Brother And Love

Brother And Love
bab 86- pinter dan jarang alva..


__ADS_3

Mita yang sudah keluar dari atap langsung pergi dengan keadaan pipinya yang sudah basah, karna butiran bening yang terus terusan melewati pipi manisnya. saat ini Mita lari dengan keadaan matanya yang sembab karna terus menetesi air mata. kaca mata yang di pakai nya pun sudah hilang tak berjejek, rambutnya terlihat acak acakan. beberapa orang yang melihat keadaan Mita yang seperti itu hanya bertanya dalam hati.


Mita sama sekali tak mempedulikan tatapan, dan pertanyaan orang orang yang di lewatinya Mita saat ini berjalan tanpa arah dan tujuan yang pasti. ia terus berjalan dan berjalan, sampai kakinya leleh Ia pun berhenti, Mita baru sadar jika saat ini dirinya berada di depan cermin kamar mandi. Awalnya memang Mita tak tau harus pergi ke mana, namun kakinya membawa dirinya ke ruangan seperti ini. Mita menangis sejadi jadi nya saat melihat tak ada seorang pun di dalam kamar saat ini, kesempatan untuk menangis hal yang baru saja ia rasakan saat ini.


lama ia menutupi wajah nya dengan kedua telapak tanganya, kini bukan hanya pipi, tangannya saja yang basah karena air matanya, baju juga ikut berkorban untuk menampung kesedihan nya saat ini.


hik.. hiks.. shttttt... Mita yang sudah berhenti mengis membuang ingusnya dengan sengugukan. "Jorok amat sih lo, gini aja cengeng!" Ucap nya mengejek dirinya sendiri.


"Ternyata sesakit ini rasanya, patah hati, cinta memang membuat seseorang menjadi mati akan perasaan, seperti cinta gue, cinta yang bertepuk sebelah tangan, Mita tersenyum kikuk saat mengucap kata cinta, lo gak boleh nangis lagi Mit. sadar Mit.. kalo dia terlahir bukan untuk lo, dia hanya menganggap lo sebagai adik sadar Mit.. sadar.. " Ujar Mita yang mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Lama ia berdiam diri di kamar mandi, dengan menatap pantulan jelek dirinya. setelah membasuh wajah serta merapihkan pakaian dan rambut nya yang terlihat ucak ucakan.


Namun saat ia sibuk menatap dirinya di depen cermin, satu persatu terdengar suara orang yang akan memasuki kamar mandi. Mita pun akhirnya keluar dari tempat yang tadi ia jadikan sebagai tempat yang membuatnya bisa mengilangkan rasa leleh dan sakit hatinya.



Ia tak ke kelas, Mita lebih layak di sebut dengan anak bandal yang lagi bolos pelajaran. ia terduduk di sebuah bangku panjang dimana tempat yang ia sering ia duduki bersama ketiga sahabatnya, "kagen kelen deh!" Ujar Mita sambil mengelap air matanya yang masih saja menetes.


Saat ia ia hanya menatap ke depan dengan muka masam, dan muka sembab, sembab akibat banyak nangis. "kok masih netes sih?" Tanya Mita dan lagi ia mengelap air matanya dengan dasi.

__ADS_1


Bel pulang sekolah, Ia tak kembali ke kelas nya, Mita langsung berjalan cepat menuju depen sekolah, ia ingin sekali rebahan sambil nangisan di dalam kamarnya, menurut nya jika nagis di rumah, tepatnya di dalam kamar gak bakal ada yang tau apalagi ngeganggu, kamar adalah tujuan pertamanya jika sampai di rumahnya.


"Jalan pak!" Ujar Mita dengan memakai sabuk pengaman dengan asal, Ia tak sekalipun menatap kedepan, karena jika ia melihat ke arah Pak Dede pasti akan ada banyak pertanyaan nantinya. "Pak cepat kan dikit dong, kecepatannya!" Pinta Mita yang kini suara nya terdengar parau.


Pak de, mengganguk mengiyakan, "Non Mita kenapa ya, keliatan abis nangis gitu, kalo dari suaranya beneran abis nagis, apalagi pakaian nya!" Batin Pak dede yang merasa khawatir atas keadaan Mita.


Semua pertanyaan nya tejawab saat sudah sampai di depan rumah, "Makasih pak, udah jemput Mita cepat, bapak emang yang terbaik, apalagi dari situasi seperti ini," Ujar Mita yang kembali lagi mengeluarkan air matanya, ia langsung pergi tanpa harus mendengar kan pertanyaan yang keluar dari mulut Pak dede.


"Eh, udah balik no_" Bik susi tak jadi meneruskan ucapannya saat melihat wajah lesu dan lemas nya Mita yang baru saja melewatinya di tambah wajah yang kelihatannya baru saja selesai dari nangis. "Ada apa pak sama Mita?" Tanya bik susi pada pak de, suaminya itu.


"Gak tau buk, bapak juga gak tau, pas bapak mau tanya udah main masuk masuk aja!" ujar Pak ujang yang sama sama merasa bingung dengan apa yang terjadi di sekolah.


Ari menaiki motornya dengan kecepatan tinggi , ia terus terusan melihat pergelangan tangan nya yang di lingkari oleh jam. Awalnya Ari mengira jika Mita tak masuk sekolah, karena ia tak melihat Mita bersama dengan tiga temanya saat di kantin tadi. namun setelah ia mendapatkan pertanyaan dari Dira saat pulang sekolah ia merasa ada yang tak beres dengan Mita, apalagi ketika Dira mengatakan jika Mita tak ada masuk kelas setelah bel main pertama sampai saat ini, saat ini Ari sedang menuju ke rumahnya Mita, namun karna tak tau alamat nya, dan ponsel Mita yang terus tak aktif jika di hubungi, membuat nya mau tak mau membawa pulang tas Mita.


^^^—Lo dimana sih? kok gak aktif?^^^


^^^—rumah lo dimana? gue mau kerumah^^^


^^^lo, tapi gue gak tau alamat rumah lo,^^^

__ADS_1


Ya selama ini Ari tak perbah tau dimana rumah Mita, ia memang pernah beberapa kali mengantarkan Mita saat pulang sekolah, namun Ari tak mengantar nya sampai ke rumahnya, melaikan di simpang, Ari tak pernah menolak, yang terpenting ia sudah mengantar kan Mita, itulah prinsip nya dulu, namun prinsip nya itu membuat nya menjadi seperti ini, kebingungan karena tak tau di mana rumah Mita.


Di tempat lain, tanpak seorang gadis yang sedang duduk di kepala tempat tidur, dengan kedua telapak tangannya yang menutupi wajah manisnya itu, namun saat ini wajah manis nya itu terlihat berbeda, wajah itu tampak kusam dan terlihat bengkak. "Stop mit, stop jangan nangis mulu, lo malu dan sadar diri deh!" Ucapnya pada dirinya sendiri.


Setelah banyak kata kata semangat yang ia ucapkan untuk diri nya sendiri, Mita memutuskan untuk mandi, karna sudah cukup leleh rasanya menangis namun yang di tangisi tak tau sama sekali.


Selesai mandi tanpak hari yang sudah berganti menjadi malam, Mita berjalan pelen menuju balkon, matanya memeng masih terlihat sembab, dan badanya juga leleh karena menangis seharian ini, namun saat di bawa mandi tadi ia merasa segar dan lebih presh pemikirannya jalan pikirnya.


*Mita melihat orang yang berlalu lalang sana sini di depen sana, "Gue berharap untuk diri gue sendiri, agar bisa menjadi seperti kendaraan di sana, yang bisa berjalan ke sana kemari sesuai dengan kemauan si pembawa, seperti melepaskan dan melupakan Bayu, layaknya seperti sebuah kendaraan yang bisa pergi sana sini, gue juga harus bisa melupakan yang ini dan lihatlah hal yang buat lo bahagia, seperti menyibukkan diri untuk melupakan mu!" Ujar Mita.


Air matanya kembali lagi menetes*, namun tak sederas yang sebelumnya. "Menangis lah sayang, selagi hal itu yang dapat membuat Mita merasa nyaman!" Ucap Dewi dan langsung memeluk putri satu satunya itu, "Bundaa!" Ucap Mita di sela pelukannya. "Gak apa bunda tau Mita kenapa, bunda juga pernah merasakan hal yang Mita alami," Ujar Dewi sambil mengelus rambut Mita dengan kasih sayang.


"Gak apa, yang namanya remaja itu gak lepas dari kata cinta, dan biasanya cinta pertama itu paling berkesan walaupun terkesan menyakitkan, percayalah ini semua sudah di atur sama yang kuasa, kita hanya perlu menjalaninya dengan sabar dan berusaha, lihat bunda sayang..!" Dewi memegangi kedua pipinya Mita yang sudah basah karena menangis lagi.


"Hai putri bunda gak cantik kalo nagis terus, gimana kalo di liat Bella, pasti di ejek nantinya.


Ucap Dewi dengan senyum manis yang ia perlihatkan pada putrinya.


"Bunda tunggu di bawah, kita makan sama, ada Bella juga di bawah, katanya Mita tadi bolos kelas, anak pinter dan gak pernah alpa masa mau alpa karna masalah patah hati, malu dong! Cuci muka kalo udah puas mainin air matanya, pake bedak setelah nya, inget jangan lama lama, bunda tunggu di bawah. kita makan bersama, Mita belum makan kan sejak pulang sekolah tadi?" Dewi mencubit pipi kiri Mita.

__ADS_1


"Anak bunda kuat, sama seperti bundanya, ingat dan tenang aja, kehilangan orang yang kita suka bukan berarti kehilangan segala nya namun ini hanya lika liku perjalanan hidup saja." Ucap Dewi dan menuju pintu balkon. "Tunggu bun, kita ke bawah sama sama!" Pinta Mita dan berlari kecil menuju kamar mandi setelah selesai dua wanita berbeda usia itu pun keluar dari kamar dan menuju ruang makan, bukan hanya Bella saja yang sudah menunggu ternyata dua sahabatnya Mita juga ada di sana, mereka pun makn bersama dengan sesekali mengoda Mita yang sedang patah hati.


...sesak pasti...


__ADS_2