
Tap..
Tap..
Ari berjalan menuruni tangga karana mau mengurus urusan sama Mira. tapi kakinya terhenti di tengah tangga ketika mendengar suara gaduh dari arah dapur, "Saya gak mau tau ini harus jadi sekarang juga!" suara mama Diva terdengar sangat jelas di telinga Ari. "Ada apaan sih?" Ari sempatkan untuk mampir ke dapur, niatnya ingin melihat ada apa di dapur.
Di tengah lagkah kakinya, malah bersimpang siur dengan Mama Diva di pintu dapur, tampak raut wajah kesal yang terpancar jelas di pelupuk matanya. Ari tak mau ambil pusing dan langsung mulai memasuki dapur.
Tampak kue yang terlihat gosong, yang diletakkan di atas meja, "Ada apa bik? kok bisa gosong bik?" tanya Ari sambil menyuil kue yang terlihat tidak terlalu gosong dan memakannya.
"Bibik lupa kalo ngangkat, kuenya den! kuenya mau dibawa arisan sama nonya den!" Art itu berbicara tanpa berani melihat wajahnya Ari.
"Kapan mau dibawa bik?" tanya Ari lagi. "Jam dua siang nanti den!" Jelas Art itu masih dengan posisi menunduk.
"Biasanya kalo buat lagi perlu berapa lama bik?" tanya Ari lagi. "Sakitar satu jam'man gitu den!" jelas Art itu lagi.
"Kalo gitu masih ada waktu 50 menit lagi kan? mari biar Ari bantu buat kue!" Ucapan Ari barusan membuat Art itu langsung memandang Ari dan memasang wajah bingung.
Tampak Ari yang sudah menggulung lengan bajunya, dan mencuci tangannya, Ari sempat berpikir jika ia pernah melakukan hal ini sebelumnya tapi ia tak tau itu dimana, "Yang mana dulu bik yang saya kerjakan?" tanya Ari yang bary saja selesai mencuci tanganya.
"Pecahin telor nya 2 butir den!" ucap Art itu sambil menyiapkan yang lainnya. Ari mengangguk dan berjalan menuju kulkas mengambil telur di dalamnya.
Ari mengadun sesuai arahan dari Ary nya, setelah selesai mengadun, ia membentuk kue dengan cetakan yang sudah tersedia di depannya, tanpa arahan Ari sudah pandai melakukannya dengan baik. bahkan melakukannya jauh lebih cepat dari Sang Art.
Tak memerlukan waktu lama sekitar dua puluh menitan Ari bersama dengan Artnya sudah selesai membentuk kue tersebut.
"Sudah selesai kan bik?" tanya Ari dan berdiri dan mencuci tangan nya.
"Makasih den! kalo gak di bantu aden mungkin bibik belum ada setengah yang jadinya!" Art itu tersenyum dengan arti penuh maksih dari sudut pandang nya.
Ari mengganguk sebagai jawaban, dan pamit ingin ke atas ingin menganti pakaiyan yang sudah kotor akan percikan tepung yang ia adon di dapur tadi.
__ADS_1
Brurr..
Suara percikan air terdengar jelas di seisi kamar itu, kebiasaan Ari, ia jarang mengunci kamar madi saat mandi, ia biarkan ada ruang angin dari luar.
Ari berjalan dengan tubuh tegaknya yang hanya telanjang dada, dengan rambut basahnya.
Mira yang baru saja membuka pintu kamar Ari ternganga lebar melihat Ari yang terlihat gagah du depanya.
Mata Mira terasa ternodai akan pemandangan di depannya yang membuat dadanya sesak naik turun."Aaaa..!" jerit Mira ketika Ari akan membuka handuk di selang pinggang nya.
Ari langsung membalik, tampak raut wajah marah terpancar di mata Ari, Ari langsung mendekati Mira, ketika sudah berada sangat dekat dengan Mira, Ari mendorong Mira agar tidak lagi menempel di ambang pintu kamarnya.
Sebelum bentul menutup pintu, Ari sempat kan untuk mengatai Mira. "Cewek gak tau malu!"
Brukk..
Ari menutup pintu kamarnya dengan keras dan tak lupa ia kunci. Tanpa kerutan di dahi bidang itu, dengan urat yang terlihat muncul. "Ahhh..!' Ari mengacak rambut basahnya dengan prestasi "Sial.. kok bisa dia masuk kamar gue?" Ari menatap dirinya dari pantulan kaca di depannya. Ari tersenyum miring di depan kaca tersebut.
Memang sudah kebiasaan nya akhir akhir ini selain kesibukan nya belajar, maminya juga sibuk membuat jenis makanan baru, tapi Bayu menjadi orang yang akan menjadi asisten pribadi maminya untuk bahan yang akan digunakan oleh maminya.
Awalnya Bayu kurang semangat saat memasuki ruang yang penuh dengan segala jenis barang, kecuali pakaian.
Senyum nya mengembang ketika melihat seorang cewek memakai kaca mata, menyampinginya sedang mengambil sesuatu dengan kesusahan.
Berhubung semalam Mita tak jadi berbelanja di mini maket, dan sekarang ia meminta diantarin lagi karana mini market karena semalam sempat tertunda.
Mita tersenyum melihat seisi ruangan yang tampak agak sepi, itu artinya ia akan berbelanja dengan cepat tanpa harus berdesak desakan dengan banyaknya orang.
Mita memandangi benda yang yang tertulis di kertas kecil di tangan nya, yang sudah di depan mata, tapi ia berkali kali menghela nafas berat karana tinggi badanya terbilang sangat minim, mau minta tolong sama karyawan di sini malu, dengan semangat yang setengah setengah Mita berusaha mendapatkan nya.
"Minum susu dong Kak! biar tinggi!" ucap Bayu memberikan barang yang susah di ambil oleh Mita.
__ADS_1
Mita mencebik kesal, "huh.. dasar gak tau aja,gini gini Minuman favorit Mita susu ya!'' Ucap Mita di dalam hati. "Ceritanya nyindir yang pendek nih! tapi gak apa! sindir teros!" Ucap Mita sambil merampas benda yang di tangan Bayu.
"Nyambek nih ceritanya?" Bayu tertawa kecil melihat wajah Mita yang terlihat semakin imut saat lagi ngambek. Bayu berjalan mengikuti Mita dari belakang, Mita sedikit berlari lalu memberhentikan langkahnya mendadak, sontak Bayu hampir saja menabrak Mita di belakang nya, dan hampir saja jatuh.
Mita tersenyum kecil menyadari tingkah Bayu. "Gimana kecil gini jago ngerjain lo!" ucap Mita berbisik dan berjalan meninggalkan Ari yang tertawa mendengar ucapan Mita barusan.
"Lo pasti kena perangkap gue Mita!" Ucap bayu dan mulai mengambil bahan yang akan ia beli. mereka berdua sesama selesai dan sama sama keluar dari tempat itu.
"Bareng gue aja baliknya!" Ajak Bayu dan langsung menarik tangan Mita menuju parkiran. Mita menurut tapi ia heran ini sudah jam dua siang tapi bayu masih menggunakan pakaian sekolah, itu artinya Bayu belum ada balik kerumah.
"Bay, lo belum ada balik ke rumah?" tanya Mita saat motor milik Bayu sudah meninggal parkiran. ''Belum, tadi main dulu!" jawab Bayu dan mulai mengencangkan gas'san motor nya.
"Pegangan gue balab nih!" ucap Bayu menarik tangan kanan Mita dengan tangan kirinya. Awalnya Mita sempat menolak tapi Bayu mungkin lama mangkin kencang membuat nya menurut.
"Untuk yang pertama kalinya sosok Mita memeluk Bayu, Mita memeluk Bayu dengan sekuat kuatnya, "Gini baru benar!" Ujar Bayu dan tersenyum melihat Mita yang memeluknya dengan kuat.
"Gimana ujianya, ada yang sulit gak?" Tanya Bayu dengan suara yang terdengar siur siur karena angin yang terlalu kenceng.
''Ada yang nengok ponsel Bay!" Ucap Mita dengan suara melemah, "Kenapa gak diaduin?" tanya Bayu lagi.
"Gue gak pengadu bay, cukup di liat oleh mata aja, dan di omelin rasa kesalnya di kamar mandi!" Ujar Mita dengan ekspresi serius nya.
"Lucu!" Bayu melihat ekspresi Mita dari kaca spion, "Gak apa, yang penting percaya aja dengan hasil dan jerih payah kita, karna gak semua jawaban di google itu bisa di katakan benar, mungkin benar tapi bagi guru yang bijak pasti guru akan tau jika itu jawaban dari google bukan jerih payah sendiri!" Ucapan Bayi membuat senyum Mita mengembang.
"Thaks bay! udah nyemangatin!" Mita berbicara dengan dirinya sendiri.
"Masih mah durunin lagi nih!" Jelas Bayu yang tau Mita belum sadar jika mereka sudah sampai sedari tadi.
"Mita langsung melepaskan pelukannya, merasa malu karena keenakan meluk kali ya.. hehe..
"Enak kan peluk gue!" ucap Bayu sedikit menggoda Mita. "Enakan lagi peluk guling!" Jawab Mita dan mengembalikan helm milik Bayu dengan mimik kesel.
__ADS_1
"Imut kalo kesal gini!" Tanpa sadar bayu mengelus kepalanya Mita, diiringi dengan cubitan di pipi kananya. Setelah puas menggarai Mita Bayu pamit pulang.