
Mita menjerit tepat di telinga Bayu, "Kita mau ke mana?" ulang Mita dengan menyimpan kedua tangannya di samping mulutnya.
Bayu tersenyum geli, melihat Mita yang berusaha mengucapkan kata agar terdengar olehnya. "Apa?" Tanya Bayu, yang sebenarnya sudah cukup tau apa yang di katakan Mita.
Mita menggeleng lelah, apa segini budeknya Bayu, sampe ngomong di telinga pun gak dengar sama sekali.
Mita melihat sekelilingnya yang tampak asing, senyum nya terukir melihat indahnya pantai di sore hari. "Suka gak?" Bayu mengelus puncak kepala Mita dan dijawab dengan gelengan cepat oleh Mita. "Kenapa! Apa kurang bagus? Atau perlu kita pindah ke tempat lain?" Mita tersenyum diiringi dengan tawa. "Suka kok! cuman kurang..
"Kurang apa?" tanya Bayu tak sabaran.
"Laper!"
Mita berjalan meninggalkan Bayu dengan memegagi perut nya. Bayu baru menyadari jika sedari tadi mereka terus berkeliling tanpa ada membeli membeli makanan ataupun minuman.
"Bod*h! Kok gue baru sadar?" Setelah menyalahkan dirinya sendiri Bayu mengejar Mita yang sudah tampak membeli makanan.
"Mau apa Bay?" Mita memberikan menu makanan ke pada Bayu.
"Sama in aja! ucap Bayu tanpa mengambil menu yang diberikan Mita. "Minumnya?" tanya Mita lagi. "Samain aja! jawab Bayu dan duduk langsung duduk di salah satu kursi diikuti oleh Mita di samping nya.
"Bentar ya neng!" ucap bakak penjual.
"Iya pak!" Mita dan Bayu menjawab secara bersamaan, setelahnya meraka saling pandang dan tertawa kecil bersama. Walaupun gak lucu bagi kebanyakan orang, tapi menurut mereka ini sebuah lolucon. "Serasi banget neng ama cowok nya, padahal bapak ngomong ama eneng tapi si aden ikut jawab!" Ucap sang bapak yang masih sibuk dengan dagangannya.
Mendengar itu Mita langsung diam, begitu juga dengan Bayu.
"Berapa pak semuanya?" Tanya bayu yang sudah mengeluarkan uang merah selembar dari saku celanya. Begitu juga dengan Mita, ia sudah memegagi uang seratus ribu di tangannya. Sang bapak tersenyum melihat pasangan kekasih di depanya. "Enam puluh tiga ribu, ucap sang bapak sambil menerima uang dari Bayu. Mita masih mengulurkan uang ke arah sang bapak, "Biar gue aja yang bayar, lagian kan gue yang ngajak lo kesini! " Ucap Bayu dan di benarkan oleh sang bapak.
Kini keduanya sedang duduk di atas batu besar di tempat yang berbeda, Mita memejamkan mata, dengan kaki yang sengaja tanpa alas untuk dapat merasakan ombak pantai yang begitu bergelombang mengikuti arah angin. anak rambutnya pun ikut mengarah ke angin yang membawa nya. udara di sini sangat membuatnya betah.
Sedari tadi Bayu memperhatikan Mita dari samping, "Imut!" ucap Bayu tanpa sadar. Ketika merasa puas, Mita membuka matanya perlahan
dan memandang Bayu di samping nya. "Pulang yuk?" ajaknya.
"Sekarang? jawab Bayu yang kini sudah turun dari batu besar itu. begitu juga Mita ia ikut turun.
Mita mengecil kan volume suara telponya. "Bentar ya Bay! gue angkat telepon!" Mita menjauh dari hadapan Bayu.
__ADS_1
"Kapan?"
"(...)
"Gue, gak bisa!"
"(...)
" Oke. besok bisa."
Tut..
Tut..
"Siapa?"
"Astaga! ngagin Mita aja!" Mita menggeleng dan merengut melihat Bayu. "Mudah juga ya, nganbeknya?" saut Bayu pada dirinya sendiri.
"Makasih Bay! untuk hari ini." Mita melepaskan helmnya dan mengembalikan ke pemilik nya. "Gak mau minum dulu?" Tawar Mita, yang memang sepanjang jalanan meraka gak ada beberapa henti untuk sekedar minum. Apalagi perjalanan yang di tempuh satu jam lebih.
"Lain kali aja! udah mulai gelap!" Mita mengganguk membenarkan apa yang dikatakan Bayu. "Makasihh!" Jerit Mita saat motor milik Bayu sudah menghilang dari pandangan nya.
"Bun-bunda, udah pulang?" tanya Mita ragu. sang Bunda menjawab dengan senyum, Mita langsung memeluk bundanya dari samping.
"Kangen ya, sama bunda?"
"Iya..!" bunda lama banget piginya? Mita sendiri an! Gak ada teman makan malam! " Keluh Mita masih dengan memeluk sang Bunda, bahkan sekarang sudah semangkin erat.
"Maafin Bunda, Bunda belum bisa kasih tau sekarang!" ucap dewi sambil mengelus elus rambut Mita.
"Udah sana naik! mandi dulu, baru kita makan bereng!" ucap sang Bunda setelan pelukan terlepas. "Oke!" tunggu Mita bentar ya?" Mita langsung berlari kecil menuju kamar nya.
•
Pak.. Bella memukul mukul nyamuk yang sedang mengigitnya. "Bik Sum.. banyak nyamuk!" Jerit Bella dari dalam kamar. tak lama setelah mengerut Bik sum membawa alat pengusir nyamuk, seperti raket dan lainya.
"Kok bisa banyak gini ya bik? biasanya gak ada sama sekali kan?" tanya Bella menyudahi aktivitas belajar nya. "Kan musim ujan non! Mungkin banyak tempat yang di jadilah tempat jentik jentik, besok bibik buangin deh semua air yang di luar yang gak di pakai!" Ucap Bik Sum dan mengundurkan diri keluar menuju dapur, sebelumnya Bik Sum sedang menyapu ia pun
__ADS_1
kembali menekuni aktivitasnya.
Di tempat lain
Ari sedang mandi di derasnya hujan saat ini. Tadi ia bertemu lagi dengan Mira, tapi bukan di sekolah atapun di luaran sana, melainkan Mira langsung datang ke rumah Ari tanpa membuat janji terlebih dahulu padanya.
"Bang, ada temen abang di bawah!" ucap Prans setelah pintu kamar terbuka. "Siapa?" ucap Ari yang merasa gak ada janji dengan siapa siapa.
"Kurang tau! katanya ada perlu sama abang!" setelah menyatakan itu Prans berjalan ke lntai tiga, ia sedang mengerjakan tugas dengan dua teman sekelas nya, di lantai tiga.
"Ari berjalan dengan langkah cepat, langkahnya berhenti melihat Mira yang sedang membelakangi nya, dengan mama Diva, tampak keduanya asyik mengobrol sampai tak sadar jika Ari sudah berada di antara kedua nya.
"Ari. kok gak ngenalin sama mama sih, kalo udah punya pacar?" Tanya Mama Diva dengan wajah yang sangat memuakkan bagi Ari.
"Nyapain?" tanya Ari langsung ke Mira.
"Gu..!
"Kalo gak ada hal penting gak usah lancang sampe repot datang kerumah!" ucap Ari memandang ke arah lain. "Kok gitu? Harusnya senang dong mama udah jumpa sama pacar kamu!" Ucap Mama Diva gak suka atas kelakuan Ari pada Mira.
Ari menarik paksa Mira ke luar rumahnya, di ikuti oleh Mama Diva di belakang nya. Langkah Ari berhenti begitu juga Mama Diva. "Gak boleh kasar, kalo ada masalah sama pacar kamu! Liat dia kasihan! ia udah datang ujan ujan begini masak kamu suruh pulang gitu aja!"
"Udah ikut canon nya?" Kini genggaman tangan Mira sudah di lepas dari Ari. "Gue ingetin sama lo! Jangan berharap lebih sama gue! lo bukan tipe cewek gue!" Ucap Ari dan langsung melewati Mira.
Mira menangis, Mama Diva langsung memeluk Mira dan minta maaf atas kelakuan Ari padanya. "Jangan terlalu di bawa ke perasaan ya sayang! Ari emang keras kepala orangnya!"
"Iya, tan! Makasih udah baik sama Mira." Mira masih mengis di dekapan tante Diva, niatnya ingin bermain dan mengerjkan tugas yang ia tak tau, dan niat lainnya ingin Ari menganggap nya, tapi hasilnya sama. Ari sama sekali gak berubah, baik di sekolah, di luar sana, dan di rumah pun tak kalah kasar padanya.
"Ada apa?" tanya Anwar yang baru saja sampai di depan pintu. "Kenalin Mas, ini Mira pacar nya Ari" Anwar melihat Mira dari atas ke bawah, "Mengapa menangis? tanya Anwar melihat anak perempuan yang mengaku sebangai pacarnya Ari.
"Di usir sama Ari!" ucap Diva dengan pampang sedihnya. "Anak itu!" Anwar langsung masuk ke dalam rumah. Dilihat nya Ari yang akan tunggul melangkah selangkah lagi baru akan menuju kamarnya. "Arii..! " Panggil Anwar dengan lantang, dan menatap Ari dengan sangar.
Ari berhenti dari langkah nya, tanpa membalik badan. "Turun!" Ucap Anwar lagi.
Kini Ari sudah berada di hadapan sang Ayah dan dua wanita yang dibencinya. "Minta maaf?" ucap Ari gak terima setelah mendapat ceramah dari Ayah. Ari tertawa, sampai kapan pun gue gak bakal minta maaf sama lo! dan satu lagi lo bukan tipekal cewek gue! berhenti deh drama di depan bokap/nyokap gue! Basi" ucap Bayu dan berjalan meninggalkan tiga orang yang memanggil dan nya. "Tan, Om, Mira samperin ya? " Pinta Mira dan langsung pergi setelah mendapat anggukan keduanya.
"Gak usah caper deh sama gue! di luaran sana masih nanya cowok yang lebih dari gue, gue minta satu hal sama lo, jangan berharap gue, gue udah sayang sama orang lain!" setelah mengatakan itu Ari pergi menembus hujan deras di luar saat ini.
__ADS_1
•
"Ahh... " Ari mengacak acak rambutnya prustasi, mau lo apa? " tanya Ari dan langsung membalik ke belakang.