
...
Mita berjalan pelan menuju dapur, ia membawa piring dan gelas bekas minuman dan makanan yang tadi menjadi pengganjal perutnya. Saat
akan kembali naik keatas. Tak sengaja ia melihat orang yang berkerumun di dalan cafe.
Karna merada penasaan, Ia pun berjalan menuju dalam cefe. Matanya memicing saat melihat Adel yang menatap tajam ke arah... Mita menutup menepuk keningnya saat menyadari jika dirinya sudah ditunggu oleh teman temannya.
Mita kembali melihat kerumunan orang di depannya. Saat langkahnya mungkin dekat, perasaan tak enak menguyar di dadanya. Mita memegang dadanya dengan kedua tangannya. Ia berdoa jika perasaan tidak berburuk dengan apa yang membuat hatinya berdebar.
Matanya membola melihat wajah Rika yang terlihat sekilas saat di bopong oleh beberapa orang. Mita kembali melihat ke arah Amel. tatapannya kini tertuju ke arah Bayu. Ia memegang dadanya dengan sesak.
"Kok sakit bancet ya?" Mita bermonolok dalam hati. Tak sengaja ia di tabrak oleh Dira. "Sory.. ujar Dira yang mengambil pena yang jatuh ke lantai. Saat memberikan pena tadi. Dira tertawa kecil. "Lonya Mit, gue kira siapa?" Ujar Dira dengan senyum lebar.
"Yang pingsan itu beneran Rika!" Mita bertanya layaknya manusia yang sangat agresif!" belum sempat Dira menjawab, Mita sudah berjalan mendekati meja, dimana ada Bella, Eka, dan Bayu.
"Ikut gue!" Tanpa berucap lagi, Mita langsung menarik Bayu menjauhi kerumunan di dalam cafe.
Bayu menautkan alis bingung ketika melihat seorang Mita yang terlibat serius di hadapannya. "Lo masih suka sama Rika?" Pertanyaan dari Mita membuat Bayu bertambah diam. ia menatap Mita dengan tanda tanya.
"Kalo pertanyaan lo ini, ada hubungannya dengan Rika yang pingsan tadi, gue bakal bilang gak, karna dia masa lalu gue, dan gak ada hubungannya sama sekali dengan gue!" Ujar Bayu dengan tatapan seriusnya.
Sesudah mengatakan itu, ada goncangan besar yang mengumpat di dalam hatinya, Bayu berusaha menghilangkan jejek Rika dari dalam dirinya. menurutnya dengan cara seperti inilah semua jejek dan kenangan tentang Rika hilang dari dirinya.
Setelah mengatakan itu, membuang wajah ke arah lain, ia merasa tak habis pikir dengan sikap Bayu di hadapannya ini. "Apa sebegitu bencinya lo sama dia, sampai sampai lo gak bisa sekadar memberikan rasa khawatir lo ke dia, apalagi di saat dia butuh pertolongan dari lo?" Tanya Mita masih dengan tatapan kearah arah Bayu, walaupun yang ditatap melihat kearah lain, menurut Mita hal ini bukan lah sebuah masalah baginya.
"Gue harap lo gak usah ikut campur urakan gue dengan dia, dan sekali lagi, hal yang harus lo tau, jika gue gak ada hubungan apa apa lagi sama Rika! Mita menghela nafas lemas saat Bayu mulai hilang dari pandangan matanya.
__ADS_1
Mita menghela nafas kasar, "Mulut lo bisa bilang gak ada masalahnya sama lo bay, tapi jauh di dalam hati lo, lo berusaha keras buat menghilangkan jejek Rika di dalamnya, tapi cara lo yang begini, gue rasa bakal hanya menyiksa lo dan Rika aja!" Buyaran Bayu di otaknya langsung hilang saat merasa ada yang menjahilinya.
Mita langsung menoleh ke arah belakangnya saat merasa bahunya di genggam erat oleh orang. "Eh Kak Ari!"
"Ngapain?" Satu pertanyaan yang membuat Mita tersenyum kecil. "Nunguin bintang jatuh!" Ari tersenyum mendengar jawaban dari adik kandungnya itu.
"Udah jatuh, tapi ke selokan!" Canda Ari yang merangkul Mita masuk ke dalam cafe.
Seperti ucapan Ari kemarin, Mita sedang menunggu kedatangan Ari ke ramahnya. Rasa khawatir dan takut serta bahagia menjadi satu kala tak sabaran melihat ekspresi Bundanya nanti.
Mita menuntun Bunda Dewi ke belakang rumah. "Entah sejak kapan, Bunda nya mulai bercocok tajam dengan seperti ini tapi yang pasti, Berbagai bunga telah tumbuh dengan mekar dan sehat.
"Biar Mita aja bun!" Mita langsung menarik gunting yang tadi berada di tangan Bundanya. "Bunda duduk aja, biar Mita yang kerjain!" Dewi menggangguk kecil. memang ia merasa sudah leleh, namun rasa leleh nya tersingkirkan kala Lala berada di dekatnya saat ini.
"Katanya ada kej... Mita langsung menyatukan jari telunjuknya ke bibirnya. Dewi pun menuruti saja kemauan anaknya itu. "Bentar ya Bun!" Seteleh berjarak lumayan jauh dari keberadaan Bunda Dewi. Mita baru mau membalas apaan dari sebrang sana.
Setelah meminta Bik Susi, agar menemani Bunda untuk sementara, Mita berjalan cepat menuju pintu rumahnya. Matanya langsung memicing saat melihat siapa orang yang ada di hadapannya.
Tanpa berkata apa apa. orang itu langsung memeluk Mita dengan erat. Mita membalas pelukan yang di berikan oleh Klara. ya orang yang saat ini memeluknya adalah Klara.
Dengan wajah kusam, dan rambut yang berantakan membuat Mita merasakan pirasat buruk di hatinya. Setelah Klara melepas pelukannya, Mita membawa Klara ke ruang tamu. "Gue tinggal bentar, mau ambilin minum!" Mita pun meninggalkan Klara sendirian di rumah tamu.
Tak lama, Mita kembali muncul dengan nampan yang berisi air minum, "Minum dulu!" Mita memberikan Susu hangat ke Klara. "Gue gak suka susu!" Klara langsung menolak pemberian dari Mita.
"Tapi kandungan yang ada diperut lo, butuh susu!" Balas Mita dengan tatapan memaksa. Setelah banyak berdebat dengan Mita akhirnya Klara menghabiskan susu yang tadi di tolaknya.
Setelah merasa cukup renang, Klara menceritakan semua hal yang terjadi padanya saat ini. Mita menghela nafas lemas mendengar semua kelih kesahnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, terdengar bunyi dari ponselnya Mita. "Gue tinggal bentar!" Setelah mengatakan itu Mita berjalan menjauh dari Klara.
_Mita
Halo kak, dimana?
_Kak Ari
Gue ada kepentingan mendadak, kalo besok gimana! Terdengar suara lemas dari sebrang sana.
_Mita
Mita merasa lega sedikit, memang niatnya akan meminta Ari agar besok saja baru datang.
Tak lama kemudian Mita kembali muncul di dari belakangnya Klara.
"Jadi rencana lo kedepanya apa?" Mita bertanya sambil mendudukkan pantatnya di sofa.
.
Tak ada jawaban dari orang di depannya itu, hanya terdengar helaan nafas lemas dari berat dari Klara. "Apa gue boleh tinggal di sini untuk dua hari kedepan?" Tanya Klara dengan wajah memohonnya.
"Tentu!" Mita beralih duduk ke sampingnya Klara. "Lo mending istirahat aja, biar gue anter ya!" Klara pun mengikuti Mita berjalan membawanya.
"Untuk sementara, di sini aja gak apa apa kan?" Tanya Mita yang merasa khawatir jika Klara akan tak betah dengan kamar ini.
"Gak apa Mi.. ini udah lebih dari kata cukup, thanks you!" Ujar Klara yang sudah berbaring di atas ranjang. "Gue tinggal ya Kla.. gue mau nyusul Bunda gue di taman belakang!" Tanpa menunggu jawaban. Mita langsung menutup pintu kamar yang di tempati oleh Klara.
__ADS_1