
Mita memberikan selembar uang berwarna biru ke ojek yang baru saja ia turuni. "kembalinya kak, tunggu bentar!" Ujar Mas ojol, "Ah.. emang berapa kembalinya mas?" Tanya Mita yang membalik badan.
"Dua puluh lima ribu kak!" Jawaban yang memberikan uang lima belas ribu. Setelah menerimanya, Mita kembali memberikannya ke Mas ojol.
"Buat beli minum mas. makasih!" Lala langsung beranjak dari tempat itu dan berjalan mendekati rumah besar yang ada di hadapannya.
Mita memijat bel berulang ulang, masih tak ada jawaban dan tanda tanda dibuka. Mita memilih untuk menelpon Klara.
Mita menghela nafas lemas saat panggilan nya tak di angkat sama sekali oleh Klara. Saat akan kembali memencet bel. pintu pun terbuka dengan menampakkan sosok pria yang terlihat kerutan di dahinya. Matanya tajam melihat ke arah Mita. ia menelisik dari atas hingga bawah.
Mita yang merasa risih, langsung menjelaskan tujuan dirinya datang ke sini.
"Sore om.. saya Mita temen sekelasnya Klara. Klara ada om?" Tanya Mita dengan nada pelan.
Belum sempat menjawab Mita, terdengar suara wanita yang mulai mendekati arah pintu.
"Siapa Pa?" Tanya wanita yang Mita yakini mamanya Klara. "Temen Klara tan!" Lala yang menjawab pertanyaan dari wanita tadi.
Wanita yang Mita yakini Mamanya Klara bertukar pandang ke arah pria yang tadi sempat membuatnya risih.
"Ayo saya antar, tapi gak bisa lama lama. karna ini bukan taman wisata, tapi ini seperti di penjara!" Ucapnya yang langsung pergi setelah mengantarkan Mita tepat di depan kamar yang terlibat tak terurus.
Tak lupa wanita itu memberikan kunci ke Mita. Mita mngehela nafas tak habis pikir atas apa yang mereka lakukan sampai sampai pintu kamarnya Klara di kunci.
Mita mengetok pintu Klara dengan pelan, tak ada sautan dari dalam. Mita pun memanggil nama Klara dengan mata yang memandang di sekitarnya dengan tanda keheranan. Tempat yang saat ini iamasuki sangat gelap. ia menghirupkan senter diponselnya.
Begitu menemukan saklar, seisi ruangan menjadi terang. Terlihat seorang gadis yang sedang duduk dengan kedua kaki yang di tekuk, tanganya memeluk erat kedua kakinya. Matanya menatap kosong ke arah jendela kamar yang tertutup oleh gorden. kini ruangan itu dapat terlihat jelas dengan banyaknya kertas yang di serak sana sini, di campur lagi dengan bantal dan baju yang berserak. Ini tempat lebih cocok di namakan dengan kata gudang yang tak terurus lagi.
Mita melangkah pelen, ke arah Klara yang saat ini sedang membelakanginya. "Kla..! Klara.. ini gue Mita!" Panggil Mita pelan saat posisi yang Mita berada di sampingnya.
__ADS_1
Klara terdiam membisu, badannya lagi lemas, ia merasa tak bertenaga, rasanya berbicara yang membutuhkan tenaga saja sudah tak sanggup lagi. Hanya deru nafas berat yang terdengar dari diri Klara, diiringi dengan isakan kecil. Mita terduduk dan menggenggam tangannya Klara dengan lembut.
Di sini Klara baru tersadar. Ia tersenyum getir memandangi Mita di depannya. Mita langsung mendekap Klara ke dalam pelukanya. Klara kembali menangis, "Menangislah, gue ada buat lo, karna kita teman. keluarkan semua rasa yang menyakitkan di hati lo, dengan cara menangis di pelukan gue!" Terdengar helaan nafas yang kini keluar dari Mita. "Gue juga pernah merasakan apa yang lo rasa Klara.. tapi dalam kondisi yang berbeda, gue tau gimana rasa yang lo rasakan saat ini, gue tau.. tapi demi janin di dalam sini.., tanganya Mita beralih memegang perutnya Klara.
Lo harus tegar, dan bertahan demi dia, jangan lo sia siakan dan jangan lo sesali apa yang teleh terjadi, karna sebagus apa dan secerdik apa lo berbuat, jika yang lo buat adalah hal kotor maka akan membuahkan hasil yang kotor. dan ingat jadikan hal ini sebagai suatu pengalaman untuk hidup lo di masa depan!"
Klara tersenyum kecil. mendengar nasihat dari Mita. "Ternyata lo itu bukan hanya baik dan pinter aja, tapi nasihat lo juga lumayan di terima dan bermanfaat buat gue " Klara yang tersenyum membuat Mita tersenyum.
Kedunya duduk di atas kasur dengan keheningan di antara keduanya.
"Lo tau, gue juga sempat putus asa dan nyereh begitu aja, setelah gue tau gue suka dengan cowok yang udah di miliki oleh orang lain yang lebih baik dari gue, gue sempat memaki diri gue sendiri karna gue suka dengan orang yang salah. tapi di sela kebodohan gue, gue bersyukur karna orang yang di miliki dia, adalah orang yang jauh lebih baik dan sempurna dari gue. gue pun mencoba melupakan dia, dan gue rasa sampai saat ini gue belum bisa hilangkan rasa itu dari dia. walaupun posisi dia saat ini sama dengan gue, tapi gue memilih tak berharap lebih dari dia. dan menurut gue, bahagia dia adalah titik tenang dari hati gue!" Mita kembali mengingat masa patah hati nya yang sudah berlalu beberapa bulan lalu.
"Setiap orang punya masalah masing masing. kadang gue melihat orang lain yang lebih sempurna dari gue, gue merasa pengen berada di posisi dia, namun gue kembali ke diri gue lagi, sesempurna dan sesenagnya mereka, pasti mereka memiliki masalah di balik itu semua, dan gue yakin dan percaya jika semua kesedihan, serta pahitnya rasa yang ada di hati gue, pasti suatu saat nanti gue bakal menemukan titik kebagian di dalam hidup gue kedepanya.
Mereka pun saling bertukar cerita. baik masa lalu dan masalah yang lagi di hadapi mereka masing masing.
Cukup lama, ia menghitung pengeluaran, dan pemasukan dalam satu bulan ini, matanya cukup pokus kearah laptop di depannya. karna merasa leleh, ia pun memilih bangkit dari duduknya menuju dapur. Setelah meminta susu hangat dan kue coklat, Mita berjalan kembali menuju ruangan pribadi.
ia kembali melanjutkan kerja nya, sebelumnya ia sempatkan untuk memijat mijat leher dan jari jarinya. tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu. "Masuk!" Seru Mita tanpa melihat ke arah pelayan yang mengantarnya. tatapannya masih pokus ke layar laptop di hadapannya.
"Mbak.. temen mbak pada nungguin di bawah!" Seru pelayan tersebut dan beranjak pergi setelah melihat Mita mengganguk.
"Mana sih adek lo itu, masa udah dua puluh menit kita di sini belum nongol nongol tuh anak!" Celoteh Dira yang merasa leleh menunggu Mita.
"Emang dia bunting apa, pake nongolan segala!" Komen Amel yang baru saja mendudukkan pantat nya di kursi.
"Bunting itu apaan?" Tanya Deni yang baru tiba dengan gaya rambut barunya. "Stok model apa lagi tuh, kok rada mirip pesulap merah!" Ujar Dira dengan senyum kecilnya.
"Enak aja katain gue pesulap merah, ini gaya gue ambil dari deretan artis papan atas, gak liat apa ada lebelnya!" Deni menunjukkan sebuah gambar love dan nama Amel di bagian tengah rambutnya.
__ADS_1
Bella dan Dira saling tatap tak lama tawa keduanya pun pecah. Amel tampak mengeturu kesal ke arah Deni. "Gimana, pasti gak ada yang bakal berani deketin gue kan, kan udah tercantum nama lo di sini, bukan di sini tapi di sini.. Deni menujuk ke arah dadanya.
Tak lama terlihat kedatangan Eka dan Bayu dengan gaya yang berbeda jauh dari Deni, mereka berdua berjalan dengan penuh pesona di setiap langkah kakinya. "Awas keseleo mata lo!" Tutur Dira ke Amel.
Amel menatap Dira kesal, karna semangkin ia diam, Dira terus saja menghadang arah pandangannya. "Gue rasa bukan mata lo aja deh yang keseleo tapi hati lo juga, soalnya detak jantung lo kedengaran sampai sini, awas patah ntar syulit di obati, soalnya masalah hati!"
Setelah memesan mereka semuanya, pun sibuk mendengarkan celotehan dari Deni. meja itu penuh diiringi dengan tawa.
"Btw.. Kakak sama adik, kok pada belum nongol nongol ya, pada janjian apa ya?" Tanya Dira heran.
"Bisa jadi, kan sedarah dan sejalan pasti kompakan dong!" Saut Eka. "Iya gak yang!" Tanya Eka ke Bella. "Iya kaya jalan kita di masa depan, selalu sehati dan sejalan!" Jawab Bella tersenyum malu malu.
"Ahh.. korban bucin nich.." Seru Dira. "Mending, dari pada lo, korban sinetron ala indosiar, suara hati seorang pacar!" Balas Amel yang mendapatkan tawa di meja tersebut.
"Kalo kita korban buly satu sama lain, yang akhirnya tumbuh cinta di dalamnya!" Saut Deni yang merangkul Amel agar bisa lebih dekat dengannya. Amel menepis tangannya Deni yang akan melingkar di kedua bahunya.
"Sambil menyelam minum air nih namanya. sambil pacaran sambil cari kesempatan dalam ke galakan si mbak Memel!" Ejek Dira yang mendapat tawa dari Bella dan Eka. Sejak tadi Bayu hanya diam saja, ia memilih memainkan ponsel di tangannya. saat ia melihat ke arah depan tak sengaja matanya bertemu dengan sosok yang masih selalu membuat hatinya gusar.
"Pas banget nih ada Meraka, mending gue samperin!" Belum sempat melangkah tanganya Adel sudah di genggam oleh Rika. "Gak usah cari keributan disana, mending kita pulang aja, cuaca mendung mending kita balik cepat akan lebih baik!" Tutur Rika.
"Tap... Del, gue tau apa yang lo rasakan, biarin aja, gue juga dah iklas melepaskan dia, gue juga bakal tenang kal.. tiba tiba saja Rika melepaskan genggaman tangannya dari Rika, ia terkhuyun ke depan, dengan sigap Adel menangkapnya. Beberapa orang yang melihatnya pun ikut membantu Rika.
Dira pun yang memang paling heboh, langsung berlari mendekati siapa yang pingsan. Bella dan Eka hanya melihat dari kursi saja. Jika Deni dan Amel mereka tah hilang kemana. Berbeda dengan Bayu, ia sempat ingin berlari namun ia tolak hati yang mengajaknya. Ia kembali memainkan ponsel, mesti di selimuti rasa khawatir yang tertutup oleh gengsi dan status yang berbeda.
Adel terus menatap tajam kearah Bayu sampai, "Apa sebegitu bencinya lo sama mantan lo ini, apa sebegitu tega dan cepat nya rasa cinta hilang pada Rika, sampai sampai lo biarkan Rika di bopong orang lain, dan tanpa melirik atau pun sekadar melihat apa yang terjadi oleh Rika, dan lo dengan tampang lo yang sok jual mahal, bakal gue buktikan kemahalan dan ke sedihan yang Rika rasakan bakal gue berikan rasa sakit yang Rika rasakan!" Geram Adel yang sudah meremas baju nya, ia pun mulai berjalan meninggalkan kawasan cefe menuju rumahnya Rika.
Jika saja ada orang lain yang membawa Rika pulang kerumah, maka Adel akan memaki Bayu di tempat itu juga, namun setelah ia pikir pikir lagi, hal itu akan membuat malu dirinya saja.
...
__ADS_1