
...
Mita mengeliat lemas dengan uapan yang tak henti hentinya matanya menyipit kala masih merasa kantuk yang mrmbuyar sekujur badanya.
Di matikan bunyi alarm yang membangukannya. Langkah pertama yang Mita lakukan merampas ponsel miliknya. Baru saja akan membuka grup namun langsung mati karna batainya lobet.
Mita pun turun dari kasur dan berjalan pelan ke luar kamar. Setiap langkah, mulutnya tak henti hentinya menguap. "Kenapa masih ngantuk sih, padahal gue tidur dari sore!" Ujar Mita sambil mengelus elus perutnya yang keroncongan.
"Sabar ya baby cacing, tuan rumah mau cuci muka dulu, sekaligus gosok gigi biar apdol!" Mita menutup pintu kamar mandi denga pelen, ia tak ingin membangunkan orang lain yang sedang nyenyak nyenyak nya tidur.
Mita menghirup aroma masakan dengan mata terpejam. "Laper banget!" Ujar Mita yang langsung duduk di iringi dengan tangan yang kesana kemari.
"Kok tumben banyak banget makanannya biasanya gak sebanyak ini apa ada yang datang kemarin?" Tanya Mita pada dirinya sendiri, namun karna tak ingin ambil pusing, Mita pun kembali makan dengan lahap.
Mita mengelus elus perutnya yang kekenyangan. "Aduh.. sakit benget!" Ujar Mita yang memeng merasa sakit di bagian perutnya.
Ia pun berjalan sedikit berlari ke arah kamar mandi.
Seletelah bolak balik dari kamar mandi membuat Mita menjadi letih dan lemas. Matanya menerawang seisi dapur, masih sama seperti dengan keadaan sebelumnya.
Mita pun berjalan gontai menuju kamarnya. "Langkah nya terhenti kala mendengar suara ricih yang berasal dari luar rumah. Mita sedikit mempercepat langkah kakinya ke atas.
Matanya menyepit kala melihat dua orang berbeda jenis yang sedang bertengkar. "Siapa sih, pagi pagi gini udah pada berantem?" Mita mulai memakai kaca matanya kembali. "Ah itu kan si Aman.. bukan kok gue kira dia!" Ucap Mita yang langsung menutup tirainya.
"Eh.. Bunda...!" Kaget Mita yang mengambil kaca matanya yang jatuh ke lantai akibat ia merasa kaget tadi.
Baru saja akan mengambil Mita terduduk karna mendengar suara gaduh yang mangkin kuat di luar sana.
Mita langsung berdiri dan menuju kamar mandi,
"Mending gue mandi, dari pada mendengarkan hal yang gak guna sama selali. apalalagi liat yang gak berarti dan gak ada hubungannya sama gue! " Ujar Mita yang mengingat kejadian tadi.
...
Balapan antara Bayu dan Ari semangkin menegangkan, kala melihat Bayu dan Ari yang imbang. Mereka cemas jika mereka akan ada yang pertandingan ulang.
__ADS_1
Namun siapa yang sangka. Saat Ari akan memotong jalannya Bayu, ia tak mengontrol motornya dan dirinya. hal ini lah yang dari awal menjadi kecemasan namun kecemasan hanya bisa bisa di bilang dengan gerakan mulut saja sedang anggota lainya hanya diam, sekakan tak bisa berbuat apa apa lagi.
Mita berjalan cepat saat menaiki anak tangga menuju kelasnya. Matanya celingak celinguk melihat tak adanya siswa/i yang berada di depen kelas ataupun berjalan sana sini. "Dodoh.. bodoh..!" Gerutu Mita pada dirinya sendiri. sepanjang jalan menuju kelas mulutnya terus terusan merutuki dirinya.
Mita menelen salivanya saat mendengar suara guru dari dalam kelas yang sedang mengabsen. Tanganya sedikit bergetar saat memegang handle pintu, ia mengatur napasnya terlebih dahulu, setelah merasa yakin dan kuat mental, Mita membuka pintu kelasnya dengan wajah tertunduk.
Seisi kelas menuju kearah Mita berada. Mita sama sekali tak berani untuk mendongak apalagi melihat guru yang saat ini sedang berada di depan nya.
Mita berjalan pelan mengarah ke meja guru, tatapanya masih pokus ke adah bawah.
"Dari mana kamu siang gini baru sampai?" Tanya Pak Darwin saat ini mengajar di kelasnya. "Ketiduran pak, pas bagun udah jam tujuh aja, untung gue dah mandi pak, kalo gak mungkin bisa di bilang lebih lama dari ini!" Ingin sekali Mita menjawab itu, namun tak mungkin kan ia mengatakan jika ketiduran.
Mita hanya diam dengan tangan yang memegang erat roknya. Tak mendengar jawaban dari Mita. Membuat Pak Darwin menjadi donggol.
"Duduk..!" Ucap nya pada Mita. "Mita merasa lega, karena tak mendapatkan hukuman dari Pak Darwin.
Berbeda dengan Mita terlihat Jeni dan Mei yang merasa dongkol melihat Mita yang lepas begitu saja. "Tenang aja gue punya rencana buat dia!" Ucap Mei yang tau jika Jeni kedal sekali dengan Mita.
...
"Lo dari mana aja sih, dari kemarin gue telepon gue chat tapi sama sekali gak balas dan telepon balik!" Omel Dira dengan tatapan seriusnya.
"Emang ada masalah apa sih, hah.. kalo gak ada gue mau balik tidur lagi!" Ujar Mita yang langsung meletakkan kepalanya di atas meja.
"Ari masuk rumah sakit!"
"Apa?" tanya Mita yang langsung berduduk tegak. "Gak usah jerit jerit juga lah, masi berlaku lama nih!" Ujar Dira yang menujuk telinganya, nyari yang baru susah tau!" Ujarnya Lagi.
"Jatuh dari motor karna berusaha mendapatkan lo, kalo si Bayu gak kenapa napa karna dia gak seniat Ari!" Dira menjelaskan.
Mita langsung bangkit dari duduknya. seketika rasa kantuk nya menghilang dalam sekejap, rasa khawatir dan takut menjadi satu. Ia meregoh tasnya mencari ponsel nya berada.
"Cari apaan?" Tanya Dira yang merasa heran, "Ponsel gue, dimana ya?" Tanya Mita balik. "Lo yang punya kok gue yang di tanya aneh!" Jawab Dira ketus. "Aduh.. gimana nih?" Tanya Mita dengan ekspresi seriusnya.
Seketika Dira menghentikan gerakkan Mita. "Lo jujur sama gue, lo masih suka sama Bayu?" Tanya Dira yang mulai serius kembali.
__ADS_1
Mita tak langsung menjawab ia berpikir sejenak. "Lo tau gimana keadaan Kak Ari!!"
"Jawab gue, gue tanyanya Bayu bukan Ari!" Ujar Dira sebel.
"Itu gak penting di jadikan pertanyaan, yang penting itu keadaan Kak Ari!" Ujar Mita yang berjalan keluar kelas. Langkahnya berhenti kala di hadang oleh Bella dan Amel. "Ini nih yang bikin gue kesel dari kemarin, mode gak angkat telepon nya kambuh kemarin malam!" Ujar Bella dengan memangku tangannya di perut.
...
Mita yang tadinya sudah berjanji akan menjenguk Ari, kini harus ia tunda karna ternyata sang Bunda dalam keadaan awal pemulihan setelah operasi. Mita berulang kali menghela nafas. Ada rasa takut kala membayangkan gimana keadaan Ari saat ini!
"Mereka itu gimana sih, masalah kecil begini masa bisa jadi masalah besar, mana ada sangkut pautnya gue lagi!" Mita menyapu wajahnya merasa prustasi.
"Ia berjalan pelan saat sudah sampai di ruang khusus yang terdapat Bundanya. "Mita datang Bun!" Ucap Mita yang membuka pintu.
Air matanya tak bisa terbendung saat melihat banyak nya alat medis yang terdapat di wajah dan tangan Bundanya.
Mita janji bun, setelah Bunda sembuh total ,Mita bakal cerita gimana kelakuan anak cowok bunda itu, pasti bunda kagum sama Kak Ari dia berubah bun karna Mita, tapi berubahnya aneh dan nekatnya juga aneh, rela balapan demi dapetin Mita!" Adu Mita dalam hati. Tanganya menggenggam erat tangan sang Bunda.
"Bunda harus kuat bun harus.. di luar sana banyak yang menunggu kehadiran Bunda, semangat Bun!" Ujar Mita yang bersuara parau karna terus menangis.
••
Tiga hari kemudian.
Mita berjalan lemas saat memasuki rumah sakit, ia merasa tak bertenaga lagi rasanya. "Matanya tajam menatap ke depan dengan tatapan kosong, hari hari yang ia jalani seakan terasa mati.
Sudah tiga hari sejak selesainya operasi sang Bunda, selama itu Mita hanya bolak balik ke rumah sakit sekadar melihat kapan sang Bunda akan bangun. kadang ia di temani oleh Bella dan kedua sahabatnya juga namun Mita kadang menolak, kerna ia merasa lebih tenang dan akan bisa nagis dengan puas.
Sejak saat itu juga, Mita tak pernah menjenguk keadaan Ari, Karna ia sudah dengar jika satu hari lalu Ari sudah bisa pulang ke rumahnya. saat itu Mita merasa beben yang ia bawa selesai sedikit, namun beben dan rasa khawatir nya dengan Bunda saat ini masih menjadi tanda tanya.
Seperti saat ini saat dirinya datang, Bik susi sebagai Artnya itu pun pulang, Selama tiga hari ini Mita tidur di rumah sakit. tanganya tak henti hentinya menggenggam tangan sang Bunda.
"Bunda kapan sih sadarnya, Mita udah kangen sama suara Bunda, Mita udah kengen sama kasih sayang Bunda, Mita kangen Bun kangen!" Ujar Mita yang di akhiri dengan deraiyan air mata, cukup lama ia menangis yang di akhiri dengan tertidur di samping sang Bunda.
Saat Mita sudah tertidur di samping kesur, Dewi mengelus puncak rambut putrinya, "Maafin bunda sayang, maaf karna merepotkan kamu!" Ucapnya yang di akhiri air mata. "Seandainya ada sosok Kakak mu di sisi mu, maka Bunda akan tenang, tapi bunda akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat kamu bahagia saat nanti tak ada bunda lagi di dekat mu!
__ADS_1