
Mita terus menerus melihat jam melalui ponsel nya. keningnya mengkerut karna lelah menunggu pak ujang menjemput nya. padahal ini sudah hampir jam dua siang.
padahal ini hari jum'at sudah dua jam lebih dia berdiri di pagar ini layaknya seseorang yang sedang menunggu hujan di musim kemarau panjang. kaki nya mulai terasa pegal karena sedari tadi terus terusan berdiri.
Ada rasa sesal juga karna menolak ajakan Bella tadi, seandainya ia menerima ajakan itu mungkin sudah sekarang ini ia sudah terlelap tidur..
"Pak cepetan dong Mita dah capek banget," keluh Mita dengan ekspresi muka lelah, kesal, sambil mondar mandir menunggu mobil jembatan nya, yang sedari tadi ditelepon susah banget, dan cuma di kirimi sebuah pesan singkat.
"Non, jemput nya siang. soalnya mobilnya lagi di servis non." dari tadi hanya sebuah pesan itu lah yang terkirim di ponsel nya.
Ari melihat motor nya sendiri yang masih terparkir di tempat yang berbeda di mana tadi pagi ia memarkir. setelah memanaskan motor nya Ari pun mulai berjalan meninggalkan kawasan parkiran dan menuju gerbang sekolah.
Matanya terperarah melihat sosok cewek yang ia jumpai kemarin siang.
"Ngapain tuh cewek jam segini belum pulang?" timbul pertanyaan demi pertanyaan di otak Ari.
ia sempat berhenti memperhatikan gerak gerik Mita dari dalam pagar. tanpa sadar Ari tersenyum kecil melihat Mita yang kelihatan nya lagi bingung.
Baru saja Ari ingin turun dari motor, niatnya ingin membuka gerbang sekolah. Tiba-tiba langkahnya berhenti di tempat. dilihatnya sosok cowok yang gak asing sama sekali, ia adalah Bayu, tampak Bayu turun dari motor dan sedikit berdebat dengan Mita, namun tanpa banyak waktu yang di perdebatkan Mita pun menurut. samar samar terdengar percakapan meraka berdua oleh Ari.
"Udah gue antar!" ucap Bayu sedikit menarik tas Mita. tampak wajah kesal di wajah Mita ketika medapat perlakuan Bayu.
"Tapi bay? gu_ " ucapan Mita langsung dipotong oleh Bayu. "gue gak bakal nyulik lo! tenang aja, kalo gue macem macem lo bisa golok nih leher!" ucap Bayu dan langsung memakaikan helm ke kepala Mita.
"Besar juga ya, kepala lo! sampe helm segini gede ke lobokan!" ucap Bayu masih sibuk memakai kan helm dengan benar.
"Besar tapi kelobokan aneh banget! " ucap Mita di hati dan memandang Bayu malas.
tipe paksaan ucap Mita pelan, yang untung gak dihiraukan, dan di dengarkan sama sekali oleh Bayu.
"Masih mau disitu aja, apa perlu gue naikkan! " ucap Bayu menekan setiap kata-kata nya.
Mendengar itu Mita dengan cepat cepat menaikkan motor mikik Bayu.
Ari masih berdiri sambil memandang kepergian keduanya. tanpa sadar Bayu memperhatikan gerak gerik mereka. bodoh ucapnya lagi sambil membuka gerbang sekolah.
Ari menaiki motornya dan membawa nya menjauhi sekolah, tujuanya saat ini hanya ingin berkeliling kota, tak ada niat sama sekali ingin pulang, entah kenapa hatinya terasa tersentil melihat kedekatan Mita dengan Bayu. "Bodoh. kok hue malah mikiran meraka!" ucap Ari sambil menggeleng gelang kepala.
Di sisis lain Mita merasa canggung bersama dengan Bayu, apalagi berdua seperti ini, walaupun ada rasa bahagia mita merasa merepotkan Bayu. sepanjang jalan Mita terus mengeluarkan senyum indahnya, rasanya ingin sekali ia menjerit dan memberi tau dunia kalo saat ini dia sedang di gonceng Bayu. cowok perhatian, dan selalu baik dengan nya.
__ADS_1
Bayu melihat wajah Mita yang sedari tadi gak hilang dari senyum. walaupun gak ada percakapan di antara keduanya saat ini. tapi Bayu merasa nyaman di dekat Mita.
"Senang amat ya, sampe segitunya?" tanya Bayu sambil melihat ke kaca spion motornya.
Mita yang merasa risih di liatin dari kaca spion langsung salting, dan membaguskan posisi duduknya yang terus terusan maju. tapi baru saja Mita mundur, motor Bayu mengerem mendadak untungnya Mita dengan cepat langsung memegang pundaknya Bayu dengan cepat.
"Sory.. tiba-tiba macet" ucap Bayu yang tau kalo Mita sebal dengan rem mendadak.
Dan hanya dijawab dengan dengan tatapan kesal Mita. "Ini nih yang gue males, ngerem mendadak, bikin hati gue meledak." ucap Mita dalam hati.
Gak lama kemudian meraka pun kembali melanjutkan jalan."Pegangan ntar kalo lagi ngerem mendadak gak bakal jatuh!" ucap Bayu mengingatkan dan pokus ke depan.
"iya' satu kata yang keluar dari mulut Mita, yang membuat Bayu tersenyum simpul mendengar nya, ia teringat dimana pertama kali ia lagi ngapel sama Rika yang sekaku ini.
"Lama Bayu, menunggu Mita berpegangan tapi sama sekali gak ada reaksi dari Mita."
Mita memegangi jaket paling belakang Bayu.
"Rasanya kalo pegangan kaya kebanyakan di drama kan aneh aja rasanya." batin Mita.
Bayu hanya tertawa geli melihat tangan Mita yang memegangi jaket nya hanya sedikit. layaknya sebagai syarat. tapi Bayu gak masalah mungkin Mita masih kaku dalam hal ini.
"Masih mau di sini terus, apa gue turunkan?" ucap bayu setelan selesai membuka helm mikik nya dengan alis yang naik turun.
Mita sendiri baru sadar akan suara itu. langsung turun dari motor dengan cepat karna malu akan kata-kata Bayu barusan.
Bayu hanya tertawa melihat cewek didepanya dengan wajah kesal dan gaya yang serba cepat. sangging cepatnya kaca mata Mita jadi korban, serta rambut yang sudah berantakan.
"Buka helm, udah kayak buka puasa aja gak sabaran" ucap Bayu sambil merapaikan rambut Mita yang sedikit berantakan.
"Aduh melow nih muka gue, batin Mita. dan langsung membuang pandangan ke arah lain.
Di sini muka Mita udah berubah merah, gak tau Bayu sadar apa gak tapi yang jelas mukanya panas mendapat perlakuan seperti ini dari Bayu.
"Udah" ucap Bayu yang membanguni lamunan Mita yang mengagumi tentang Bayu.
"Ma-makasih Bay!" ucap Mita dengan sedikit terbata, dan langsung berbalik badan menuju pekarangan rumah.
Bayu memperhatikan gerak gerik Mita sampai di pintu rumahnya barulah Bayu pergi. tapi sebelum pergi tampak beberapa pesan masuk dari Eka yang mengajak ketemuan di baskem.
__ADS_1
tanpa membalas pesan tersebut Bayu langsung menuju ke rumah Eka.
Beskem geng four terletak di depan rumah Eka, beskem yang selama ini mereka jadikan sebagai tempat kumpulan geng mereka. yang berupa sebuah rumah pohon yang didekorasi se elegan mungkin, dengan memiliki dua tingkat. tingkat pertama tempat santai/ mengerjakan tugas. dan kedua mereka jadikan untuk istirahat meraka dan sesekali dijadikan Bayu bermain gitar.
Gak memerlukan waktu lama, Bayu sampai di tempat tujuan. setelah memarkirkan motor di tempat biasa, Bayu pun berjakan menuju bacsem. terdengar suara gitar yang dimainkan dengan asal pelakunya adalah Deni, sedang Eka yang menjerit histeris mendengar suara Deni yang gak layak di keluarkan sama sekali.
Bayu hanya geleng geleng ketika sudah bergabung dengan dua temannya yang dari tadi masih debat. Bayu langsung merampas gitar miliknya yang ditangan Deni.
"Mainnya bukan gitu, dia punya trik." ucap Bayu sambil mulai memainkan gitarnya, Bayu melantumkan sebuah lagu yang lagi populer yang berjudul anggel baby, dengan sangat hikmat, matanya terpejam menikmati suara merdunya sendiri.
Eka dan Deni bertepuk tangan setelah Bayu selesai menyanyikan lagu Anggel.
"Kalo ini sih! gue percaya pasti sekali naik panggung udah di kasih bintang lima" ucap Deni sambil menunjukkan lima jarinya.
"Kalo Deni ikut mangung. yang ada, penonton pendengar malah kena virus. bukanya dikasih bintang lima malah di lempari kacang rebus."
"lo salah satu yang melempari kacang rebus kan!" kesal Deni setelah mendengar kritikan dari Eka.
"lah.. itu tau! jawab Eka diiringi tawa Bayu dan Eka.
"Ini nih, lebih mirip ngeremehin gue nampaknya. daripada ngedukung gue!" protes Deni, dengan wajah kesal bukan maen. sambil tangan yang memegangi dada seakan sakit.
"Eh.. lo datang sendirian Bay? " tanya Deni setelah sadar kalo Bayu datang seorang diri.
"iya ya! " gue juga baru sadar, sambung Eka.
"Gak tau gue, dari bolos kelas sampe ini gak ada kabar tuh anak, ucap Bayu malas.
"Woi.. lo pada mikir gak! si Ari kan amnesia tapi sifatnya kok gak berubah coba?" ucap Deni sambil makan kawaci. "Mungkin udah kodratnya kali!" jawab Eka santai. "Emang udah bawaan dari rahim kali ya' ucap Deni menjawab pertanyaan nya sendiri.
"Eh.. kodrat dari sono sama dari rahim apa bedanya?" ucap Eka setelah mencerna perkataan Deni barusan.
"Beda lah boy! nih ye, kalo kodrat itu pas udah lahir, tapi kalo rahim kan dari dia berbentuk benang sampe sekarang," ucap Deni dengan sedikit mengada ada.
"Minggir gue mau lewat?" Eka dan Deni menoleh ke sumber suara, "Gak percaya tapi nyata." ucap Deni dari hati. "Baru juga di ceritain dah muncul pawangnya" keluh Eka dengan nada pelan. Sedang Bayu masih sibuk dengan gitar nya, biasa aja akan kehadiran Ari menurutnya.
Ari melewati ketiga temannya begitu saja. "Mulai deh kembali ke sifat rahimnya", ucap Deni sedikit membisik ke Eka, tapi menurut Eka Deni bukan berbisik layaknya memanggil orang yang tuli.
"Puk.."
__ADS_1
sebuah pukulan mendarat di kepala Deni. "Lo juga mulai kembali ke sipat rahim lo!" ucapan Eka menjadi bahan tertawa bagi Deni dan Bayu.