
Semua siswa/i sibuk berlari ke lapangan, karna akan ada arahan sebentar dari Kepsek. Mita menggeleng melihat tingkah sahabat nya itu, gak lain Amel dan Bella, walaupun gak satu barisan, tapi tak menjadikan halangan bagi Mita dan Dira. "Emang gak ada kapoknya si Amel! gak ada takutnya sama sekali kena omelan sama buk wati!" Dira berbicara dengan berbisik oleh Mita.
Mita mendelik ketika Buk Wati sudah menjewer Amel dan Bella bergantian, di susul oleh Dira yang juga kena jeweran oleh Buk Wati. "Cocok deh, sama namanya, wati, wati, hati hati ada hati yang lebih tersakiti dari putus hati yaitu jeweran kuping dari buk Wati!" Dira sengaja menguatkan ucapanya, yang membuat para cewek di sekitar hanya menggeleng melihat tingkah Dira yang baru saja di jewer, eh bukannya malah diem ini malah tambah ribut dan cari masalah.
"Astaga! Diraa..! baru juga lo omongin Amel sama Bella, ucapan lo malah kemakan sama lidah lo sendiri!" ucap Mita pelan sehingga tak terdengar oleh siapa pun.
Setelah selesai mengasih arahan, para siswa/i mulai bubar menuju kelas mereka.
"Aduh!" Mita mengelus elus kepalanya yang baru saja bertabrakan dengan seseorang, "Lain kali kalo jalan liat depan, jangan merem!" Mita terperangah mendengar celotehan dari Ari, "Udah jelas kakak yang jalannya gak liat liat, kok malah Mita yang yang di salahin. Ucap Mita dengan ekspresi ngegas.
"Sana masuk! udah masuk tuh gurunya!"
"Jadi ngusir nih!" Ucap Mita berlari menuju kelas, tapi matanya memandang ke arah Ari. "Ahaha.. Kan dah gue bilang, kalo jalan liat depan jangan liatin gue!" Ari membantu Mita berdiri karana tertabrak pot bunga kertas di depan kelasnya.
"Eh..! itu Ari ngapin? sama siapa lagi?"
"Gila! Mita anak sebelah, pande banget capernya"
"Alah! cari muka itu mah! gaya sok lugu, tapi pilihan Ari cowok gue!"
"Kenapa liatinnya gitu? iri ya?" Dira sengaja menguatkan nada omongannya, sengaja memanas manasin tiga cewek yang lagi mengomongin Mita.
"Sok tau lo!" ucap salah satu dari mereka, "Emang gue tau!" Jawab Dira ketus. "Kenapa iri ya, gak di perhatiin sama Ari? aduh kacian deh! cup.. cup.. cup.. jangan iri ya!" Dira menepuk salah satu cewek yang mengatainya, lalu meninggal kan tiga cewek itu, yang akan mengamuk setelah kata kata yang keluar dari mulut nya, tak lupa juga juga Dira memeletkan ludah seakan sengaja mengejek.
Dira memasuki kelas bersamaam dengan Mita,
dan langsung menuju bangku yang telah di atur sabtu kemaren.
__ADS_1
•
Pulang sekolah
"Mit..! pulang bareng yuk!" Dira berjalan beriringan dengan Mita sambil merangkul lehernya Mita. "Dah di jemput!" Mita menujuk mobil Pak Dede yang sudah terparkir di depan gerbang sekolah, "Ahh! padahal gue mau ngajak makan, tapi yaudah deh! besok bareng ya?" Mita menjawab dengan mengacungkan kedua jempol dan berlari kecil meninggalkan Dira.
"Lama Pak?" Mita bertanya setelah mendudukkan bokongnya di kursi, hening tak ada jawaban, ternyata Pak Dede sedang tertidur dengan posisi terduduk.
Awalnya Mita ingin membangunkan Pak Dede, tapi ia urungkan melihat ngenyaknya tidur supir pribadinya ini. Mata Mita terperangah ketika melihat seorang cewek yang sering mendekati Ari, yang berlari mengejar Ari menaiki motornya. "Kurang kerjaan!" Ucap Mita melihat tingkah cewek itu.
Tin.. tin.. tin..
Suara klakson motor yang di bunyikan berulang ulang dan geber geber membangunkan Pak Dede yang sedang tertidur pulas. "Asataga! ngagetin aja!" ucap Pak de sambil mengelus elus dadanya. "Astaga!" Ucap pak de lagi ketika membalik ke belakang dan ternyata sudah ada Mita yang memandang dirinya juga.
"Bapak kok gak dibangunin!" Pak de merasa bersalah karna ketiduran di mobil. "Mita liat pak de, nyenjak banget jadi Mita biarin aja, eh ternyata pak de di bangunin sama suara klakson dan geber geber!"
Sesekali Mita melirik ke arah ponselnya, yang tampak ada pesan masuk, dan pokusnya berhenti ketika menyadari "Eh, pak kelewatan!" Mita setengah menjerit menyadari jika mobilnya melewati mini market.
"Astaga, bapak lupa non!" ucap pak de dan memutar balik arah.
"Bentar ya pak!" Mita keluar dari mobil setelah mengatakan itu. "Lama pun bapak pasti tungguin kok non!" Ucap pak de namun sudah tak terdengar oleh Mita.
Mita mengambil merogoh saku roknya mencari kertas kecil yang berisikan apa saja yang akan ia beli. "Lah kok gak ada? apa tadi kebuang pas ngambil uang? Atau jatuh disini pas ngambil ponsel?" Mita menanyai dirinya sendiri.
Di tengah jalan ingin mencari benda yang di carinya. Mata Mita terperangah, melihat cewek di dekatnya, seorang cewek berambut panjang dengan badan ideal, yang memiliki tinggi seimbang dengan nya, tubuh putih tapi lebih terlihat pucat, matanya.. Mita sangat iri dengan bola matanya itu. "Cantik!" ucapan Mita terdengar di telinga orang yang di kaguminya.
Orang itu tersenyum ke arah Mita, begitu juga dengan Mita, Mita tersenyum seindah mungkin,
__ADS_1
"Rikaa! ini, gue dah jumpa!" Suara itu membuat kontak senyum keduanya berpisah begitu saja.
"Iya!" ucap cewek yang tadi bernama Rika.
Mita memandangi kepergian Rika yang berjalan mendekati temanya. "Gue pengen punya mata indah itu!" ucap Mita lalu mengambil asal dua minuman dingin tanpa soda. dan berjalan mendekati kasir untuk membayar.
Di sini ternyata Mita bertemu lagi dengan Rika, dan temannya, tatapan Adel menatap tajam ke arah Mita yang mendekati kasir, "His.. kok bisa ada dia sih! jijik bnget gue!" ucap Adel masih dengan menatap Mita tajam.
"Apa Del?" Tanya Rika karna kurang jelas atas ucapan Adel barusan. "His.. bukan lo Rik! udah sono bayar!" ucap Adel mendorong Rika agar ia yang bayar.
"Kok natapnya tajam kali gitu ya? Apa gue ada salah? Atau ada yang salah dengan muka gue?" Pertanyaan demi pertanyaan menyambar di otak Mita, "Huh.. syukur deh dah pergi!" Ucap Mita dan membayar di kasir.
"Udah non?"
"Udah pak, jalan pak!" Pinta Mita sambil memberikan sebotol minuman ke pak de. "Makasih non!" mita mengganguk sebagai jawaban.
Sesampainya di rumah Mita disambut hangat oleh Bunda Dewi. "Siang bunda!" Mita memeluk sang bunda saat sudah membuka sepatunya.
"Gimana ujianya, susah gak?" tanya sang bunda Dewi di sela melepaskan pelukannya.
"Susah bun! Ada yang gak Mita baca, jadi Mita jawab asal!" Kini sang bunda mengelus puncak kepala Mita dan membawa putrinya ke ruang makan. "Gak apa yang penting kan udah berusaha, benar salahnya itu soal belakangan, tapi bunda percaya pasti Putri bunda bisa!" Sang bunda mengepalkan kedua tangannya, seakan memberikan semangat ke pada anak.
"Bunda udah masak makanan kesukaan Mita, makan yang banyak ya!" Pinta bunda Dewi sambil membukakan kursi yang akan di duduki oleh Mita.
"Oke bun..! Bunda juga ya!" Pinta Mita sambil menggeser kursi sampingnya agar di tempati oleh sang bunda. "Pasti dong!" Jawab Bunda Dewi dan mulai mengambilkan makanan ke piring nya Mita.
Mari beri dukungan untuk autor, beri Like, vote dan komentar, makasih buat yang baik
__ADS_1