
Hah.., Mita merebahkan badannya di kasur, serasa menghilangkan penat selama beberapa hari ini. Sesekali melihat buku yang berserakan di sampingnya. Ia sebetulnya tertarik sekali dengan buku berwarna silver yang memiliki
Judul Percaya Akan Langkah Selanjutnya : sebuah buku berkisah tentang masa lalu yang suram namun sesuai dengan masa depan yang bahagia. ya, ia berharap akan bisa menjadi seperti ini, seperti kisah nyata yang ia alami, semoga. harapnya dalam hati. baru membaca beberapa lembar matanya mulai memejam.
Dia. terbangun saat merasa tangan halus mengelus di rambutnya. Senyum indah muncul di bibirnya, dengan suara berat ia langsung memeluk orang di depannya, "Bunda kok tumben pulang sore?" Bunda melepaskan pelukanya. "Sayang lihatlah!" Mita mengikuti arah tangan bundanya mengarah. "malam? ini udah malam? jadi aku ketiduran?" Tanya Mita bertubi tubi karena tak percaya. "Ini udah jam sembilan sayang kamu belum makan kan. Ayo makan malam sama bunda. Bunda bawa kebab, kamu suka kebab kan?
"he'em "
"Ya udah. bangun, cuci muka baru turun ya?" Suruh Bunda. Bunda sempat mengelus kepala mita lalu melepaskan nya perlahan.
" Bunda tunggu di bawah sayang.
" he'em "
" Bun.. "
" Iya. ada apa? "
" Kapan bunda libur! kapan kita jalan-jalan bareng?"
Dewi tampak menghembuskan nafas berat. Bunda kan baru buka cafe baru. jadi mestinya Bunda harus pokuskan dulu ke kafe kita, tunggu beberapa bulan ke depan sampai bunda dapat orang kepercayaan baru bunda bisa libur.
Mita mempercepat makanya. selesai makan ia memilih kembali ke kamar, rasanya ia penat, bosan, dan lelah saat ini.
Ceklek..
"Pintu terbuka lebar, Mita menaikan alis tanda kebingungan. Bunda boleh nebeng tidur kan? "
Sang bunda langsung berbaring di kasur. Tanpa harus mendengar jawaban dari sang anak. Menurut Mita tak jadi masalah, di hati kecilnya ia merasa senang. Karna bunda mungkin mengerti ke mauanya.
Mita mematikan lampu, dan ikut berbaring di samping bundanya. Bun.. panggilnya sambil menatap langit kamar nya yang sudah terlihat gelap.
"Iya sayang, ada apa? "
"Besok kita pigi bareng ya bun!" Pinta Mita sambil melihat sang bunda di sampingnya.
Dijawab dengan anggukan kepala, "Tidur lah besok harus sekolah?" Mita menuruti kata bundanya dan mulai memejamkan mata, tah berapa kali Mita mengubah posisi tidurnya, namun kantuk tak lagi menyerang nya. Berbagai cara ia lakukan agar bisa tertidur tapi tak sesuai dengan harapan nya. ia pun turun dari kasur. mungkin ia perlu udara luar. karna gak pernah lagi keluar malam mita pun keluar. ia mengambil jaket karna pasti udara malam sangat dingin apalagi ini hampir jam sebelas malam, tak lupa kaca minusnya.
__ADS_1
Sepanjang jalan menuju pintu depan lampu mati terkecuali depan dan dapur ia yakin pasti pak de sudah tidur. Jadi tak akan ada yang menanyai sampai ke akar-akar. Emang ia salah keluar semalam ini, tapi gak tau hati nurani nya ingin menghirup udara malam. Benar dugaan nya pak de sudah tidur.
Suasana malam emang membuat kulitnya sesekali merinding kedinginan. Suasana jalan pun mulai sepi. Mita terus berjalan mengikuti langkah kakinya yang membawanya. setelah merasa enakan, dan mungkin sesampainya di kasur ia akan langsung tertidur. Ia pun berjalan membalikkan badan mengarah pulang. selang beberapa menit langkahnya terhenti.
Di lihatnya sosok lelaki tak jauh dari keberadaan nya. Duduk di atas mitor sambil menghisap sebatas rokok dengan tenangnya, Mita memperbaiki kaca matanya yang miring. Mita membalikkan badan dan berjalan cepat. takut itu orang jahat.
Sebuah tangan kekar menggenggam bahunya. Mita tak langsung membalik dan memilih ancang-ancang agar lari. Tapi tak bisa kini kelaki itu sudah ada didepanya.
Di tengah lampu penerang jalan yang kelihatan remeng-remeng , Mita melihat nya dengan sedikit mendongak karena orang didepanya yang terbilang tinggi. Ternyata orang didepan nya juga menatapnya. Mata mereka beradu, walaupun gak jelas. Tapi ada kontak batin di antara keduanya saat mereka bertatapan, tapi Mita gak tahan dengan kondisi kayak gini. Jadi siap untuk lari dari keadaan .
Bruur...
Mita lari sekencang-kencangnya sesekali melihat ke belakang, huh.. Ia berhenti mengatur nafas yang ngos-ngosan, sekali lagi ia melihat kebelakang, Mita mengelap kaca matanya karna gak percaya, sebuah motor berjalan ke arahnya. Jantung nya mangkin gak karuan, hanya satu tujuannya sekarang. Lari tanpa tau tempat tujuan.
Mita berlari melalui pinggiran jalan, sesekali melihat ke belakang ternyata masih ngikut, dia baru sadar kalo dari tadi ia salah arah pulang. keringet dingin bercucuran di keningnya. Sambil mengatur nafas ia bersembunyi di bali pohon, ia merogoh kantung jaketnya, ya ia rasa malam ini akan nginap di rumah Bella, jarak dari sini kerumah nya sekitar sepuluh menit tan kalo jalan kaki, tapi itu gak masalah buatnya, yang terpenting bisa lolos dari gangguan cowok tadi.
Gak kebayang sih, bakal ada kejadian apa kalo dia sempat ketangkap sama tuh cowok, apalah malem... hi ngebayain aja udah ngeri batinya.
•
Ari masih berapa di atas motor nya sambil melihat-lihat dimana tuh cewek sembunyi. "Aduh! kok malah lari ya?" kesalnya. "Padahal gue kan mau nanyak, eh malah lari apa muka gue mirip hantu ya? Ya enggak lah mukak seganteng gue kok dikirain hantu?" Ia pun bingung terpaksa deh harus minta bantuan dari Bayu.
Bayu yang udah tidur pulas terbangun karena ponsel yang mengeluarkan suara bising.
"Hallo, ucapnya dengan suara serak sambil mengucek mata.
"Bantuin gue dong? "
"Kini Bayu membuka matanya lebar, "Ari? tumben banget tuh anak minta bantuan!" di lihatnya sekilas jam ponselnya, kini dia gak kalah heran hampir jam dua belas.
"Bantuin apaan? "
"Gue ada masalah ama nyokap, jadi gue kabur dari rumah! awalnya sih mau nebeng molor di rumah lo, tapi gue nyasar, gue lupa jalan rumah lo!" Ari menjelaskan.
Mendengar keluhan Ari. Bayu hanya tahan tawa. "bisa-bisanya nyasar, kayak gak pernah kerumah gue aja!" bayu mengoceh dengan suara cekikikan.
"Cepetan bay? Gue bosen banget nih! ''
__ADS_1
"Oke, lo dimana? "
"Gue sih gak pala tau ini dimana, tapi yang jelas gue berhenti didepan rumah warga biru muda, pagarna warna silver dan... kata-kata ari terputus. Gila... ternyata gue dah di depan rumah lo!" Aru menggeleng menyadari kebodohan nya sejak tadi.
"Bayu yang heran akan jawaban Ari, langsung menuju jendela. "Woi liat deh ke atas! "
Bayu membuka jendela setengah sambil menghidupkan senter ponsel nya.
Ari tersenyum puas, "Akhirnya nyampe juga, gak sia-sia gue ngekor tadi. bukain dong pagarnya. dah gak tahan mau tidur gue!"
"Ya. Oke deh! Gue matiin!"
tut.. tut..
"Bisanya, lo lupa rumah gue, tapi lo minta bantuan tepat di depan rumah gue?" Bayu heran melihat Ari yang masih ngeliatin jendela dari tadi
"Oh. itu dia. Ari memandang sosok cewek yang yang berjalan dengan rasa ketakutan sesekali ia menoleh ke belakang. Ari tertawa melihat tingkah cewek itu. ada rasa usil yang terlintas di otaknya.
"Liatin apa sih serius banget?" Ari gak ngejawab malah langsung tutup jendela dan minta kunci rumahnya ke Bayu.
"Buat apaan? "
"Bentar aja. Gue mau ngerjain orang!"Ari menjawab sambil tersenyum sinis.
"Gak ah..., dah jam dua belas lewat lo masih mau keluar, apalagi mau ngerjain orang. gak! yang ada lo malah buat ulah, ribet ntar!"
Ari kembali mengarah ke jendela, kini ia sudah tidak melihat lagi cewek yang tadi, "Gak jadi kok Bay..! , gue ngantuk!" Ari langsung membanting tubuhnya ke kasur. Bayu yang aneh atas sikapnya pun jadi heran. Bayu pun menyusul berbaring di samping Ari.
()()
Mita memeluk Bella dengan erat. "Kok bisa sampe kek gini sih?" Mita menoleh lagi kebelakang. Bella merasa mita yang agak aneh pun langsung membawanya masuk.
"Ceritaiin, ceritaaiin ke gue?" kini keduanya sudah berbaring di atas kasur. dan Bella malah minta kejadian apa yang membuat sang sahabatnya itu sampai nginep dirumahnya.
"Udah, deh gue capek besok aja!" Mita menutupi wajahnya dengan selimutnya, dan membelakangi Bella.
"Bella pun mengerti maksut Mita. ia pun langsung mematikan lampu dan mulai ikut tidur di samping Mita.
__ADS_1