Brother And Love

Brother And Love
bab6- bayu..


__ADS_3

Mita merebahkan badanya di kasur. Sesekali ia tersenyum mengingat pertemuan untuk yang kedua kali dengan cowok itu. Bayu, tepat sekali Bayu. Ia mengambil guling disampingnya dan memeluknya dengan nyaman. Tapi pikirannya terhenti ketika Mita mengingat bahwa ia meminta maaf ke Bayu, dan itu mampu membuat senyum indahnya memudar.



"Bay! Bayy..! woii!" panggil seorang cowok yang yang berkulit sawo matang. yang berulang-ulang memanggil Bayu. Yang sedari tadi hanya diam bembeku.


" apa.." Bayu menjawab dengan sedikit terkejut ketika Deni mendorong bahu dari belakang.


"Melamun mulu. mikirin apa sih!"


" Gimana? Si Ari dah baikan apa belum sama nyokapnya?" bayu mengalihkan pembicaraan.


"Tau, ah! tau sendiri kan Ari gimana orangnya!" keliatannya cowok bersawo matang itu tak tertarik dengan Ar, ia hanya mengangkat kedua bahu berarti tak tau menau dengan Ari.


" Di sisi lain, sekali lagi Mita dikejutkan oleh gedoran pintu dengan keras. Yang mampu membuat kening gadis di atas kasur itu menjadi mengerut, "Siapa sih siang bolong gini cari masalah!" Mita berjalan dengan sedikit sempoyongan karna ia sempat tertidur sebelumnya.


" Sett....


" Dek, hatinya berdetak lebih cepat, mata Mita membulat sempurna dan terngangga leber ketika melihat orang didepanya.


Bruk. "Lo kemana aja gue rindu tau! kok telepon gue gak diangkat? apa lo marah sama gue? atau lo dah lelah bersama gue?" pertanyaan-pertanyaan mulai keluar dari cewek berambut sebagu dihadapan nya.


"Lepasan dulu bel! gu.. gue gak bisa nafas!" cewek itu pun mulai melepaskan pelukanya dari Mita. Mita keheranan ketika cewek didepannya menitikkan butiran bening ke pipi merahnya.


" Loh! kok nangi?" Batin Mita dalam hati. Mita balik memeluk sang sahabatnya balik dengan erat.


"Maaf. bel, gue gak bermaksud menghindar atau nyebenci lo! Gue hanya ingin sendiri aja kemarin, jadi ponsel gue matiin!" ucap Mita sedikit menjelaskan.


"Huh... tiba-tiba Bella mendorong sang sahabatnya ke atas kasur. Mereka saling-pukul memukul dengan bantal dan guling.


" Bruk.." Keduanya membanting tubuhnya masing-masing dengan lemas. Gue minta ma'af, Mita berbicara dengan nada suara yang masih nyos-nyosan. Tanpa menoleh orang dikanannya.


"Bruk.." Dan lagi Bella memukul Mita dengan bantal, Mita beraduh sakit. "hmm..., gue ma'afin tapi lain kali jangan diulangi lagi ya" Bella berbicara sambil tersenyum kikuk.


Mita mengembangkan senyum indahnya ke Bella lalu langsung memukul bella balik dengan guling, dan langsung bangkit dari kasurnya.


——


Di sekolah Mita lebih dahulu sampai di tempat biasa yang ia jadikan tempat pavorit di sekolahnya.


Ketika menerima pesan sebelumnya dari Bella.


* be≈lov


--Lo luan aja ke baskem


ntar gue nyusul beb.

__ADS_1


--Oghey. Bell.


--Ntar gue langsung ke


kantin, dan sedikit lambat


karna buk noni masuk .


-- Iya, gak papa kok.


--Ya sudah gue of luan


ntar ketahuan, gue main ponsel.


--


Mita sedikit mendongangkan kepalanya ke atas. Dengan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan. Senyum indah terukir di pipinya. Serta kedua tangan yang lengket di bangku kanan dan kiri.


"Enaknya ya? nyirup udara segar di sini serasa hidup paling bebes!" Suara yang tak asing siapa lagi kalau bukan jeni. Mita langsung menuju kesumber suara.


Dan memandang mereka dalam pandangan ganjal di hati. " hm..hm.." Mei berdeham, "Gue aus nih! beliin minum dong!" Mei menjatuhkan uang sepuluh ribuan tepat di hadapan Mita.


Mita tak bereaksi, dia diem berharap Bella akan datang lebih cepat. Ia berharap agar ketiga orang didepannya pergi dari hadapannya.


Jeni yang awalnya mengelus-elus rambut ikal itu berhenti mendadak melihat reaksi orang sidepanya. "Oh, sekarang dah mulai nantang ya ke kita?"


Jeni dan Mei berulang kali berbisik ke Klara dan Klara hanya mengangguk paham dan serasa mengiyakan. Kini Klara menyerahkan ponselnya ke Mei. Mei mengambil dengan cepat. Diiringi langkah Klara dengan cepat mengarah ke Mita.


Mita memicingkan wajahnya dan menutupnya dengan telapak tangan. Karna melihat tangan klara terangkat ke udara. Namun sebelum tamparan mulus meluncur di pipi Mita. Tangan Klara dicegah oleh seseorang. "ba...bayu!" Klara bersuara kaget. "Jangan pernah ganggu nih cewek. Kalo sekali lagi gue liat kalian ganggu nih cewek gue yakin kalian pasti paham akibatnya kan?" bayu bersuara dengan tegas dan lantang. dengan tangan yang masih memegang tangan Klara dengan kuat.


"Emang lo siapa? bida-bisanya lo nyatur kita? lagian gue gak ada urusan sama lo!" klara menjawab dengan tak kalah lantang, sambil menunjuk nunjuk muka Bayu.


Bayu menaikkan satu alis tebalnya dan tersenyum miring. Mei membisik ke Klara dan spontan Klara langsung mengerutkan dahi. Antara percaya dan gak.


"Gimana udah tau kan?" dan lagi Bayu membuat Klara kesal.


Klara mencubit perut bayu dengan kuat yang membuat bayu ber—au kesakitan dan langsung melepas tangan Klara.


"Gue gak peduli! dan lo cupu urusan kitai belum selesai!" Itulah kata yang keluar sebelum tiga cewek itu pergi.


Untuk yang kedua kalinya Mita dibantu oleh Bayu. "boleh duduk!" bayu menghilangkan keheningan setelah Klara dan kedua temannya pergi.


"Bo.. boleh kak" Mita sedikit menggeser tempat duduknya. " Jangan panggil kak, panggil nama aja. masih ingat kan nama gue?"


"he'em"


"Disini enak juga ternyata ya, sejuk!" Tanpa disadari dari kejauhan ada seseorang yang memandang mereka berdua dengan tatapan kesal serta marah.

__ADS_1


"makasih" itulah kata yang keluar aarii mulut mungil itu.


Bayu tersenyum. "Itu sih udah kewajiban gue sebagai seorang teman" Bayu bersuara dengan terus memperhatikan Mita.


"Teman? Oh.. apakah telingaku tidak salah dengar" Mita bertanya dengan sendiri.


"Kenapa? lo keberatan ya kalau kita berteman!"


Mita menggeleng dengan cepat.


"Lo kls berapa?"


"Sebelas!" jawab Mita dan pokus tatapan nya ke depan. Bayu menaikkan sebelah alisnya, jawaban yang singkat menurutnya. Bayu hanya ber oh ria mengiakan.


"Ttrett..., permisi gue angkat telpon dulu ya?" ucap Bayu dan mulai menjauh dari Mita.


"he'em" jawab Mita sambil melihat Bayu yang sedikit menjauh darinya.


"apa?" Bayu bersuara malas. Karna temannya itu menelepon disaat seperti ini. Menurutnya ini sangat mengganggu suasana hatinya yang masih penasaran dengan --Mita--.


"Oke, deh gue langsung kesana" Bayu menyudahi panggilan telponnya.


" Gue, balik luan ya! ke kelas ada urusan!" Bayu bersuara dengan lemas sepertinya ada hal mendesak yang menjadi masalah. Hal itu tampak dari raut wajah Bayu.


"Iya. makasih!" ucap Mita disela sela mulai perginya Bayu. Bayu menaikkan sebuah alisnya yang mengartikan untuk apa?


" untuk semua" Jawab Mita diiringi dengan tersenyum.


"gak usah terima kasih! Lo dah berapa kali bilang itu! tapi gue mau tanya. lo mau kan berteman sama gue?" Bayu berbicara dengan nada serius.


Mita hanya mengangguk dan memandang tubuh cowok didepanya dengan tatapan suka.


Sepanjang jalan menuju gerbang. Mita hanya melihat Bella dengan tatapan lucu. ingin mengejek tapi mungkin bella akan semangkin kesel jadinya.


"Gue. ah..!" Bella terlihat kesal sekali. "Pokoknya gue benci banget lah sama si Noni itu! Lo bayangin nih ya. masaknya gue sama amel di hukum berdiri sampai jam istirahat pertama abis. bukan hanya itu, kita dua keliling lapangan 7 putaran. lo bayangkan gimana coba. tujuh, tujuh putaran di bawah terik matahari trus gak dikasih berhenti. ih, gue rasa dia mau bunuh kita dua, kali ya? atau gak dia ada dendam sama kita" ucap Bella sedikit ngasal.


Mita hanya mengelus-elus tangan kiri bella dan berulang kali mengatakan sabar.


"Gak...mit! gue tuh heran aja. dia kira kita tuh apa coba. biasanyakan cuma berdiri doang tapi kali ini kok beda coba?" Dan lagi Bella mengomel menjadi-jadi.


"Emang kalian dua salah apa sampe segitunya?" tanya Mita mulai penasaran.


"Gue- gue lupa kalau ada tugas. amel juga. tapi pas temen-temen lagi ngoreksi tugas, amel cari masalah ke gue. ya lo tau sendiri kan gur sama amel gimana?" Mita menjawab dengan nada sedikit rendah mungkin lelah karana ngomel sepanjang jalanan.


"Oh. pastaslah! ''


"Loh. kok pantas? Buk noni gak suka keributan kan. di kelas gue juga. biasanya dia bakal kasih peringatan sampai dua kali kalau masih ribut ya gitulah jadinya!" Mita menerangkan panjang lebar sambil menunjuk mobil pak de udah menjeput dirinya. "bareng gue aja?" Mita menarik tangan sang sahabatnya itu.

__ADS_1


Kasih Semangat Dong, Biar Mangkin Sering upnya autor..!


__ADS_2