
Tiga bulan berlalu. Semenjak Klara yang datang waktu itu, dan pergi setelah tiga hari setelah ia berdebat dengan Mita karna Mita sempat melarang nya pergi. apalagi saat mengetahui jika Klara tak memiliki tujuan. Namun karna tekat dan kemauan Klara sendiri, akhirnya Klara pergi saat malam hari yang hanya meninggalkan sebuah kertas berisikan pamitnya dirinya pada Mita yang ia letakan di atas nakas.
Mita sendiri merasa kurang nyaman, dan merasa bersalah karna cara Klara yang pergi dari rumahnya dengan cara seperti itu. Namun apa bisa di buat, itu semua sudah menjadi kemauannya sendiri, Mita hanya berdoa agar Klara bisa hidup layak nantinya.
Semenjak perginya Klara, Ari sering mampir ke rumahnya Mita, semenjak kedatangan Ari membuat Bunda Dewi menjadi senang dan merasa lega. lega karna jika suatu saat nanti ia harus pergi meninggalkan Mita, ia tak perlu merasa risau lagi karna sudah ada yang akan menggantikan posisinya, walaupun tak bisa sepenuhnya menjadi sosok seperti dirinya. namun jika hal itu benar benar terjadi, ia akan pergi dengan lapang dada, tanpa harus merasa khawatir.
Namun semenjak mendekati masa ujian yang akan dilaksanakan satu bulan lalu. Ari hanya mampir saat pulang sekolah saja. itupun hanya seminggu sekali.
Bukan hanya Ari seorang, namun semua anak kelas dua belas, termasuk Bayu, Eka, dan juga Deni. Bahkan keempat manusia itu, jarang berkumpul seperti masa biasanya. mereka sibuk di dengan kegiatan yang akan mereka tempuh beberapa hari lagi.
Saat ini anak kelas satu dan dua, di peraikan sekolah selama dua minggu.
Selama dua minggu itu, Mita jalani dengan memperbanyak ilmu di cafe. Karna jika melihat Bundanya yang sekarang, Mita menjadi lebih sungguh sungguh dalam menghadapi masalah di cefe. bahkan masalah kafenga yang baru di buka sekitar setengah tahun itu pun, Mita juga yang mengurus, namun karna sudah ada orang kepercayaan Bunda Dewi yang di tugaskan di sana, Mita hanya sesekali mengecek saja.
Dira dan Amel memilih berlibur ke kampung Neneknya Amel. Dira dan Amel memang sering berselisih, namun di balik itu semua, Amel dan Dira masih dalam ikatan antara sesama sepupu, walaupun dari jarak yang jauh.
Jika Bella, ia hanya sesekali menemani Mita ke Cefe saja. ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarganya!" Selama ini Bella sangat jarang sekali bisa berkumpul dengan kedua orang tanya.
Mita yang sedang sibuk mengecek berapa pengeluaran selama satu minggu ini, terhentikan saat pintu ruanganya di ketuk.
Mita beranjak dari duduknya, saat pintu terbuka Mita langsung heran saat melihat Bundanya lah yang ada di hadapannya. "Lah kok kemari bun? bukannya Bunda harus banyak istirahat dirumah?" Bunda Dewi langsung masuk, ia memilih duduk di sofa dan meminum jus mangga yang hanya tinggal sedikit.
"Bun..!" Mita merasa tak tega dengan minuman yang hanya butuh sekali teguk saja agar habis seluruhnya.
"Masa selama tiga bulan lebih. Bunda di rumah aja, bosan!" Keluh Bunda Dewi. "Niat Bunda cuma mau jalan jalan sama Pak De, tapi kok malah keterusan ya udah deh, Bunda mampir aja ke cefe. lagian Bunda udah lumayan lama juga gak pernah ke kafe ini, jadi sekalian juga, mau liat gimana cara anak kesayangan Bunda ini menjalankannya!"
Mita hanya diam saja. "Tenang aja, udah Bunda minta buatkan es cream buat kamu!" Ujar Dewi dengan senyum manis.
Mita langsung menghampiri Bunda nya, begitu jarak keduanya sudah dekat. Mita langsung memeluk Bundanya.
"Mita sayang Bunda!" Ujarnya yang masih berada di dalam pelukan Bunda Dewi. "Bunda juga, malah pake banget lagi!" Mita terkekeh mendengar ucapan Bunda Dewi.
__ADS_1
Setelah mengecek semuanya dengan benar, Mita mengajak Bunda Dewi ke kamar atas, kamar yang sering ia gunakan saat ia menginab.
"Kamu gak makan dulu, ini udah malam lo!" Ujar Bunda Dewi yang sudah berbaring di kasur. Mita hanya tersenyum tipis. "Bentar lagi bun!" Jawab Mita pelan.
"Bun.. malam ini kita tidur sini aja ya!" Pinta Mita di sertai gerakan alis.
"Apasih yang gak boleh buat anak Bunda ini?" Jawab Dewi yang disertai cubitan di pipinya.
"Sakit bun!" Keluh Mita. "Sakitan mana sama patah hati?" Tanya Bunda Rada dengan jari telunjuk nya yang di mainan di hidung Mita. "Sakitan nungguin Bunda sembuh dong Bun!" Jawab Mita yang kembali memeluk Bundanya.
Setelah membuat Bunda Dewi tertidur, Mita kembali ke bawah. "Ia berjalan pelan menuju dapur, "Kak!" Panggil seorang pria. Mita berbalik badan dan mendapati seorang yang ia yakini seorang pelanggan.
"Ada apa?" Tanya Mita yang berjalan mendekati orang itu.
Pria yang tadi memanggilnya hanya diam saja sambil menatap Mita lekat. Merasa kesal karna hanya diliatin saja. Mita memangil salah satu cewek yang bekerja di cafenya, "Sis lo urus tuh orang ya!" Mita pun pergi menuju dapur.
Mata Mita memutar mencari tempat kosong yang akan ia duduki nantinya. "Mita..Mita.. Manis..!" Mendengar namanya di panggil. Mita pun mengarah ke adah orang yang memanggilnya.
Mita berjalan ke arah orang yang tadi memanggilnya.
"Kamu sama siapa ke cafe?" Tanya Tosi yang penasaran. "Hmmm.. tadinya sendiri, tapi sekarang sama Bunda,!"
"Lah Bunda kamu mana?" Tanya Mami Rosi dengan wajah celingak celinguk mencari keberadaan Bundanya Mita. "Lagi istirahat Mi.. tadi kecapean waktu nemeni Mita susun data, jadi langsung istirahat." Mami Rosi masih merasa bingung. karna kebingungannya, ia pun menanyakan hal ini pada suaminya.
"Maksud kamu, ini kafe milik kamu?" Tanya Papi Bayu. "Bukan punya saya Om, tapi punya Bunda!" Jawab Mita dengan mimik lesu.
"Yah.. gak jadi ketemu sama besan dong!" Koceh Mami Rosi dengan tawa keci. Mita hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Mami Rosi, hantinya masih tersentil mengingat bagaimana dirinya yang patah hati karna menyukai orang yang salah.
"Mami heran banget loh sama Bayu, tiap hari pulang nya sore, sampai rumah makan, siap makan langsung belajar. jadi jatang komunikasi kami!" Keluh Mami Rosi ke Mita.
"Namanya juga lagi mengejar target. jadi harus serius, biar pas sama target yang di incar incar!" Jawab Papi Bayu dengan menyantap mie goreng. "Tapi kan, Mami merasa dia gak baik juga Pi, kalo terlalu serius. liat aja sekarang ini, udah berapa kali kita ajak makan barang, tapi selalu nolak!" Kesal Mami Rosi yang memasukan kue terakhir ke mulutnya.
__ADS_1
Ehem...!" Deheman dari belakangnya Mita, membuat ketiganya memutar badan. 'Ini nih yang di ceritakan dari tadi!" Pinal Mami Rosi yang langsung memberikan tempat duduk di sampingnya Mita.
"Tumben, biasanya di ajak gak bakal datang, apa kerna ada Mita?" Mami Rosi dengan sengaja menguatkan ucapnya.
"Bisa di bilang gitu juga Mi, kagen udah kagak jumpa selama dua seminggu lebih!" Bayu mengedipkan sebelah matanya ke Mita. Mita menautkan alis setelah. "Mau ini?" Mita menujukan teh dingin yang baru ia minum ke Bayu.
Mami Rosi dan suaminya hanya tertawa kecil melihat tingkah Mita yang tak nyambung.
"Iya..! gue pengen!" Ucap Bayu yang langsung meneguk teh dingin yang baru di minum sedikit oleh Mita.
"Gimana Bay? enak gak?" Tanya Mita dengan senyum masam. "Kok pahit?" Bayu mengerutkan keningnya karna merasa pahit saat meminum teh Mita.
"Hehe.. gue lupa bilang, kalo ini teh pahit bukan teh manis!" Mita memberikan segelas air putih ke Bayu. Mami Rosi dan suaminya kembali tertawa. lucu saja rasanya melihat interaksi antara Mita dan Bayu.
Suasana di meja itu menjadi tawa, ketika kedatangan Deni di antar ketiga nya. Mita tak henti hentinya tertawa mendengar celotehen yang tak masuk akal namun nyambung dan pas jika di dengarkan. "Gue rasa lo sama Amel emang cocok deh, gue dukung!" Batin Mita memberikan semangat melalui ucapan dalam hati.
...
Paginya, setelah membasuh muka dan menggosok gigi, Mita pun langsung melihat Bunda nya yang sibuk membersihkan kasur. "Bunda ngapain capek capek, masalah begini Mita bisa kerjain nanti!" Ujar Mita yang merasa takut jika Bunda nya kelelahan. Dewi hanya tersenyum kecil. "Sini, mending bantu bunda kerjain biar cepat selesai!" Ucap Dewi. Mita pun membantu Bunda Dewi membersihkan kasur setelehnya mereka pun turun ke bawah. "Masih ngantuk ya?" Tanya Bunda Dewi saat melihat Mita yang terus terusan menguap.
"Dikit!" Jawab Mita dengan ekspresi lelahnya. "Tadi malam jam berapa tutupnya?" Tanya Bunda Dewi dengan tatapan curiga. "Jam sebelas Bun, tapi tidur nya jam setengah satu malam bun!" Jawab Mita jujur.
Melihat sorot mata tanya di dalam diri Bundanya, Mita dengan cepat buka suara.
"Kan tadi malam, malam minggu Bun, Mita tanya kabar sama temen temen Mita, Bella, Amel, sama Dira. Awalnya Mita mau video call sama mereka pas cafe masih buka, sekitar jam sembilan gitu bun, tapi si Bella bilangnya jam sebelas aja, Dira dan Amel pun gitu. lagian tadi malam Mita ketemu sama Maminya Bayu, mau ketemu Bunda juga, tapi karna bunda lagi istirahat, di tunda dong!" Ujar Mita menjelaskan
"Sayang banget dong!" Ucapan Bunda Dewi membuat Mita menggeleng mengerutkan dahi. "Sayang karna gak jadi jumpaan sama besan!" Dewi tertawa setelah mengatakan nya.
"Gak sayang dong bun, kan belum serius!" Jawab Mita lagi. "Emang selama ini belum serius gitu?" Tanya Bunda Dewi sengaja.
"Belum dong bun, kan Mita masih bocil!" Mita berjalan mendahului Bundanya. Bunda Dewi hanya geleng kepala. "Bocil dari mana, udah lebih tinggi dari Bunda, masa bocil?" Tanya Dewi lagi.
__ADS_1
"Bocil yang gak boleh berharap lebih Bun, sama Mami mertua!" Setelahnya, Mita membukankan pintu untuk agar Bundanya masuk ke dalam mobil.