
Mataya Mita sudah bengkak dengan dengan air mata yang kering di bagian pipinya. Tedengar helaan nafas berat dari dirinya. Ia memejamkan matanya perlahan, ia saat ini sedang mencoba memengkan dirinya agar bisa berpikir positif thingking atas semua yang di alaminya.
Sebuah kertas yang menjadi penyebeb dirinya menangis masih di pegang eret oleh tangan kananya. Matanya kembali mengeluarkan butiran bening, kala mengingat ucapan doktor Ando padanya.
"Kenapa, dan harus Bunda yang merasakan hal sesakit ini, kenapa harus Bunda yang merasakan semuanya, kenapa?"
Mita bertanya pada dirinya sendiri, seraya mengelap kasar air matanya yang menetes.
Tok.. tok..
Sebuah ketukan pintu membuat Mita tersadar. "Siapa?" Tanya Mita dengan suara yang terdengar serak.
Tak ada jawaban dari luar. malah sudah di buka lebih dulu, padahal belum ada Mita suruh.
Mita menatap Bella dengan penuh rasa leleh, Bella yang tau arti dari tatapan sahabatnya itu pun berjalan dengan cepat dan langsung menarik Mita agar masuk ke dalam pelukanya.
"Gue ada Mit, gue ada buat lo, maafin gue gak bisa temenin lo ke rumah sakit!" Ujar Bella dengan mengelap air matanya Mita.
Mita menggeleng kan kepalanya pelan. "Apa yang gue takuti kini sudah berada di depan gue Bel, gue bingung dan leleh harus bagaimana, gue capek Bel!" Ujar Mita dengan tangannya yang sudah meremas kertas di tangannya.
"Gue tau dan paham apa yang lo resahin saat ini Mita, tapi lo harus paham dan mengerti, semuanya pasti akan berjalan dengan baik, jika lo menyikapinya dengan hal positif, lo harus semangat dan kuat, ajar orang yang lo sayang dan cuntai juga berjuang dengan semangat. gue yakin Bunda pasti bisa melewati semunya!" Ujar Bella yang berakhir dengan di pelukannya Bella.
"Lo emang paling mengerti Bel dari pada yang lain, makasih!" Ucap Mita pelen
...
Di tempat lain, tampak dua orang yang saling tegang dengan keadaan masing masing.
"Apa lo suka sama Mita?"
Pertanyaan ini sudah berulang ulang kali Ari tanyakan pada Bayu. hal ini membuat Bayu merasa leleh akan pertanyaan yang sama apalagi dengan orang yang sama.
Bayu menatap Ari dengan tatapan permusuhan
__ADS_1
"Gue gak tau, tapi yang pasti gue rasa gue juga tertarik dengan Mita!" Ujar Bayu dengan tatapan lurus ke langit.
Ari menatap Bayu dengan tatapan jengkel. "Jauhi dia, gue gak mau dia akan berakhir seperti bubungan lo dengan Rika!" Ari berucap dengan tatapan serius ke Bayu.
Membenar kata Rika, membut Bayu mentatap Ari dengan tajam. "Jangan bahas masalah gue dengan Rika, ini gak ada maslahnya dengan Mita!" Bayu merasa tak suka jika ada yang mambahas masalahnya dengan Rika di ungkit kembali. Karna saat ini ia merasa masih sakit dengan kelakuan Rika padanya. walaupun yang memutuskan adalah dirinya tapi Bayu merasa kesal dan tak percaya saja dengan kelakuan Rika yang di berikan padanya.
"Bukanya lo yang mutusin?" Kini posisi Ari sedang memhadap ke arah Bayu. begitu juga dengan Bayu.
"Gak usah bahad dia lagi, gak ada sangkut pautnya masalah itu!" Ujar Bayu yang merasa geram jika mengingat kelukan Rika padanya.
"Gue suka Mita, gue harap lo bisa jauhi dia, gue gak mau ada penghalang dan penghadang jalannya gue kedepanya untuk menuju Mita!" Ari berucap dengan tegas. Bayu menatap sinis ke arah Ari. "Tapi gue rasa gue gak bisa jauh dari Mita, karna gue rasa Mita tertarik dengan gue!" Bayu tak mu kalah.
Ari mendapat Bayu dengan tajam. "Gue gak mau Mita bakal sakit karena ulah lo nantinya. gue gak mau lo bersikap seperti lo memperlakukan Rika, yang hanya berakhir menjadi musuh dan tak kenal satu sama lain!" Ujar Ari dengan muka datar nya.
"Gue gak pernah musuhan dengan Rika, gue aja yang malas jumpa dia!" Ujar Bayu tak mau terima dengan ucapan Ari padanya.
"Tinggalkan Mita gue gak mau tau!" Ari berjalan meninggalkan Bayu di tempatnya.
"Udah gue bilang dari sebelumnya, kalo gue gak bisa, kita liat aja siapa yang dia pilih lo atau gue!" Bayu berucap dengan membalikkan badanya ke yang menghadap ke Ari.
"Oke gue tunggu tantangan lo!" Jawab Bayu dan kini gantian Bayu yang meninggalkan Ari di tempatnya.
Selepas kepergian Bayu, Ari meremas rambutnya dengan kesal. ia memedang meja yang berada di depan nya. rasa sakit di kakinya pun tak ia hiraukan lagi. Ia kembali berjalan menuju tempat di mana dirinya dan Bayu berdebat sebelumnya.
Ia mengeluarkan nafas dengan lemas di iring dengan semburan asap yang melayang di udara. Sudah lama sekali dirinya tak pernah menggunakan banda yang di pegang di jarinya.
Ia menatap ke atas sambil memikirkan apa yang akan ia lalukan selanjutnya.
...
Mita dn Bella cukup lama terdiam di tempat dengan pemikiran sendiri sendiri. Keduanya memiliki masalah yang mereka simpan dan sembunyikan satu sama lain.
Bel..!
__ADS_1
Mit..!
Keduanya kompak berucap membuat mereka berdua tertawa kecil, namun sedetik kemudian keduanya mengelurkan air mata, dengan masalah masing masing. "Lo napa nagis?" Mita bertanya seakan heren dengan Bella.
"Lo sendiri?" Tanya Bella balik. "Lagi pengen aja!" Mita menjawab dengan senyum paksa.
"Seandainya gue kasih tau masalah gue ini sekarang, gue takut lo bakal sedih nantinya!" Ujar Bella dalam hati.
"Lo udah makan?" Tanya Mita dengan wajah lemasnya.
Bella tak menjawab, ia langsung bangkit dari duduknya yang menarik paksa Mita agar ikut dengan nya.
"Bel kita mau kemana?" Tanya Mita dengan wajah lesunya. "Nih..!" Bella memberikan selembar tisu ke tanganya Mita. "Lap deh wajah lo itu, kusut banget, jadi terkesan gue yang buat lo begini!" Ujar Bella dengan pokus ke arah depen.
Mita mengambilnya dengan senyum tipis, "Srroott..!" Suara Mita yang mengeluarkan ingus membuat Bella menjadi tertawa. Mita yang tak tau dan tak sadar masih saja melakukan rutunitasnya.
"Tuh kan jadi pilek, lo sih nagis mulu, jadi beringus kan!" Ujar Bella yang kini sudah meletkan satu kotak tisu ke pangkuannya Mita.
Mita tertawa kecil, "ini baru benar!" Ujar Mita.
"Kok kesini Bel?" Tanya Mita haran. "Gue rasa lo harus ngurusi cafe lo ini deh, liat noh... " Bella menarik Mita agar masuk ke dalam miliknya.
"Semuanya yang melihat kehadiran Mita dan Bella langsung di sambut dengan ramah. sudah seminggu lebih Mita tak pernah datang ke cafe Bundanya ini, dan ia merasa bahagia ternyata bukan hanya dirinya saja yang khawatir dengan Bundanya. Para pelayan dan Mbak Naya pun ikut khawatir
Mita tak ada biatan untuk membantu saat ini, tujuan dirinya dan Bella di sini hanyalah untuk
makan malam sore dengan Bella. "Gimana seminggu ini?" Tanya Mita pada pelayan wanita yang baru saja meletakan makanan dan minuman di mejanya.
...
Bayu merasa gerah saat tak adanya Mita di rumahnya. "Dia kemana? kenapa gak bisa di hubungi?" Tanya Bayu yang masih saja menelpon ke nomornya Mita. Ia kembali menghidupkan motornya dan berjalan dengan kecepatan sedang.
Di kamarnya, ia masih memikirkan apa yang di alaminya dengan Ari di atap sekolah tadi. "Apa. bener gue tertarik dengan Mita, tapi gue rasa gue masih sayang dengan Rika!" Ujar Bayu dengan menatap langit kamarnya dengan tatapan leleh.
__ADS_1
"Gue kenapa bisa jadi rival ya sama Ari, tapi ini semua gue lakukan untuk melihat bagaimana cara Ari memperjuangkan cinta nya.
Di sela kelelehanya, masuk pesan dari orang yang sangat ia kenali. tanpa ada niatan membalas, Bayu meletakkan kembali ponselnya di atas kasur. ia mulai memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpi.