
Dua jam sebelumnya
"Lo napa lagi sih ri?" Akhirnya setelah berusaha menerobos masuk ia pun berhasil mengapai tujuannya. Bayu yang nafasnya masih ngos-nyosan langsung bertanya terus menerus.
Ari, malah meninggalkan Bayu, ia kembali menuju kelasnya dengan langkah cepat dan memasang wajah kesal.
"Kok bisa?" Bayu bertanya setelah membubarkan kerumunan orang, di sekelilingnya.
"Gue, juga gak tau Bay!" Eka mengangkat kedua bahu lalu berkata gue tadi dikantin sama Deni, eh pas balik dah rame disini.
Bayu melirik ke Deni. Yah jawaban yang sama ia dapat. Deni hanya mengangkat kedua bahu. lalu berlalu mendahului kedua sahabatnya itu.
Bayu menghembuskan nafas berat. lalu menyusul ke kelas bersama eka. Mata Bayu tak hentinya melihat Ari yang menaiki kaki di kursi di sebelahnya. Sadang tangan sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Ri! Entar siang kita kumpul di bascem ya?!" gue tunggu jam tiga. ucap Bayu dan meninggakan Ari, dia paling tau kalo ada masalah pasti Ari perlu waktu untuk sendiri.
Ari, hanya mengangguk tanpa melihat lawan berbicaranya.
()()
Sesampai nya di depan rumah Mita. "Gue main kerumah lo dulu ah! Lagian dirumah gak ada orang" Bella ikut turun bersama Mita.
"Ya udah telpon lah nyokap lo ntar nyariin" "Beres" Lalu bella berbisik tepat ditelinga Mita.
"Gak mau ah, gue capek. Mita langsung masuk dan menuju kamar. Diikuti Bella dibelakang.
"Mit!"
"he'em"
"Sebenarnya, guee.." Bella berbicara dengan ragu. gue apa? Mita gak sabar melihat ekspresi wajah Bella dengan serius, seakan ingin mengatakan sesuatu yang penting.
"Kapan lo periksa?" Mita melempar guling yang tadi dipegangnya. pasalnya ia sudah seserius ini tapi malah bahas tentang dirinya.
"Oh, iya" Mita langsung beranjak dari bangku belajarnya. dia mencari sesuatu sepertinya.
"Nyari apaan?" tanya Bella ketika melihat Mita sibuk buka tutup lemari dan laci.
"Surat. gue lupa letak dimana?" Mita mondar mandir menjelajahi isi kamarnya.
"Emang lo kapan terakhir periksa?"
" Sekitar... Mita langsung mengambil ponselnya yang berbunyi.
" Iya."
"Sekarang"
__ADS_1
"Jam 19.30.
''he'em"
Mita mengerutkan keningnya. sedang Bella bertanya melalui kode Mata. dari bunda, gue diajak bunda datang kepesta temen dekat bunda. Mita menghela nafas berat. Gue... Mita berhenti berkata ketika Bella menariknya keluar kamar
Mita menjadi bingung. " kemana? "
"Seperti kaya gue, shoopin" Bella berbicara sambil mencubit Mita dengan gemes. sakit tau, makanya jangan punya pipi tembem.
"Gue gak mau?" Mita menolak sambil menarik tangannya dari Bella. Bella sedikit memanjangkan bibirnya. Ya udah deh kalo gak mau tapi ada syaratnya!" ucap bella dengan senyum liciknya.
Mita terperarah ketika mendengar kata syarat. " "Syarat, syarat apaan?!" Lo harus mau gue dandanin pokoknya gak menor deh dan gak boleh nolak. Bella tersenyum sinis sambil mencubit pipi Mita, lalu kembali berlari ke kamar.
Sepanjang jalan menaiki anak tangga. Mita tak henti-hentinya mengelus pipi nya yang panas. dasar suka banget nyubit pipi orang, gak tu apa padahal sakit banget!" Mita mengomel sendirian.
Mita di buat kaget bujan main. Ketika membuka pintu. Bella mengacak seisi lemari pakaian mita. Sehingga suasana kamar cocok dijuluki gudang... gudang yang sudah lama tak dibersihkan. "Lo nyapain bel ?!"
"Cari pakaian yang cocok untuk lo nanti? "
Bella bersuara santai. sedang Mita memijat-mijat kepalanya yang melihat pakaian berserakan di mana mana. Ia berjalan sambil memunguti pakaian yang berserakan.
" Nah! ini dia yang gue cari-cari akhirnya ketemu juga" Bella tersenyum riang mendapatkan baju yang dia cari. Mita hanya geleng-geleng melihat tingkah sahabat didepannya saat ini.
"Tuh baju buat apaan?" tunjuk Mita melihat baju yang belum pernah Mita pakai sama sekali.
Akhirnya Mita pasrah melihat wajah Bella dengan tatapan tajam. Akhirnya mita pun menuruti kemauan sang sahabat.
•
"Lo ada masalah apa sih?" Bayu bertanya dengan tegas saat ketika temannya sudah berkumpul. Ari memasang wajah malas. "Itu adek gue, adek tiri gue. gue gak suka dia ikut campur urusan gue! Apalagi disekolah!" ucap Ari sambil merebahkan badannya sambil memainkan ponsel. "Dia tuh sok baik. apalagi di depan bokap gue nampak banget capernya. sok nyebela-belain gue depan nyokap gue. pokoknya gue gak suka" keluh Ari lagi.
"Solusi gue sih! lo harus selesaikan masalah lo sama nyokap lo dulu. ntar baru adek lo, pasti kita bantu kok!" Bayu dan ewka mengangguk bersamaan setelah deni memberikan solusi.
"Maunya sih gitu den. tapi keadaan berbeda, lagi-lagi Ari memasang wajah kesalnya. Deni memandang kedua teman disampingnya. Deni hanya geleng-geleng. "Mikirin apa sih?! "
.
"Gue lagi berantem sama cewek gue" Eka mulai curhat. "Dua hari lalu gue jemput Kak Dena di bandara. Karna emang tugas gue kan?!
padahal gue dah janjian sama bella. gue jemput sekitar jam tigaan selesai jemput kak dara kita gak langsung pulang. Kita gak langsung pulang. kak dena ngajak gue jalan-jalan seputar kota gue gak nolak. tapi gue lupa satuhal. Gue lupa ama Bella"
"Pas gue mau ngabarin batre ponsel gua abis! yaudah deh gue tunda tuh. Malamnya gue coba sms gak dibaca. Gua coba telpon sama. Gak diangkat malah. Ya udah deh gue dateng kerumahnya. pas gue dateng dianya gak keluar. gue akui gue salah tapi apa separah itu sampe-sampe segitunya" Eka menarik nafas berat. Bayu hanya memukul pundak Eka dengan arti sabar.
" Gue, emang lagi pacaran" tapi emang gue gak sepala paham kalo soal beginian. Bayu bersuara dengan lemas. Gue angkat tangan jangan lo tanya ke gue apa solusinya, kini giliran ari bersuara. kini ketiga orang itu memandang deni berbarengan. Deni hanya garuk-garuk kepalanya yang gak gatal. "oke "
"Oke... gue punya saran. walaupun gua gak pernah pacaran tapi gue cukup berpengalaman"
__ADS_1
Deni berdeham. mengatur nafas lalu melihat ketiga temannya yang juga memperhatikan tingkahnya.
"Selo! bro jangan giti banget liatnya nanti bisa copot matanya" Deni merasa risih di liatin oleh ketiga sahabatnya itu.
"Kalo menurut pendapat gue. disini Eka yang salah. Jadi semestinya lo cepet minta maaf. Tipe cewek lo pemarah dan itu identik keras kepala. Biasanya orang seperti ini, sukaknya kejutan, dan dimanja jadi wajar aja kalo dia tahan marah ama lo. Jadi kalo pendapat gue lagi nih yah cewek lo tuh sebenarnya gak tahan juga sih berantem sama lo, tapi dianya masih kuat dari egonya. Tapi berhubung karena orangnya gak mau ketemu sama lo, jadi lo bisa minta tolong sama orang terdekatnya. Eka mengangguk cepat. Gue tau nama sahabatnya tapi gue gak pernah jumpa. Nah coba deh lo deketin tros minta tolong. Eka menggeleng, dia punya sahabat, selalu aja tuh diceritaiin tapi yang jadi masalah sahabatnya itu gak tau kalo gue sama bella pacaran. Dari ceritanya gue dapet nyimpulkan kalo sahabatnya itu, gak gampang dideketin, dia cenderung diam sama orang asing. Jadi kalo gue deketin mungkin lama prosesnya belum lagi si Bella salah tanggap jadi nimbul cemburu dan lagi takutnya malah tambah masalah"
"Ari tampak gak peduli. dia sibuk lagi dengan ponselnya. sedang Bayu mulai mengambil gitar di belakannya dan mulai memainkannya perlahan. "Deni berdeham, sebaiknya lo datang kerumahnya pas ada nyokapnya. pasti dia bakal temuin lo" Deni memberikan saran kembali. eka mulai berpikir tampaknya, iya juga ya. Tapi nyokapnya jarang dirumah. tapi demi cinta pasti gue usahain. bagus ka, deni memukul kepala eka sebagai candaan. ntar kalo dah baikkan gue nyumbang lagu deh bayu mengembangkan senyumnya. "Aduh abang? adex kagak tahan liat senyum abang?" Deni menggoda Bayu yang menyerupai cewek. bayu memukul Deni dengan kepala gitarnya. "Dasar lo!" Hahaha...semua tampak tersenyum terkecuali Ari.
"Tapi kak Dena kok gak keliatan sih dari tadi?!"
Deni salah satu cowok yang jatuh hati sama dara. kakaknya Eka, Dena emang cantik jadi gak heran kalo banyak yang dekerin termasuk Deni. Oh, jadi ceritanya lo masih mengharap kakak gue. "Beleh! kalo lo nyerestuin" Bayu hanya tertawa nyeliat dua bocah didepanya. "Gue mau turun" Ari memasang muka datar. "Kemana ri?" tanya Bayu ke Ari.
" buasa carik angin, bosen gue!" Deni dan Eka memberikan jalan. "Gue ikut" Bayu menyusul Ari yang sudah sampai di tangga bawah.
Bayu sedikit mendongak ke lalu memberikan kode simpul! "kita gak ikut" Bayu mengangguk.
Ari sudah lebih dahulu meninggalkan bayu yang masih mengobrol kepada kedua temannya.
.•
"Baguskan? Dah gue bilang lo tuh cantik lo beb!" Tapi.. Bella menaikan alis tampak berpikir? "Beb. kalo ko pagi gak pakai kaca mata gimana?"
Bella bertanya dengan ragu. "Maunya sih gitu, tapi daripada nanti bikin malu sebaiknya gue pakai kan?" Bella mengerti maksud sang sahabatnya itu.
" tret.. trett..."
"Siapa?" Mita bertanya ketika Bella langsung mengangkat teleponnya itu. Bella menutup mulutnya dengan jari mamisnya. lalu berkata bunda dengan nada sepelan mungkin.
" Iya,bun."
" Kamu dimana sayang. terdengar suara di seberang telepon.
" Di rumah bun! nunggu bunda
" sawyang! he'em. bunda lupa kalo pestanya ternyata tiga hari lagi. maaffin bunda ya sayang! "
" Mita mengembangkan senyumnya. sedang Bella yang sejak tadi berada di samping hanya memasang wajah penasaran! "
"Gimana bunda dah jemput?" Bella langsung bertanya setelah telepon ditutup.
" Mita. hanya senyum lalu mulai memasuki kamar mandi. Ia melepaskan pakaiyan nya dan mengganti dengan baju biasa.
" Bella hanya tambah bingung dibuatnya. dan bener dugaannya kalo mita gak jadi pergi ke pesta. Bella langsung merengut, namun kembali tersenyumo harus nyinep di rumah gue nyokap gue gak pulang lagi malam ini! "
"Tapi besok seko.." kata-kata nya terputus bawa baju ganti. Sekalian kita nonton film, gue beli vocher hantu, kalo gue nonton sendiri kan gak seru. mita memelas sambil mengedip-nyedipkan mata. "Ya deh, tapi gue izin dulu"
"Yes gitu dong? langsung mau!" ucap Bella dengan memunyungkan mulutnya.
__ADS_1
Bik sum sering pulang kerumahnya. karna anaknya sakit. Udah disuruh Mami juga sih tinggal di sini sekalian ada temen gue. Tapi anaknya gak mau dianya malah bilang enakan di rumah sendiri. Emang sakit demam sih. tapi dah empat hari gak sembuh-sembuh. Mita hanya mengangguk mendengar cerita tentang bik sum sang pembantu rumah tangganya. Mita memang jarang kemari. Padahal kalo dari segi nyamannya yah nyamanan dirumah Bella. disini pasilitas rumahnya lengkap apalagi kamar Bella bisa di bilang dua kali lebih luas dari kamarnya. Udah hampir dua bulan gak kesini jadi kembali mengagumi kenyamanan rumah Bella.