
•
Mita kembali merebahkan badannya di atas kasur, matanya terpejam sambil mengingat perlakuan Ari padanya. Mita langsung berdiri ketika pintu diketuk. " Siapa sih! Ganggu aja!" ucapnya malas.
Ceklek..
Mita semangkin malas melihat orang didepanya. Pasalnya kaki nya masih sakit akibat kejadian semalam. Hari ini Mita memang izin karna kakinya masih sakit dan ingin mengisi waktu untuk banyak beristirahat di rumah. Bella juga gak jadi nginap, dengan alasanya belum pulang, Mita sendiri tau, sebenarnya Bella lagi mapel ama Eka, bukan kumpul bareng keluarga.
Bella tersenyum kikuk melihat Mita di depanya. Matanya masih sayup, rambutnya acak acakan, lengan baju sebelah kiri mereng ke kanan. dengan celana selutut.
"Kenapa?" tanya Mita merasa risih dilitin sama Bella. "Kangen" ucap Bella lalu berhambur ke pelukan Mita, Mita menolak merasa malu akan dirinya yang seharian pul sleping tanpa apalagi gak ada mandi jangan kan mandi cuci muka aja gak.
"Kok gak mau sih!" Bella memunyunkan bibirnya. "Gue mandi dulu!" ucap Mita dan langsung ngacir ke kamar mandi. Bella tertawa setelah Mita menutup kamar mandi. " Udah persis kayak orang gila lo Mit!" ucap Bella memperhatikan ponselnya yang sempat mempoto Mita secara diam-diam.
Bella guling guling di kasur, mendengar puisi yang dikirim oleh Eka melalui klip suara. "hah.. udah mulai bucin si Eka ama gue!" ucap Bella sambil geleng geleng kepala. "Siapa bel yang bucin?" tenya Mita sambil duduk di atas kasur.
Melihat Mita yang tiba-tiba membuat Bella hanya membalas dengan senyum kikuk. "Oh.. i-ini temen sekelas gue! yang baru jadian dia curhat ke gue, kalo cowok nya mulai bucin!" Jawab Bella sambil langsung berduduk di samping Mita. "Oh! kirain pacar lo?" jawab Mita.
Dan lagi Bella hanya diam saat mendengar kata pacar, "Gue kan gak punya pacar?" ucap Bella sambil ******* ***** bajunya. Mita tau kalo Bella lagi gugup akan saat ini, "sengaja biar ngaku" batin Mita. "Mita mendekatkan wajahnya ke Bella, dengan senyum miring,
"Jangan bohong! Kok muka lo panik?" dan lagi Mita sedikit memepet ucapannya ke Bella."
Bella mengalihkan pandangan dari Mita. "Gue gak bohong kalo gak percaya bisa gue telpon!" Jawab Bella lagi. "Mita menggangguk "Gue juga penasaran liat dong curhatanya?" Mita tersenyum kecil, di hati nya Mita sudah tertawa terbahak bahak melihat tingkah Bella.
"Gue ke kamar mandi dulu! kebelet!" Bella sengaja mengelak dan menghindar dari Mita, awalnya ia mengira kalo Mita bakal percaya-percaya aja, tapi melihat tingkah Mita ini, Bella merasa jadi jengkel akan kelakuan Mita.
Ceklek..
__ADS_1
Mita masih di tempat sebelumnya, duduk di atas kasur sambil memaikan ponsel, "Bella menikan alis bingung, "tumben nih anak demen di sini! lagi nunggu sembako ya?" tanya Bella dengan nada sumbngnya.
Mita menikan sebelah alis, "Tadi Eka nelpon, gue bilang lo lagi boker!" ucap Mita masih pokus ke ponselnya. Bella mendelik mendengar kata yang barusan saja keluar dari mulut Mita.
"Lo d-dah tau?" tanya Bella kikuk. "Mita menghentikan aktivitasnya, "Udah lama!" jawab Mita dengan senyum yang mengembang namun dengan cepat ia lempar bantal, guling, dan semua yang ada di atas kasur di lempari ke Bella, bahkan ponsel Bella pun hampir menjadi korban sinetron indosiar. Hahaha... becanda.
"Idih Mita berubah ya jadi huluk!" Bella berlari keluar kamar tak lupa ia menyambar ponselnya di tangan Mita, Bella menamai Mita dengan sebutan huluk. "Gak nyangka si Mita tau juga!" Ucap bella di sela larinya.
•
Ari sampai di rumah sekitar jam tujuh malam, sempat mendapat pertanyaan dari mama tirinya, tapi tak sekata pun ia keluarkan dari mulutnya, apalagi lagi harus menjawab pertanyaan mamanya, sampai sekarang Ari merasa benci dan kesal jika bertemu dengan wanita paruh baya, gak lain mama kandung nya. Dan sama halnya dengan Prans. Ari sendiri gak tau kenapa setiap kali berpapasan dengan adik tirinya itu, ia merasa ada segunung masalah dengan Prans.
"Ah.." Tampak Ari yang sedang mengatur nafasnya lelah. Tak lama kemudian ia pun bangkit dari kasur dan langsung menuju kamar mandi, tak lupa ia menyandang handuk kesayangan nya.
Saat baru saja keluar kamar mandi, Ari menyipitkan matanya melihat ada seseorang yt duduk di atas kasurnya dengan posisi membelakangi nya.
"Selesai ini, turun kebawah ada yang mau Ayah sampaikan" sebelum mendengar jawaban dari sang putra, Anwar sudah beranjak dari kasur dan sekarang sudah melangang pergi dari kamarnya.
Ari menautkan Alis bingung, "Mesti kali di sana ngomong nya?" ucap bayu malas, setiap kali ada yang mau diomongin pasti berkumpul bersama keluarga nya, Ari merasa malas jadinya.
Beberapa menit kemudian Ari pun mulai menuruni satu persatu anak tangga. Sudah terlihat mamanya, Ayah Anwar, Prans, di meja makan. Begitu sampai ia langsung duduk berhadapan dengan sang Mama. "Ayah dengar kamu sering bolos kelas! Apa benar?" tanya Anwar sambil menyuap kan nasi ke mulut.
Ari terus menyuap kan makanannya ke mulut, tak menghiraukan apa saja yang di tanya olehnya. "Ayah lagi ngomong sama kamu, Ari?"
Ari menghentikan aktivitas makanya, lalu memandang sang Ayah yang juga memandangi nya.
Ari menghela nafas kasar, "Siap makan bisa kan ngomong nya?" saut Ari dan langsung melakukan aktivitas yang sempat tertunda.
__ADS_1
Sang Ayah hanya menggeleng melihat tingkah laku Ari.
Selesai makan malam bersama, Ari langsung menuju tangga, "Kini sudah selesai makan, nunggu selesai apa lagi?" Tanya Anwar kepada anak sulung nya. Mendengar itu ia langsung membalik badan dan kembali duduk, kini tinggal Prans dan Ayah Anwar. sedang Diva mama tirinya, sibuk membereskan makanan di meja, bersama para artnya.
"Ayah berharap untuk kedepanya jangan sering bolos lagi! contoh lah adik kamu ini" Anwar menepuk nepuk pundak Prans, sebagai rasa suka nya. "Dia gak pernah dapat kasus dalam sekolah, seharusnya kamu juga seperti ini, disiplin waktu, disiplin belajar, disiplin akan menuju masa depan!" Ucap Anwar panjang lebar.
Rasanya Ari pernah mengalami hal ini sebelumnya, tapi untuk saat ini ia masih tak bisa mengingat. Terlebih mendengar pujian untuk Prans membuat dadanya sesak ia tak tau mengapa, tapi yang jelas sekarang ia semangkin membenci Prans.
"Prans gak sebaik itu yah disekolah?" ucap Prans merasa selalu membanding kan dirinya terbaik dari pada Ari. Ari memandang Prans dengan tatapan kesal, namun tak lama ia tersenyum simpul melihat Prans yang juga melihatnya. "Semangat buat lo, anak baik-baik!
dan anak paling benar, apalagi semua hal!" Ari mendorong kursi duduknya dan berjalan ke luar rumah, sebelum mendapat pertanyaan dari sang Ayah, Ari sempat membalik badan dan izin keluar sebentar.
Anwar pun mengizinkan, "Yah! Prans keluar bentar juga ya?" Dengan cepat Anwar mengiyakan.
"Loh! pada kenapa kok pada keluar?" tanya Diva sambil memijat mijat lengan sang suami. "Lagi cari angin, kalo dirumah trus gak masuk angin!"
Jawab Anwar sengaja sedikit ia buat candaan.
Diva tertawa kecil di belakang Anwar, tapi tangannya masih memijat lengan sang suami.
"kak!" Prans mengikuti langkah Ari pergi, dan kini ia sudah berada antara jarak setengah meter di belakang Ari.
Ari yang sudah tau diikuti oleh Prans, dan setelah mendengar panggilan itu langsung mendadak berhenti. "Lo ngikutin gue?" tanya Ari dengan tampan coolnya, tangan kiri di masukkan ke saku celana, rambut yang panjang ia kedepan kan dan dibelah tengahnya, sehingga membuat dahinya tertutup kecuali bagian tengah nya, dan gigi gisulnya yang terlihat "lebih persis oppa kore* ya? " hahaha...
"Prans tersenyum dan semangkin mendekatkan badannya ke Ari. "Ucapan ayah gak usah banyak dipirkan, terlebih soal membanding jangan di bawa ke hati.." Ucap Prans dengan tangan yang bergerak memperagakan ucapanya. Di balas Ari dengan senyum miring, "bukan urusan lo! mau gue bawa ke hati, ginjal, atau pun ke usus, itu gak ada hubungannya dengan lo? gue bukan tipe orang yang dipiran lo?" Ucap Ari menunjuk Prans tepat di wajahnya. lalu kembali berjalan tapi langkah nya terhenti dan kembali membalik, "Satu lagi! gue gak tipe sok kebaikan apalagi baperan, di ucapan begituan! gue malah senang dengan diri gue yang sekarang, walaupun berandallan tapi masa depan udah di persiapkan!" ucap Ari dan berlalu meninggalkan Prans masih ditempat.
Ucapan Ari barusan membuat hatinya sedikit tersentil, memang benar, sebagus, sebaik, dan sekuat apapun ia akan kalah akan Ari. Urusan warisan pasti jatuh ke tangan Ari, sedangkan ia hanya anak tiri yang baru timbul satu tahun ini, mungkin ia akan mendapatkan warisan tapi Prans tak mau berharap karna ia juga pengen bangkit sendiri, usaha sendiri, tanpa ada bantuan orang lain, walaupun mamanya yang selalu menekankan dirinya agar mendapatkan warisan di masa depan kelak.
__ADS_1
mari beri dukungan yuk, biar tambah semangat autornya, kasih dukungan terbaik yuk, beri like, vote, dan komentarnya.