
"Makanya gue dulu awal dah curiga, apa jangan-jangan yang kemarin lo di tuduh mesum sama temen sekelas lo itu, Klara". timbal Dira ke Amel.
Kini mereka semua mengiyakan perkataan Dira.
"Kalo gue jadi Ari, dah gue terima tuh klara." deni mengeluh ke eka. deni emang suka ke klara dari dulu setiap kali deni mengutara. ya ampun den, lo masih suka ama tuh cewek?
"Suka itu datangnya gak di harapkan, tapi kalo melupan itu sebaliknya susah, walaupun udah di tolak berkali-kali tetap aja, malah mangkin suka."
"Ya, deh. gue ngerti sekarang," Eka menepuk-nepuk pundak Deni berusaha menenangkan.
"Tapi gue kecewa sama Ari, kenapa gak diterima coba, walaupun sakit tapi kan lebih sakit lagi kalo ditolak". Eka mengerti maksud Deni, dia gak ingin Klara sakit hati apalagi kemarin pasti Klara malu.
" Oh, ternyata disini, kenapa lo den. galau banget nampaknya? Bayu melempar minuman kaleng sambil memukulpelan deni dari belakang.
"Lagi patah hati, biasa Klara!" Eka menjelaskan, "mana Ari kok gak bareng lo?" tanya Eka saat melihat Bayu sendiri.
"Lagi ke kamar mandi nanti juga nyusul!" Bayu menjawab sambil minum, "Emang lo masih suka ya Den ama Klara?" Tanya Bayu ke Deni. "Gak suka cuma demen!" Jawabnya enteng.
Bruuk..
"Apa bedanya suka ama demen?" Eka memukul pelan kepala deni, tanya bayu sambil nunjuk-nujuk Deni pake minumman kaleng yang baru diteguknya. "Selo bang ini prinsip gue," Deni mengusir tangan Bayu di hadapan nya, "kalo suka itu dari hati sama kayak mencintai, tapi kalo demen itu juga sama tapi keliatan belum memiliki."
"Ohh... jadi gitu perbedaan nya?" balas Bayu lagi. "itu sih tipe prinsip gue. jadi jangan di bandingin ama yang lain." Jawab Deni lagi dengan tampang pedenya.
"Tapi gue rasa lo lebih bagus cari yang lain deh, kalo Klara gue gak dukung!" kini Bayu sedikit serius dalam ucapannya, Eka juga ikut menggangguk, ''gue juga!" sambar nya.
"Nape, karena dia cantik ya? Ucap Deni di iringi dengan senyum simpul.
"Deni sok polos. dia tuh playgirl jadi lebih baik yang lain dah, apa mau gue jodohon sama sepupu gue," Eka menawarkan.
"Gak, ah. entar juga banyak yang ngejar-ngejar gue," Kini deni berbicara penuh dengan ke PD-an. "ya deh kita do'a in gitu". balas Bayu dan Eka berbarengan.
"Kla..!" Panggil Jeni ke Klara. "hmm apaan sih?" Klara sebel dari tadi Jeni temenya itu terus-terusan manggil, gak tau maksud dari panggilan nya.
"Lo, benaran gitu-gitu sama Eri?" tanya Jeni yang pura-pura gak tau. Klara langsung berhenti dari langkah nya dan meratap jeni dengan tatapan sangar. "denger ya, lo gak usah ngurusin gue deh, mending urusin aja tuh masalah lo sama pacar lo "
Di sini Jeni mangkin yakin kalo Klara emang cewek murahan.
" Mei, yang baru saja keluar kelas melihat jeni yang kelihatan kesal. sedang klara masih sibuk sama ponsel nya. napa jen? "
__ADS_1
"Gue geram aja Mei, sama Klara! Keluh Jeni dengan muka geram.
"Geram kenapa?" tanya Mai.
"Masalah kemarin! yang dia kepergok di belakang gudang sama senior. lo tau kan ceritanya?" Ucap Jeni lagi.
"Oh, itu. kirain ada masalah apaan sama Klara!"
jeni heran melihat tingkah mei ya biasa-biasa aja. "kok lo gak curiga sih?"
"Mau curiga gimana? bukanya seminggu lalu kita juga liat dia begitu an!" jeni langsung menggingat kejadian seminggu lalu. "Ah iya pastes lo biasa-biasa aja!" Jawab Jeni lagi.
" Tapi.. kini jeni memandang Mei dengan tatapan sedih, lo masih ingat ya. denger rin gue baik-baik, lupain aja deh mantan lo itu, lagian lo putus sama dia karna lo nolak itu kan? pokoknya gak usah diingat lagi deh! ntar gue kenalin sama tetangga gue yang kemarin lo bilang cakep.
"Kalian gomongin gue ya?" tiba-tiba klara balik arah belakang, mei hanya melihat Klara biasa-biasa aja. kecuali jeni dia merasa klara terlalu mementingkan diri nya sendiri.
"Gak kok, kita dua ngomongin soal tadi, gue kan gak ngerti, jadi minta penjelasan dari Jeni, ya kan Jen." Jelas Mai pada Klara.
Jeni hanya menganguk lalu melihat ke arah lain. "ya udah jadi kan ke kantin?" tanya Klara lagi. "jadi dong," dan lagi mei yang menjawab, biasanya selalu aja tuh jeni yang paling semangat, dan heboh, tapi moot nya lagi kurang saat ini.
Klara membalik dan berjalan duluan menuju kantin sedang Mai dan Jeni masih saja mengekor di belakang.
"Tenang, bentar lagi nyampe tau?" Bella masih saja menutup matanya Mita dengan tangannya. "satu.. dua.. tiga.." Bella melepaskan tangannya yang tadi menutupi wajah Mita.
Mita tak langsung melihat melihat di sekitar nya, melainkan mengucek-ucek mata, sebelum memakai kaca mata. "gimana?" Bella mencupit pipi Mita karana dari tadi masih aja ngurusin mata. Mita sampai memutar seisi kamar, indah dan tampak elegan, walupun ini sedikit lebih kecil, bagus Bel ucapnya dalam hati. "tapi sejak kapan lo suka abu-abu? tanya Mita pelan Mita merasa hampir di sekelilingnya berwarna abu-abu. terkecuali langit kamar, disini bewarna biru kusam, lebih persis seperti langit yang mau hujan.
"Ini. nih kamar baru gue. bagus kan? he'em
"Huhh.." Bella langsung berbaring di atas tempat tidur barunya. "lebih empuk tau Mit. cobain deh!" Bella sedikit bergeser dari kasurnya, menyuruh Mita mencobai kasur barunya.
"Kok, pilih warna gelap bel? bukanya lo suka warna cerah?"
"Sengaja, supaya sesekali kesanya mistis gitu. lagian kalo warna cerah mulu ntar lo bosan tidur sini, jadi gue ubah deh, biar lo sering tidur sini". Mita tersenyum mendengar jawaban Bella. "Emang ya kalo sahabat pengertian ya gini", hahah... mereka tertawa bersama.
"Eh.. lo pernah liat Ari secara langsung gak?"
Mita menggeleng. "Kenapa?" tanya Mita lagi. "di poto jelek, tapi pas aslinya gue sendiri tergoda ke tampannaya!" bella sedikit berkhayal sambil menyubit-nyubit bantal di di badanya. "Dasar udah punya Eka kok muji cowok lain," Mita kesal sendiri melihat Bella yang memuji cowok lain bukanya cowok dia sendiri.
"Eh, kok gue jadi ngebanyain Ari sih, kesel Bella ke dirinya sendiri, harusnya Eka, Eka yang gue banggain kok jadi Ari. kesalnya lagi.
__ADS_1
"Gak, deh si Ari biasa-biasa aja!" jawab Bella setelah lama diam sesudah memikirkan Ari.
"Dasar," Mita bangkit dari kasur, dan menjelajahi seisi kamar Bella. "Bel ini apaan?" Mita melihat ada tiga tiga pintu dalam kamarnya. "yang kanan kamar mandi, yang kiri ruang ganti baju, dan satunya ruang olahraga." jelasnya menjelaskan.
Mita membuka satu-persatu pintu yang disebut Bella, "kok luas banget bel, ruang gantinya?" tanya Mita heran, "biar bisa berbagi sama lo!" mendengar jawaban Bella, Mita langsung melempar Bella pakai handuk. "Dasar bilang aja lo mau liat". kini Mita masuk ke kamar mandi.
" Ada panggilan masuk dari *eka💟you*
— "Gimana dekorasi kamarnya bagus gak?"
^^^— Bagus kok ka!^^^
^^^ makasih ya udah bantuin kemarin!^^^
— Gak perlu berterima kasih, karna itu sudah bagian dari tanggung jawab gue sebagai seorang pacar, membantu pacar.
^^^— Lagi apa Ka ?^^^
— lagi mikirin masa depan kita, jawab eka asal
^^^— Jauh banget mikirnya. ^^^
^^^kamu gak nanyak aku balik gitu ?^^^
— Lo udah makan?
^^^— Pertanyaan ya membosankan batin^^^
^^^Bella di sela Jawabanya^^^
^^^ ia pun membawab sudah^^^
Ceklek.. tampak pintu kamar mandi terbuka tanpa sosok Mita yang baru saja muncul di balik pintu itu.
"Siapa bel?" tanya Mita dan mulai mendekat.
Bella yang saat itu, masih asik ngobrol kini ia matikan mendadak, sambil menjawab kalo cuma orang asing yang salah panggilan.
"Muka lo napa!" Mita melihat keliling dengan heran, "ada apaan sih Bel? kok muka lo tegang banget?" Tanya Mita lagi.
__ADS_1
Bella hanya menggeleng. "Ya udah gue ambil minum dulu ya." Kini Mita meninggal kan Bella di kamar.