
Mita berjalan malas saat merasuki ruang kamarnya, saat berkumpul barang satu geng Bayu tadi, cukup menguras tenaga juga, bukan hanya tenaga saja tapi juga otaknya.
Di lain sisi, bukan hanya Mita saja yang merasakannya, tapi Bayu juga merasakan hal yang sama.
Saat kumpul dengan ketiga temannya ditambah Bella dan Mita. Ia terus menerus mendapatkan banyak pertanyaan tak bermanfaat dari Deni, Eka serta Bella. jika Ari ia lebih memilih diam.
Balik ke Mita.
Mita mengangkat satu kakinya ke atas, sandal yang di pakainya kini masih menempel di kakinya. sangging lemasnya. ia menurunkan kembali kakinya dan mencampakan sandal di kakinya dengan asal.
Matanya memandangi langit kamarnya dengan sedikit melamun. "Bagus!" lirihnya pelan. "Sebagus hubungan gue dengan Bayu!" Ucapnya lagi. kali ini diiringi dengan tawa kecil.
Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
Tanpa bertanya siapa, Mita berjalan mendekati pintu. Terlihat seorang wanita yang saat ini jarang sekali ia lihat. "Bunda!" Mita membuka lebar pintu kamarnya.
"Abis dari mana?" Tanya Bunda Dewi pelan, sambil ikut berjalan masuk ke dalam kamar sang anak. "Kumpul bareng teman Bun!" Jawab Mita degan senyum manis.
"Leleh banget keliatannya anak Bunda!"
"Iya bun, leleh di beri pertanyaan tentang hubungan Mita sama Bayu!" Mita menjawab dengan bibir yang mengerut. "Siapa yang beri pertanyaan? biar Bunda lem, bibirnya!" Bunda Dewi mengacak pinggang seakan dengan angkuhnya.
Mita terbawa melihat aksi yang di berikan oleh Bundanya. "Yang ada bukannya takut bun, yang ada mereka malah lucu liat Bunda begini!" Dewi ikut tersenyum melihat Mita yang tertawa.
Mita di buat terus menerus tertawa oleh Bundanya saat itu. namun lama kelamaan, tiba tiba saja Mita melihat wajah Bundanya dengan tatapan serius, melihat pucatnya wajah sang Bunda, Mita pun langsung duduk mendekati Bundanya.
"Bun.. Bunda sakit lagi?" Tanyanya sambil menggenggam tangan Bunda Dewi dengan lembut. Bunda Dewi tersebut kecil melihat anak perempuannya itu.
Dapat Mita rasakan begitu dingin tangan yang saat ini di gengamnya.
"Bunda sakit lagi ya?" Tanyanya kembali. "perlu ke rumah sakit lagi bun? Mita suruh pak ujang antar ya!" Mita yang sudah menujukkan muka khawait pun langsung menyembur Bundanya dengan banyak pertanyaan.
"Gak perlu, bunda gak sakit kok! cuma pening, itupun dikit! dikit doang!" Ujar Rada yang menyakinkan. Dewi meletakkan tangannya Mita di keningnya. "Gak sakit kan?" Tanya Bunda Dewi balik.
Mita menatap Bundanya dengan tatapan tajam.
"Gak bohong kan bun!" Tanya Mita yang memastikan kembali.
"Menurut kamu?" Bunda Dewi mencubit pipinya dengan gemas. "Bunda udah makan kan? udah minum obatkan?" tanya nya yang terkesan menekankan banyak dorongan pertanyaan.
"Udah. minum obat juga udah!" Jawab Dewi dengan senyum manisnya.
"Jangan senyum lebar lebar bun, Mita jadi iri!" Ujar Mita yang langsung mendapat senyum lebih lebar dari Bundanya.
"Ais! malah mangkin labar!" Mita mengubah ekspresi wajahnya seakan sedang kesal. kini ia melipat tangannya di didepen perutnya.
Paginya, Mita terbangun saat mendengar suara gaduh dari lantai bawah. Matanya yang masih merem melek melebar sempurna, saat melihat wajahnya Bik Susi yang sembab. entah apa yang membuat Bik Susi terlihat lemas dengan wajah khawatir.
"Ada apa bik?" Di rangkulnya Bik susi agar duduk. Namun Bik Susi menolak. "Bunda Non. Bunda!" Isak Bik Susi yang kini kembali keluar dari kelopak matanya.
Mendengar kata Bunda, Mita langsung berlari ke kamar sang Bunda, di sana terlihat Pak ujang yang sedang membacakan doa di telinga Bundanya.
"Bu-bunda ke-kenapa Pak? bunda kenapa?" Tanya Mita sambil memeluk Bundanya. "Non, jangan nangis meraung raung Non, takutnya Bunda gak bisa dengar yang bapak arahkan." Ujar Pak de pelen.
__ADS_1
Mita mundur dua langkah. ia menatap tajam sang Bunda yang kini berbaring dengan tatapan kosong nya. Melihat Bundanya yang seakan melirik ke arahnya. "Ini Mita bun, Bunda harus kuat, harus bisa lewati masa sulit ini, Bunda pengen liat Mita tamat kan bunda harus kuat.. harus..!" Ujar Mita yang memberi semangat tanpa suara.
Mita dengan cekatan mendekati sang Bunda. Ia menggenggam tangan Bundanya dengan erat.
Tanpa di sadari sedari tadi ada sosok pria yang tak asing lagi di mata Mita, pria itu menggenggam tangan kiri Bunda Dewi.
"Mita di sini bun, Mita di sini. Bunda harus kuat, tunggu Mita bahagiakan Bunda Bun, tunggu! bunda jangan tinggal kan Mita sendiri bun. Mita gak rela, gak mau, Mita sayang Bunda, tadi malam Bunda dah janji bakal ajak Mita ke makam Nenek, Bunda juga janji kalo kita bakal liburan bareng. bakal jaga cafe bareng. Bunda juga janji bakal temani Kak Ari di awal kuliahnya. Bun..
Ucapan Mita terputus saat merasa genggaman tangannya mulai tak berdaya lagi.
...Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un...
Ketika mendengar ucapan yang keluar dari Pak De, Mita langsung berdiri lemas. ia melihat Bundanya dengan tatapan tak percaya.
Ia memundurkan langkahnya ke belakang. kepalanya menggeleng seakan tak ingin dan tak mungkin atas apa yang terjadi saat ini. kedua tangannya menutupi mulutnya. air matanya kembali keluar dari tempatnya.
Merasa tak tahan menahan tangis. Mita keluar kamar dengan berlari. Ia terus berlari dan berlari. tak memiliki tujuan yang pasti dengan rasa sesak yang ia bawa pergi. Tak sanggup melihat Bundanya seperti itu
Bella, Dira, Amel, ketiga temannya Mita sudah sampai di rumahnya saat keadaan keadaan sudah menjadi menegangkan.
Mita terduduk lemas di tanah dengan wajah yang sudah terlihat sembab. ia memandang awan yang terlihat cerah. "Kenapa gue merasa sakit lagi, sakittt.. sakit yang tak terlihat namun memiliki jejek yang mendalam.
"Lo percaya gak tuhan itu adil?" Tanya suara yang berasal dari arah belakangnya. Mita berbalik badan dan mendapati Bayu yang berjalan mendekatinya.
"Gue baru aja merasakan yang namanya bahagia, tapi kini! Bunda udah pergi!" Mita menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kepergian orang yang kita cinta dan sayangi itu memang berat dan sulit. namun seiring berjalannya waktu, rasa berat yang membebani dan membuat kita sakit akan menghilang sedikit dikit."
Setelah berulang kali. di beri ajakan oleh Bayu. akhirnya Mita pun mau pulang. Sekitar jam dua siang, pemakaman pun baru dilaksanakan.
Ari yang berada di sampingnya Mita terus menerus memberi kekuatan oleh adik satu satunya ini. ia menggenggam tangan adiknya dengan erat. "Ada kakak!" Ujar Ari pelan.
Mita tak lagi mengeluarkan air matanya. Karna jika di bilang, matanya sudah sudah terlalu bengkak akibat menangis karena merasa tak nyaman percaya atas apa yang terjadi pada Bundanya. ia menatap lurus ke depan. Saat ini, Mita, Bayu, Ari dan beberapa teman dekatnya masih berada di pemakaman. Mereka tau jika saat ini, Mita masih terpukul atas apa yang ia rasakan saat ini.
...
lima bulan kemudian.
Mita berjalan pelan saat meninggalkan sebuah pemakan, tak lain makan Bundanya. di sampingnya ada Ari yang menemaninya. Sampai saat ini, "Gimana udab tenang kan perasaannya?"
Mita mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Key kita makan siang dulu ya!" Ujar Ari yang mendapatkan anggukan kecil dari Mita.
"Makan nasi padang aja ya Kak, pengen!" Pinta Mita dengan wajah yang sedikit semangat.
"Okey!" Jawab Ari singkat. "Kakak kapan balik?" Mita menatap wajah tampan sang kakak diiringi senyum manis. "Gimana hubungan lo sama Bayu, ada perkembangan kah?" Mita menatap Ari sekilas.
"Oh.. iya kak, kemarin ada yang kirim salam sama kakak, si jijah!" Mita menampilkan sebuah poto ke hadapan Ari.
"Cantik gak?" Tanyanya dengan sengaja. "Kagak, lebih cantik adik gue!" Ucap Ari yang mendapatkan tepukan bahu dari Mita. "Masih suka ya sama Mita? atau jangan jangan gagal move on nih!" Mita menaikkan alis nya sebelah secara bergantian.
"Kalo kakak gak sayang dan gak cinta, itu artinya buat apa di adakannya Kakak?" Ujar Ari tanpa melihat Mita.
__ADS_1
"Huh.. dasar! ganteng genteng tapi masih jomlo!" Ejek Mita sambil memasukkan nasi ke mulutnya. "Jomlo akut!" ejek nya lagi.
"Oh iya, ntar malam gue mau ke rumah Bayu, ikut gak, itung itung jumpa sama calon mertua!"
Canda Ari yang juga ikut makan. Mita meminum air putih dengan cepat. "Malam, jam berapa Kak?" Tanya Mita dengan senyum penasaran.
"Siap magrib!" Jawab Ari dan Mita langsung terdiam sejenak. "Ikut deh, bosa juga dirumah!" Jawab Mita enteng. "Atau kangen sama B.. Mbak sambal nya tambahin dikit Mbak!" Ujar Mita yang mengalihkan pembicaraan.
Mita yang masih sibuk memilih baju yang cocok untuk dipakai. di kaget kan oleh bunyi ponselnya. "Gangu aja!" Kesal Mita yang mendudukkan pantatnya di kasur.
Mita
_Pelan pelan bel, gak bisa gue cerna apa yang lo omongin.
Bella
_Besok lo ada waktu luang kan, pulang sekolah langsung temenin gue mall.
Mita
_Pulang sekolah ya! Mita berpikir sejenak.
Bella
_Gimana? bisa gak? Tanya Bella yang terdengar tak sabaran menunggu jawaban Mita.
Mita
_Ok
Mita menatap ponselnya dengan tatapan tak percaya. "Gila si Bella, belum selesai ngomong juga, udah main tutup aja. Mita memilih menelpon Bella. tak lama telepon pun di angkat.
Bella
_Apa lagi Mit? Mita mengerutkan kening saat mendengar pertanyaan dari Bella.
Mita
_Bantu gue pilih baju dong, bingung gue!" Mita meletakan ponselnya di atas meja belajar, ia menunjukkan satu persatu baju ke arah kamera ponselnya.
Mita
_Yang benar napa bel, udah mau berangkat nih gue! Kesal Mita sambil membereskan pakaiannya yang berserak.
Bella
_Ya udah deh, warna biru muda tadi aja, bangus tuh!
Tak lama setelah mendapatkan pendapat dari Bella. Mita pun mematikan panggilan teleponnya.
Ia berjalan anggun saat menuruni anak tangga. "Waw.. mungkin dewasa, mangkin manis dan bagus seleranya!" Puji Ari.
"Bagusan gaunnya atau orangnya?" Tanya Mita dengan wajah antagonis. "Bagusan orangnya dong, tapi lebih kelihatan pas dengan gaunnya," Ujar Ari lagi.
__ADS_1