Brother And Love

Brother And Love
bab101


__ADS_3

Tepet jam setengah delapan pagi, Mita baru terbangun dari tidurnya. Matanya langsung tertuju kala merasakan ada yang beda dari depanya.


Terlihat sang Bunda, yang sedang makan dengan tersenyum kecil ke arahnya. "Udah bangun, ini sarapan dulu!" Ujar Bunda dengan memberikan sarapan yang sudah di sediakan sejak awal tadi.


Mita seakan tak percaya dengan wanita yang mulai berbicara dengan memperlihatkan perhatiannya. "Bunda..!" Mita berhambur ke pelukan sang Bunda, erat, sangat erat ia memeluk Bundanya, rasanya tak ingin lepas dari pelukannya saat ini.


Mendengar susahnya bernapas. Mita pun melonggarkan pelukan. "Sorry bun, maklum ya bun, lagi kengen!" Ucap Mita dengan mimik bersalahnya, yang berakhir dengan tangis.


"Lah kok jadi nangis?" Tanya Dewi dengan mengelap air matanya Mita yang mulai deras.


Mita tersenyum dengan tertawa kecil. "Nangis bahagia bun!" Ujar Mita pelan.


Setelah selesai beres beres, Sorenya Bunda Dewi di perbolehkan untuk pulang.


Bella dan dua temannya, serta Bik Susi dan pak Dede ikut mengantarkan pulang. Walaupun dengan mobil yang berbeda, Mereka bisa sampai di rumah dengan keadaan bersamaan.


Mita dan Bella menuntun Dewi sampai ke kamar, mereka pun membantu membaringkan Dewi. Setelah memasang infus untuk Bunda Bunda Dewi, mereka berbagi cerita satu sama lain, dari semua cerita yang di dengar membuat Bunda Dewi tertawa. sampai sang bunda pun tertidur.


Mita dan ketiga sahabatnya pun keluar dari kamar di susul oleh Bik susi


"Kita dua luan pulang ya Bel. kita pulang ya Mit!" Pamit Amel dan Dira, setelah di angguki Mita dan Bella mereka pun pergi.


Mita berdiri di pembatas balkon, di susul oleh Bella yang juga ikut berdiri di sampingnya Mita.


"Gue yakin dan percaya kepada kasih sayang, dan adilnya Yang Maha Kuasa. jadi lo gak perlu khawatir karna bunda sekarang udah bisa kembali ke rumah kan!" Ujar Bella yang merasa


jika Mita memikirkan tentang Bundanya.


"Bel..!" Panggil Mita dengan menhadap ke arah Bella dengan mimik serius.


"Bukan masalah bunda, tapi Kak Ari" Ujar Mita dengan wajah khawatir nya. "Lo bilang, ingatan nya kembali kan, lo juga bilang kan sempat kekurangan darah, tapi untungnya darah nya Bayu cocok makanya dia yang donorka!" Ujar Mita.


Bella mengangguk. "Sebenarnya gue punya Abang, dan abang gue itu Kak Ari!" Ucap Mita yang langsung ke intinya.


Bella terdiam. tak lama kemudian ia tertawa. "Gak usah ngelawak di situasi begini deh Mit, gak cocok, garing!" Ujar Bella yang mencoba agar bisa berhenti tertawa. jujur saja ia sama tak percaya dengan yang Mita ucapan barusan.


"Ketawa lo yang garing!" Ujarnya lagi.

__ADS_1


"Apa yang gue omongkan saat ini, itu kenyataan, gak ada kekurangan dan gak ada gue tambahan, selama ini Kak Ari gak kenal dan gak tanda siapa gue, gue takut dia bakal marah dan benci sama gue!" Ujar Mita yang mulai menangis.


Bella terdiam mencerna apa yang ia dengar. "Mit.. lo serius??" Tanya Bella masih kurang yakin.


"Apa muka gue muka bohongan?" Tanya Mita balik.


Bella kembali diam. melihat Mita yang menangis dan raut wajah serius nya Mita membuat Bella menjadi percaya.


"Itu artinya, semangkin lama lo diam, maka akan semangkin susah lo bilang, seperti yang lo rasakan saat ini!" Ujar Bella yang mulai serius.


"Ini yang buat gue bingung juga Bel.. gue bingung!" Ucap Mita pelan.


"Apalagi sampai saat ini, Bunda gak tau, kalo Kak Ari ada di sini, gue mau kasih tau bunda tentang Ari, tapi gue takut, gue takut Ari malah menjauh dari kita nantinya!" Keluh Mita sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Bella yang berada di sampingnya memeluk Mita dengan erat. "Besok kita jenguk Abang lo dirumahnya, kita juga bakal jelaskan semunya ke dia, gue bakal bantu nantinya!" Ujar Bella lagi.


Mita mengangkat wajahnya, menghadap ke arah Bella. "Makasih Bell.. lo emang yang terbaik!" Mita berterima kasih dengan rasa senang diiringi dengan rasa lega.


...


Tepat setelah pulang sekolah, Mita langsung pergi menuju mobil di parkiran. Langkah nya terhenti kala mendengar ponselnya yang bergetar.


"Di pikiran, keadaan lo gimana?" Tanya Mita balik. Sungguh ini untuk pertama kalinya, Mita mendapatkan kabar setelah hilangnya Klara selama beberapa hari ini. Semenjak kejadian itu, Klara tak pernah masuk sekolah lagi, Mita tau jika alasan Klara tak masuk karna aib nya sudah menyebar di seisi sekolah.


'Gue baik, lo sendiri gimana?" Klara menjawab dengan suara serak nya


"Lo sakit, suara lo beda!" Ucap Mita merasa Klara tak baik baik saja.


"Gue gak apa apa, lo kapan ada waktu luang?" Tanya orang di seberang sana. Mit berpikir sejenak.


"Gue rasa hari ini dan dua hari kedapan gue sibuk, Karena Bunda baru pulang dari rumah sakit, sedang kak Ari, semenjak dia jatuh sampai saat ini, gue gak pernah jenguk, rencana hari ini gue jenguk nya!"


Terdengar kelaan nafas dari Klara. Mita menjauhkan ponsel nya kala kaget dengan suara banting di seberang sana. apalagi panggilannya dimatikan secara sepihak. Tentu saja hal ini membuat Mita merasa khawatir


Mita mencoba menghubungi berulang ulang kali, namun tak ada jawaban dari Klara. "Bel.. lo kanapa? gue jadi khawatir!" Ujar Mita dengan tangan yang masih mengetik sesuatu.


Mita berniat ke rumah Klara. Saat ia menghidupkan mobil, masuk sebuah pesan dari Klara.

__ADS_1


_Gue baik baik aja tadi pas bunga jatuh, karna kuning gue. di sertai dengan sebuah poto pas bunga yang jatuh.


Ada rasa tak percaya, dengan pesan yang dikirimkan oleh Klara. Namun setelah ia pikir pikir lagi Mita akhirnya percaya. "Berpikir positif aja Mita!" Ucapnya teruntuk dirinya sendiri.


Sesampainya dirumah, setelah Mita selesai berganti pakaian. ia langsung menuju kamar sang Bunda.


Matanya langsung tertuju kala melihat sang Bunda yang tertidur. Mita tersenyum kecil melihat nyentaknya Bundanya.


Tak ingin mengganggu tidurnya, Mita pun keluar dari kamar dengan berjalan pelan. "Bik bunda udah makan?" Tanya Mita ke bik Susi.


"Udah Non, tadi juga udah minum obat, gak lama baru tidur!" Ujar Bik susi. Mita mengganguk, "Oh ya bik, nanti kalo Bunda cari Mita bilang aja kalo Mita jenguk teman. Mita pergi dulu ya bik, sekalian bilang juga, kalo Mita bakal pulang malam, karna singgah ke cefe dulu!' Ujar Mita yang menyalami Bik susi.


"Gak diantar non?" Tanya Bik susi sebelum Mita hilang dari balik pintu. "Gak usah lah, bik lagian nanti bareng bella!" Ujar Mita.


Mita yang tak tau menau dimana rumahnya Ari, menuju rumahnya Bella. Namun dengan anahnya, ia tak menelepon Bella terlebih dahulu.


"Astaga.. kok gue bisa bisanya lupa, padahal mereka udah pada kesana luan!" Ujar Mita yang langsung berlari menuju mobilnya berada. Ia langsung melihat ponsel nya, di lihat banyaknya pesan masuk namun sedari tadi hanya di biarkan saja oleh Mita.


"Seteleh tau dimana rumahnya Ari, Mita langsung otw ke tujuan awalnya.


Tak memerlukan waktu lama, sekitar dua belas menit, Mita sudah berhenti di depan rumah berukuran tiga kali lipat besarnya dari rumah miliknya. Ia masih menatap bagunan besar di depannya dengan rasa campur aduk.


Satpam yang sudah sejak tadi membukakan pagar pun mengetuk pintu Mita. Mita pun berhenti dari hayalannya. Ia menjalankan mobilnya, sudah terlihat dua motor dengan satu mobil yang tak pamiliar lama di mata Mita.


Mita berjalan pelen mendekati bangunan besar yang sejak tadi menjadi daya pandang olehnya.


Sebuah bola terhenti di kakinya. Mita berjongkok mengambil bola yang ada di kakinya.


"Kak Mitaa..!" Panggil seorang anak kecil yang berlari mendekatinya. Mita mengerutkan kening, merasa kenal dan tidak kenel dengan anak kecil yang tadi memanggilnya. Mita tersenyum dan langsung menyamakan posisi tingginya saat mengingat siapa anak yang berdiri di hadapannya.


"Idil.. mangkin ganteng ya!" Mita langsung mencubit kedua pipi seorang anak yang bernama aidil itu.


"Kamu kenapa disini? main sama teman apa..? Lala terdiam saat melihat seorang wanita yang berusia seimbang dengan Bundanya. Tah kenapa tiba tiba saja perasaan Mita seakan sesak saat wanita itu semakin mendekatinya.


"Kalo main diluar itu jangan jauh jauh.. Mama capek nyarinya!" Ucap Diva dengan berdiri angkuh.


Mita tersenyum manis melihat orang itu. sedang yang di senyumi hanya membalas dengan tatapan biasa saja.

__ADS_1


"Tunggu bentar Mama mau angkat telepon dulu!" Ucapnya yang langsung pergi menjauh.


Mita melihat idil yang kelihatan tak suka terhadap Diva.


__ADS_2