
"Mana si dira?" Amel memandang Mita yang berjalan sendirian. "Lagi boker!" mendengar jawaban Mita kedua nya tertawa. "betah ya tuh anak, belum juga makan udah keluarin emasnya! haha..
mata Mita memandang sekelilingnya, memang bagus suasana di malam hari kalo disini, dilihatnya meja yang di rapih, ada lilin juga ditengah nya, terdapat sebuah bunga tulip juga diatas meja itu, kursi yang disusun rapih, patut dibilang kalo ini seperti mau kencan romantis, Mita membatin.
"Loh, kalian bakar bakar, Mita berjalan mendekati Bella yang membalik balikan ayam dan sosis. Sedang si Amel sibuk buat sambal, "Ada yang bisa gue kerjain gak?
Bella melihat Mita sekilas, "Bisa ambilin piring gak?" Di balas dengan anggukan dari Mita.
"berapa?"
"Dua cukup kali ya?" Bella tampak sedikit berpikir lalu menunjukkan ke empat jari nya yang menunjukkan empat piring, Mita mengganguk.
"Gimana pedas gak?"
Amel memandang bellwa sebel, "Yang namanya cabe pasti pedas dong!" jawab Amel ketus. "Ya iya. gue juga tau, lagian siapa juga yang bilang cabe manis!" Bella mendekati Amel dan mencicipi sambal buatan Amel.
Bella mencicipi sambal yang dibuat amel dengan sendok makan, bukanya dikit yang dicicipinya hampir setengah sendok makan. gak lama Bella langsung meludah karna kepedasan, gak rela kalo diteruskan ke tenggorokan. mulut Bella udah ha. hu. ha.. kepedasan, dan terasa kelat di lidah nya. Pedes bangat gak iklas banget lo buatnya! bella berlari menuju meja mengambil minuman yang ada di meja.
Amel hanya tertawa lepas 'rasin lo' "Orang belum di kasih gula udah main cicip- cicip aja! huu.."
"Loh, udah pada makan?" Dira sedikit berlari karana Bella yang dari tadi minum, yang dia kira udah pada makan.
"Kenapa bibir lo kok doer?" tanya Dira dengan senyum di iringi tawa. "Sambil buatan Amel tuh sebabnya!" Bella menyalahkan sambal yang di buat Amel. Dira tertawa ketika melihat Amel yang juga tertawa.
"Bel, ini mau di angkat atau gimana?"
"Angkat aja mit! udah matang kok!" Yang menjawab Dira bukanya Bella, Bella hanya mengangguk mengiyakan.
"Wuihh... wangi nya menggoda iman gue!" ucap amal dengan mata yang siap menerkam.
"Bukan hanya imam lo aja yang tergoda mulut lo pun tergoda!" Bella emang masih kesal ke Amel makanya setiap kata yang di lontarkan dari mulut Amel pasti di tikung sama Bella.
"Udah udah ayok makan! udah gak tahan mulut gue!" Dira membagikan sosis bakar nya, Mita mencentongi nasi ke piring piring, Amel menuangi jus jeruk yang tadi dibuat Dira. sedang si Bella sibuk cetrak.. cetrek.. sibuk selpi dari tadi.
Semuanya udah pada makan, kecuali Bella dia masih aja mengutak atik pinselnya. tah apa yang di kerjainya.
"Bel. makan dulu kalo dingin gak enak lo?
"Bentar mit!" dikit lagi.
"Emang lo ngapain sih?" Dira mulai kepo. "kepo baget sih! udah sono makan aja!"
"Ya elah, tinggal bilang aja. susah amat' si amat aja gak sesusah ini!" Amel ikut menyambung.
"Sok tau lo!" Bella masih sibuk aja dengan ponselnya. "Gimana sambalnya enak gak?"
''Enak, gak terlalu pedas, pas dilidah!" Mita menjawab. dan di angguki oleh dira. "Gue kasih dua jempol deh buat sambal lo!" Dira menunjukkan kedua jempol ke amel.
"Siapa dulu buatan gue nih!" Amel membanggakan dirinya, Bella langsung menghentikan main ponselnya, sepedas ini kalian bilang pas, Bella gelang geleng. Gue dah kapok mending sambal abc aja manis.
"Semanis gue kan?" amel ke Pd An,
Bella yang baru saja memasukan sosis ke mulutnya langsung dikembalikan dari mulutnya. "ih, siapa juga yang bilang lo manis, gula baru manis!" Bella memasukan kembali sosis yang tadi sempat keluar lagi.
Mita dan Dira hanya tertawa kecil melihat tidak kecocokan dari keduanya.
Setelah selesai makan kini mereka semua berduduk dipinggirkan kolam, sambil menyelamatkan kaki ke dalam kolam.
__ADS_1
"Woi, jalan jalan yok?" Dira memandang ketiga temannya secara bergantian yang dari tadi hanya diem. "Gak ah capek gue!" Bella berkata sambil terus mengemil keripik pisang.
"Gue juga males, udah kenyang bawaannya mau duduk aja, lagian juga dah ngantuk!" Amel ikut menjawab kini giliran Mita. "Gue sih ngikut aja!"
"Ayok, dong cuci mata, lagian kan belum malam banget, masih jam sembilan juga!
Dira sedikit cemberut lalu berdiri dari duduknya.
"Mau kemana Dir?
"Mau cari angin di luar, lo ikut kan Mit?" Mita memandang Dira lalu memandang Amel dan Bella yang juga memandang nya.
"Ngapain coba cuci mata? bukanya lo udah ada yang punya?" Bella sedikit menaikkan nada bicaranya
"Iya sih, tapi kan gue belum pernah kencan. lagi pula gak dosa kan, orang cuci mata doang?"
Amel yang sudah berdiri di samping Dira langsung menopak kepala Dira. "Emang apa bedanya pacaran juga dosa!"
Dira mengelus kepalanya yang ditopak kuat oleh Amel. "Beda, kalo pacaran dosa itu sih emang iya. tapi kalo cuma liat cogan diluar sana ya gak dosa lah. lagian kan cuma liat bukan ngegoda!"
"Tapi mata lo tergoda kan?"
Kini Dira mendapat topakan lagi malah lebih sakit dari sebelumnya. "Ini buat lo, gimana enak gak?" tanya Bella yang juga sudah berdiri di depan Dira.
"Kok pada nopak sih! sakit tau. belum juga ilang yang sebelah kanan dah datang yang kiri!"
"Ayuk, deh.." Dira sedikit memelas ke pada tiga temanya. "Bentar dong ya.. ya.. ya..!" Dira menggoyangkan badan temanya satu persatu.
"Liat tuh si Mita aja mau! ya kan Mi?" Mita memasang senyum paksa.
•
Di sisi lain, Ari baru saja turun dari motornya, ia berhenti di salah satu bangku panjang yang diatas nya ada penerang jalanan. ia memejamkan matanya dengan mendongak ke atas. Kedua kaki nya di biarkan lurus kedepan, kedua tangan nya memegangi bangku di sisi kiri dan kanan.
"Bang.. suara yang tidak pamiliar lagi buatnya, tapi Ari masih dalam kondisi semula diem dan memejamkan matanya. Lain hal dengan kendaraan yang berlalu lalang di depannya. Yang membuat pikiran nya semangkin pusing.
"Bang..!" sapa seorang pria gak lain adalah Prans, adek tiri Ari. Ari langsung memandang malas melihat orang di hadapannya.
"Gue tau abang pasti marah sama mama dan ayah tapi abang juga harus mengerti kalo ayah melakukan ini juga demi kenaikan abang kedepanya!" jelas prans.
Ari tak mendengar kan secara jelas apa yang dikatakan Prans, dia kembali menaiki motornya itu.
"Gue bukan abang lo, dan lo juga bukan adek gue! gak usah sok kenal deh sama gue, lo gak tau masalah gue!" Ari menghidupkan motornya, baru saja ingin pergi tapi dihadang oleh Prans.
"Awas kalo lo masih mau hidup" Ancam Ari tanpa memandang saingan omong nya.
"Gue, cuma mau abang kembali ke ru..!"
"Lo bisa dengar kan, gue bukan abang lo! dan minggir kalo masih mau melihat hari besok"
Prans tak bergeming dia tau Ari hanya menggertak nya agar dia pergi.
"Kini Ari sudah menggas gaskan motornya. lalu menatap prans sekilas. Beneran mau mati ni orang!" Ari sudah memasukan gigi dan..
Prans tidak tertabrak, ia mengelak tapi yang terjadi malah Ari yang tabrakan sama kendaraan lain.
Prans tergangga melihat banyak nya darah ke luar dari kepala Ari, Ari sudah berbaring seperti tertidur, kini pandangan nya berpindah ke mobil yang menabrak Ari, tak lama keluar dua orang satu pria dan wanita tampak benjolan kecil di kepala mereka dan sedikit darah segar mengaliri wajah si pria, sedang si wanita tidak terlihat terluka sama sekali. Wanita itu menyuruh orang untuk memasukan ari ke dalam mobilnya. Prans sempat ingin menghalai si wanita, mau anda kemanakan abang saya, ingin rasanya ia mengatakan itu tapi ia urungkan ketika melihat pakaian si wanita dia doktor.. 'tante'
__ADS_1
Wanita itu menoleh ke prans raut wajahnya tampak sangat sulit diartikan. "Ada apa?"
"Tolong selamatkan abang saya tan!" wanita itu memandang Prans intens "Anda keluarganya?"
"Saya adiknya. tolong kabarin keluarga nya. saya akan usahin yang saya bisa, untuk abang mu karna ini kesalahan kami!" wanita itu menatap pria ya tadi keluar bersama nya sekilas.
Prans mengganguk. "Tunggu!" dan lagi Prans menghentikan langkah wanita itu.
"Rumah sakit mana?"
"Rumah sakit pelita kasih!" wanita yang berpakaian dokter itu pun pergi dengan terburu buru.
Mata prans memandangi sekelilingnya banyak mobil mengantri dan banyaknya orang yang melihat tabrakan ini. Prans melihat motor ari yang berada di pinggiran pembatas jalanan
()()
"Kok lama banget macetnya ya, si Dira pun tah kemana perginya! bella memandang kursi belakang yang kosong, Mita dari tadi kelihatan gelisah tah apa sebabnya, tapi perasaan nya seakan sedang tidak baik.
"Lo kenapa? Bella merasa heran yang dari tadi gak henti henti nya memandai depan. dan badannya yang entah ke berapa kalinya berganti posisi.
"Gak tau! tapi gue ngerasa gak enak aja!"
Bella malah heran mendengar jawaban nya. "Terserah deh heran gue liat lo, kayak maling yang takut ketahuan sama pemilik rumah, yang lagi di malingi!"
"Bruk... ada apaan di depan?
"Tabrakan. mobil sama motor!" jawab Dira sambil memainkan ponselnya. "Amel mana?" tanya Bella lagi
"Dira melihat kursi samping nya, mana gue tau?" jawaban yang membuat Bella kesal.
"Bukanya dia ke luar bareng lo?" tanya Bella. "orang gue sendiri tadi kok, mana ada Amel!"
"Gue tanya serius diraa..!"
"Gue juga serius bellaa..!"
Bella semangkin kesal atas jawaban yang diterimanya. "Mit, temenin gue cari amel yok! belwla keluar dari mobil. inget jangan keluar kita mau cari Amel!"
"Iya.
"Kenapa sih si Prans susah banget di hubungi, baru juga pacaran udah di kacangin.
Amel memandang puluhan pesan yang dari tadi tak satupun di balas oleh Prans.
Bruk.. suara pintu tertutup. "Loh si Bella,Mita mana?"
"Bukanya mereka dimo.. ,mereka nyariin lo.
gue tadi haus jadi cari minum di depan makanya agak lama, tapi pas gue liat ada kecelakaan di depan, moot haus gue melayang, apalagi liat darah yang bertaburan, bawaan mual jadinya!" jelas Amel
Uekk.. udah tau gak tahan liat darah tapi juga masih diliat, diceritain lagi. Dira memukul mukul pundak Amal dan mengoleskan minyak kayu putih di kening nya
"Lagian kok pake cari-cari an sih! kan bisa telpon!"
"Udah jangan banyak ngomong lo, ni hirup aja minyak kayu putih. biar mendingan badan lo, thank Dir!"
"Ya udah telpon gih si Bella! ini masih gue telepon jawab Dira ketus.
__ADS_1