
"Gue suka liat klara di siksa, biar dia merasa atas apa yang dia lakukan ke kita dulu!"
"Mampu* lo, rasian gimana rasanya di permalukan di depen umum!"
Bukan hanya satu dua orang saja yang bergosip gosip tentang Klara, hampir semua yang ada di sekitar Mita, Mita menggeleng kan kepalanya, merasa tak suka dengan apa yang terjadi di depanya saat ini.
Di tempat lain, Dira yang baru saja memsuki kelas langsung memutar arah balik, ia berlari kecil menuju dimana Klara dan dua temannya yang sedang bertengkar itu. Di tangannya sudah ada buku kecil, entah apa yang akan di lakukan oleh Dira nantinya.
Bella sendiri mencari cari dimana posisi Mita saat ini, kepalanya memutar sana sini, namun yang di cari tak kunjung terlihat sama sekali.
"Apa gue kedepen dikit ya, biar bisa liat lebih deket!" Ujar Bella yang langsung berusaha memotong orang di depannya.
Mita melihat ke sekeliling, ia merasa tak suka karna mangkin banyak saja orang yang ada di sekeliling nya. "Padahal udah masuk, tapi mereka malah mangkin bertambah," Ujar Mita dengan ekspresi tak sukanya.
Ia memundurkan badanya sedikit ke belakang. dengan yakin dan usaha yang pelan, pelan akhirnya Mita bisa keluar dari kerumunan tersebut.
Matanya tertuju pada sosok Dira yang baru saja melewatinya. Mita mengikuti Dira dari belakang. Tak lama, Dira yang sudah masuk ke depan atau berada di dekat Klara, langsung menyalakan poselnya. ia memvidio apa yang terjadi di sini. Senyum jahil terukir jelas di bibirnya Dira.
Karna Dira yang mulai memvidio kajdian itu, banyak siswa/i yang juga ikut memvidio.
Mita menghela nafas dengan kasar. Langkahnya berhenti tepat di hadapan Dira. "Apa yang lo lakuin, di sini?" Tanya Mita to the poin. Dira yang tadinya merekam dengan senyum lebar kini terdiam dengan melihat Mita yang sedang menatapnya dengan serius.
Ia mengangkat alis heren, sekaligus bertanya tanya. "Matiin Dir.. matiin dan hapus apa yang lo rekam saat ini!" Ujar Mita yang langsung merampas ponselnya Dira.
"Kenapa? bukanya hal ini cocok di abadikan?" Tanya Dira masih dengan mode senang nya.
"Hal macam gini gak usah lo abadikan, sejahat dan sebejat apa pun Klara, pasti ada sisi baiknya kan?" Tanya Mita dengan nada tinggi.
"Tapi hal ini, hal langka Mita, lo sendiri harus..
__ADS_1
"Cukup Dir.. gak usah bahas masa lalu gue yang culun itu, bagaimana pun Klara sama seperti gue, dia orang baik, semua manusia bisa berubah Dir, sama seperti gue, gue berubah kan? begitu juga dengan Klara dia berubah Dir!" Mita mencoba menjelaskan.
Mita memandangi sekitarnya, yang kini memandangi dirinya. "Matikan, apa kalian gak mikir, seperti apa rasanya di permalukan dan diperlakukan seperti ini jadi matikan!" Ujar Mita dengan wajah penuh keseriusan.
Mei dan jeni yang kesal karena kehadiran Mita pun tak tinggal diam.
Bella memicingkan dan melebarkan kuping nya karna tak percaya dengan apa yang di dengan dan di liatnya. "Mita lo ngapain sih!" Ujar Bella yang mencoba menerobos yang berjalan ke arah Mita berada
.
"Lo..!" Jeni menunjuk Mita dengan jari telunjuk nya. "Gak usah ikut campur, dan gak usah sok ngatur mereka!" Ujar Jeni dengan tatapan tajam ke Mita.
Mita tersenyum kecil melihat ke arah Jeni. "mungkin hal ini bukan majalah gue, dan bukan urusan gue, namun masalah seperti ini udah sering gue rasakan dan gue ingat sampai sekarang!" Ujar Mita yang melangkah kan kakinya ke depan secara pelan.
"Gue bakal tunjukin sipat aslinya Klar ke kalian semua, kalian pasti penasaran kan?" Tanya Mai yang sudah menujukan ponsel keatas.
bisik bisik mulai terdengar lagi, mereka tak sabaran dengan apa yang akan di lakukan oleh kedua temannya itu.
Jika dulu Mita salut bukan main, karna mereka akan menuruti apa yang di perintahkan oleh Klara, namun saat ini semuanya berbeda, Mei dan Jeni terlihat sangat menyimpan dendam yang dalam.
"Kok bisa, saran gue lo gugurin aja deh Kla, kalo lo pertahanan bisa ribet ntar!" Kini suara Jeni yang terdengar. Semuanya saling tatap satu sama lain, Mita menggelengkan kepalanya.
"Kalian tau siapa yang udah menghamili Klara?" Tanya Mei yang kini membuka mulut.
Tatapan beralih ke Mei. "Mantan gue, lebih tepatnya Klara merebut cowok gue!" Ujar Mei yang menahan sakit di hatinya. "Munafik!" Ucap Mei dengan mendorong Klara kuat.
"Dan lebih parahnya lagi, ini bukan yang pertama kalinya, dia udah pernah menggugurkan anak yang gak berdosa. Kalo di ingat ingat sekitar lapan bulan yang lalu!" Jeni menjelaskan.
Semunya menggelengkan kepala melihat ke arah Klara. "Gak nyangka selain suka buly, juga suka hal kotor begitu!" Ujar Salah satu siswi, ia melemparkan pulpen ke arah Klara. "Gue berharap lo gak berada di sekolah ini kedepanya!" Ujar siswi lain dan kini menjadi rucuh kembali.
__ADS_1
Mita menatap geram ke Jeni dan Mei. "Apa begini cara kalian, membalas dendam, dengan merelakan persahabatan kalian, yang gue tau kalian itu kompak dan cocok. tapi apa yang gue tau itu jauh berbeda dengan apa yang gue liat dan saksikan kali ini, gue gak tau apa itu arti sahabat buat kalian. dan mungkin kalian dapat merasa puas dengan apa yang kalian lakukan saat ini.
"Dan lo.. lo jauh lebih munafik dari kenyataan!" Tunjuk Mita ke Mei, Mita pun mendapat tatapan seram dari Mei.
"Lo gak tau apa apa, dan lo gak tau masalahnya, kita gak pernah menganggap ini persahabatan, kita gak sama kek lo, yang mengganggap Bella sebagai sahabat lo!" Ujar Mei dengan kening mengekerut.
"Dan lo gak pernah merasakan apa yang gue rasakan saat gue di tindas habis habisa oleh Klara. hari ini, jam ini dan detik ini gak seberapa atas apa yang ****** ini lakukan ke gue!" Ucap Mei yang menendang Klara tanpa ada rasa takut dan penuh kebencian. Klara yang dipandang hanya menunduk menahan rasa malunya saat ini.
"Gue kira dia gak punya malu!" Ujar salah satu siswi dengan nada mencibir.
"Jangan bilang kalo lo lupa, atas apa yang teleh Klara lakukan ke lo?" Ujar Mei yang masih menatap ke Klara.
"Gue gak pernah lupa, dn gue selalu ingat masa itu, tapi gue udah iklasin atas apa yang kalian lakukan ke gue, dan gue bersyukur karna saat ini gue bisa berubah menjadi seperti ini karna kalian!" Ujar Mita dengan yakin.
"Cih..!" Jeni meludah tepat di depan wajahnya Klara. "Harusnya lo seneng dong, bisa melihat adegan dendam tanpa harus turun tangan!" Ujar Jeni yang dengan sengaja menyiram Klara dengan air, baju Klara yang awalnya sudah basah kini semangkin basah.
Mita memutar arah. "Jangan di vidio ini bukan hal menyenangkan di balik kenyataan pahit seseorang!" Ujar Mita yang mencoba membuat beberapa orang tak merekam kejadian tadi.
Langkah nya Mita berhenti ketika sudah berada di hadapan Bella.
Terlihat kerutan di dahi nya Bella, Mita tau apa penyebab kerutan itu. "Bel gue_ ayo pergi gak usah ikut campur urusan mereka, lagian ini kan yang mereka lakukan ke lo du_ gue pinjam jaket lo!" Mita kembali merampas ucapannya yang terpotong.
Ia langsung mencoba melepaskan, awalnya Bella menolak namun karna paksaan dari Mita akhirnya jaket itu pun berada di tangan Mita.
"Gue pinjam bentar!" Mita langsung pergi dengan menerobos keramaian di tempat tersebut.
"Ayo kita pergi, gak usah peduliin atas apa yang mereka lakukan ke lo!" Mita menyampirkan jaket Bella ke badannya Klara. Klara yang sejak tadi menunduk kini mendongak. terlihat wajah leleh dan takut di dirinya Klara.
"Ayo!" Ujar Mita. "Mau lo apa?" Tanya Jeni yang tak terima dengan kelakuan Mita. "Dia teman gue, gue berhak untuk membantu dia, dan gue rasa lebih bagus menyelesaikan masalah pribadi dengan cara pribadi saja bukan umbar keburukan demi mendapatkan suatu dendam yang kalian simpan!" Mita langsung menerobos para siswa/i ia membawa Bella ke kamar mandi.
__ADS_1
Sedang Bella, yang tau jika jaketnya di berikan ke Klara langsung pergi dari keramaiyan tersebut. namun tak lama selang kepergiannya para siswi dan siswa pun bubur.
"Manusia memeng suka melakukan hal yang di luar nalar dan kemauan nya saja, tidak mementingkan suatu arti persahabatan, mereka menganggap persahabatan sebagai suatu mainkan saja, yang mana akan berakhir dengan berantakan yang tak memiliki jalan keluar, terimakasih sahabat telah menerimaku dengan apa adanya!" Mita tersenyum kecil mengingat masa sulit dirinya dimana ia mendapatkan semangat oleh Bella, Amel dan Dira.