Brother And Love

Brother And Love
bab78- BAL..


__ADS_3

Mita meletakkan makanan di meja yang sudah terdapat Amel dan Bella di susul dengan Dira yang membawa bagian minuman. "Makasih, kakak," Ucap Amel setelah mendapat kan minuman dari Dira dan makanan dari Mita.


"Ehh.. eh.. ini makanan gue enek aja lo, ini nih pesanan lo," Ucap Dira dan menukar makanannya dengan makanan Amel. "Kan gue pesan nya ini!" Ucap Amel merasa kesal atas perlakukan dari Dira.


"Masalah nya makanan ini udah habis di dapur, lagian kan biasanya lo pesan makanan itu, jadi nikmati saja lah," Jawab Dira dengan mulut yang sudah terbuka lebar untuk memasukan makanan di mulut nya.


"Hahaha.." Amel tertawa puas saat mengambil kembali piring dari tangan Dira tadi. Mita dan Bella yang melihat interaksi kedua nya hanya menggeleng lan kepala, udah emak emak tapi perilaku jauh di bawah bocil," Ucap Bella dan setelah nya tertawa bersama Mita. Amel dan Dira atas tawa kedua nya pun ikut tertawa padahal mereka sendiri tak mengerti di mana letak kelucuan dari ucapan Bella tadi.


Lain hal dengan Amel, dia memandangi satu persatu temannya, dan menyengir kuda saat melihat wajah sok lucu nya Dira. "Gak ada yang lucu tapi ketawa," Ucap Amel sambil mengaduk aduk jus coklat di depannya. "Gak ada yang seru tapi lo ngikut nyimak" Ucap Dira menyindir ke Amel.


"Oke, sekarang kembali ke cerita lo itu!" Pinta Bella yang kini sudah pokus ke memendagi ke arah Dira.


"Iya dir, gue juga mau dengar cerita lo secara langsung, tau sendiri kan jiwa penasaran gue menguap uap," Sosor Amel ikut ikutan meminta pada Dira.


Dira memandangi Amel dan Bell secara bergantian, "Siapin gue makan dulu cuy, baru gue nikmat ceritanya, kalo sekarang selera makan gue bisa berkurang kalo bahas dia sekarang," Ucap Dira dengan mulut nya yang penuh dengan makanan.

__ADS_1


"Gue ke atas dulu ya!" Pamit Mita dan di angguki cepat oleh ketiganya. Mita berjalan cepat ke atas, ia mulai memasuki ruang pribadi di cafe nya. ruang yang biasa ia masuki selama akhir akhir ini. sebelum nya Mita di jumpai dengan seorang pelayan dan menyuruhnya agar ke ruangan pribadi.


"Mita," Panggil seorang wanita paruh baya yang selama ini menjadi orang kepercayaan di cafe miliknya. Mita berbalik dan mendekati wanita yang biasa iya panggil dengan sebutan Mbak itu, walaupun seumuran dengan Bunda Dewi tapi semua orang di sini memanggilnya dengan sebutan Mbak. "Kenapa Mbak?" Tanya Mita saat sudah berada tepat di depan wanita itu.


"Kangen," Ucapnya dan langsung memeluk Mita, Mita membalas perlukan Mbak Naya, Sejujurnya Mita tau alasan Mbak nya itu memeluk nya tiba tiba, karena saat ini dia sedang melakukan proses perceraian dengan suaminya, "Mita bersyukur Mbak, Mbak bisa melepaskan seorang lelaki yang yang hanya mempermainkan perasaan Mbak aja." Ucap Mita dalam hati. "Selama ini Mbak merasa nyaman saat kamu bantu Mbak di cafe ini, walaupun dulu Mbak dajh terbiasa tapi sekarang Mbak seperti ketergantungan dengan Mita, apalagi Bunda kamu jarang kemari" Jelasnya lagi.


"Mbak dah makan?" Tanya Mita memastikan. "Udah, Mbak leleh kali hari ini, dan Mbak mau istirahat, bisa kan Mbak titip cafenya ke kamu, jaga sampai tutup nanti?" Pinta nya dan di angguki oleh Mita


"Ada lagi Mbak? " Tanya Mita saat melihat Mbak naya masih setia berdiri di ambang pintu pribadi itu, "Sebenarnya mbak yang nyajak kamu kemari, urusan di dalam udah Mbak siapain, kamu tunggu di bawah aja," Ucapnya dan di jawab Mita dengan senyum simpul.


Di lain tempat, Ari yang mendengar pembulian tentang Mira hanya bersikap biasa biasa saja, namun yang membuat nya tak biasa adalah Mama nya, wanita itu seakan merasa bersalah, dan terus terusan menceramahi Ari di ruang keluarga itu, Ari hanya diam dengan ponsel nya di atas sofa, sama sekali tak ada yang masuk ke otaknya apa yang wanita tua itu ceramahi padanya.


Sudah sekitar satu jam lebih wanita itu mondar mandir di depan Ari dengan mulut dan tangannya yang tak henti hentinya bergoyang akan celotehen dari mulutnya.


"Mama kan dah kasih tau ke kamu, ajak dia pulang sama kamu, kamu liat kan sekarang dia gimana? dia bisa trauma karena masalah nya saat ini, ini yang selalu mama Ingatan ke kamu,"

__ADS_1


Semua nya di keluarkan keada Ari.


Ari menatap Mama nya dengan mata nyalang, selama beberapa hari ini dia mencoba bersikap baik dengan keluarga nya saat ini, terutama wanita di depannya, tapi saat ini rasa kesabaran akan sikap baiknya saat ini malah membuatnya benci atas perlakukan dari wanita di depannya. Ari juga mencoba menganggap ada kehadiran Prans di keluarga nya ini.


Puas menatap orang di depannya, Ari berdiri dari duduknya, tak lupa ia menyimpan ponsel nya di kantung celana lalu kembali menatap dengan senyum miring ke arah wanita itu, "Mau sampai mati pun cewek itu karena Ari, Ari gak bakal mau sama dia, Ari gak suka sama sekali sama dia, dia cantik, bentul yang Mama bilang, tapi sayang nya Ari gak ada tertarik dengan kecantikan nya, Ari cuma mau Mama mengerti Ari, Ari udah mencoba berubah, berubah seperti apa yang di inginkan keluarga ini, tapi Mama juga harus tau dan paham sejak awal kemauan Ari, Ari bukan bukan tipe manusia yang gampang di atur dengan orang lain, terutama wanita seperti anda, urusan ini cukup jadi pelajaran buat Mama kalo Ari bukan tipekel manusia yang mau dan suka di atur." Ucap Ari dan berlalu pergi meninggalkan tempat duduknya.


Anwar yang baru saja pulang dan mendengar kan apa yang di katakan oleh Ari pun mengangguk mengiyakan ucapan anaknya barusan, "Ariii..!" Panggil nya.


Ari yang baru saja mau keluar terhenti mendadak langkah nya, "Ada apa?" Tanya nya dan berjalan mendekati pria tadi.


"Ayah gak akan maksa kamu harus suka dengan Mira, tapi ayah mau pesan sama kamu, Ayah percaya dengan kamu saat ini, dan ayah juga yakin kamu itu anak yang mandiri dan pintar, ayah berharap kamu mau meneruskan bisnis ayah selama ini," Ucapnya dan di angguki oleh Diva.


"Dan kamu, jangan memaksakan anak ku untuk menyukai Mira, biar kan dia memilih sendiri dengan wanita nya, lagi pula dia sudah dewasa, hl itu akan menjadi urusan pribadinya nantinya, akan sulit jika hal ini di ikut campur tangani oleh kamu, kita hanya perlu melihat dan mendukung yang terbalik untuk Ari kedepanya." Jelas Anwar pada Diva.


"Hah.. abis sudah rencana ku, niat ingin menyatukan anaknya dengan Mira agar urusan bisnis akan di kelola oleh dirinya, namun sial semuanya kacau, pasti sulit bagiku untuk mendapatkan alih perusahaan untuk anak ku, Prans. Mana lagi anak itu sudah berubah menjadi anak yang baik, aku harus menyusun rencana lain," Ucap nya dan mengambil tas kerja, dan jas milik suaminya.

__ADS_1


"Gue berharap jika Mira bisa melupakan gue dengan cara ini," Ucap Ari dan menutup pintu kamarnya dengan keras.


__ADS_2