Brother And Love

Brother And Love
bab 31-what


__ADS_3

***


Ceklek..


Semua mata menuju ke arah pintu, tampak seorang wanita yang melepaskan kaca matanya, dan memandang Anwar dengan tatapan serius.


"Apakah anda walinya?" tanya nya, dan dengan cepat Anwar mengganguk mengiyakan. "bisa kita bicara?" Pinta nya.


"Pasti!" jawab Anwar cepat, Tante Diva juga mengikut arah dokter yang membawanya ke ruangan nya. "sebelum nya saya minta maaf, atas kecelakaan anak bapak dan ibuk, berhubung saya yang menabrak dan saya yang bersalah, saya akan usahain semaksimal mungkin." Sesalnya dengan tatapan serius.


"Itu gak masalah, bagaimana kondisi anak saya?" tanya Anwar tak sabar.


dokter wanita itu tampak menghembuskan nafas berat, "sebelum nya saya mau bertanya apakah ini bukan kecelakaan yang pertama kalinya?" dokter itu bertanya dengan ragu-ragu namun ia ucapkan juga.


Di jawab dengan anggukan keduanya, "Dia mengalami kecelakaan sekirar 9 tahun lalu, diusianya yang masih di bilang anak kecil, dia mengalami gangguan dalam otaknya yang berpengaruh di ingatan nya." Jelas Anwar.


"Maaf saya menanyakan itu. tapi anak bapak mengalami pendarahan otak yang mengakibatkan Anak Bapak kembali menghilang kan ingatan nya. sejujurnya ini aneh, seharusnya ingatan nya kembali ke masa lalu, tapi malah kembali melupakan masa lalu," Dokter wanita itu memberikan sebuah cek disitu terlihat hasil ronsen kepala Ari.


"Dulu sekitar lima bulan setelah kecelakaan ingatanya kembali, namun hanya mengenal beberapa orang saja. dia cukup lama untuk berinteraksi dengan saya."


"Bagaimana dengan yang lainnya apakah ada yang cedera? tanya ayah Ari dengan tatapan khawatir yang tak hilang sejak sejak tadi.


" Hanya luka ringan di lengan kanan dan kaki kanan." Mereka mengganguk lega mendengar penjelasan sang dokter. "tapi kondisi saat ini, mohon jangan terlalu menggagu keadaan atau berusaha untuk mengingat kan, akan lebih baik jika perlahan," dokter itu menambahkan.


Ayah Ari menggangguk mengerti. "sebagai rasa tanggung jawab masalah rumah sakit biar saya yang ur_" kata kata dokter itu terputus ketika Ayah Ari langsung memotong perkataan sang dokter. "saya sudah banyak berterima kasih atas hal yang dokter lakukan, kepada anak saya, saya bersyukur karena yang menabrak juga bertanggung jawab. tapi masalah rumah sakit saya keberatan."


Dokter itu sedikit menikkan alis, bertanda bingung. "saya ingin dokter lebih mempokuskan kepada anak saya." Jelasnya lagi.


Ceklek..

__ADS_1


Suara pintu terbuka membuat semua mata menuju ke arah pintu yang baru saja dikeluari dokter tadi dan di susul oleh dua orang di belakangnya gak lain Diva dan Anwar.


Ayah Ari sempat berdiam diri di ambang pintu, untung Tante Diva membuyarkan kediamannya. semua menunggu kabar Ari, mereka menunggu Ayah Ari berbicara.


"Benturan di otaknya membuat dia Amnesia."


kini semua orang saling pandang, untuk kedua kalinya seorang Ari amnesia? sungguh aneh dan terdengar menarik..



Betul aja yang di bilang Dira kalo dia tidur emang lasak. Mita meregangkan ototnya yak terasa pegal pegal karana berkali kali di tunjang Dira.


Bella yang berhias diri di depan kaca hanya geleng geleng melihat Mita yang sejak tadi terus terusan menguap, padahal sudah mandi. Bella tau itu pasti karena Dira. lain hal dengan Dira, dia yang sudah selesai dari kamar mandi terlihat sangat bersemangat.


"woi, cepetan gue belum selesai tugas ntar keburu masuk." Amel lebih duluan siap dia memilih menunggu di mobil.


Dira tertawa kecil melihat Mita yang berjalan berjalan dengan malas menuju pintu. "ngapain lo ngetawain!" Bella sengaja menabrak bahu kiri dira dan mendahului nya. ih.. gue kan dah bilang gue tidur lasak. tapi gue juga gak bisa tidur sendiri an.


cekrek.. cekrek.. tah sudah berapa gaya yang ditirukan kedua orang di kursi belakang.


"lebai lo dua, macam kaga pernah aja naik mobil." sosor Bella melihat dua sejoli yang masih sibuk dengan selpi di jok belakang.


"Emang, kita kan jarang naik mobil ya gak dir?" "bener, jadi wajib banget ntar di posting." jawab Dira sambil mengotak atik ponsel yang tak lepas dari senyumnya.


"Napa lo dir, senyam senyum gak jelas!" tanya amel curiga. tapi seketika Dira menutup mulut gak percaya. Bella yang memperhatikan dari kaca mobil menjadi heran dengan tingkah Dira.


Dira memandangi bergantian temannya, "a-ab -abang nya Prans tadi malam kecelakaan." Bella dan Amel hanya melihat tingkah Dira, "ya si prans gak kecelakaan kan?" tanya Bella.


"e-engak sih! tapi masalah nya, si Ari lo babang ganteng Ari," Dira menekankan kata terakhir nya.

__ADS_1


Mereka tampak diam, "Ari geng boy four!" tanya Amel lantang, dan di jawab dengan anggukan Dira. "what " Amel merasa gak percaya ia langsung menutup mulut dengan ponselnya. "jadi mereka saudara?" Bella juga gak percaya dengan perkataan Amel barusan. dan sama diangguki oleh Dira. "its.. lo gak boleh bilang babang Ari ntar dia dateng di mimpi lo karena belum di restuin jadian sama Prans." kekeh Amel, "lagian Prans bisa cemburu kalo lo manggil begituan, harusnya babang Ari adek disini, yang tabah ya menerima cobaan ini." "puk.." Dira menepuk dahi Amel pelan. "Emang gue jadian sama prans tapi panggilan babang gak akan tergantikan dari babang Ari." Bella hanya nyengir melihat Dira yang menyebut Ari dengan sebutan babang.


"Bel.." panggil Amel dan Dira berbarengan. karana terlalu kebawa cerita, Bella hampir saja menabrak motor di depan mereka.. mereka mendadak maju ke depan. Mita yang ketiduran pun langsung linglung melihat Bella di sampingnya.


"Hehe.. maaf" Bella tersenyum kikuk. "untung lo ngerem nya cepat bel, kalo gak bisa mendadak gempar nih." keluh Amel. "dengan caption kelabrak dadakan di parkiran." jawab Dira, "sengek lo dadakan peang," Amel menoyor kepala Dira palan. "bayaran yang tadi tuh!" jawab Amel lalu keluar dari mobil.


"Awas lo Amel." kesel Dira lalu beranjak dari duduknya di ikuti Bella, Mita yang masih ngantuk belum juga beranjak dari duduknya. sampai kaget tiba-tiba aja Bella mengetuk kaca mobilnya. "Mit.. cepetan udah bel dari tadi, gue sampai berlumut nunggu lo disini."


Mita yang berkali kali meletakkan kepalanya dimeja, terus terusan kena senggol dari Dira. "Mit.. bangun liat tuh lo di liatin dari tadi."


"gue gak tahan Dir." jawaban Mita membuat Dira semangkin kesal. Mita meletakkan kepalanya lagi dimeja, baru saya memejamkan mata ia sudah mendapat jeweran.


"bentar lagi Dir, masih ngantuk." jeweran mangkin kuat, Mita pun mendongak kan kepalanya. "b-buk.." jawab Mita terbata. "bangkit, cuci muka sana, masih pelajaran pertama kok dah ngantuk!" Mita mengngguk, lalu berjalan keluar kelas.


"Ih, kak Ari kok bisa kecelakaan sih, gak semangat gue kesekolah.."


"Iya, gak ada pembersih mata jadinya.."


"Gue sih, cuma berdoa semoga si ganteng cepat sembuh sadar dan masuk sekolah.. lalu di aminin oleh ketiga nya.


tiga siswi itu terus terusan berkoceh tentang kecelakaan Ari. Mita yang mendengar hanya geleng kepala pusing, dia sama sekali gak tau sama sosok cowok yang tadi mereka kocehkan.



Ayah Ari masih setia menunggu bersama Bayu. Prans pulang bersama mamanya pagi tadi meraka akan berganti jaga menunggu Ari setelah membersihkan diri di rumah . sedangkan kedua teman Bayu dan mamanya pulang sejak malam tadi. Eka dan Deni akan kemari selesai pulang sekolah.


Bayu memberikan dua nasi bungkus yang ia beli diluar tadi, setelah mendengar cerita dari Om Anwar Bayu sempat salah menilai Om Anwar, selama ini yang dia tau Om Anwar itu orang nya lebih mementingkan pekerjaan nya, di banding Ari, dan memaksakan ogonya sendiri. menekankan agar Ari belajar dengan kesungguhan. tapi yang dilakukan Om Anwar ke Ari itu juga demi kebaikannya, Om Anwar bukannya gak sayang atau peduli tapi itu lah cara dia mendidik Ari.


"makan dulu Om. biar Bayu gantian yang jagain Ari" tampak wajah yang susah diartikan dari wajah orang tua didepannya.

__ADS_1


"Ari pasti bisa kok Om menerima ini semua, Om yang tabah ya." Ucap Bayu seakan menenangkan Anwar.


__ADS_2