
Setelah mendapatkan apa yang di carinya, Mita membersihkan kamar tamu yang sempat berserakan. Dengan hati gembira ia memasuki kamarnya dengan senyum yang tak lepas dari sebelumnya.
•
Ari masih berada di depan pagar rumahnya, masih malas akan kena repetan dari wanita paruh bayah yang selalu sok dan perhatian di depan sang ayah. Terlebih sesosok anak nya itu yang membuat dirinya mangkin malas berlama-lama di rumah.
Sebuah klakson mobil membangunkan nya dari pikiran yang yang mengganggu dirinya.
matanya menyipit disertai kening yang mengerut, melihat sang mamanya yang menyuruh membuka pagar.
Kesal, serta rasa banci menyambar lagi di pelupuk hatinya. Melihat mama tirinya yang menyuruhnya layak seperti seorang sapam.
Ari melangkah cepat menuju kamar, tanpa melihat sedikit pun orang yang duduk di ruang keluarga.
"Ari..!" suara kekar sang ayah memberhentikan langkah kakinya, dan menoleh ke sumber suara. "Kamu gak liat ada orang disini?" tanya sang ayah gak lain Anwar.
Anwar menatap anak sulungnya itu dengan tatapan marah. Ari memutar kaki menuju ruang keluarga yang kini sudah berkumpul bersama, ia tau ayahnya pasti menyuhnya duduk bersama di ruang keluarga ini.
Ari memasang wajah kesal yang ia perlihat kan ke rosa, mama tirinya. lalu membuang muka ke arah lain, rasanya panas dan risih dekat sama orang yang sok baik, ari berbicara sambil melepas dasinya yang dari tadi sudah tak terbentuk di dadanya.
"apa!" Ucap Ari malas. "Coba kamu ucapkan sekali lagi?" Pinta anwar ke anak yang berapa tepat di sampingnya.
Ari gak ngejawab malah menyodorkan bahunya ke belakang.
:Ayah, dengar dari mama kalau kamu tadi malam kabur dari rumah!" Ari yang mendengar kata itu langsung menyeimbangi badanya.
"Ari gak kabur yah! ari lagi malas tidur di rumah aja!" jawab Ari dengan malas.
"Apa selama ayah gak ada dirumah kamu selalu malas tidur dirumah?"
Ari hanya menatap anwar sekali, lalu kembali menunduk. "Ayah gak mau dengar lagi kamu kabur dari rumah, apalagi kalau sempat ini jadi kebiasaan kamu untuk ke depannya!"
"Contoh tuh adik kamu, dia bisa jadi contoh buat kamu, dia selalu nurut apa yang ayah dan mamamu bilang, nilainya juga bagus, juga sopan. Jadi sebaiknya kamu banyak belajar dari dia.
__ADS_1
"banggain, baggain... aja tuh anak ayah, lagian aku kan bukan anak ayah! dan kenapa sih yah, ayah selalu aja ngebelain wanita itu, apa segitu pentingnya sih dia di hati ayah, di banding anak kandung ayah? Ari gak pernah kan yah minta apa-apa dari ayah tapi sekarang Ari ingin minta sesuatu dari ayah!"
"Aku gak suka diatur, terlebih yang mengatur adalah orang yang bertopeng dua. aku yakin ayah belum sadar saat ini tapi pasti nanti ayah akan mengerti maksudku!"
Ari berjalan meninggalkan ruang tamu. sedang anwar masih sibuk memberikan arahan ke Ari,
dengan wajah yang sangat marah. ini pertama kalinya Ari melawannya.
Sedang Diva menangis menganggap dirinya telah gagal mendidik sang arqi.
"Maaf, mas gak seharusnya ini terjadi kalo aku gak lalai menjaganya!" Diva terus-terusan mengeluarkan kata-kata manis yang membuat anwar memeluknya. "Gak Va.. ini aku yang salah karna jarang memperhatikan nya!" Anwar menenangkan sang istri di peluknya.
"Yah, ma, aku ke atas ya mau ngomong sama bang Ari!" Izin prans dan langsung bangkit dari duduknya. "Iya sayang temenin dia mungkin aja dia butuh teman!" Ucap Diva dan di angguki cepat oleh Prans.
Ari mengunci pintu dan menghidupkan musik sekuat-kuatnya. dia yakin pasti anak sok perhatian itu akan datang ke kamarnya.
sesuai dugaan, dari luar pintu terdengar samar suara orang yang memanggil nya.
Ia tak peduli rasanya ia ingin sekali pergi lagi, tapi tak mungkin kan dia harus melewati ruang keluarga tadi. Ari semangkin menguatkan volume musik nya dengan full, dan menghiraukan orang yang di luar kamar yang sedang menggedor pintunya.
•
Mita membuka buku itu secara lembut, butiran bening mulai melalui pipi tembemnya.
hiks... hiks..., rasanya rindu kembali mengguncang di hatinya, ia melihat poto nya bersama keluarga lengkap nya. waktu itu ia masih berusia lima tahun, terdapat sang kakak yang juga tersenyum di sampingnya, serta ayah dan bunda di belakangnya.
Ada banyak poto keluarga lengkapanya di buku yang ia pegang saat ini.
Rasa rindu serasa lega ketika ia mulai memandangi potonya dengan sang kakak, yang mandi di kolam renang, ia yang berdiri beriring dengan sang kakak hanya menggunakan ****** ***** begitu juga sang kakak. kini senyum mengukir di bibirnya jika di lihat terlalu lama rasanya malu.
"Ia pun menyimpan kembali buku itu di laci. kini pandangan nya mengarah ke seisi kamar, yang berserakan. dengan Mata yang pusing memandang Mita pun mulai membersihkan kamar nya yang berantakan.
Di sekolah
__ADS_1
Bella tersenyum sepanjang jalan menuju kelas, hatinya sedang gembira ketika mengingat jalan kemarin bersama Eka. sampai gak sadar kalo dari tadi Mita mengejar nya. Orang-orang disekeliling nya yang melihatnya mengeleng dan mengatai Bella di belakang Bella.
Para siswi yang iri melihat kedekatan Bella dengan Ari salah satu cowok yang jadi incaran para kaum hawa di sekolah nya.
"Bel.. bella tungguin dong!" Jerit Mita di selang langkah kakinya. Kini mqita sudah merangkul bahu sang sahabatnya dengan nafas ngos-ngosan. Bella yang mulai sadar akan kehadiran Mita langsung melihat ke belakang.
"siapa yang ganggu lo beb! siapa... siapa?" Bella melihat Mita dengan penuh selidik, dia yakin jika Mita lagi dikejar oleh seseorang di belakang mereka.
Mita menggeleng, sambil mengatur nafas ia membenarkan kaca matanya, serta rambut yang acak-acakan.
"Abis lo kenapa?" tanya Bella keheranan.
Mita menarik-narik jaket yang yang sudah menyatu di badan Bella.
"Bella, langsung kaget. astaga segini bahagianya kah gue sampai gak sadar pakai jaket terbalik. Bella dengan cepat membalik jaketnya.
Mita hanya geleng-geleng melihat ekpresi wajah Bella yang menahan malu.
sampai di depan kelas mereka pun berpisah.
Bella terduduk dengan perasaan galau, gimana gak galau baru aja merasa senang eh malah sekarang udah lemas.
Sambil menutupi wajah di atas meja, Bella sesekali memukul kepalanya sendir.
"Ada ya moto gak ya? ada yang sekelas ama gue gak ya?" pertanyaan mulai muncul di kepalanya. tapi kini dia mendengar suara Amel yang adu mulut di belakangnya.
"Recok deh, dengan nada kesal. Bella menggangkat kepala dan melihat ke arah Amel.
"Selsi hanya melihat Bella sekilas lalu meninggalkan Amel yang masih ngomel, ngerih juga ya Amel kalo berantem. Bella merinding sendiri melihat wajah amel yang memerah serta tangan dikepal. Gak pernah ia melihat amel semarah ini sebelumnya. Biasanya jika mereka lagi berantem yang ada amel takut samanya, kok sekarang gue jadi serem ya. bella membaguskan letak duduknya sambil melepas jaket yang di kenakanya.
Amel tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya sambil mengeser meja yang sempat menjadi penghalang bagi duduknya.
"Apaan sih lo, tiba-tiba marah?" kini Bella membetulkan meja yang miring di depannya.
__ADS_1
"Bel..!" Bella kaget lagi dibuat Amel, Amel memeluk nya dengan erak, sedang Bella hanya diam aja melihat tingkah Amel yang terkesan melow.