tapi lo laper? oh iya ini masih mau jalan. Mita hanya nyengir memandang aneh ke Bella"
"Rame banget gak sih?"
"Ya wajar lah rame namanya juga kafe!" Bella memandang kanan-kiri mencari meja kosong.
nah itu dia. Bella langsung menarik Mita layaknya lembu yang di tarik paksa sama tuannya. Mita hanya nurut.
" Di sini!" Mita menaikan sebelah alis. "Iya disini, masak ia di bawah!" Bella menunjuk ke arah lantai. "Kita di tengah-tengah gak sih?"
"cuma ini meja yang kosong loh beb!" Mita pun didudukkan paksa. "Gitu dong nurut ama kak Bella?" "Iya kak Bella" Mita tertawa pelan memanggil nama Bella dengan sebutan Kakak.
"Pesan apa kak?" sapa seorang pelayan ke Mita dan Bella sambil memberikan menu makanan. jus coklat satu aja, sambar Mita tanpa melihat menu. "Ntar lo nyesel gak makan?" Bella mencibir, gue gak laper. seperti biasa ya kak "Green tea satu, nachos dua, kentang goreng dua. sama sambal manis satu mangkuk." Pelayan itu menjabarkan, bella menganguk eh satu lagi deh sosis yang seperti biasa. oke, pelayan itu pun undur diri.
"Lo sering kemari ya bel? "
" Oh.. mita memperbaiki kaca matanya yang juga miring, lalu melihat ke sekitar. "mit. lo sadar gak ini kafe siapa?" tanya Bella dengan nada suara dikecilkan.
Mata Mita kembali menuju ke Bella. "gak"
"Nampak banget kan anak rumahanya!" Bella tampak menarik napas lalu mengeser bangku yang didudukinya kedepan dan sedikit membisik. Ini nih kafe bunda lo, Mita langsung menatap Bella gak percaya.
"Bunda lo emang jarang nampak. di kafe ini ada 13 karyawan lima cowok delapan cewek. enam pelayan , empat urusan dapur, satu kasir, dua lagi pembersih. nah itu tuh Bella menunjuk seorang wanita yang berada tak jauh dari mereka, dia orang kepercayaan bunda lo, pokoknya semua dia yang atur kalo gak ada bunda lo.
"Mita mengangguk paham. tapi beb gue emang jarang banget nampak bunda lo disini. Dari sekian kali gue ke cafe ini. Baru dua kali gue jumba sama bunda.
"Mungkin bunda nyurus cafe yang satu lagi.
bundakan punya dua kafe?"
"Iya juga ya? pantes deh! "
"Pesanan pun datang, setelah selesai di hidangkan Bella memberikan semangkok nachos ke Mita. rasain deh enak. Gue dah kenyang lo aja deh. Mita mengembalikan nachos kebella. gue emang laper tapi gue tau lo juga belum makan kan. Setelah bercekcok dengan Bella akhirnya Mita makan juga.
"Gimana enak kan?"
__ADS_1
" Enak" Mita memberikan dua jempol ke Bella.
"Ah.. akhirnya kenyang juga beb. iya" hari sudah mulai gelap jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore matahari masuk ke sela-sela cafe. "Gimama dah jemput belom?" Bella merasa ingin tidur karena kekenyangan. setengah jam lagi. Mita memperlihatkan sms nya dengan Bella.
Lima menit berlalu. "Bel gue tinggal bentar ya? kebelet! gue nunggu sini ya, gue gak bisa gerak!" Bella mengelus-elus perutnya yang kekenyangan "iya"
Sanging kebeletnya Mita langsung masuk aja tanpa ada orang atau gak di dalam kamar mandi. Tapi untung ya gak ada orang, krek.. krek.., "Loh kok gak bisa di buka?" tiba-tiba lampu dikamar mandi mati. Mita mulai was-was berulang cara ia lakukan tapi tetap aja gak kebuka sama sekali. Keringat dingin bercucuran di wajahnya. Rasa takut menghantui nya. Ia tersandar di balik pintu kamar mandi. Sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Air mata mulai bercucuran di wajah imutnya. Kaca matanya pun tah jatuh kemana. badanya mulai bergetar. Mita mempunyai phobia kegelapan, namun bisa di hadapinya jika masih ada terlihat cahaya, tapi sekarang berbeda ia seperti di sekap oleh seseorang.
"Aduh. Mita kok lama banget sih dah lima belas menit. dia pipis atau bokernya?" hih.. Bella pun berdiri dari kediamannya, lalu menelpon Mita. Astaga ponselnya pun gak dibawa. Bella menepuk dahinya karena sebel akan Mita.
Baru beberapa langkah Bella berjalan. Bella melihat sosok cowok yang juga melihatnya dan tersenyum kearahnya. Bella membalas senyuman itu.
"sendir? " tanya nya ke Bella.
"Eh. bayu, sama temen tapi lagi ke toilet.
"Ohh, yaudah barang aja sama kita. Bella menggeleng cepat. Gue udah mau pulang dah lama di sini. Mata Bella sesekali melihat ke arah belakang Bayu dan Ari seperti mencari seseorang.
Bayu mengerti melihat gerak gerik Bella didepanya, Eka gak ikut. "Dia nebeng tidur di rumah Deni"
"Loh bukanya kelen dari rumah Eka. "Gue luan" Ari mendahului Bayu yang masih sibuk mengobrol dengan Bella.
"Iya" Tapi Eka nyinep dirumah Deni! Bella menaikan sebelah alis. Lalu mengangguk.
ponsel bella berdering. "Gue... yaudah angkat lah gue juga mau nyusul Ari!" dan lagi Bella mengangguk.
"Bella melihat siapa yang menelpon nya. ternyata sibawel. Bella langsung mematikan panggilan. Lalu mengirim pesan singkat ke bawel. Ya Bella menamai Dira dengan sebutan Si Bawel.
Bella pun langsung teringat Mita. Dia langsung mengarah ke arah kamar mandi.
"brur.. "
Sebuah es dingin mengenai pakaiyan nya sehingga basah. Kerutan di dahi Bella pun mulai terlihat dan raut wajah sebel tertempel di wajahnya. "Apaan sih? "
"Maaf kak!" Maaf ucap pelayan yang menabrak Bella barusan. Sambil memberi tisu ke Bella
Bella langsung mengambil tisu itu. Dan mengelap-elap bajunya yang terkena es barusan.
"Sana!" Seorang kepercayaan bunda kini sudah berada di depan Bella ia menyuruh pelayanan itu kedapur. Pelayan itu pun pergi setelah mendapat perintah. "Kamu gak papa kan" Bella menggeleng tanpa melihat lawan bicaranya.
Pakai aja dari pada lo basah gini, Bayu memberi jaket yang selalu ia pakai kemana pun ia pergi.
Bella mengambil lalu pergi. Namun sebelum pergi Bella berterima kasih ke Bayu.
__ADS_1