Brother And Love

Brother And Love
bab97


__ADS_3

Deni yang tau apa yang terjadi dengan Bayu dan Ari langsung gas menuju rumahnya Eka.


"Berita terbaru nih!" Batinya yang sudah tak sabaran dengan reaksinya Eka nantinya.


"Sial!" Umat Deni saat mengetahui jika ban motornya bocor.


"Kenapa harus sekarang sih?" Tanya Deni yang berubah menjadi kesal dan malas.


"Mana jauh lagi tempel ban lagi, masa ia gue dorong, Gak ah ntar gue kurus pula kan gak seru ceritanya!" Ujar Deni yang memilih mendorong motornya.


Sekitar jam lima sore, Deni baru sampai di depan rumahnya Eka. "Kok sepi ya, apa Eka lagi gak di rumah?" Tanya Deni dengan sendirinya. Ia berkali kali mengklakson motornya agar Eka keluar dari rumahnya.


Bruk.. bruk.. bruk..


Sontak saja dengan jatuhnya kulit kuaci dari dari atas membuatnya langsung melihat ke atas. "berisik banget lo Den!" Ucap Eka dengan mata merahnya. "Lontong lo, gue dari tadi nelpon lo gak di angkat, gue chat gak di balas, rupanya lo tidiran di...


Deni langsung mencagak motornya dan menaiki tangga satu persatu. Hingga matanya tertuju pada Eka yang sedang menguap karna masih ngantuk. "Tumben lo kemari, mau numpang tidur lagi lo?" Tanya Eka dengan senyum sipitnya.


"Lontong lo Ka!" Ucap Deni yang kebawa emosi. "Bawak santai, harusnya gue yang emosi karena ganggu gue yang lagi enek enekan mimpi, eh malah di kegetin sama klakson motor lo!" Eka melemparkan bantal ke wajah Deni.


"Gue ada informasi penting mau dengar gak?" Tanya Deni sok nawar. Eka yang memang masih ngantuk hanya mengangguk kecil. Kini giliran Eka yang mendapatkan lemparan bantal oleh Deni. "Mata lo udah sipit, tambah tidur lagi, apa gak mangkin sipit nanyinya!" Ujar Deni dengan wajah sok peduli nya.


"Mau gimana lagi udah bawaan dari pembuatanya ini, tapi gini gini jauh banget sama model punya lo!" Ujar Eka dengan senyum nyindirnya. "Ya lah cina balengkokong!" Ucap Deni dengan tangan yange mengambil bungkus kuaci di samping Eka.


"Enek aja lo katain gue cina balolengkong punya marga ya gue!" Ujar Eka tak terima.


"Salahnya gue gak tanya lo marga apa!" Jawab Deni dengan gaya sok tak peduli.


"Lontong lo, kulit semua!" Deni meletakan kembali kuaci yang tadi ia ambil ke sampingnya Eka. Sedang Eka yang sedari tadi menahan tawa kini ia tertawa dengan keras. Bahkan rasa kantuk nya tak dapat ia rasakan lagi.


....

__ADS_1


"Jangan bilang lo gak selera!" Ujar Bella yang kini tinggal sedikit lagi makanan di piringnya.


Mita hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Bella barusan. "Selera, tapi gigi gue males ngunyah!" Ucap Mita dengan senyum kecil.


"Mau gue kuyah kan biar lo selera?" Tanya Bella dengan gaya sok iyanya


"Boleh juga!" Ujar Mita dengan memberikan makannya ke hadapan Bella. Melihat itu, membuat Bella menjadi tersenyum kecil, saat ingin mengambil dari tangannya Mita sudah di tarik kembali oleh Mita.


"Nah.. lo makan aja deh, gue kebelet!" Ujar Mita yang berjalan copat ke arah belakang.


Selang kepergian Mita, Bella membuka tasnya dan mengeluarkan ponsel yang ia senyapkan sejak tadi. terdengar helaan nafas dari mulutnya yang baru saja penuh dengan makanan itu.


Ia meletakkan ponselnya kembali dengan menelungkup posisi ponselnya. Ia duduk manis dengan manis sambil menikmati makanan Mita dan sesekali menyeruput es di hadapannya. saat ini pikiran sedang kosong, matanya lurus le depen, dengan mulut yang tak henti mengunyah


Mita berjalan dengan cepat, tepat saat berada di depannya Bella ia sempat terdiam dengan memandangi Bella yang tampak sedang memiliki masalah yang ia sembunyikan.


"Bella... bel.. bella!" Sampai panggilan yang ketiga kali Bella barulah menoleh ke arah Mita.


"Gak ada masalah apa apa, gak usah banyak mikir Mita, tenang aja kalo gue ada masalah lo orang pertama yang bakal tau nantinya!" Ujr Bella dengan senyum lebarnya. Mita yang percaya pun hanya membalas senyum Bella.


...


Pagi sekali, Mita sudah duduk dengam manis di kursi nya. Ia duduk dengan posisi tegak kelihatan jika sedang membaca buku.


"Pagi Mita.!!!" Sapa seorang cowok yang berdiri di ambang pintu kelasnya. Ia mengoyang goyangan makanan di menyeimbangi telinganya. Mita mengerutkan dahi, "Ayo gue bawa sarapan buat lo, kita sarapan bareng!" Ujar Bayu yang kini sedang menarik Mita agar ikut dengannya.


Mita hanya tersenyum kecil, melihat tingkahnya Bayu padanya.


"Ini gue sama Mami yang masak, khusus buat lo!" Ujar Bayu yang menunggu Mita mengambilkan bagian untuknya. "Makasih, sampaikan makasih gue ke Mami ya, dan buat lo juga!" Ujar Mita dengan senyum manis.


Tangannya Bayu terulur untuk mencubit pipi kirinya Mita. "Senyum lo buat gue nyaman dan pengen cibit pipi lo!" Ujar Bayu.

__ADS_1


Tak jauh dari keduanya. Ari mengepalkan kesepuluh jarinya di sertai nafas yang memburu. ia berjalan meninggalkan tempat itu dengan perasaan campur aduk.


Bel istirahat berbunyi, para siswa/i mulai bubar menuju kantin dan kamar mandi. "Lo yakin gak mau keluar?" Tanya Bella yang kini sudah berada di kelasnya Mita.


"Temenin gue ke kamar dulu yuk!" Ajak Mita pada Bella. "Ya udah nanti kita kumpul di tempat biasanya ya, gue sama Amel bakal ke kantin!" Ujar Dira yang sudah di tarik cepat oleh Amel. "Kita luan ya besty," Ujar Amel yang berlari.


Mita memengangi perutnya yang sakit. "Tunggu dulu bel, perut gue sakit banget!" Ujar Mita yang menghentikan kakinya secara mendadak sedang kedua tangannya memegangi perutnya yang mangkin sakit.


"Kita ke uks aja yuk!" Ajak Bella yang sudah menarik tangannya Mita. "Gue rasa gue sengugutan deh bel, soalnya gue lagi dapet!" ujar Mita lagi. "Kita duduk di sana aja deh, nanti kalo udah ilang sakitnya baru ke kamar mandi!" Mita berjalan cepat menuju tempat duduk yang berada di tengah tengah keramaiyan.


Bella yang tau jika Bayu dan Ari akan melakukan balap nanti sore merasa ingin memberitahukanya ke Mita. Namun kerna melihat kondisi Mita saat ini ia berniat memberi tau nanti saja.


Lama Mita dan bella duduk sana, "Gimana masih sakit?" Tanya Bella yang sejujurnya sudah bosan sekali duduk di tempatnya saat ini. "Kita ke kamar mandi dulu ya, baru ke temuin Amel sama Dira!" Ujar Mita yang langsung di rangkul oleh Bella menuju kamar mandi.


Karna bayak siswi yang sedang mengantri di kamar mandi, membuat Mita dan Bella harus menunggu dengan sabar.


Setelah mereka keluar dari kamar mandi, tak lama kemudian terdengar suara bel masuk kelas. Tanpak wajah kesal nya Bella di tambah dengan baju Bella yang basah kerna terkena air kamar mandi. "Ayo!" Ajak Bella dan Mita mengikutinya saja dari belakang.


Wajah Bella bertambah kusut kala tak menemukan keberadaan Amel dan Dira di tempat yang sudah di sepakati.


Taka lama terdengar suara ponsel nya yang berdering. Bella menjauhkan ponsel nya dari telinganya, karna mendengarkan suara di seberang yang tampak sedang marah padanya. sempat terjadi kericuhan di antara Bella dengan sipenelpon namun dengan cepat cepat Bella mematikan ponselnya dan menarik Mita meninggalkan tempatnya saat ini.


Langkah keduanya terhenti kala mendengar perdebatan yang bersumber di dekat kantin.


Karna rasa penasaran di antara keduanya, Mita dan Bella memilih melihat apa yang sedang terjadi.


Keduanya saling tatap dengan heran. terlihat dengan jelas bahwa Klara yang saat ini sedang dipojokan oleh dua orang yang tak asing lagi buat Mita. Langkah Mita semangkin mendekati arah diamana sedang terjadi perdebatan yang hanya berlaku satu lawan saja.


Sesaat Mita teringat kala ia sedang datang di sudutkan oleh Klara dan dua temannya. ada rasa sakit jika mengingat itu, apalagi dirinya yang tak pernah melawan. namun sekarang ia sudah punya dan memegang mental yang kuat, walaupun tak sekuat besi namun setidaknya Mita bisa melawan.


Lamunan Mita tentang masa lalu, di kagetkan saat dengan sengaja Mei menyiram air ke badanya Klara, dapat Mita rasa jika kedua temannya Klara sedang di puncak puncak nya, tampak dari wajah keduanya.

__ADS_1


Bukan hanya itu saja, rambut Klara di jambak kuat oleh Jeni, Mita semangkin maju dengan merapatkan tanganya. Mita yang tak tau menau masalahnya hanya akan melihat apa yang akan mereka lakukan dilanjutkan. Klara yang sudah terduduk dengan matanya yang sudah berair membuat orang orang di sekitar Mita tertawa dan mulai mengosipinya.


__ADS_2