Brother And Love

Brother And Love
bab88- beda..


__ADS_3

Mita yang saat ini sedang berada di belakang sekolah, ia sedang menunggu Ari, lama ia menunggu dan kini mulai terdengar suara langka kaki yang terdengar seakan sedang berlari.


"Makasih!" Ujar Mita saat mendapatkan sebotol minuman yang di berikan oleh Ari. "beda," Ari tersenyum kecil dan ikut duduk di sampingnya Mita. "Lebih bagus yang mana?" Tanya Mita sambil sedikit bergaya di samping nya Ari. Ari sampai tersedak ketika melihat tingkah nya Mita yang seakan sedang akan di pose. "Pelan pelan, gak bakal Mita minum minuman kakak," Mita menepuk pundaknya Ari dengan pelan.


Ari tersenyum kecil, matanya tak berkedip saat melihat Mita yang memeng berubah drastis. "Lo lebih keliatan kalo begini, gak bagus, tapi gue suka," Pungkas Ari sambil mengelus puncak kepala Mita. Mita terkekeh kecil, saat mendengar ucapan Ari. "Emang Mita selama ini, Mita gak keliatan apa, apa yang kurang bagus?" Tanya Mita dengan ekspresi lucunya.


"Makan dulu!" Ujar Ari dan memberikan sesendok nasi ke depan mulut nya Mita. "Biar sendiri aja kak!" Tolak Mita namun Ari tetap saja menyuapinya. Lelah berdebat akhirnya Mita pun menuruti kemauan Ari.


"Kemarin kenapa gak masuk?" Tanya Ari yang masih mengapai Mita. "Lagi gak enek badan kak, jadi gak masuk!" Pangkas Mita dan mendapatkan anggukan kepala dari Ari. "Kakak sendiri gimana? Tanya Mita. Ari menghentikan tangannya yang akan menyuapi Mita. Saat ini arah pembicaraan Mita beralih ke orang yang Ari sukai.


"Belum gue kasih tau, belum saatnya!" Jawab Ari dengan senyum simpul. "Lah kenapa kak, bukanya kalau di kasih tau buat perasaan kita lega. kalau masalah di terima atau enggak itu masalah selanjutnya yang terpenting kita usaha aja dulu," Ujar Mita sedikit memberikan masukan. Jauh di dalam perasaannya, Mita sendiri merasa tersentil saat darinya memberikan saran ke Ari, padalah dia baru saja merasakan patah hati sebelum mengungkapkan perasaan ke orang yang ia suka.


"Itu, nanti gue pikirkan, tapi sekarang dia udah berubah!" Ujar Ari lagi. Mita menaikkan sebelah alis. "Berubah gimana emang kak?" Tanya Mita bingung. "Berubah menjadi seorang yang lebih terlihat dari sebelumnya!" Jawab Ari sambil tertawa. "Aneh ya, kok mirip kata yang kak Ari bilang ke Mita tadi ya?" Tanya Mita pelan.


"Bentar kak," Mita berjalan sedikit menjauh dari Ari. ia saat ini sedang mengangkat telepon dari Dira.


_Lo dimana?


^^^_Di belakang sekolah, napa?^^^


_Lo sama Ari?

__ADS_1


tanya Dira lagi, bukannya


menjawab malah bertanya.


^^^_Iya, gu..^^^


_Cepet ke kelas deh, ada


yang mau gue ceritain


Tanpa ada persetujuan dari Mita Dira langsung mematikan ponselnya secara sepihak.


Mita menggeleng kan kepala nya, "Gue mau ngomong di sambar luan, gue belum mau matikan di tutup luan, suka suka lo aja emang!" Ujar Mita dan memasukan ponsel nya di dalam kantung rok.


"Kenapa?" Tanya nya yang saat ini sudah berada di sampingnya Mita. Mita hanya menggeleng kan kepala. Tak lama terdengar suara bel masuk.


'Balik luan ya kak!" Ujar Mita yang sudah berjalan menjauhi Ari. Ia mengelap air matanya yang keluar akibat merokok menangis. "Gue jadi keringat waktu gue nagis di dalam kamar mandi, memalukan dan terkesan menyakitkan!" Ujar Mita rilih. dadanya sesak lagi, masih sama seperti yang terakhir kali, namun bedanya, saat ini ia tak melihatkam kesedihannya, melalui buliran bening air mata ia cukup merasakan sakit di dalam sana, walaupun tak terlihat dan terluka namun sesak di hati masih terasa.


Langkah kaki Ari berjalan cepat, ia bahkan mendahului Mita. sesaat setelah mendahului Mita ia berbalik. "Gue tunggu di parkiran," Ujar Ari dan kembali menjalankan kakinya. Mita yang memang tak mendengar kan ucapan Ari hanya melihat nya dangan heran. "Ngomong apaan sih, gue kok gak dengar!" Ujar Mita dan dikagetkan oleh Dira.


"Lama banget sih lo, mana dah bel lagi" Protes Dira dan langsung menarik Mita menuju kelas.

__ADS_1


Di kelas. "Lo bawak tugas yang sebangku itu gak?" Tanya Dira saat sudah duduk di kursi nya.


Mita tak langsung menjawab ia melihat Dira sekilas lalu dengan segera memeriksa tak miliknya. "Dir.. ketinggalan deh!" Ujar Mita saat sudah berulang kali memeriksa tas dan laci miliknya, Mita merasa bingung karena setelah satu les selesai, maka tugas yang tak ia bawa ini akan di kumpul. "Cemana dong, tadi gue liat kelas sebelah yang gak ngerjain di suruh jalan jongkok mengelilingi seisi kelad dan terakhir di jemput di tiang bendera, gue gak mau ah, yang ada muka gue nanti di taro di mana!" Ucap Dira dengan wajah yang sudah mengambek.


Mita tak mendengar kan ucapan Dira tadi tangan nya terampil mencari kontak Pak Dede, agar menjemput nya.


"Ayo, kita izin dulu sama Buk Noni, dan guru piket!" Ujar Mita yang menarik tangan Dira ke luar kelas. "Gue guru piket, lo Buk Noni aja deh, gue gak akrab soalnya, takut gak di kasih!" Ujar Dira dan kini keduanya berpisah arah sesuai dengan tujuan masing masing.


"Lama lagi gak nih?" Tanya Dira saat mereka baru saja tiba di depen gerbang. "Ya elah Dir, kita disini baru aja, lo kagak usah gelisah gitu deh, tenang aja!" Ujar Mita. Dira melihat Mita lekat. "Mit.. ini benaran lo kan?" Dira memegangi kening nya Mita dan dan turun ke kedua pundak nya. "Apaan sih Dir, ini gue lah, ayuk Pak Dede udah datang tuh!" Ujar Mita dengan menarik tangannya Dira menuju mobil.


Sesampai nya di rumah, Mita dan Dira langsung berlari menuju kamar Mita. Cukup lama mereka mencari, namun tak kunjung ketemu, dimana sih Mit, lo taruh?" Tanya Dira yang sudah duduk di atas kasur sambil mengipas ipas kan wajahnya. "Gue juga bingung Dir, bentar deh gue coba ingat!" Ujar Mita yang kini ikut duduk di sampingnya Dira. "Jadi gimana?" Tanya Dira saat sudah mulai merasa nyaman dengan dirinya. "Ah.. gue ingat," Ujar Mita yang langsung berlari menuju balkon. "Nah ini dia!" Ujar Mita saat menemukan apa yang ia cari.


"Lah disini! tadi gue cari juga kesini rapi kok gue gak liat ya?" Tanya Dira dengan wajah bengong nya. "Udah ah.. ayo balik!" Lagi, Mita menarik tangannya Dira menuju keluar kamar. "Lo lua. deh kemobil ntar gue susul." Ujar Mita yang memutar arah jalanya.


Langkah kakinya Mita terhenti ketika melihat pintu kamar bundanya yang terbuka setengah.


Selama ini pintu itu selalu tertutup rapi, bahkan Mita sendiri di larang untuk masuk ke kamar bunda nya. selama ini Mita menuruti nya saja, bukan hal besar bukan, jika hanya tak masuk kamar bundanay. memang selama ini ia tak merasa penasaran ada hal apa di kamar itu, namun rasa penasaran nya saat ini berada di puncak.


"Lah berarti bunda gak kerja dong!" Ujar Mita dan berjalan mendekati kamar bundanya, dengan rasa penasaran yang tinggi, Mita beranikan untuk melihat seisi kamar bundanya.


Seketika ia menegang di ambang pintu dengan tatapan lurus ke depan. Ia pun mulai masuk ke kedalam dan berjalan ke arah bundanya, dapat di lihat dengan jelas disana, sebuah kertas beberapa lembar yang di bungkus dengan map, terlihat jelas tulisan yang mampu membuatnya sesak. "Kanker!" Ucapnya, air matanya yang dua hari terakhir keluar kembali keluar lagi.

__ADS_1


Ia melangkah kan kakinya mendekati sosok orang yang membuat nya menangis. "Bun.. bundaaa!" Panggil Mita yang langsung memeluk perut Bunda nya dari belakang. "Bunda kenapa? rambut bunda kemana? kenapa gundul? muka bunda kenapa pucat? bunda sakit?" Tanya Mita dan setelah nya tak dapat berbicara lagi karena sudah di isi dengan air matanya. jauh di ujung hatinya, ia sendiri tau apa penyebab semua ini.


__ADS_2