
Akhir akhir ini Mita jarang berkumpul dengan ketiga sahabatnya, bukan berarti ada masalah dan menghindar melainkan iya hanya ingin sedikit merasa bebas dari ketiga sahabatnya itu, ia lebih sering menemani Bayu di atap, sama hal dengan saat ini, ia sedang menikmati suara merdu milik Bayu di tambah dengan lentuhan tangan di senar gitar nya gitar membuat cocok dengan pembawaan yang ada.
Sedang Mita ia hanya bertepuk tangan pelan, dengan mulut yang juga ikut bernyanyi namun tak mengeluarkan suara, hatinya ada rasa bahagia, saat bersama dengan Bayu, ini seperti sebuah perasaan yang sering di sebut dengan cinta, namun Mita sendiri masih tak percaya, menurut nya ini adalah sebuah kedekatan antara temen beda jenis saja. lagi pula hal ini hampir setiap kali ia rasakan jika bersama dengan Bayu, bukan dengan kakak nya juga, siapa lagi kalau bukan sosok cowok dingin, yang juga menyebalkan menurut Mita.
Kedua nya terdiam masuk kedalam pikiran masing masing, Bayu mencoba coba memainkan senar gitar nya, sedang Mita ia lurus ke arah jalanan di luar sana. "Lo sering kemari Bay?" Tanya Mita karena bosan berdiam sedari tadi. ia memang suka diam tapi bukan berarti suka berdiam seperti ini.
Bayu meletakkan gitar nya di atas kursi, setelah nya ia ikut memandangi jalanan di luar sana, hal yang Mita lakukan pastinya. " kelas satu, dan akhir akhir ini!" Jelas Bayu yang kini sudah beralih pandang melihat ke arah Mita.
Ada rasa senang karena di saat seperti ini ada Mita yang selalu menemani nya di selang hatinya, dan perasaan nya yang lagi rapuh akan sosok Rika.
Bayu kembali mengingat hubungan antara dirinya dan Rika seakan seperti sebuah perahu kecil, yang sedang bertahan di tengah laut, seakan sedang terpuruk oleh ombak laut yang kencang, membuat perahu kecil itu tak lagi bisa menormalkan ke seimbangan, seakan tak memiliki kuasa lagi untuk bertahan.
__ADS_1
"Ada masalah?" tanya Mita saat melihat wajah Bayu yang seakan tampak tersenyum getir, di wajah tampan itu. Mita akui Bayu emang tampan bukan hanya ketampanan nya saja yang Mita suka, namun hatinya dan perlakuan Bayu padanya juga merupakan sebuah ikatan hati untuk nya, ia sendiri seakan merharap lebih akan sosok yang saat ini di pandang nya.
bukanya menjawab, Bayu malah mengelus rambut Mita dan tak mengeluarkan satu kata pun, matanya juga masi setia memandangi lekat mata mikik Mita. "Ini tempat paling gue suka, dari dulu sampai sekarang," Ucap Bayu pelan.
Merasakan tangan kekar yang menempel di rambutnya, membuat Mita sedikit kaget, namun ia bersyukur dan tampak kembali normal kan kekagetan nya, karena ini bukan perlakuan manis pertama kali Bayu padanya, melainkan ini sudah yang berpuluh puluh kali ia rasakan dari hari hari belakangan ini.
"Jangan liat gue.. gue bisa baperan!" Ucap Mita dalam hati. Mita mengangguk mendengar jawaban Bayu. "Katanya lo ada tugas Mtk yang belum ngerti?" tanya Bayu dan mulai mengakhiri elusan tangan nya di kepala Mita, Mita menemani nya juga karena ia ingin belajar dari nya, sama halnya dengan saat ini.
"Ini soal yang lo bilang kemarin kan?" tanya Bayu sambil berjalan mendekati kursi panjang di dekat meja yang terlihat lapuk. "Iya.. udah Mita coba belajar juga di rumah tapi gak masuk sama sekali di otak!" Jelas Mita dan kini ia ikut duduk di samping Bayu. Tanpak dua orang berbeda jenis itu sedang pokus pada buku di meja mereka.
Lain dengan Mita dan Bayu, Ari sudah sangat lelah meladeni cewek di samping nya ini, "Sampai kapan lo ngikuti gue?" tanya Ari dengan menghentikan kakinya mendadak. "Sampai lo benar benar cinta sama gue Ri!" Ucap Mira dengan muka tanpa ada reaksi malu sama sekali. Semenjak hubungan nya dengan Ari yang mendapat kan dukungan dari Mama Diva membuat Mira semangkin tak gentar dalam meraih cinta nya Ari untuk dirinya. Ia yakin jika cinta nya tak akan bertepuk sebelah tangan. Apalagi saat ia tahu jika mama nya dengan Mama Diva adalah teman dekat waktu jaman sekolahnya membuat hubungan antara Mama Diva dengan nya semangkin erat. ia harus berusaha agar Ari dapat melihat nya suara saat nanti.
__ADS_1
Ari memijat pelipis nya dengan kasar. "Gue minta sama lo, jangan ganggu gue, lo bukan tipe gue, jadi tolong jangan janggu kehidupan gue!" Ucap Ari penuh penekanan.
Namun Mira lain dalam menanggapi ucapan Ari barusan, ia tak menganggap jika itu sebuah penekanan, karena menurut nya itu sudah sering ia dengar malah ia semangkin suka, karena Ari akan banyak bersuara jika sedang kesal.
"Gue gak bisa, karena hati gue udah nempel buat lo Ri..!" Ucap Mira sambil mencoba menggenggam lengan Ari di depannya.
Ari menepis cepat tangan nya yang hampir saja di sentuh oleh Mira. "Cukup Mir. cukup.. dengan sikap lo yang seperti ini membuat gue mungkin infil liat lo, jadi tolong mengertilah, carilah cowok yang lebih dari gue di luaran sana, hati dan sayang nya gue udah milik orang lain Mir.. jadi gue berharap hal yang sama seperti sebelumnya, mau lo mohon.. mau lo nangis darah.. mau lo sakit karena gue.. mau lo mati pun di depan gue, gue gak bakal peduli Mir.. karena hati gue udah tertutup untuk orang seperti lo, hanya seorang wanita yang masih ada di hati gue!" Tunjuk Ari pada dadanya dan berlalu meninggalkan Mira yang masih terdiam diri di tempat.
Mira memeganggi dadanya, "Sakit ya Ri.. sakit ternyata.."Ririh Mira dengan posisi yang sudah bergongkok di tempat, "gue udah buang semua rasa malu gue, itu cuma buat lo, jadi mulai hari ini gue bakal berusaha lebih keras lagi, agar lo sadar seberapa besar cinta gue buat lo, ini emang sakit Ri.. tapi gak apa gue merasa semakin bertenaga." Ucap Mira dan langsung berdiri dari tempat nya.
Ternyata sedari tadi ada yang memantau dari balik tembok, "Oh.. jadi Mira suka sama cowok cuek itu, cih.. bisa bisanya suka sama dia!" Ucap Adel dan meninggalkan tempat persembunyian nya.
__ADS_1
Ari seakan merasa lega setelah mengatakan unek unek yang terus tergiang giang di otak nya selama ini, ia berharap Mira tak lagi mengharap lebih pada nya, dan ia juga berharap agar Mira sadar pada nya karna ia tak tertarik sedikit pun padanya. Bayu melangkahkan kakinya menuju belakang sekolah, ia berharap akan adanya Mita di sana.