Brother And Love

Brother And Love
bab 80- BAL..


__ADS_3

Bayu terus terusan memandangi jam di pergelangan tanganya, sudah satu jam berlalu ia menunggu di depan rumah Rika, namun tak kunjung ada yang keluar dari rumah tersebut, Awalnya ia pikir tak ada orang di rumah Rika saat ini, karena sejak awal Bayu datang sampai saat ini, hanya lampu depan dan kamar paling atas, yang Bayu anggap dan tau bahwa selama ini kamar itu adalah milik Rika.


Bayu berkali kali turun naik dari atas motor nya ia berkali kali mengetuk pintu rumah nya Rika, tak lupa juga Bayu berkali kali mengirimi pesan maupun melakukan panggilan via telepon.


...Rika💕...


—kenapa gak dia angkat?


—Kenapa gak balas?


—Angkat Rik.. gue udah di depan rumah lo!


" jangan bilang kalo lo lupa lagi malan ini adalah malam harapan gue agar lo datang ke acara makan keluarga gue, bukan hanya bokap dan nyokap gue aja Rik.. tapi oma dan kakek gue juga ada di sana Rik.. gue mohon Rik dan gue berharap Rik.. lo bisa datang untuk yang ketiga kakinya gue ngundang lo, gue gak mau yang ketika ini sama dengan yang kedua dan pertama yang hanya lo abaikan seperti hari berganti bulan dan ketahuan Rik.. gue berharap dengan lo Rik.." Ucap Bayu dalam hati.


Bayu terus terusan memandangi kamar yang yang sejak tadi menyala, dia berharap bahwa Rika melihat nya saat ini, dan akan turut ke bawah untuk pergi di acara makan keluarga nya saat ini.


Sebelum nya, baik Pipi maupun Mami mereka sempat kesal karena Bayu berencana mengajak Rika kekasihnya saat ini, papainya juga merasa geram dengan kekasihnya Bayu, karena sudah yang kedua kalinya seorang gadis yang saat ini menjalin hubungan dengan anaknya tak kunjung datang di acara keluarga nya, bahkan Bayu pun tak jadi ikut karena harus mencari keberadaan Rika


—Harapan gue tinggal di tangan lo Rik malam ini, kalo benar lo gak datang juga malam ini jangan salah kan gue kalo gue bisa memutuskan hubungan kita ini.


Bayu sengaja mengetik panjang lebar pesan yang akan ia kirimkan ke Rika. Matanya terarah ke arah pintu yang saat ini akan di buka. ia sempat tersenyum simpul saat pintu itu sudah terbuka lebar, namun tak terlibat adanya tanda tanda manusia yang akan keluar dari rumah tersebut. Bayu menghentikan langkahnya saat melihat wajah Art nya Rika membawa sekantung plastik sampah.


"Eh..'' Ucapnya dengan mengelus elus dadanya. "Bibik kira tadi hantu rupanya den Bayu," Ucapnya dengan senyum ramah.

__ADS_1


"Rika nya ada bik?" Tanya langsung Bayu ke poin awalnya. Tampak Art nya sedang berpikir bibik juga kurang tau den, tapi kayanya gak ada di rumah den, soalnya sedari siang yang aden ajak keluar itua sampe sekarang bibik gak ada liat" Jawabnya dengan mencoba mengingat ingat kembali barang kali ia salah mengingat sesuatu.


"Lampu nya kok dimatiin bik?" Tanya Bayu lagi saat melihat lampu yang mati membuatnya penasaran. "Oh.. iya, itu karena gak ada orang di rumah den.. lagian pesan dari dek Rika gitu ya bibik buat aja, bibik juga awalnya heran dengan pesannya Dek Rika Den, karena hampir tiap hari Dek Rika minta di matiin lampu begini kalo gak ada nyonya dan bapak." Jelasnya lagi.


Bayu mengangguk dan memberikan jalan untuk artnya Rika yang akan membuang sampah, dia memilih duduk di atas motor nya dengan pandangan yang tak lepas dari kamar Rika. sebelumnya Bayu di suruh masuk namun ia menolak. "Gue yakin lo pasti liatin gue di sini Rik! Gue ngerasa lo pasti datang malam ini." Ucap Bayu dengan yakin.


selang beberapa menit kemudian ponsel nya berdering, tanpak sebuah nama wanita yang sangat ia cintai siapa lagi kalau bukan Mami Rosi.


—Iya Mi..


—(...)


Bayu memandangi lantai dua itu dengan geram ingin sekali ia memastikan kalau Rika itu ada di dalam kamarnya. tak lama kemudian pun ia mulai menghidupkan motor nya dan membawa nya dengan kelajuan cepat.


Ia juga menyuruh artnya agar mengatakan jika dia tak ada di rumah, agar Bayu pulang, namun tak sesuai dengan kenyataan, ternyata Bayu menunggu lama di sini, dan terlihat bahwa Bayu terus menatap ke arah kamarnya.



Di lain tempat, Mita yang saat ini baru saja meletakkan pantatnya di kursi kini harus kembali berdiri lagi. karena panggilan seorang pelanggan nya. Mita berjalan tanpa menoleh ke arah orang yang tadi memanggil nya.


"Mau pesan apa ka_" mata Mita tak berkedip ketika menyadari tiga orang yang dulu sering kali mengganggu hidupmu nya, dia adalah Klara, Mei, dan Jeni. Mereka juga sama tak berkedip sama sekali, kecuali dengan Klara ia tanpak bersikap biasa biasa saja.


Jeni dan Mei tertawa melihat pelayan yang mendatangai mereka dan lihat saat ini. "Oh.. ternyata lo pelayan di sini, bagus deh cocok dengan dengan badan dan muka lo, muka pelayan." Ejak Mai dengan senyum miring.

__ADS_1


"Seberapa miskin nya sih lo, sampe pakai baju pelayan beginian, pasti leleh ya? pulang sekolah langsung ke sini aduh cesian deh.. " Ejek Jeni dengan wajah mengejek nya sambil mengedip kan mata penuh mengejek.


"Bukan miskin Jen.. tapi kekurangan duit buat mengobati matanya, liat tuh," Ucap Mai dengan menunjuk matanya Mita. Mata Mita saat ini terlibat merah, merah bukan karena sakit, namun karena tadi siang abis di periksa sama doktor Alvin. berhubung ini adalah pemeriksaan terakhir mata Mita dan penyebab efek samping nya dari obat yang Mita makan menyebabkan matanya memerah.


"Berisik," Sambung Klara dengan wajah kesal nya, ia mengubah posisi duduk nya dengan menghadap ke arah Mita.


"Mata lo kenapa?" Tanya nya dengan wajah serius. "Kla! Lo kanapa?" Tanya Jeni mulai gedek dengan tingkah sok baiknya Klara dengan Mita.


"Gue? Kenapa emang?" Tanya nya balik. Kedua temannya Klara menepuk kening bersamaan, "Berhubung lo pelayan di sini, mesti ngerti kan tugas lo apa?" Tanya Jeni dengan memiliki maksud khusus di dalam hatinya.


"Iya, gue tau!" Jawab Mita dengan ekspresi datar. "Bersihan dong tas gue?" Pinta Jeni dengan senyum licik di bibirnya. "Sekalian nih sepatu gue?" Sambung Mei dengan senyum miring ke arah Mita.


Mita yang sedari tadi diam merasa bosan juga meladeni dua temannya Klara. "Gue bukan pelayan yang melayani hal semacam gini, tugas gue di sini juga bukan hal seperti ini, gue cukup melayani para pelanggan dengan memberikan minuman, dan makanan sereta menulis apa saja yang di pesan dengan para pelanggan. Jika hal seperti ini bukan tugas gue!" Jelas Mita yang kini sudah memegangi pulpen dan buku kecil ingin mencatat apa yang akan di pesan tiga orang di depan nya saat ini.


"Gue Oreo Float aja satu!" Pinta Klara dengan kembali memainkan ponsel nya. lagi lagi kedua temannya Klara menatap kesal dengan tingkah Klara.


Mei memberikan kode ke arah Jeni dan dengan cepat ia mengangguk mengerti, "Lo mau gue lapor kan ke atasan lo, karena cara lo yang gak ada baiknya dalam melayani pelanggan di cafe ini?" Ancam Jeni dengan senyum kemenangan.


"Udah lah.. kalian dua ini kenapa sih? Mending cepetan mesan, dari pada ngoceh gak jelas gini," Ucap Klara dengan polisi yang masih pokus ke ponsel.


"Silahkan, silahkan lapar kan aja apa salah gue saat ini, gue gak takut dan gak keberatan kalo itu merupakan maslah kalian." Ucap Mita dengan yakin. Jika dulu ia tak berani menjawab dan membantah, tapi saat ini ia sudah yakin dan bisa sedikit melawan orang di depannya saat ini.


Mendengar itu keduanya saling pandang, meraka merasa salah sasaran untuk saat ini, "Oke.. gue bakal laporin dan gue pastiin kalo lo bakal keluar dari tempat dan pekerjaan lo saat ini," Ucap Jeni dengan senyum simpul dan sudah berdiri dari duduknya. "Gue gak sabar ngeliat lo bakal di usir dengan cara kerja lo yang gak becus ini," Timbal Mai ikut ikutan menyambung. Sesaat kemudian Mai mendapatkan sorot mata tajam dari Klara.

__ADS_1


__ADS_2