
***
Sepanjang jalan menuju rumah. Mita hanya mengeluarkan nafas berat sambil melihat ke arah jendela. "ada masalah non? "
Pak de, sedikit khawatir melihat Mita yang kelihatan lemas. Di jawab dengan gelengan dari Mita. dan terjadi kesunyian lagi di dalam mobil itu.
Selesai mengganti pakaian mita langsung menuju meja belajar. wia bukan belajar melainkan menulis menulis kejadian di sekolah tadi. sebenarnya ia sudah biasa, diperlakukan seperti itu. Namun tah mengapa hatinya serasa malu. terlebih ada beberapa orang yang memvidio secara diam-diam.
"Non. ada non Bella dibawah!" Mita menghela nafas berat. Sebenarnya di saat seperti ini ia lebih suka menyendiri. Itu telah menjadi simbol khusus baginya. Tapi ia tak mungkin mengusir bella bukan. Mita menuruni anak tangga dengan malas.
Bella langsung menghampiri Mita. dan mengajak duduk. Mita menurut. "Bel.." perkataan Mita terputus. "Mit...! gue tau lo lagi pengen sendirian kan?" ucap Bella memotong perkataan Mita.
Mita sedikit lega. Karena Bella tau kondisinya. Bella tampak menghembuskan nafas kasar. sebenarnya gue kesini disuruh bunda menemin lo cek mata. Jadwalnya di percepat. Tadi bunda nelpon lo tapi gak lo angkat gue juga nelpon gak lo angkat!
Mita menaikan kedua alis. ia mencoba mengingat di mana ponselnya. Ponsel gue ilang. Jawab Mita cepat.
"kok, bisa?" Mita menggeleng dan mengangkat kedua bahu. "Gue juga gak tau"
"Terakhir lo bawa ke mana?" Bella bertanya sambil membuka buka bantal di samping nya.
Mita tampak berpikir lalu tak lama kemudian menjawab, "Terakhir gue pegang pas di mobil"
"Bella dan Mita langsung bertanya ke pak dede. Tapi setelah di cari di dalam mobil, mereka dua tak mendapatkan apa-apa.
"Oh. coba deh gue telepon" Namun nomor ponsel Mita tak aktif. "Kita cari ke tempat lain deh!" Bella mengajak Mita pergi ke dalam, menurut gue aneh. Bella berbicara sepelan mungkin.
"Aneh. aneh apaan?" Mita mengulangi perkataan Bella, dan bertanya dengan bingung.
Bella menarik Mita. hingga jarak keduanya sangat dekat. Mita menggeleng setelah mendengar bisikan dari Bella.
"Gak bel. jangan soujon dulu. sebelum kita punya bukti jangan berpikiran yang aneh-aneh!"
Mita mengingatkan, karna yang gue tau pak dede itu orangnya gak mau yang begituan.
Bella memandang Mita dengan tatapan kesal. "Nih ya, pas gue dan bunda nelpon lo, tuh nomor aktif. jadi masalahnya sekarang itu nomor gak aktif. gak masuk akal kan!"
"Udah deh. kalo beneran ilang gue beli lagi pake uang tabungan gue" Mita menjawab dengan tenang.
"His.., kok otak lo gak berfungsi sih beb! percuma pinter tapi gak bisa diandelin" Bella semangkin sebel dengan Mita.
"Ya udah deh! tapi sebelumnya kita harus nyari di tempat setelah lo keluar dari mobil! kamar?" Mita membalas cepat cuma kamar yang gue singgahin dari semua tempat.
Mereka pun menuju kamar secara beriringan.
namun hasil yang sama tak juga mendapatkan apa yang mereka cari
•
"Gue rasa nih cewek emang salah satu korban bully ama Klara ya. Deni menunjukkan video yang di sher di grup school. ia baru melihat sekilas, awalnya ketiga temennya tak peduli tapi ketika Eka lihat matanya tak berkedip.
"Ini kan Miya. sahabatnya cewek gue?"
"Secepat kilat Deni melihat wajah yang di bully. astaga si Mita.
Kini Bayu jadi menghentikan bermain gitarnya secara tiba-tiba, yang menimbulkan suara aneh diakhir nyanyiannya. "Mita.., anak kelas 11?" tanya Bayu ke Deni.
" Iya. lo kenal?" Bayu tak langsung menjawab melainkan merampas ponsel deni dengan paksa. deni dan eka saling pandang-pandangan. Lain hal dengan ari, dua sibuk mengerjakan tugas kimia.
Bayu. mengepal kedua tangannya geram. lalu kembali memberikan ponsel deni.
__ADS_1
"Lo dua punya nomor Mita gak? Gak" kedua orang yang ditanya menjawab besamaan. tiba-tiba Eka langsung sms san tah sama siapa.
--Eka--
- saywang, minta nomor sahabat lo, si Mita. perlu!
--Bella--
- Buat apaan?
--Eka--
- Ntar gue ceritain. kirim dulu!
--Bella--
- Ponselnya Mita ilang jadi percuma kan kalo gue kasih!
--Eka--
- " Ilang? " kok bisa?
--Bella--
- Gue juga bingung. nih bocah teledor banget. tapi sekarang kita lagi cariin kok!
--Eka--
- Mau dibantuin gak. yang!
--Bella--
--Eka--
- hahaha..., ya udah deh. aku bantuin do'a dari sini. cepet ketemu ya yang!
" Eka tersenyum ketika baru saja selesai sms-san. Tapi dia mendapati muka Bayu yang ternyata melihat tingkah lakunya dari tadi.
" Gimana?"
Seketika senyumannya hanyut terbawa angin.
"ponselnya ilang" Jawab Eka langsung ke inti.
Bayu menghela nafas berat.
()()
"Siapa bel? tumben senyum-senyum. lo masih waras kan?" senyum bella luntur. "bukan siapa-siapa kok, cuma temen"
"Berarti apa-apa dong?
"he'em temen sekelas gue nanya tugas. gue bilang gue lagi di luar"
" trus kok senyam-senyum tanya Mita lagi.
" Gue..., Bella tampak berpikir. gue ter... perkataan Bella terputus.
"Bella" Melihat Mita menunjukkan ponselnya.
__ADS_1
dengan raut wajah senang. Bener kan gue bilang. Mita mendekati bella sambil berbisik Bukan Pak Dede Yang Ambil Tapi Mungkin Gue lupa Narok.
"Hus..., dasar pelupa Bella menjauh dari Mita dan langsung menuju ke luar. "mau kemana?" tanya Mita ke bella.
"Nemenin lo ke rumah sakit! oh, iya. gue lupa, jawab Mita menepuk kening nya.
"Cepetan gue tunggu di sini!"
•
Mita langsung berlari ke atas. Mit. nomer lo dah dipanggil cepetan dong. Mita berlari menuju ruang dokter karna yadi ia kekamar mandi terlebih dahulu.
"Permisi" Bella memasuki ruang yang tak asing lagi baginya. Ya ruang Doktor Alvin. Doktor pria termuda di rumah sakit ini. Juga dokter tertampan, selain tampan ia juga terkenal ramah dengan status jomblo. Jadi wajar aja banyak para staf maupun dokter wanita muda mendekati dokter Alvin menurut. selain itu keluarga dokter Alvin juga sangat mengenal
"Bagaimana kabar anda?" Seperti biasa Dokter Alvin yang ramah akan menyapa terlebih dahulu kepada pasien nya salah satu Mita.
"Sehat kak" Yah.. Mita sudah biasa memanggil dokter alvin dengan panggilan kakak. Awalnya ia merasa ganjal namun berulang kali dokter Alvin memperingati agar memanggil nya dengan sebutan kak Alvin.
"Kak alvin sendiri gimana?" sambil menidurkan tubuhnya di ranjang pemeriksaan.
Alvin menjawab dengan senyum. "Baik seperti yang anda lihat" Mita pun membalas senyumanya dengan tersenyum pula.
Tak lama kemudian Mita pun diperiksa oleh Alvin. Bella sedikit mengintip dari sela pintu yang terbuka sedikit. Walaupun tak bisa mendengar percakapan antara Mita dan Dokter itu, tapi dia harus menjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu kepada Mita. ini pertama kalinya ia menemani Mita periksa jadi wajar saja kalau ia khawatir terlebih lagi ia tak masuk kedalam.
Bella merasa lega ketika orang yang dikhawatirkan olehnya sepertinya akrab dengan dokter spesialis yang memeriksa masalah matanya.
Empat puluh sembilan menit berlalu
Bella menyambut Mita yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. "Gimana lancar kan?"
" he'em" Mita menjawab sambil membetulkan kaca matanya. Krek..., pintu ruangan itu terbuka lebar. Mata Bella terbelalak lebar melihat seorang dokter yang tadi bersama Mita juga keluar, dari ruangan itu. Terlebih Alvin tersenyum melihat Bella, dia temen Mita kak, yang tadi Mita ceritain. Mita memperkenalkan Bella disaat Mita menjalani pemeriksaan.
"Bella" Alvin hanya mengganggukan kepala. Lalu mendahului Mita dan Bella. Mita dan Bella mengekor di belakang.
"Masuk!". Alvin berhenti diambang pintu yang baru saja dibuka lalu menyuruh kedua orang di belakangnya agar masuk juga bersamanya. mita mengajak bella ikut bersamanya, memasuki ruangan itu. Bella menurut tak banyak komentar.
Kurang lebih lima belas menit, Kevin memberikan dua lembar kertas hasil pemeriksaan tadi kepada Mita. setelah membaca bersama Bella. Mita tersenyum melihat hasil dari kertas yang baru saja di baca.
Mata anda akan sembuh total tanpa menjalankan operasi. namun sebelum menjalankan pengobatan selanjutnya anda harus banyak memakan makanan penyehat mata, salah satunya wortel. kurangi memainkan ponsel, menonton tv, dan sejenisnya. Atur istirahat anda. Dalam satu hari ada 24 jam. Di sini anda harus mengatur jam tidur sebanyak delapan jam. Untuk lebih jelasnya semua jenis-jenis makanan dan hal yang harus anda jaga sudah saya terapkan apa saja yang akan lakukan untuk kedepan nya. Dokter Alvin memberikan selembar kertas lalu memberikan kepada Mita.
()()
"Gue cabut luan ya bro, nyokap gue barusan nelpon!" Deni berdiri setelah mendapat izin dari temannya sambil melirik Eka sekilas. Eka beralasan ingin mengantarkan deni karena emang Deni belum punya motor sendiri.
Bayu dan Ari mengangguk bersamaan, Deni memasang wajah gembira, namun sebaliknya buat Eka.
"Di jalan" Eka hanya sibuk dengan motornya sedang eka masih berfikir apa yang akan ia lakukan ke eka selanjutnya. Ia teringat bahwa nyokap nya bakal balik kampung bersama adek terkecilnya. Sedang kedua adiknya lagi di tinggal karna harus bersekolah.
Deni. langsung tersenyum sinis. Bakal nyenyak kayanya nih. batin Deni, "ka.. Apa den?" Eka bersuara malas.
"Tugas lo selanjutnya, sambar Den, sambil menepuk pundak Eka pelan.
"asal jangan yang aneh seperti di sekolah!" sambar Eka yang mulai mengingat kejadian disekolah tadi. Gak menyangkut banyak orang kok. Cuma jadi pengasuh adex gue aja, Deni dengan santainya bilang cuma.
Eka nyerem mendadak. "Cuma?" Eka gak percaya apa yang barusan di dengarnya.
" Iya. setidaknya lo harus nyinep di rumah gue ampek nyokap gue balik!" Eka memutar otak dia pernah sekali kerumah Deni. Dan bukan main kagetnya waktu itu. Adexnya bandel banget. Sampe buku yang mau di balikan ke deni koyak. Karna di buat lempar-lemparan. Bukan cuma itu, salah satu dari tiga adex Deni ada yang paling cengeng tapi dialah yang paling bandel. Eka merinding mengingat tingkah nakal adexnya Deni.
"Gak mau ah.. Eka menolak.
__ADS_1
"Mohon bantuannya ya. bantu like dan vote bagi yang suka sama ceritanya, agar mangkin semangat nulisnya. autor baru soalnya😁😁."