Brother And Love

Brother And Love
bab!34- tompel..


__ADS_3

"Eh.. kita dua di liatin bego.." Deni menunjuk seseorang yang berada gak jauh dari mereka ialah mama tiri Ari, dan Prans. "aelah baru sadar nih bocah," kesal Eka melihat Deni yang baru sadar.


"Eh, tuh orang liatin kita karna buat salah, apa gimana sih!" Eka melihat arah mata Deni menuju, "gak usah di liatin serius juga kali, ntar mata lo ternodai sama tante Diva." Ucap Eka agar tidak menatap dua orang itu. "bukanya gitu ya Ka. cuma kayak gak senang aja liatnya." Jelas Deni lagi. "Emang cara liat senang itu gimana?" Eka menaikkan kedua alis sambil sedikit melotot.


"Idih, lama mata lo ia yang ternodai sama si nyengat!"


Eka mungkin dalam menatap si Deni. "Siapa tuh ngengat kok asing di telinga gue!" Tanya Eka bingung. "haha... ini nih nampak banget ya.." Deni malah menertawakan Eka.


"musuh gue lah siapa lagi!" jelas Deni. "maksud lo!" tanya Eka lagi. "si adel lo Ka.. lo lemot banget nangkapnya." Jawab Deni dengan kesal.


"oh.. calon cinta lo," jawab Era. "enak aja cewek lo iya, orang kemana lo pergi pasti ada tuh si nyengat." Eka memasang muka garing. sedang Deni kembali tertawa.


"gak ada yang lucu tapi ketawa, giliran lucu bengong aja. eh main kabur aja lo." Deni mengejar Eka yang berjalan ke arah Om Anwar.


"Siang om..


kalian.. "Deni dan saya Eka Om namanya!" Deni menyengir sambil memberikan bolu dan buah yang tadi mereka beli. aneh aja padahal kemarin mereka udah saling kenal sekarang udah lupa.


"Ah iya Om lupa. aturan gak usah perlu repot repot, apalagi sampe bawa beginian". Om Anwar mengambil bolu dan buah yang Deni berikan. "gak kok Om, gak repot."


Iya Om sama sekali gak repot kok. udah pada di temuin belom si Ari? belom Om jawab Eka dan Deni berbareng an.


"ya udah kalo gitu masuk yuk!" Ajak Om El. "i-iya Om" Ucap Eka dan Deni berbarengan. "gak usah canggung ngomong sama Om, anggap aja Om adalah ayah kalian." Eka dan Deni mengguk mengiyakan.


Ari dan Eka berjalan beriringan sedang Prans dan mamanya di belakang meraka.


Ceklek..


ternya Ari sudah bangun. Ari mereka berdua temen kamu, yang ini Eka dan ini Den.. salah Om. saya Eka jawab eka cepat, begitu juga Deni. hanya di jawab dengan anggukan kecil oleh Ari. kini tatapan nya beralih ke dua orang di belakang temenya.


" mereka siapa? tanya Ari sambil menunjuk menggunakan tangan. mere.. Ari ini mama, dan ini adik kamu. ' prasn ' Diva lebih dulu memotong ucapan Anwar. Ari menatap dua orang yang mengaku mamanya dan adiknya. rasanya hatinya tersentil mendengar penjelasan wanita paruh baya didepanya. rasa sakit di hatinya tiba-tiba muncul seperti ada magnet ketika melihat dua orang itu, Ari merasa ada banyak masalah dengan orang itu, terutama yang wanita. walaupun sekarang tidak bisa tau apa penyebabnya tapi setidaknya hati berontak untuk tidak terlalu percaya dengan orang itu.


Mata Ari menatap orang didepanya sangat dalam. merasa ada yang tidak beres dengan Ari Anwar duduk di samping ranjang.


"Mau kemana? wanita paruh baya itu lebih dulu memegang lengan Ari! "bukan urusan lo!" Ari menipis tangan wanita itu dengan kasar, sejujurnya Ari sendiri tak tau mengapa mulut nya mengatakan itu dan juga tangannya, seakan sudah di rencanakan. melihat itu Prans langsung memegang mamanya.


"Ari apa yang kamu lakukan!" Tanya Anwar. "ari mau keluar yah! di sini gerah banget"


Ari beranjak dari kasur tapi kini sudah lebih dulu di hadang oleh kedua temannya. "lo masih diinfus, luka di kaki lo aja masih basah ntar aja deh kalo udah lebih baik kita dua pasti ngebolehin kok." Eka menyenggol kaki Deni. "iya Ri." Sambung Deni.


Ari menatap dua orang yang mengaku temanya secara bergantian. "Ari gak seharusnya kamu seperti itu , dia mama kamu bukan orang asing!" Jelas Anwar.

__ADS_1


Kini ari membetulkan posisi duduk nya seperti sebelumnya.



" Selesai makan siang, Dira bolak balik keluar kamar mandi. mukanya pucat tangan kanan nya terus terusan memegang perut, dan kirinya pantat. Amel tertawa geli melihat Dira yang udah lima kali mondar mandir menyelesaikan masalah perut nya. Ada rasa bersalah ketika melihat Dira seperti itu, tapi apa boleh buat lagian udah terlanjur di kerjain. Bella sedari tadi melihat tingkah Mita dan Amel dengan tanda tanya.


" mampus lo, batin Amel girang.


" Pukk.. Bella memukul meja didepanya. kini matanya sudah menatap Amel dangan lekat, gue yakin pasti si Dira lo kerjain kan?


Amel memasang muka jengah, kurang kerjain banget gue ngerjain. palingan juga dia salah makan kali! jawab dira sambil mengacak pinggang dan pergi.


" eh, tompel gue serius? Bella ikut ikutan berdiri. mendengar kata tompel membuat telinga Amel seperkian detik memanas.


" Apa lo bilang! tanya Amel ulang,t -o-m-p-e-l itu Ejaan nya, kalo di satukan 'tompel' jadinya. Bella sengaja memancing si Amel. ingin melihat seberapa akan reaksinya.


jaga lambe lo bellott.. ntar muka lo gue tompelin mau? Amel mengepal kan tangan nya lalu ditujukan ke Bella.


" kelen dua napa lagi sih, mangkin mules nih perut gue! Dira duduk di bangku yang tadi dipakai Bella, sambil memakan buah pir yang tadi di kupas kulitnya, padahal Bella sama sekali belum aja ngicip.


Urusan kita belum kelar, dilanjutkan malam aja, Bella menunjuk muka Amel lalu duduk kembali tapi du tempat yang berbeda.


" Enak ya kupasan lo manis! puji Dira sambil memakan pir dengan lahap. Bella mendelik menyadari jika yang di puji adalah Pir kupasanya. nohh.. kupas sendiri sono, enak aja makan yang udah di kupas. Bella memberi pir yang belum dikupas sama sekali.


bay.. bellot.. wek Amel memelet kan lidah nya lalu berlari mengejar Mita yang sudah jauh. awas lo tompel... Bella kembali menyebut nama Amel dengan sebutan tompel.


" bagus juga tuh sebutanya, ngopek dari mana? tanya Dira. Bella menoyor kepala Dira pelan, lo gak tauu.. tanya Bella sedikit berbisnis.


apaan, mukai deh jiwa kepo lo keluar! hehe.. cepetan dong gue gak sabar nih. udah mau merepet ntar kuping gue kalo kelamaan.


" Si Amel punya topel di lengan kiri, besar tau sebesar mata lo, bella berbicara tepat di kuping Dira, sambil menunjuk menggunakan jari telunjuk nya.


" Masak sih! kok gue gak tau? Bella menghangat kedua bahu. ih gak jelas deh lo ngasih info, Dira kembali mengupas pir nya.


Di kamar, Mita sibuk menelepon seseorang di balkon kamar, sedang si Amel di kamar mandi.


— sayang bisa pulang dulu gak?


Mita sempat berpikir sejenak ucapan sang bunda. lalu membalas percakapan di sebrang telepon.


— Hmm.. Mita usahain deh bun! kalo pulang nya bareng temen boleh gak!

__ADS_1


—(...)


— Makasih bun..


tut.. tut..


" Siapa Mit? bunda. gue pulang bentar ya, ikut dong. Mita mengganguk.


ngambil apaan lo bel? Bella melihat Mita yang membawa tas sekolah. gue mau ngambil baju ganti dirumah, lagian bunda nelpon, katanya ada perlu jadi di suruh pulang.


" ye.. ke rumah Mita. bakal gue acak ntar kamarnya. saut Dira yang baru saja keluar dari kamar mandi.


perut lu masih sakit dir? iya mulesnya mendatang dan menghilang! ayok deh gue dah gak sabar, ntar perut gue mulas lagi. cepetan dah gue juga mau beli obat buat membatasi perut gue.


" Ini rumah lo!


" he'em "


" sore non, sore pak, jawab mereka serentak.


kalian tunggu di sini dulu ya! gue ke dapur bentar. klen pada mau minum apa? tanya Mita ke pada tim temannya.


" terserah! yang penting dingin. gue jus jeruk ya, Mit jus jeruk ya Mit..


iya.. gue tinggal bentar ya. mereka semua menggangguk sebagai jawaban.


setelah menyuruh bik susi, mita menuju kamar bunda nya. seperti biasa sebelum masuk mesti ketuk dulu.


tuk.. tuk.. bun, bunda, bunda.. ceklek, tampak seorang wanita paruh baya lengkap dengan jilbab yang tak pernah lepas dari kepalanya.


temen kamu mana? bunda Dewi mengelus lembut puncak kepala putrinya. di depan mita suruh tungguin disitu.


" bunda Dewi membawa Mita ke ruang tamu, dimana ada ketiga teman Mita. setelan duduk suasana yang tadi ribut menjadi hening ketika bunda Dewi duduk. kalian tiga sibuk gak! tanya bunda Dewi lembut. mereka semua tersenyum dan menggeleng. kita gak sibuk kok bun! jawab Bella.


" Amel dan Dira memandangi Bella heran, Bella mengganti posisi duduknya menjadi di samping bundanya Mita.


" ini Amel, sama Dira bun. Bella memperkenalkan mereka, iya tan.. ini Amel sekelas sama Mita, kalo saya sekelas sama Bella.


Oh, jadi ini teman kamu itu sayang! Mita menggauk mengiyakan, Mita sering cerita ke bunda, jangan panggil tante, panggil bunda aja,


iya tan.. eh bunda maksudnya.

__ADS_1


" bunda boleh minta tolong ke kalian tiga?


__ADS_2