
Semenjak kepergian Bayu. Mita lebih sering menghabiskan waktu di cafe. karena jika terus menerus di rumah rasanya sangat membosankan, apalagi mengingat jika semua orang terdekatnya sudah pada menjauh dari dirinya.
Bukan menjauh kerna membenci dan menghindarinya. Namun karena semua pada sibuk pada urusan masing masing.
Bella yang sudah hampir tiga tahun tak pernah pulang kampung dari negeri orang, yang hanya sesekali memberikan kabar lewat via pesan. Dira dan Amel, mereka juga tah kemana, semenjak perpisahan, dan masuk ke perguruan tinggi. Baik negri maupun swata. ketiga sahabat itu jarang memberi kabar antara satu dengan yang lainnya.
Jika Ari, sempat ada niatan untuk mengambil biaya siswa yang ditawarkan agar melanjutkan perguruan tinggi di Amerika, namun setelah banyak pertimbangan, dan keyakinan akhirnya Ari mengambil kuliah di daerah jakarta saja. Ia akan pulang tiap bulannya sekadar menanyakan keadaan Mita dan sesekali membantu ayahnya, itupun jika ia di pepet oleh ayahnya, namun jika hanya masalah biasa saja, Ari hanya pulang sekadar melihat adik semata wayang nya itu.
Mita duduk seorang diri tepat di paling ujung dan paling pinggir cafe miliknya. Yang dapat melihat dengan jelas suasana di luar cefe. Setelah menyelesaikan kuliah siang tadi, Mita tak ada niatan untuk pulang ke rumah, ia langsung menuju cafe saja, kebetulan cafe yang di bangun beberapa tahun lalu, sebelum Bunda nya meninggal terletak lebih dekat dengan kampus nya.
Mita terduduk dengan tatapan kosong ke arah jalanan yang terus di lalui para pengendara.
Helaan nafas lemas terdesir di setiap kali ia mengingat masa SMAnya, masa dimana ia merasakan banyaknya orang yang selalu mendukungnya dan menyayangi dengan penuh rasa kasih sayang terhadap nya, mulai dari Bunda, serta orang terdekatnya.
Kenangan tentang Bundanya kini kembali menyelimutinya, ia tersenyum hambar mengingat semua orang yang tak ada di dekatnya. Padahal saat ini, Mita sangat butuh sandaran sekedar mencurahkan isi hati nya yang lagi kesepian maupun temen yang bisa membuatnya tersenyum.
Mita mengaduk aduk, secangkir coffe Milk di depannya. Entah sudah berapa lama tanganya terus menerus mengaduk aduk coffe di depannya, bahkan saat ini coffe itu sudah berubah menjadi dingin.
"Ada masalah mbak?" Tanya seorang pelayan yang akhir akhir ini menemai Mita. Mita menghentikan kegiatan di tangannya dan tersenyum simpul ke arah pelayan di cafe ini.
"Baru ngatar?" Tanya Mita balik karna melihat nampan di tangannya. Prya yang tadi bertanya langsung duduk di hadapan Mita.
"Boleh duduk bentar kan Mbak?" Tanya nya yang masih merasa sopan. Mita tersenyum kecil. "Gak!" Jawab Mita dengan bibir mengerut.
Prya yang tadinya sudah duduk kembali berdiri lagi, Mita menggelengkan kepalanya, "Ya Allah prya, lo tinggal duduk ya duduk aja, gue gak seketat itu sama semua pekerja di sini!" Koceh Mita dengan nada kesal. "Lagian lo udah gue anggap sebagai teman di cefe ini!" Ujar Mita. Prya hanya terkekeh.
"Saya juga tau Mbak, cuma mau buat Mbak segar aja!" Jawabnya yang langsung menopang dagu diatas meja.
"Gue kira lo itu cowok, dari penampilan, gaya lo berpakaian, sampai masalah nama pun kaya cowok, cuma satu yang mirip cewek!"
"Apaan tuh!" Tanya Rrya dengan tak sabaran.
"Sabaran dikit napa!" Omel Mita. Prya hanya tertawa kecil.
"Kalo gini kagak jadi gue angkat jadi kakak ipar lah!" Koceh Mita lagi. Wajah Rrya yang awalnya semangat langsung lesu. "Yah.. gak seru dong, gak bisa punya calsum tajir plus tampan!" Prya berucap dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Ini nih.. gaya cewek lo!" Mita menujuk gaya tangannya Rrya. "Mbak menurut mbak nih ya, aku tuh cocoknya cewek atau cowok?" Tanya nya dengan muka penasaran.
Belum sempat menjawab Mita langsung bangkit mengangkat panggilan masuk dari penselnya.
"Banar ya, gue angkat dulu!" Pamit Mita. Tak lama Mita kembali ke meja lagi. "Prya gue ada kerajaan mendadak nih, gue titip cefe ya, jangan lupa lo makan, liat tuh belum diet aja kurus kaya lidi, gimana kalo diet?" Tanya Mita yang langsung menyambar ponsel, kunci mobil serta ke tas kecil nya yang tadi terletak di atas meja.
"Mbak.. koffenya kok gak di minum?" Tanya Rrya. "Minum aja kalo mau, gak ada gue minum kok, cuma gue obok obok!" Mita tertawa sambil membuka pintu cefenya.
Prya yang tadinya langsung minum kini menyemburkan coffenya.
"Mbak Mita jahil?" Mita hanya menggelengkan kepalanya. pusing rasanya melihat Prya. cewek tapi gaya cowok, malah sipatnya lembek. "Amit amit dah!" Mita menggelus dadanya dan mulai masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, hari sudah gelap, Mita sampai di rumah jam setengah tujuh malam. Mita langsung menuju kamarnya, sebelumnya ia sempat menyapa bik Susi saat di lewatinya tadi, ia terduduk lemas diatas kusur sambil melihat pantulan dirinya di depan kaca hias yang letaknya berada jauh dari dirinya.
Mendengar pesan masuk. Mita langsung membuka apk wanya.
_Kk Ari
Gue bentar lagi sampai, Key udah di rumah kan?
_Mita
Udah kok kk, ini baru aja sampai. jati hati setirnya, karna cuaca akhir akhir ini rada turun hujan.
Setelah berbalas chat dengan Ari, Mita memilih mengambil handuk. dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Suasana dingin mengguyur badannya, padahal Mita sudah selesai dari ritual mandinya.
Setelah memilih baju santai, dan mengoles tipis wajahnya dengan bedak, serta olesan lipstik pink di bibirnya. Mita berjalan ke keluar kamar.
Selesai meletakkan makanan di meja makan, Mita duduk di dapur ditemani dengan Bik Susi. Bik Susi yang sibuk membersihkan dapur. "Bik!" Mita berucap pelan.
"Sini napa bik, temeni Mita duduk!" Pinta Mita dengan ekspresi lelahnya.
Bik Susi tak langsung duduk, melainkan melihat sapu di tangannya dan sesekali melihat ke Mita.
"Tingga aja bik, temani Mita!" Pinta Mita lagi.
"Tapi non.. Bik! Bibik kerja di sini udah puluhan tahun, dan degan usia bibik yang udah di usia pensiun ini, gak boleh capek cepak, bibik itu dah Mita anggap sebagai orang tua Mita, apalagi semenjak bunda dah gak ada!" Mita mengucapkan akhir katanya dengan lirih.
Mita menegakkan badannya dan tersenyum simpul. "Benar lagi sampai Bik!" Mita langsung menarik Bik Susi agar mengikutinya. Benar apa yang di bilang Mita, baru saja mereka akan duduk, suara bel rumah sudah berbunyi.
"Biar Mita aja bik!" Mita langsung berjalan menuju pintu. Ia memperlihatkan senyum manis ke orang yang saat ini berada di depannya.
Setelah selesai makan malam, Mita dan Ari duduk berdua di depen tv. "Gimana kuliahnya?"
"Seperti biasa, gak ada halangan dan gak ada hal yang membuat nyaman. " Mita hanya menjawab sambil melihat ke arah Ari.
"Kenapa kangen sama Bayu?" Tanyanya lagi.
"Itu pasti, tapi Mita kangen sama semuanya. Terutama Mendiang Bunda!" Mita berucap pelan di akhir katanya. Jujur saja semenjak kepergian Bundanya, Mita menjadi banyak diam, dan hanya mau bergaul dengan orang terdekatnya saja.
Jadi selama ia kuliah, ia memilih tak menjadikan teman sebagai sahabat. Namun hanya teman yang akan membantu dirinya saat ia lagi mengalami kesulitan di masa kuliahnya.
"Besok ada mata kuliah gak?"
Mita membuka ponselnya sebelum menjawab. "Ada tapi masuk siang!" Ujar Mita. Yang langsung mendapatkan senyum manis dari Ari.
"Gue juga kangen sama Bunda, besok kita jiarah sama sama, gue angkat telepon dulu, di makan camilannya, biar nambah bb, gue liat muka Key mangkin kurus aja!" Mita tersenyum kecil saat mendapatkan perhatian kecil dari sang Kakak.
Jam setengah sepuluh malam, Mita baru bisa memejamkan matanya.
__ADS_1
•
Pagi sekali, Ari sudah menatap laptop di depannya, saat ini tujuan ia pulang melihat sang adik, ia juga sekalian mengurus beberapa bekas yang harus ia sekalian sebelum kembali ke luar kota.
Sebuah ketukan pintu membuyarkan keheningan di sekitarnya. Di lihatnya jam di pergelangan tangannya masih menujukan pukul enam pagi. Ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati pintu dengan rasa kesal. Karna suara ketukan yang di berikan bukan dua, tiga kali saja, melainkan berulang ulang kali.
Dagunya langsung mendapatkan pukulan dari tamu di depannya. Ari memicingkan matanya kala melihat orang asing di depannya. Ari mengelus elus dagunya yang sedikit sakit akibat ulah orang di depannya.
"Eh..! Kak Ari kan? mangkin genteng aja, udah mandi ya, wanginya keciuman!" Ujar gadis yang ada di depannya Ari. Ia memejamkan matanya sambil menghirup udara segar di depannya. "Jadi pengen nyium deh!" Ujarnya lagi.
Ari masih menutkan alis bingung, seingatnya ia tak pernah melihat orang didepannya ini. Tapi jika di lihat dari cara berpakaian dan wajah bukan dari indonesia.
"Lumayan cantik sih, tapi bobrok!" Ucapnya dalam hati.
Belum sempat rasa bingung nya hilang. Tiba-tiba saja, gadis di depannya itu memotret dirinya tanpa izin.
"Hmmm. gantengan aslinya ya kak!" Gadis itu memperlihatkan hasil potretannya. cukup diakui kalau hasil potret asal tanpa izin yang di lakukan Gadis tersebut cukup bagus hanya saja Ari berusaha acuh.
"Keynya mana kak, udah kegen nih! ngantuk lagi!" Ujar nya sambil menguap.
"Jangan liatin Al kayak gitu kak, takutnya kak Ari suka!" Ujarnya lagi sambil mengedipkan sebelah matanya. Ari mengedik ngeri melihat orang asing di depannya.
"Masih kenal sama Al kan kak! Allya, masa ia gak inget, adik kak yang dulu sering kak buangin ingus!" Gadis yang bernama Alya itu tertawa garing saat mengingat masa kecilnya dengan Key dan Ari.
PASTI PADA KEPO KAN SIAPA SIH SI ALLYA ITU?😁😁
"Aneh!" Ujarnya sambil menahan kesabaran. Ari merasa jika orang di depannya ini sedang ada masalah dengan gangguan jiwa, ia pun memilih menutup pintu rumahnya.
Belum sempat menutup. Gadis itu membuka pintu ari kembali. "Jahat amat sih, belum masuk juga, masa ia udah mau dikunci, ngeselin!" Allya pun masuk ke dalam rumah, namun lagi lagi Ari menghadangnya.
Sempat terjadi kericuhan diantar keduanya. Dan di akhiri dengan saling pandang dan pangang, "Siapa sih Kak, Ribut amat masi pagi juga?" Mita yang berjalan menuruni tangga dengan mata yang masih terpejam karna merasa masih kantuk menatap Dua orang di dekat pintu rumahnya.
"Key!" Sapa Allya yang langsung mendorong badannya Ari. Ia pun berlari dan netep di pelukan Mita.
Mita yang masih tak percaya hanya diam tanpa membalas pelukan dari Allya. "Peluk balik dong, gak rindu ya sama gue?" Allya memunyunkan bibirnya wajah di buat sedih.
"Ini benaran lo?" Mita menatap Allya dengan rasa yang masih tak percaya. "Ini Allya Lo Key, calon masa depan Kak Ari! alias kakak ipar lo" Allya cekikikan saat berucap.
Ari masih berada di ambang pintu sambil melihat interaksi antara keduanya. Ia masih bingung dan penasaran dengan gadis yang bersama dengan adiknya.
Mita tetawa kecil. Lalu balik memeluk Allya sampai si empunya merasa sesek.
"Key.. lo belajar peluk pelukan begini dari mana, kok gue kagak bisa nafas!" Allya berucap yang langsung di lepaskan pelukannya dari Mita.
Beri bantu dukungan ya gais.. kasih like, komen, voto, hadiah.. satu pemberian sangat berarti..
Ayo beri buatlah autor semangat... 😳😳
__ADS_1
ditunggu ya pembaca setia