
Mita terus terusan bertanya tanya dalam hati apa penyebab Bayu hingga tanpak semurung itu. Saat ini Mita berada di balkon, ia sedang memandangi langit malam yang tampak mendung, yang sedang menunggu akan kehadiran hujan.
"Mana sih, si Mita? katanya mau ngajak gue ke cafe malam ini, kok ngilang? apa dia udah pergi? gak mungkin lah, kan gue bilang tunggu gue! kalo benar udah pergi ya harus naik taxsi dong ke sana, mana cuaca mendung lagi!" Ucap Ulan sambil menyisir rambut nya dengan handuk, "Perasaan itu kaya Mita deh? gak ah tadi waktu gue liat gak ada orang di sana!" Ucap Ulan dan kembali duduk sedetik kemudian ia kembali melihat ke arah balokon.
"Kok masih ada? bulu kuduk gue pada naik," Ulan menelan salivanya susah payah saat melihat orang yang masih berdiri di pinggir balkon. "Kalo dari hitungan ke tiga gue buka mata masih ada berarti itu Mita, tapi kalo ilang itu artinya hantu!" Ucap Ulan dengan menutupi kedua matanya, ia pun mulai menghitung dari angka satu ke atas.
"Satu.. dua.. tiga!" Ulan pun mulai membuka mata nya ia tak langsung membuka lebar melainkan sedikit mengintip. "hIlang!" Ucapnya dengan dan langsung membuka matanya lebar. "Berarti beberan hantu," Batin Ulan dan mulai memulai ancang ancang untuk berlari ke luar kamar.
"Aaaa...!" Keduanya menjerit. Ulan menjerit karena kaget, oleh kedatangan Mita yang tiba tiba. sedangkan Mita terkejut karena Ulan menjerit Mita pun ikut menjerit.
"Lo ngagetin!" Ucap Ulan dengan nafas ngos ngosan, Mita hanya tertawa garing melihat Ulan yang terkejut sampai sejitunya. "Sory lan.. gue ngagetin ya?" Ucap Mita sambil memberikan air putih ke Ulan. "Gue kira lo hantu, hantu penunggu kamar lo ini, soalnya tadi malam gue mimpi hantu juga, persis sama yang gue alami saat ini Mit.. tapi sama juga, ternyata hantunya lo, ya siapa lagi kalo bukan lo yang jadi penunggu kamar ini." Ucap Ulan setelah ia selesai minum, dengan mimik wajah kesal nya.
Mita hanya tertawa kecil melihat wajah nya Ulan yang merah. "Salah sendiri gak bisa bedain hantu sama gue," Ucap Mita masih dengan tertawa.
__ADS_1
Tik..
tik..
Suara gerimis mulai terdengar di telinga dua gadis di dalam kamar ini, "Yah hujan.. gak jadi dong kita ke cafenya!" Keluh Ulan dengan langsung membaringkan badannya di atas kasur. Mita hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil. "Kan masih bisa besok Lan..!" Ucap Mita dan kembali pokus ke buku yang sedang ia baca di depannya. "Lo gak lapar Mit?" Tanya Ulan merasa bosan karena hanya memanikan ponsel sejak tadi.
"Lo mau makan?" Tanya Mita yang melepaskan kaca matanya. "Makan yuk!" Ajak Ulan yang saat ini sudah bangkit dari tempat tidur, ia melempar kan ponsel nya asal ke arah kasur. "Ayuk.. gue juga lapar!" Jawab Mita dengan mengelus elus perutnya.
•
Orang yang di tanya oleh Ari hanya tersenyum simpul seraya menggeleng kan kepalanya cepat. "Lo mau pesan apa?" Tanya nya pada Ari sambil melihat menu yang baru saja di berikan oleh pelayan, "Samain sama lo aja!" Ucap Ari tak mau ambil pusing dalam hal memesan. Orang yang saat ini bersama dengan Ari gak lain dan gak bukan adalah Mira. Ia sudah sembuh, walaupun masih di bilang belum sembuh total. dan baru tadi pagi ia di perboleh kan pulang.
"Gimana kabar lo?" Tanya nya yang mulai membuka pembicaraan. "Seperti yang lo liat!" Jawab Ari datar. Mira yang mendengar jawaban dari Ari tertawa kecil. "Ternyata lo masih cuek juga sama gue!" Ucap Mira sambil meletakkan ponsel nya di meja, dan menatap Ari di depannya. "Bukan lo aja semua orang gue juga cuek, kecuali satu!" Ucap Ari dalam hati.
__ADS_1
"Lo benci ya sama gue?" Tanya Mira tanpa melihat ke arah Ari, kini ia sedang mengaduk aduk minuman yang tadi di pesan nya. Ari tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari Mira. "Gue gak pernah benci sama sekali sama lo, dan gue berharap seperti yang lalu lalu sama lo, lupain gue!" Ucap Ari yang sedang menatap Mira dengan lekat. Mira yang mendengar nya tersenyum simpul dan memberanikan diri untuk menatap Ari di depan nya. "Lo tau Ri.. tujuan gue ngajak lo kesini?" Tanya Mely dengan tatapan serius ke arah orang di depannya.
Ari tak menjawab, ia hanya melihat wajah orang di depannya dengan tanda tanya. "Gue mau ngucapin makasih, makasih untuk selama ini yang buat gue semangat dalam akhir akhir ini, gue senang, gue bisa ungkapin perasaan gue ke lo, rasa lega itu lah yang ada di hati gue, walaupun hanya bertepuk sebelah tangan, tapi gue mau bilang makasih!" Ucap Mira yang dengan posisi wajah ke arah bawah, saat ini ia ingin menangis seteleh mengatakan apa yang baru saja di ucapkan nya.
Ari sama sekali tak mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya, matanya masih tajam menatap ke arah Mira. Setelah tadi keduanya kembali diam, Mira yang saat ini masih menunduk dengan sesekali mengelap air mata dengan tisu di tangannya. Kalau Ari ia sedang bingung harus mengucapkan apa untuk menjawab ucapan Mira tadi. "Gue.. gu_e mau bilang, kalo gue bakal pindah sekolah, gue mau mencoba melupakan lo Ri dengan cara ini," Mira tertawa setelah mengatakan nya. namun air matanya masih keluar dari matanya. Ari hanya menautkan alis bingung, ia semakin bingung di buat oleh Mira di depannya.
Puas tertawa Mira kembali menatap Ari lagi. saat ini matanya sudah bengkak mungin efek dari tangisnya tadi. "Gue boleh minta satu permintaan sebelum gue pergi dari kehidupan yang baru gue nantinya?" Ucap Mira dengan suara serak nya. Ari masih sama, ia masih menyimak apa yang di katakan oleh Mira. Ia tak ada niatan untuk membalas sama sekali saat Mira menyatakan permintaan.
Mira langsung bangkit dari duduknya, dan kini ia sudah berada di sampingnya Ari. "Gue boleh peluk lo! boleh?" Tanya nya dengan tangan nya yang sudah melebar seakan sudah mendapat kan jawaban di iyakan oleh Ari. Ari hanya diam di tempat menatap Mira dari bawah. "Peluk gue!" Rengek Mira dengan memukul pundak Ari kuat. "Lo gila?" Jawab Ari ketus. Setelah nya ia berdiri dan membalas tangan Mira yang sudah melebar. "Makasih!" Ucap Mira di dela pelukannya. Ari yang sudah merasa cukup pun melepas kan pelukan di antara keduanya.
Saat ini keduanya sedang berada di perjalanan pulang, sebelumnya Mira dengan Ari sempat berdebat, dari mulai membayar minuman dan makanan, sampai saat ini, Ari yang memaksa Mira agar ia yang mengantar Mira sampai di rumah. Sama hal seperti tadi keduanya sama sama diam, selama perjalanan.
"Ri.. lo dah ungkapin perasaan lo sama cewek yang lo sukai?" Tanya Mira dengan suara yang terdengar takut takut. Ari yang mendengar nya sempat mendadak mengerem akibat pertanyaan dari Mira. "Ungkapin aja Ri.. gue yakin cewek yang lo taksir pasti suka sama lo!" Ucap Mira lagi. "Bukan urusan lo!" Ucap Ari kembali datar.
__ADS_1
"Seandainya gue adalah orang yang lo sukai Ri.. mungkin gue bakal senang bukan main." Ucap Mira lirih. di sela perjalanan menuju rumah.