
Mita tersenyum senyum sendiri di atas kasur, sambil mengelus elus kasur di kedua sisinya.
Sesaat matanya terpejam mengingat perlakuan Bayu tadi dan tak lepas dari senyumnya yang terus mengembang.
" Drtt.. "
" Drtt.. "
Mita mengambil malas ponsel di samping nya,
yang terus terusan berdering. " Siapa sih! "
Astaga! Mita langsung bangkit dari tidurnya setelah membaca pesan dari sang bunda. ia lupa jika hari ini ada jadwal kontrol mata dengan dokter Alvin.
Berhubung Pak de belum pulang! Mita sempatkan untuk bersiap siap. sepertinya kali ini dia bakal sendiri tanpa ada yang menemani untuk kontrol mata, bundanya selalu sibuk lagi dengan urusan cafe. wajah nya terlihat kusam, dan rasa kesal terhadap bundanya masih menempel di wajahnya.
" Drtt... Drett.. " ponsel Mita kembali berdering tanda masuk pesan. Mita tersenyum kecil melihat pesan dari sang sahabat. sambil menyisir rambut dengan tangan kirinya ia membalas dengan cepat pesan yang baru di kirim oleh Bella.
~Bella
— " Ntar gue kerumah! gue di suruh Bunda buat nemani lo kontrol! satu pesan dari Bella mampu membuat senyum Mita terus mengembang.
— " Gue tunggu! tapi jangan kelamaan! " jawab Mita dengan ekspresi senang. Mita berjalan menuruni anak tangga satu persatu, sambil menyulun senyuman yang tak luntur sama sekali. Pasalnya malam ini Bella juga bakal menginap di rumahnya.
Di depan pak de sudah menunggu kedatangan Mita. " Ayok pak berangkat sekarang?" ucap Mita sambil memasuki mobil di depanya. Sebelum nya Bella sempat mengirim pesan ke Mita. Kalo dia gak bisa datang ke rumah Mita berhubung mobil di pakai nyokap shoping, Jadi Mita harus menjemput langsung ke rumah Bella.
Di pertengahan jalan Mita kembali mendapatkan pesan dari Bella. kening nya mengerut melihat pesan dari Bella, senyunya memudar melihat pesan singkat nan membuat mood nya menghilang begitu saja. " kenapa jadi nyebelin gini sih bel..! " ucap Mita sambil melempar ponsel nya ke kursi sampingnya.
Pak de, yang sedari tadi memperhatikan tingkah Mita di belakang hanya menghela nafas lemas, pasalnya ia juga ikut sedih melihat perubahan majikannya.
" Kenapa non? " Tanya pak de memberanikan diri bertanya. Sedang yang ditanya malah diam dan pokus ke luar jendela. Mata Mita terbelalak melihat seorang cowok yang terlihat prustasi, di salah satu bangku panjang pinggir jalan. masih berpakaian sekolah, rambut nya acak acakan, kancing baju di lepas dua kancing dari atas sehingga terlihat bagian dada sedikit, baju dikeluarkan, serta lengan baju yang digulung di kedua sisinya, tas yang di sandang dari sebelah kiri.
" ini lebih persis seperti anak sekolah yang lagi mau tauran" ucap Mita menggeleng melihat penampilan cowok di depannya , berhubung suasana jalanan rada macat Mita semangkin jelas melihat nya, semangkin lama semangkin mendekat. tapi yang bikin Mita lebih heran lagi itu cowok sekarang udah di kelilingi sama cewek cewek centil. Mita yang mendengar kata kata yang keluar dari mulut salah satu cewek langsung beralih pandang mengarah ke depan.
Orang itu adalah Ari, dia kesal karna gak bisa istirahat di bascem karna mendengar suara Deni yang terus terusan meloteh, Ari memilih meninggalkan ketiga temannya dan disini lah ia sekarang.
" Kak! Poto dong sama kita? iya kak..! keren loh gaya kakak begini! '' ucapan demi ucapan terdengar jelas di telinga Mita.
" Ari..! " Terdengar suara cempreng yang memanggil nama Ari dengan sangat jelas nya.
Mita yang mendengar nama pemilik yang di panggil kembali melihat ke arah luar jendela.
__ADS_1
Seorang cewek berambut setahu bewarna ke pirangan yang di biarkan terburai dangan dres selutut yang dipakainya sangat cocok menempel di badan cewek tersebut. Mita sempat tersenyum melihat keanggunan cewek tesebut. Apalagi di wajah nya di lempari dengan make up yang menempel di wajahnya, walaupun terlihat menor dan berlebihan tapi terlihat lebih cocok akan sesuai dengan dres yang ia kenakan olehnya.
Para cewek yang mengerubungi Ari memandang cewek tersebut dengan tatapan kesal. Ari tak bergeming masih sibuk dengan ponsel ditangan nya.
" Ada yang mau gue omongin! tapi gue butuh berdua! " ucap cewek tersebut yang masih samar samar di dengar oleh Mita. Mita masih melihat interaksi di antara mereka tapi Ari tampak acuh menghadapi nya. Tanpa sadar senyum miris keluar dari dari bibirnya.
" Heh.. lo siapa sih! sok kenal banget! " ucap seorang cewek yang sedari tadi minta foto dengan Ari tapi sama sekali tak di hiraukan oleh Ari, sama hal nya dengan seorang cewek berambut sebahu itu.
" Ooh.. jadi ini yang namanya Mira? seorang cewek yang berada tepat di hadapannya memandang dari atas hingga ke bawah.
" Lumayan lah! " ucap cewek tersebut setelah memandang Mira intens. gak lama kemudian mulutnya yang sesaat memuji kini mengeluarkan kata " Tapi modolanya mirip simpanan Om.. om gak sih! " ucap seorang cewek memandang Mira dengan datar, lalu tertawa meremehkan. bahkan beberapa cewek di situ pun ikut tertawa meremehkan.
Mendengar itu, kuping Mira terasa panas setelah dipuji tapi akhirnya di usik . terlebih dengan satu mulut yang keluar secara lancar membuat Mira mengepal kan tangan nya.
" Gue gak ada urusan sama lo! Gak usah ikut campur! " ucap Mira sambil menunjuk cewek yang baru saja mengatainya dengan hal di luar kosa katanya.
Ari yang sejak tadi menjadi pendengar walau pun tak ingin mendengar, membuat kepalanya menjadi pusing. " Bisa diem gak " Ucap Ari lalu berdiri dari duduknya.
Para cewek yang mendengar menjerit jerit mendengar suara Ari. bukan menjerit takut melainkan menjerit kegirangan karna akhirnya Ari ikut ngomong juga.
Ari memandang Mira dengan pandangan susah di artikan, tak lama kemudian Ari berjalan mendekati Mira .
Deek..
Perasaan bingung dan aneh di artikan karna saat ini sosok yang ia sangka akan membenci nya malah menarik tangannya menjauhi kerumunan dari para cewek centil, yang sedari tadi mengatainya. Mira tersenyum simpul dan ia sempat kan untuk mengejek beberapa cewek yang di laluinya.
" Awas lo " tunjuk salah satu cewek yang merasa jengkel akan kelakuan Mira.
Mata Mita membola melihat Ari yang mulai menjauh dari pandangan terlebih bersama dengan seorang cewek yang sedari tadi sempat dikaguminya. Mita tesadar ternyata mobil sudah jalan, perjalanan sudah mulai normal akan kemacetan. Perlahan orang yang sedari tadi di pandangnya pun menghilang.
Sepanjang jalan Mita terus melamun dia sendiri gak tau apa yang sedang dilamunkan okehnya.
Suara has pas de, membangun kan lamunan nya. " udah sampe non? " ucap pak de sambil membuka pintu mobil.
" Ah.. iya pak! " ucap Mita lalu langsung keluar dari mobil. Mita menghela nafas lemas.
melihat pak de yang berdiri di samping nya, langsung menoleh ke pak de. " Pak pulang luan aja! ntar jemput di cafe bunda aja! pokoknya nanti kalo udah selesai Mita telpon! " setelah mendengar itu Pak de langsung kembali ke mobil.
Berhubung masih ada waktu dua puluh menit lagi, Mita memutar langkahnya, ia memutuskan menunggu di salah satu pedagang pinggir jalan. matanya membola melihat sosok orang yang dikenal nya, ia adalah Amel.
" Mel! " Panggil Mita sedikit berlari ke arah Amel. Menyadari Mita yang memanggil Mita mengerutkan dahi, ngapin tuh anak batinnya.
__ADS_1
" Lo mau kemana? " Tanya Amel setelah sampai di depan matanya. " Kontrol mata! " Jawab Mita sambil mengatur nafas yang ngos ngosan. " temenin yok? " Pinta Mita blak blakan.
Wajah Amel tampak kebingungan, pasalnya dia sedang menemani Rita salah satu tetangga dekatnya yang sedang beli bakso disini.
" Kenapa Mel? " Tanya Mita setelah memperhatikan gerak gerik Amel yang kebingungan. " sebenarnya gue sama tetangga gue lagi jjs " saut Amel.
" Yok Mel! kemana lagi kita? " tanya seorang cewek seumuran dengan Amel dan Mita. " Bentar " jawab Amel dan kembali pokus ke Mita.
" Mit! gue luan ya? sorry gak bisa nemenin "
Ucap Amel dan berlalu pergi ke arah Rita.
Mita tampak kembali kesal, dia pun kembali ke niat awal, duduk di salah satu pedagang bakso pinggir jalan. Baru sepuluh menitan, dia berduduk di sini, sudah mulai terasa bosan. Mita pun beranjak dari duduknya, dan tak lupa membayar minuman yang ia pesan tadi.
" Kini Mita baru saja berjalan beberapa langkah tiba-tiba hujan turun mengguyur sekitar sekitar jalanan. dengan langkah cepat Mita berlari ke arah rumah sakit, dilihatnya kanan, kiri jalanan yang kosong Mita langsung menyeberangi jalanan, ia berniat untuk meredup dari hujan yang turun di depan rumah sakit.
" Tap.. tap.. tap.."
" Ah..! " mau gak mau Mita harus berbalik karena surat rumah sakit yang di pegangnya terjatuh. Tanpa pikir panjang Mita langsung berlari menuju kertas itu jatuh.
" Bruk.. " Mita terbawa angin motor di depannya. Dengan cepat ia mencoba berdiri tapi kakinya mati rasa saat ini, celana yang dibagian lutut pun bolong karna teseret aspal hitam ini, tak jauh darinya terlihat kertas yang sudah hampir menjadi bubur hujan, dengan sedikit mengesot akhirnya kertas itu sudah berada di tangannya.
senyum nya terukir melihat kertas itu masih bisa dibaca. Satu persatu orang mulai berdatangan membatu Mita untuk berdiri.
•
" Ari yang merasa geram atas tingkah Mira yang salah mengartikan dirinya, membuat dirinya melajukan motor nya dengan kecepatan tinggi, bahkan sekarang ia menerobos hujan di jalanan, padahal suasana jalanan saat ini rawan akan hadir nya hujan.Mangkin lama hujan semangkin deras, penglihatan nya dalam mengendarai motor sedikit remang karena hujan lebat saat ini.
" Saat Ari mengelap wajahnya dengan tangan kirinya, dan hanya menyetir dengan satu tangan membuat dirinya kehilangan keseimbangan dan mampu menabrak seseorang yang tiba-tiba menyebrang begitu saja. sebelum nya tidak terlihat sama sekali akan adanya orang yang menyebrang, apalagi suasana jalanan yang sedikit sepi membuatnya menyempatkan diri untuk mengelap wajah nya yang tertutup air hujan. Tidak disangka hal sepele ini membutnya menabrak seseorang, dengan mengerem mendadak sebelah tangan membuat dirinya setengah was was.
" Sial..! " umpatnya seraya turun dari motor miliknya. Ari mendekati beberapa orang yang mengerubungi orang yang dia labrak.
Tampa banyak kata, Ari langsung memotong orang yang berkerubung di sini. setelah bantuan beberapa orang disinilah Ari sekarang.
Duduk berdua dengan orang yang baru saja dilabraknya. sebelumnya Ari sempat khawatir dengan kondisi orang tersebut tapi setelah tau siapa yang ia labrak membuat nya seakan tak bersalah.
" Lain kali, nyebrang itu hati hati! " ucap Ari memandang Mita yang sedang mengelap kaca matanya yang terlihat retak. dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Mita.
Setelah selesai mengelap kaca mata miliknya, Mita langsung memakainya, Mita mengangga melihat kaca mata sebelah kirinya yang copot begitu di cobanya. Ari yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik cewek di samping nya tersenyum dan mampu tertawa kecil melihat kaca mata Mita yang jatuh.
" Astaga! padahal tadi pas di lap gak gini amat, kok pas di pakai malah copot sih! " kesal Mita sambil membukuk mengambil kaca mata yang baru saja terjatuh. " Auu.. auu.. Mita mengerang kesakitan ketika menyadari lututnya yang terluka.
__ADS_1