
Kini Ari berada di sebuah rumah sakit, sebelum nya ia berencana akan menjenguk Mira dengan Bayu, namun Bayu ada keperluan dengan Rika jadi mau tak mau Ari hanya pergi kerumah sakit seorang diri sebelum nya juga ia mengajak Mita namun Mita juga ada keperluan pribadi, sesampainya di sana, terlihat seorang wanita yang akhir akhir ini selalu menitipkan anaknya dengan nya, namun tak pernah sekliapun ia dengar kan.
Wanita itu sepertinya baru saja selesai menangis, tampak matanya yang sembab dan hidung nya yang mereh, di tambah lagi rambutnya tampak tak tururus. Langkah Ari perahan dan pasti mulai mendekati wanita yang sedang duduk dengan tatapan kosong ke depan itu, "Siang tante," Sapa Ari saat sudah berada tepat di depan wanita itu.
Tak mendapakan gemingan di panggilan ketika membuat Ari sedikit mengoyakan lengan wanita itu seakan akan Ari mencoba membangunkan buyaran wanita tersebut.
satu detik, dua detik, satu menit, dua menit, "Mira anakku, mengapa kau tak menjaganya? mengapa kau tak menolong nya? Mengapa tak kau cegah kejadian pada anak ku?" Tanya nya yang kini sudah kembali mengais dangan sengugukan. Ari yang melihat nya hanya menghela nafas berat, bukan hal ini tujuan nya datang, dia hanya ingin memberi tahu secara langsung pada wanita ini jika dirinya tak suka dan tertarik sama sekali dengan anaknya itu, dan yang pasti ia meminta maaf dengan tulus di depan wanita itu.
"Maaf tante, Ari gak bermaksud, tapi selama udah beberapa hari kita berdua gak ada komunikasi tante, Ari juga udah menjelaskan kepada Mira jika Ari gak ada perasaan untuk nya sama sekali, kita hanya sebagai orang asing tante, tapi Mira terus terusan memberontak bahkan mengaku ngaku berstatus pacaran dengan Ari pada teman teman nya."
"Bukan berbicara sombong tante, tapi bukan akan tante saja yang mengagumi saya, namun cewek di sekitar sekolah juga ada banyak tante." Ucap Ari apa adanya.
"Ari tipekal manusia yang tak suka di atur tante, anak tante baik, hanya saja dia terlalu baik buat saya, dia juga cantik, namun sayang tante perasaan dan hati saya sudah di ambil dengan cewek lain," Ucap Ari lagi dengan tatapan yang tak lepas dari sorot mata tajam wanita paruh baya tersebut, "Saya rasa Mira hanya mengagumi saya, lupakan lah masalah perjodohan saya dengan Mira, karena saya yakin kita berdua tak akan bisa menyatu, karena saya tak sudah menyukai cewek lain, masalah biaya rumah sakit biar saya sekeluarga yang akan membiayai, sekedar membalas kata maaf dari saya dan sekeluarga.
__ADS_1
Wanita itu menatap Ari dengan tatapan tak suka. "Sudah?" Tanya nya dengan wajah penuh dengan kebencian.
"Dengar baik baik, jika saja Mama mu tak menjanjikan anakku dengan mu, tak akan aku menyutujui masalah ini, ini semua salah Mama kamu yang gak bisa menjaga anaknya dengan baik, yang bisa mencelakai anak orang lain, walaupun tak secara langsung, dan melalui tangan manusia lain. Saya sebagai orang tua dari anaknya saya merasa sakit hati karena ini."
Ucapnya dengan menahan air mata yang sudah menumpuk di bagian kelopak matanya.
"Mana Mama kamu, saya mau berbicara dengan nya, saya sudah memberikan kan nya uang sebesar lima ratus juta untuk keperluan kamu dan Mira nantinya, mana Mama kamu?" Tanya nya dengan wajah yang kesal tingkat atas.
Ari menautkan kedua alis geram, bagaimana tak geram, wanita yang saat ini ia coba dan ia angggap sebagai Mama nya dalam hidupnya, malah seperti ini kelakuannya saat ia mencina masuk ke dalam kenyataan keluarga nya.
"Lebih baik kamu pulang, kehadiran mu disini hanya membuat saya semangkin benci dengan keluarga kalian. "Dan satu lagi saya gak butuh uang anda untuk membiayai rumah sakit ini, ini sudh di biayai oleh orang yang telah membuat anak saya seperti ini, saya harap anda tak pernah muncul dan terlihat di mata saya lagi. saya berharap anda merasakan apa yang anak saya rasakan saat ini suatu saat nanti." Ucapnya seakan menyumpahi Ari secara langsung.
"Saya permisi tante, ucap Ari dan meletakkan kue, dan buah yang ia beli sebelum kemari tadi di samping wanita itu.
__ADS_1
Sedang di tempat lain, tampak pertengkaran antara Bayu dan Rika. "Masalah lo apa sih *Rika?" Tanya Bayu dengan wajah prustasi terhadap orang di depannya itu.
"Masalahnya gue bosan Bay, gue bosan dengan
hunungan Ini, gue bosan dengan sikap lo! gue juga bosan dengan tingah lo yang mangkin hari mangkin aneh! Gue bosan Bay,, " Cacar Rika dengan wajah* serius dan menahan sesak yang teramat dalam di dalam sana, saat ini rasanya ingin sekali ia menjerit agar dunia tahu masalah nya saat ini apa.
Bayu seakan tak percaya dengan ucapan Rika barusan ia memandangi wajah Rika lekat, menacari kebohongan di wajah cantik itu, "Rika lo ngomongin apa? Lo gak boleh gitu rik! gue tau lo lagi ada masalah kan, cerita Rik.. ke gue, gue siap menjadi keluh kesah masalah lo, gue siap bantu apa hal yang mengganjal di hati lo, gue siap Rik.." Ucap Bayu dan mencoba memeluk Rika di depannya, namun dengan cepat Rika menolak bahkan mendorong badan Bayu dengan kasar.
Lagi lagi Bayu di buat terkejut atas tindakan Rika saat ini, "*Kenapa Rik? Gue ada buat salah sama lo, lo boleh pukul dan maki gue Rik, kalo gue emang ada buat kesalahan nya, kasih tau gue Rik? Gue gak bisa kayak gini, gue juga capek Rik, kalo setiap kali kita kumpul lo selalu kaya gini, cerita Rik apa salah gue ke lo, kasih tau gue Rik!" Ucap Bayu dengan nada serius.
Rika menghela nafas nya berat, "Mau berapa kali si Bay gue kasih tau ke lo, kalo gue itu.. BOSAN, b-o-s-a-n. Gue bosan liat muka lo! Gue bosan gue udah menyukai cowok lain Bay!" Ucap Rika sedikit tertahan di akhir katanya. ia tak berani lagi menatap mata Bayu yang sedari tadi mencari kebenaran.
"Gue gak percaya, lo bohong Rik.. Gue tunggu nanti malam lo di sini, Mami sama Papi ngajak makan malam nanti malam, gue berharap lo datang nanti malam, gue gak mau lo beralasan lain hal lagi. gue jumpa lo jam tengah delapan," Ucap Bayu dan pergi meninggalkan Rika di tempat.
__ADS_1
Selang kepergian Bayu beberapa menit*, Rika memenganggi dadanya yang seakan di tusuk tusuk dengan duri dan belahan kaca, "Maafin gue bay.. maaf.. gue terpaksa bay.. ini paksaan Bay.. gue berharap lo bisa ngelupain gue, gue berharap begitu Bay!" Ucap Rika sambil memukul mukul dadanya dengan kuat jangan tanya dengan matanya, karena kini sudah terus mengalir deras butiran bening di pipinya yang mulus itu.
Bayu berkali kali menghela nafas prustasi, "Gue gak percaya dengan ucapan lo Rik.. sebelum gue sendiri yang liat kebenaran nya di mata gue, gue gak yakin Rik.. gue yakin lo sembunyiin dari gue!" Ucap Bayu dengan menancapkan gas motornya semangkin kencang.