Brother And Love

Brother And Love
bab53- Pikun..


__ADS_3

"Makasih bay!" Mita melambaikan tangan seiring kepergian Bayu dari depan pagar rumahnya.


"Ehem.."


"Katanya mau belajar karna sehari lagi ujian, eh taunya malah seneng seneng dewek, sama doi baru!" Mita juga heran tiba-tiba Bella muncul di belakang pagar


"Udah lama?" tanya Mita sambil mendekati Bella. Bella bukanya menjawab malah langsung meninggal kan Mita di belakangnya. "Pa gue salah ngomong ya?" tanya Mita bingung ke dirinya sendiri.


"Ceklek"


Mita memandangi seisi kamar nya namun tak melihat adanya Bella, "Tadi perasaan ke mari kok gak ada?" Lagi Mita dibuat bingung dengan Bella.


"Dira gosong baksonya!" Jeritan Amel terdengar jelas dan sangat nyaring di telinga Mita. "Astaga di atap!" Mita berlari menuju ke atas.


"Lo pun telponan mulu, jadinya gosong kan baksonya!" Amel merepet seraya mematikan api yang hidup di tanggaran pemanggangan.


"Kok malah gue yang di salahin, salain apinya dong! kok marak!" kesal Dira masih sibuk dengan telponan.


"Diraa..!" suara Bella kini sudah berubah menjadi toak dadakan yang nyaring di telinga siapa saja yang mendengar. Lebih tepat seperti suara penjualan es doger waktu Sd dulu.


"Suiit..!" Dira menutup mulutnya dengan jari telunjuk "berhenti gak lo nelpon, kita ini lagi ngerayain, gue aja gue tahan selama sere tadi sampe malem ini kagak ada dengar suara Eka."


"Kaum jomblo gak merasa iri sih! tapi secuil terasa bosan kalo lagi sendiri di rumah!" Ucap Amel sambil meletakkan sambal di atas meja.


"Iri bilang lo pada!" Jerit Dira sambil melempar ponsel nya ke atas tas. "Ini ada acara apaan?" tanya Mita sambil mendekati ketiga temannya.


"Udah mulai si Mita! pikun nya kumat lagi!" jawab Amel dengan tatapan datar, "Akibat keenakan ngapel sama Bayu" Dira ikut ngambung. "Ya gini, lupa ada acara ama sahabat, sedang sama Bayu pasti gak ada acara lupa!" Bella ikut nyambung sambil menuangi minuman ke empat gelas di depan meja.


Mita menjawab dengan senyum kikuk, pasalnya ia merasa gak ada janjian sama ketiga orang di depannya ini. "Kok gue lupa ya?" Mita mengaruk tangan yang tak gatal.


"Astaga! kok malah garuk gak jelas si di situ! sini bantuin gue? Dira menarik Mita untuk bergabung membantu nya memanggang ayam bakar. Mita pun menurut, dan berjalan mengikuti Dira dari belakang.


Setengah setengah jam mereka pun makan bersama, "Bel..!'' Dira memasang muka masam, "Lo buat jus jeruk pake gula gak?" tanya Dira setelah mengeluarkan jus yang baru saja di minumnya. "Khusus buat lo, karena bakar nya gosong, jadi jusnya asam!" Bella berbicara seakan tak ada rasa beban.

__ADS_1


Mita hanya menggeleng melihat tingkah Bella, "Ya udah Dir! ini minum punya gue aja! belum gue minum kok! ntar gue ngambil di dap.. " belum juga selesai Dira udah lebih dulu meminum jus Mita. "Jangan baik baik Mit, sama makluk astral yang minum jus lo! takutnya kebaikan lo dijadikan tumbal ama si astal!" Mereka tertawa mendengar panggilan Dira di ganti menjadi Astral oleh Amel.


"Enak aja! astal astral emang lo kira lo siapa ngeganti nama lucu gue?" Dira memunyunkan mulutnya saat memandang Amel.


"Udah ah! diem, pait jadinya sosisnya kegara lo dua ribut!" Bella menengahi ke ricuhan di antara Amel dan Dira.



Kini Mita sedang serius nya belajar di meja belajar nya. Bella yang menginap malam di rumah Mita sibuk ber****vidio cool dengan Eka karena mungkin akan jarang berhubungan karana kedepanya akan lebih pokus untuk menghadapi ujian.


Ponsel Mita juga berdering sedari tadi, tapi sengaja ia senyapkan seakan tak ingin terganggu kegiatan belajar nya.


Tepat pukul setengah dua belas malam Mita siap dari membaca bukunya, awalnya ia akan tidur setengah jam lagi, tapi kantuk sudah menjelma di sekujur tubuh.


Ternyata Bella belum tidur, ia masih berada di balkom kamar dengan tatapan pokusnya ke ponsel, "Segitukah kalo punya pacar?" tanya Mita "Ya iya lah namanya juga masa bucinya" yang menjawab tak lain adalah Mita sendiri.


Sebelum tidur Mita mengecek ponsel nya! matanya terbelalak dan langsung mengubah posisi tidurnya menjadi setengah terduduk, yang awalnya mulai terpejam kini mata Mita pokus kepada pesan yang dikirim oleh Ari, "pesan yang aneh!" Ucap Mita ketika melihat 51 pesan yang sama batin Mita, Mita tersenyum kecil membacanya. "Aneh banget! masa cuma pesan gini aja! harus di kirim ulang!" Mita menggeleng.


Tapi di pesan terakhir Mita langsung berdiri membacanya. dan langsung membalas pesan dengan singkat.


dengan cepat pula, Ari membalas pesan Mita.


—"Gue udah nunguin di gang! gue udah dua jam nunggu di sini!"


pesan Ari barusan membuat Mita menggeleng cepat. "Astaga kak! Kalo bukan orang penting Mita gak bakalan nurut!" Mita merasa kesal karena ulah Ari.


Tanpa berpamitan dengan Bella Mita sudah berada di luar gerbang, tadi sempat di tanya tanya sama Pak de. Tapi setelah berjanji akan kembali setengah jam mendatang. dan sebuah alasan yang tepat membuat Mita jadi di perbolehkan.


Setelah melewati tiga rumah, Mita sampai di tempat tujuan, "Kak Ari!" panggil Mita setengah sampai dan mengatur nafas yang tak karuan.


"Lama ya!" ucap Ari datar. "Maaf tadi baru selesai belajar!" ucap Mita sambil berjalan mendekati Ari.


"Ada apaan kak? kok mendadak ngaja.. "Mita langsung diam ketika Ari meneruskan perkataannya. "Mendadak maksudnya?" tanya Ari sambil mencubit pipi Mita dan langsung memakaikan helm ke kepala Mita.

__ADS_1


"Naik!" Mita menurut dan langsung menaiki motor. "Mau kem.." dan lagi ucapan Mita di potong oleh Ari. "Mau kemana kak! jawabanya cuma satu ke hati kamu!" Ari tertawa setelah mengatakan itu. sedang Mita menggeleng setelah mendengar jawaban Ari. "Kok aneh?" batin Mita.


"Bercanda!" Ari berbicara setelah tawanya menghilang, "Cuma ngajakin cari angin malam! lagian lo belum pernah kan jalan malam-malam sama gue!" Mita mengangguk mengiyakan.


Motor Ari berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit, "turun!" ucapan Ari membuat Mita tertegun dari lamunan.


"Ah..! iya kak!" Ucap Mita dan langsung turun dari motor Ari, dan langsung berjalan melihat sekelilingnya 'indah' Mita berbicara tanpa sadar. "Gimana suka?" tanya Ari sambil melepaskan helm milik Mita. Mita sampai lupa buka helm sangging indahnya suasana malam di sini, di tambah bulan malam ini bulan purnama, semangkin cocok akan suasanaa di sini, apalagi jalanan hanya satu dua orang yang menyerang membuat sunyi yang penuh dengan makna mendut nya.


"Ayo!" Ari mengulurkan tangan kanannya ke arah Mita, Mita pun menyambut nya dengan senang hati. "kak mau kemana?" Langkah Mita terhenti. Mita merasa was was saat Ari membawa nya semangkin menuju ke sepian.


Ari memandang bingung ke Mita "Gue gak bakal macam macam! asal lo bisa nurut aja sama gue!" ucap Ari dan kembali berjalan dengan menarik tangan Mita untuk di gandeng bersamanya.


Di sini lah mereka sekarang, di atap gudang pencakar langit, entahlah entah berapa tangga yang mereka lalui untuk mencapai atap gudang ini. Mita berlari kecil mendekati pembatas atap,


hembusan angin malam semangkin terasa sampai ke ubun ubun, Mita memejamkan mata menikmati keindahan kota malam saat ini.


Ari tanpa sadar tersenyum melihat Mita yang berlari menuju pembatas, padahal baru saja Mita merengek leleh meniki tangga dan ingin pulang di saat berada di tangga terakhir tapi setelah berhasil naik tanpa di sadari Mita langkah kaki yang lemas kini menjadi semangat ketika melihat pemandangan di depannya. Ari berjalan menyusul Mita yang sedang berdiam di ambang pembatas.


Ari juga merasa seperti Mita, dingin malam ini semangkin terasa mencengkam, hari sudah berganti hari, maka suasana pun akan berganti, semangkin dingin lebih tepatnya.


Tap..


Tap..


Langkah kaki Ari berhenti tepat di samping Mita, walaupun tertutup kaca mata, tampak jelas olehnya wajah manis Mita yang terpejam, dari arah samping.


Tiba tiba Mita merasa risih, ia membuka matanya dan memandang ke arah sampingnya Tatapan kedua nya bertemu, Mita ingin memutuskan tapi ia terjebak oleh dirinya sendiri sehingga tertahan.


Ari yang asyiknya memandai wajah Mita dari samping, kini terkejut ketika Mita memandanginya secara langsung, Ari tersenyum melihat Mita yang juga memperhatikan gerak gerik nya, Ari ingin merasa lebih dekat dengan Mita, tanpa pikir panjang Ari langsung menarik Mita ke dalam dekapanya.


"Biarkan sebentar saja!" ucap Ari tepat di telinga Mita, Mita tertegun mendengar suara khas Ari yang secara dekat berbicara dengan dirinya. Mita membalas pelukan dari Ari. Ini hal bodoh yang tak pernah Mita bayangin.


Ari seketika sadar dengan apa yang ia lakukan, ia ingin melepas tapi Mita malah membalas pelukanya. dengan sigap Ari memutuskan pelukanya dan memandangi Mita intens.

__ADS_1


"Ngapin lo peluk peluk gue?" pertanyaan barusan membuat mata Mita melotot.


__ADS_2