
— Si Dira udah di mobil.
^^^— (....)^^^
— Iya
Bruk..
Suara pintu tertutup dengan kuat, Bella memberikan dua botol minuman. "lo sakit Mel?" Amel hanya menggeleng "cuma lelah aja tapi gak apa kok,"
"Itu tuh minum dulu biar segar!" Saut Bella
" Iya"
"Kok lama banget ya? " mereka semua sudah tujuh belas menit, dan berdiam diri di dalam mobil. Bella mengoceh dia memang gak suka sama yang namanya menunggu. "Ia nih gue juga dah ngantuk!" jawab Amel.
"Kita pulang aja ya, gak usah jadi ke taman" Dira memandang Bella dengan tatapan kesal.
"Kenapa?"
"Gue bosan nunggu di sini mana ponsel lobet lagi. gue juga mau pulang sambung Amel, dan juga di angguguki oleh Mita.
"Kita disisni kejebak gak bisa pulang dan ngelanjutin perjalanan! Gimana mau pulang?" sambung Dira
Bella tampak berpikir sejenak, "kita pulangnya jalan aja gimana? lagian gak jauh, cuma sepuluh menit juga dah nyampe!"
"Gue sih ngikut aja!"
"gue juga" Mita menanggapi, "lo Dir?" Tanya Bella pada Dira. "mobil lo gimana?" bukanya menjawab malah menanyai ulang.
"Itu sih urusan gampang, ntar pak ujang gue suruh jemput. deal ni kan jalan!" Bella menyakinkan ketiga temannya yang sudah keluar mobil. Suasana jalanan rejok dengan suara kendaraan dan klakson yang tak henti hentinya berbunyi.
Bella berjalan beriringan dengan Mita, sedang Amel dengan Dira.
Dira yang dari tadi sibuk memainkan ponselnya membuat Amel geram, karna sejak tadi dirinya mengajak Dira mengobrol tapi hanya di balas dengan oh, mungkin, iya. sungguh jawaban yang sangat membosankan menurut nya.
"Dir.. satu kali panggilan tapi gak ada hirauan dari Dira. "Dir.. Diraaa...!" Dira langsung menghentikan ponsel nya bersamaan dengan langkah nya yang juga terheni. Ternyata bukan hanya Dira, tapi juga Mita dan Bella yang di depan pun ikut menoleh ke belakang.
"Mel, kalo mau lomba suara gak disini juga lah! mengganggu suasana jalanan tau?" kesal Bella.
"Sorry. lo pada luan aja deh!" Belum juga Amel selesai Bella sudah mengajak Mita berjalan.
"Pa'an sih?" tanya Dira malas.
liat tuh, Amel menunjuk beberapa orang di dekat mereka, yang memang mayoritas cowok, Dira melihatnya sekilas lalu melanjut kan perjalanan. Eh kok main pergi- pergi aja! gak ada yang menarik! jawab Dira, liat tuh mata lo buka lebar-lebar Amel menunjuk seorang cowok yang terlihat cool dengan memasukkan sebelah tangannya ke saku celana, sambil memainkan ponsel di tangan kirinya.
"Gimana belom tergoda!" Amel menaikan sebelah alis! gak ada selain Prans. Dira pergi begitu saja setelah mengatakan itu.
Sejujurnya Amel sedikit tertarik dengan cowok tadi, berhubung mental nya yang mendekati cowok terlebih dahulu rasanya gengsi, namun berbeda dengan Dira, dia paling bisa menarik perhatian banget orang.
__ADS_1
•
Lain hal dengan Mita dan ketiga sahabatnya, Bayu baru saja sampai di rumahnya.
melihat mobil asing yang terpakir di rumah nya merasa penasaran siapa tamu yang datang.
Bayu berjalan menuju ruang keluarga nya. Ia melihat pesan masuk yang baru saja berbunyi.
~ rika 💕
— Bay, lo gak papa kan?
— Bayu menaikan sebelah alis, tumben. biasanya kalo ada yang penting baru kirim pesan, batinya. Bayu membuka pesan yang baru saja dikirim Rika. dan mangkin heran melihat pesan nya. bayu berpikir sejenak lalu tersenyum kecil.
— "kangen ya?" Bayu sengaja menggoda karana emang dari sore sampai malam ini Bayu gak ada mengirimi pesan, memang biasanya bayu selalu mengirimi pesan singkat, jadi mungkin saja rika kangen akan pesan pesan nya.
— "Bay, gue tanya serius!"
mama Bayu berjalan mendekati anak semata wayang nya. "Bayu, mana Ari?" Bayu yang baru saja ingin membalas pesan Rika jadi tertunda.
Bayu mengalami maminya. tampak raut wajah marah terpancar oleh orang dihadapan nya. "Ayah sama Mamanya di ruang Keluarga
nyariin Ari!" Bayu yang baru saja menyalami mamanya langsung menaikan kedua alisnya
"Ari belum pulang?" tanya Ari balik, mami tanya serius, orang tuanya udah sejam lebih lo nungguin kalian pulang. Bayu sedikit berpikiran hari ini Ari gak kerja, kalo pun dia mau pigi pasti ngabarin. Heh kok malah melamun. Mama Bayu menyadarkan ya dari lamunan
"Ayok ikut mami, raut wajah Mami Bayu tampak lebih marah ketika Bayu gak tau dimana keberadaan Ari dimana. Mungkin maminya sudah tau kalo Ari menginap di sini itu untuk melarikan diri dari rumah.
"Mak_ benar ya, om angkat telepon dulu" Izin Anwar dan sedikit tersenyum melihat siapa yang menelepon, "siapa yah?" Tanya Diva pada suaminya. Ari jawab Ayah Ari dan langsung menjawab telepon.
— Halo
— (....)
— Baik prans ayah akan secepat nya kesana!
Wajah ya awalnya tampak tersenyum kecil kini berubah menjadi khawatir. setelah sambungan terputus, cukup keheningan yang terjadi, Bayu pun heran melihat wajah Om Anwar yang terlihat kaku sambil menatap ponsel yang sudah terputus sambungan, seperti telah terjadi hal buruk. kenapa yah? tanya Diva (mama tiri ari) melihat wajah suaminya yang kaku.
"Ayo kita pergi," bukanya menjawab om Anwar malah berdiri dari duduknya. semua mata menuju ke arah Om Anwar yang masih terlihat aneh.
"Ari kecelakaan." dua kata yang mampu membuat tiga orang yang duduk langsung berdiri.
•
Semuanya sudah pergi menuju rumah sakit, bayu sengaja mampir ke rumah ke rumah eka, dia sudah menghubungi tentang bayu kecelakaan.
kini semua orang sudah berkumpul di luar IGD semua wajah tampak khawatir, termasuk Om Anwar beliau bolak balik di ambang pintu menunggu pintu yang sejak tadi tertutup. Tante Diva tampak menangis di kursi tunggu di temani oleh Mama bayu. lain hal dengan Prans dia tampak santai tetapi sebenarnya pikiran nya kacau, mungkin ini tak akan terjadi jika tidak menghalangi kepergian ari, mungkin.. Prans terus saja menunduk walau sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. terhadap semua orang di sekelilingnya. seharusnya dia yang diposisi saat ini bukan Ari. Prans menjadi salah didepan ayah nya saat ini, Om Anwar menyalahkan Prans penyebab semuanya. sesekali ia menjambak rambutnya kuat, sesal itulah kata yang cocok di miliknya. bayu yang tau kondisi Prans langsung duduk di samping Prans sambil memberikan sebuah minum botolan. Prans hanya melirik nya sekilas tanpa mengambilnya.
"Gue tau maksud lo bagus, gue juga udah ngasih solusi ke Ari tapi sikapnya tau sendiri, keras kepala sama seperti Om Anwar."
__ADS_1
"Gue ngedukung apa yang lo lakukan itu benar, tenang aja usah terlalu dipikirkan. Bayu memukul pelan bahu Prans, minum gak bagus nolak rezeki.
Prans langsung merampas tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu meneguknya sampai separuh.
•
Mita yang tidur bersama bella tampak gelisah, tah apa yang menjadi pengganjal pikirannya, tapi yang pasti seperti terjadi sesuatu yang tidak ia tau sama sekali. Bella yang sejujurnya belum terlalu lelap tertidur pun ikut gelisah melihat Mita yang gelisah.
"Mit, lo napa sih?" bella sudah menghidupkan sakelar yang membuat seisi kamar kembali terang.
"Gak tau, gue juga bingung kenapa!
" Bella meraba kening Mita. gak panas tapi kok lo keliatan kepanasan?
"Mita hanya tersenyum sebagai jawaban.
tiba-tiba kamar diketuk dengan kuat pelakunya adalah Amel. "apaan sih lo ganggu orang tidur aja!" Bella membuka pintu seraya merepet melihat tingkah Amel seperti anak kecil.
Bukanya menjawab amel malah tersenyum simpul, "gue gabung lo dua ya tidurnya." Mita dan Bella saling pandang lalu menggeleng bersamaan.
"Sok kompak deh!"
Amel langsung berjalan ke arah kasur dan berbaring di samping Mita, Bella yang kesal karena sikap Amel langsung menarik bantal yang di bawanya, gue gak bisa tidur kalo ada lo!
gue juga gak bisa tidur kalo sama dira, dia tidur lasak banget, gue aja yang baru tidur udah di tendang dua kali. belum lagi ngorok nya kuat .
"Gak bisa, kasur disini lebih kecil, gak muat tiga orang, di sana kan lebih besar bahkan dua kali lipat lebih besar."
Bukanya mendengar kan, Amel malah tidur. Bella mangkin geram, "woi.. ada maling," Bella sengaja berteriak agar Amel terbangun.
“Gak usah teriak teriak kali Bel! udah malem bagus tidur," Amel berbicara tanpa membuka mata dan yang menepuk kasur disampingnya.
"Keluar gakk..!" suara Bella terdengar sangat sangar di dengar. Dir.. keluar gih, kalo lo tidur di sini yang ada malam ini kita gak bakal tidur. mita mencoba melerai antara kedua temanya.
Muka Bella udah merah padam, "keluar lo tompel.." Bella membukakan pintu kamarnya tapi yang ada si Dira malah masuk. Bella mangkin pusing jadinya di buat kedua temannya ini.
Amel tersenyum puas melihat kedatangan Dira yang tak diundang. Bella menutup pintu dengan kasar. membuat ketiga orang di sana menatap Bella heran.
"Napa lo Bel?" Bukanya menjawab malah berjalan menuju balkon. diikuti oleh Mita, dan Dira. Dira menatap Mita dengan tanda tanya. Dan hanya di jawab dengan anggukan bahu oleh Mita.
"Bel..." Bella masih tak bergeming ia masih saja menatap depan. "gue bisa tidur tapi kalo Amel gak, gue akui gue tidur lasak banget, bahkan lebih lasak dari abin. mendengar kata abin Bella dan Mita tertawa. bisa-bisa nya di saat seperti ini si Dira masih sempat ngelawak.
Abin adalah salah satu abang kelas mereka yang sering banget kena kasus, dan termasuk murit teladan yang gak pernah alpa di ruang Bk, karena sering bolos, ngelawan guru, cabut saat baris teutama upacara, berantem di kelas, cubuli temen yang lemah, buat masalah di kantin kalo dia gak dilayani terlebih dahulu, sempat mau dikeluarkan tapi gak pernah di keluar kan karena anak pak kepsek. hadoh jauh dari prediksi ya lo bin..
"Yang jadi masalah di sini gue gak pernah tidur sendirian gue selalu di temani kakak gue, setiap pagi selalu tuh marah marah karna guenya lasak gak karuan, tapi gue sendiri gak pernah merasa kalo gue selasak itu."
"Jadi gimana kalo kita tidur bareng, dikamar lo yang lama, kan besar tuh kasurnya. Eh bukan berempat tapi bertiga. gue bakal tidur di bawah, soalnya gue juga gak bakal bisa tidur kalo sendirian." jelas Dira. "Gue sih setuju," saut Amel dari dalam kamar. "gue sih ngikut", Bella berjalan menuju kamar, kini tinggal Mita yang belum menjawab.
Dira memandang Mita meminta persetujuan dari Mita, "gue mau nya seperti kata lo yang pertama, satu kasur empat orang, bukan satu kasur tiga orang."
__ADS_1
"Tap_ ucapan Dira terjeda, "gue disamping lo, gue juga pengen ngerasain tidur sama orang lasak." Mita berjalan mendekati Dira. senyum kecil terukir di mulut Dira, begitu juga Mita.
"Makasih Mita", Dira memeluk Mita dari belakang melihat itu kedua orang yang di kamar ikut ikutan memeluk bersamaan.