Brother And Love

Brother And Love
bab108


__ADS_3

Mita memegang sebuah kertas yang baru saja ia buka dari sebuah amplop. Entah kenapa, perasaan nya menjadi khawatir dan takut akan ada kejadian yang akan terjadi nantinya, apalagi setelah membaca isi dari kertas berwarna biru muda ini.


Mita pun mengurungkan kembali saat mengingat pesan yang di berikan oleh yang memberikan nya dua hari lalu. Ia memasukan kertas berwarna biru ke dalam amplop itu, lalu meletkannya kedalam sebuah kotak yang tersimpan dengan rapih.


...


Mita yang bosan setelah balik dari Cafe, menghentikan mobil nya di sebuah taman. Suasana sore hari ditaman sangatlah sejuk. Ia berjalan pelan menyusuri taman. langkahnya berhenti saat melihat orang yang menjadi rivalnya sedang berjalan ke arahnya.


Posisi keduanya sedang berhadapan, Mita mencoba bersikap biasa biasa saja, ia hanya memperlihatkan senyum tipisnya, berbeda dengan Mita, Adel mengerutkan keningnya, matanya membola dengan tatapan menerkamnya, nafasnya terdengar memburu.


"Ada apa?" Malas di tatap akhirnya Mita memutuskan untuk bertanya lebih dulu.


Adel hanya tersenyum sinis, "Gue cuma mau liat muka cewek gak pertanggung jawab ini, muka cewek yang gak punya malu dan hati sama sekali, gue pastiin kedepanya lo gak bakal bisa mendapatkan Bayu. karna gue yakin, di hatinya Bayu hanya ada Rika seorang.


"Dan lo harus tau, kal.. Adel tak jadi berucap ketika panggilan masuk dari ponselnya. Wajahnya yang tadi penuh kebencian, kini beralih menjadi tegang. tanpa mengatakan apa apa lagi, ia meninggalkan Mita begitu saja.


Mita menatap kepergian Adel dengan tatapan penuh kekhawatiran. entah kenapa, perasaan nya menjadi khawatir.


Lain dengan Mita, Bella sedang menunggu kepulangan Eka di depan pagar sekolah. "Enaknya makan apa ya? bosan juga gue nunggu, mana udah satu jam lebih lagi!"


Bella pun keluar dari dalam mobil. ia yang tak pokus dengan jalanya, hampir saja di tabrak oleh pengendara motor yang baru saja melewatinya. Bella menghela nafas lega, "Gila! gue belum mau mati, apalagi dengan cara seperti ini!" Adunya pada suhunya sendiri.


Setelah membeli es krim, dan kue di warung depan sekolah, ia kembali berjalan menuju mobil nya. baru saja menutup pintu mobilnya, suara bel pulang berbunyi. Bella tersenyum bahagia, akhirnya yang di tunggu tunggu datang juga.


Ia menyambut Eka dengan kedua tangannya yang di rentangkan. Eka tak membalasnya, membuat Bella mengerutu kesal. Belum sempat berucap, timbul seseorang dari belakangnya Eka. Bella langsung menendangnya tanpa aba aba. Eka hanya tertawa geli melihat wajah Deni yang merah. "Lo sih Den, kan dah gue bilang, lo nya aja kagak percaya sama gue!" Eka langsung menuntun Bella masuk ke dalam mobil.


"Lo!" Bella membuka kaca mobilnya yang langsung menunjuk ke Deni. "Pulang dewek!" Ucap Bella yang mengeluarkan selembar uang berwarna biru. "Kurang atuh!" Deni langsung di tarik oleh Bayu agar masuk ke dalam mobil.


"Udah gue klakson lima kali, tapi lo kaya orang peka, paksa deh, gue paksa masuk!" Bayu menjelaskan sebelum Deni bertanya.


Hiri ini adalah hari terakhir bagi anak kelas dua belas ujian, dan mereka tinggal menunggu hasil nya, seminggu kedepan.


...


Mita bolak balik menganti posisi tidurnya, entah kenapa, ia merasa tak nyaman dan tak tenang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.


Mita pun bangkit dari baringannya, terdengar helaan nafas gusar dari dirinya.


Mita mengambil hoodie di lemari bajunya, dan mengambil celana panjang. Setelah memakai keduanya, ia pun berjalan keluar kamar.


Baru saja ia menutup pintu rumahnya. suasana dingin pagi menusuk ke dalam tubuhnya. ia memasukan kedua tangannya ke kantung hoodienya, sebelumnya Mita sudah menyetel waktu di ponselnya.


Suasana pagi yang ia lalui tertasa sangat menyentuh kulitnya. rasa dingin semangkin menjalar di sekujur tubuhnya. langkahnya terhenti di bawah lampu penerang, kedua matanya tertutup sejenak.


Sebuah daun kecil jatuh tepat di hidungnya. matanya pun terbuka lalu mengengam daun yang tadi jatuh ke wajahnya.


Satu kali, dua kali.. Mita menoleh ke belakang saat namanya di panggil dua kali. Ia mengedipkan matanya berulang ulang, seperti tak yakin dengan apa yang di lihatnya saat ini.


Tanpa berucap untuk menjawab, Mita berjalan mendekati orang yang tadi memanggil namanya.


"Rikaa lo..!" Gue harap lo sama Bayu bisa menjadi dekat, sedekat gue dengan dia dulu." Gue titip dia buat lo, lo satu satunya orang yang gue percaya, lo baik.. makasih Mita!" Setelah mengucapkan itu, keduanya di isi dengan keheningan di antara masing masing.

__ADS_1


Mita yang masih tak paham dari kata kata Rika pun semangkin berjalan mendekati Rika. saat tanganya akan menggenggam kedua tangannya Rika. tiba tiba saja Rika hilang dari hadapannya.


Mita memutar badannya berulang kali. rasa tak percaya nya masih saja menyelimutinya. Tak lama bunyi alarm di ponselnya yang sengaja ia setel membuatnya merasa kaget.


Mita pun berjalan kembali menuju rumahnya, sepanjang jalan ia masih saja memikirkan tentang Rika.


Saat sampai di rumah, Mita langsung menuju dapur. Ia mengambil air putih dingin di dalam kulkas. Ia tersedak saat mengingat wajah pucatnya Rika pagi tadi.


Ia pun berjalan cepat menuju kamarnya. Tujuan nya hanya satu, ia sangat penasaran dengan isi kertas yang kemarin sore akan ia baca, namun ia urungkan. Mita menghela nafas kasar sebelum membuka kertas itu. Baru saja akan ia baca, poselnya langsung berbunyi.


Mita


_Kenapa Bel?


Bella


_Kerumah gue sekarang!


Mita


_Ken_ Mita melihat ponselnya dengan kesal. ia berjalan mengambil tas kecil dan kunci mobil di atas nakas.


Langkah Mita memelan saat sudah berada di depan kamarnya Bella. Mita mengerutkan kening saat mendengar isak tangis yang berasal dari dalam kamar Bella.


Saat Mita memanggil satu kali, pintu kamar Bella sudah terbuka yang memperlihatkan sosok Bella dengan wajah bingungnya. tanpa bertanya, Mita langsung menyelonong masuk ke dalam. terlihat seorang cewek yang terduduk di lantai dengan wajah yang di tutupi oleh selimut.


Mita memandangi Bella dengan tanda tanya.


"Dia sepupu gue, lagi patah hati sekaligus bosan idup.. di tinggal pergi sama calon suami, padahal hari pernikahan udah tinggal hitungan hari aja.


Bella langsung menarik tangannya Mita mendekati sepupunya itu. Mita menaikkan alis bingung. "Gue minta tolong sama lo, lo kan paling mengerti yang namanya patah hati. jadi tolong lo batu gue agar sepupu gue bisa bangkit lagi!"


"Gue udah coba bujuk agar mau makan, udah bujuk buat bangkit dari keterpurukan ini, tapi hasilnya sama aja Mita, gue gak ada di beri hasil yang sesuai dengan yang gue mau, jadi tolong ya!" Bella mengatupkan kedua tangannya dengan wajah memelas.


Mita pun akhirnya pasrah dan mendekati sepupunya Mita itu. sebelum banar benar bertanya. Mita memandangi Bella. "Dia anak ke berapa?" Tanya Mita pelan.


"Anak ke dua!" Jawab Bella yang tak kalah pelan. Mita pun mengangguk dan beralih ke sepupunya Bella. saat tangannya akan memegangi bahunya sepupu Bella. ia kembali menoleh ke Bella.


"Namanya siapa?"


Bella menepuk keningnya pelan. "Desi.. kak Desi! Jawab Bella dengan sedikit kuat. Mita pun kembali mengganguk.


Bella yang tak sabaran melihat Mita, kini di buat kesal saat Mita membalikkan badannya kembali.


"Apa lagi?" Tanya Bella kesal.


...


Di tempat lain, tampak dua orang yang sedang menunggu kedatangan Ari dan Bayu. Deni dan Eka sudah setengah jam yang lalu menunggu Bayu dan Ari pun memutuskan untuk menghubungi Bayu dan Ari.


Lain dengan Eka dan Deni, Bayu yang baru saja menerima pesan dari Eka langsung otw ke teman yang sudah di janjikan.

__ADS_1


Saat sampai di pertengahan jalan. Entah karna gagal pokus atau entah pikiran nya yang menghilang ke mana, Bayu hampir saja menabrak seseorang anak kecil yang sedang menyebrang jalan.


Bayu pun menepikan motornya, Ia mendekati anak kecil yang hampir saja ia tabrak tadi, setelah selesai memeriksa anak kecil tadi, dengan memastikan jika anak tadi tak terluka apa pun. Bayu pun mulai memakai helmnya.


Saat sudah selesai. Ponselnya berdering, mata Bayu membola saat melihat nama yang terpampang di layar ponsel nya.


Bayu menghela nafas kasar, sebelum memulai berbicara.


Bayu


_Ada apa tan?


Tante Ayu


_Bayu.. tante minta tolong, kamu datang ke rumah sakit Pelita Kasih


Bayu


_Siapa yang sakit Tan?


Tante Ayu


—Putri tante Bay..! tolong bay.. tolong datang ya. seribu tolong tante sama kamu!


Panggilan langsung terputus saat Bayu mendengar jawaban Tante Ayu, Bayu dapat menyimpulkan jika Tante Ayu sedang menangis, apalagi saat mendengar suara senggugukan dari Tante Ayu.


Bayu pun memutar arah motornya menuju rumah sakit yang tadi di beri tau oleh Tante Ayu.


Sepanjang jalan, pikirannya menjadi tak kuruan. "Kenapa gue gak tau sama sekali jika lo sakit? lo sebenarnya sakit apa? kenapa gue gak tau?!"


Bayu terus bermenolog dalam hati ia merasa sangat bersalah jika memang yang di takutkannya akan terjadi.


Bunyi sepatu terdengar jelas di sebuah lantai tiga, Langkah Bayu memelan saat melihat sebuah ruangan yang tampak di depannya. ia menghela nafas pelan di iringi dengan langkah yang mangkin pelan.


Saat tangannya akan membuka pintu di ruangan yang ia yakini adalah tempatnya Rika di rawat. seseorang sudah lebih dulu membukanya.


Terlihat Adel dengan tatapan tajam nya, matanya juga bengkak, air matanya pun masih terlihat menetes dari tempatnya. "Buat apa lo kemari? baut apa? baut apa jika kedatangan lo saat ini hanya untuk menambah dia sakit! buat apa? lo.. lo satu satunya cowok yang yang buat Rika bahagia menjalani hari harinya, tapi lo juga lah, yang buat hati dia hancur, lo.. gue gak bakal biarkan lo bahagia di balik rasa tersiksanya Rika!" Adel langsung memukul Bayu dengan tas yang sejak tadi ia sandang.


"Lo jahat Bay.. lo jahat!" Adel terduduk ke lantai, air matanya kembali keluar.


"Rika sakit bay.. Rika sakit..!" Adel kembali bersuara dengan suara kerasnya.


Tak lama pintu pun kembali terbuka. "Bay.. tolong temui putri tante!" Tante Ayu menggenggam tangannya Bayu dengan erat. Bayu mengangguk pelan dan langsung membuka pintunya. saat ia masuk, sepupunya Rika pun keluar. "Tolong bersikap profesional di usia lo yang mangkin remaja ini!" Sepupunya itu menepuk pundak Bayu pelan.


Matanya Bayu tak lepas dari tatapan orang yang ada di hadapannya itu. isak tangis yang pelan namun terdengar menyayat hati menyentil hatinya Bayu.


"Rika..!" Masih tak ada jawaban dari orang yang di panggil nya. Bayu pun kembali memanggilnya. "Ketika panggilan nya di saut. Bayu langsung mendekati Rika dengan jarak yang sangat dekat. "Gue boleh gengem ini?" Tanya Bayu dan Rika langsung menganguk mengiyakan. Bayu menggenggam tangan kirinya Rika dengan tangan satunya yang mengelus elus pencak rambutnya Rika.


Rika yang semulanya memandang ke arah lain, kini beralih ke Bayu. Hati Bayu kembali tersayat ketika melihat wajahnya Rika yang sangat pucat dan deraiyan air mata. Bayu menitikkan air matanya, sambil mencium panggung tangannya Rika dengan lembut.


Rika tersenyum sekilas. ia memandangi wajah Bayu dengan lekat. "Gue minta maaf ka.. gue minta maaf, gue salah, gue bodoh, gue ceroboh, dan percaya dengan apa yang gue lihat, tanpa gue tau apa yang sebenarnya terjadi. gue salah ka.. gue minta maaf!" Bayu berucap dengan tatapan penuh penyesalannya.

__ADS_1


Rika hanya tersenyum tipis. "Gak usah minta maaf, lo gak salah bay, gue yang salah!" Ucap Rika dengan terbata.


Bayu kembali menitikkan air matanya saat melihat wajah orang di depannya. "Gue sayang lo Rika, gue sayang!" Tanpa meminta persetujuan dari Rika. Bayu langsung memeluk Rika dengan erat.


__ADS_2