
Tak terasa lima hari sudah berlalu dengan cepat, Mita berjalan cepat dengan gaya tergesa gesa. langkah kalinya memelam kala melihat padatnya tempat yang akan di masukainya nantinya. "Padet banget, Kak Ari di mana lagi, gak nampak sama sekali!" Ucap Mita dengan rasa panas. "Gue merasa gak yakin deh, ini beneran alamatnya, biasanya dia paling gak suka keramaian, apa lagi tempat begini!" Ujar Mita lagi.
Ya keramarin sore Ari mengajaknya untuk bertemu di sebuah cafe yang terbilang sangat ramai, bahkan menurutnya ini tempat jauh lebih ramai dari Cafenya. Di lihat nya ada pesan masuk yang baru saja masuk keponselnya.
_"Lo dimana?"
sebuah pesan yang membuat Mita menjadi menghentikan langkah kakinya. Lala mengambil ponselnya di dalam tas.
Tangan mungil nya terulur dengan manis untuk mengetik susuatu di ponsel nya. ia membalas pesan Ari dengan cepat.
^^^_"depan cafe Kak!"^^^
Seteleh membalas, Mitamenyimpan ponselya ke dalam tas
mininya.
Mita masuk dengan keadaan celingak celinguk karna mencari keberadaan Ari, ia tersenyum manis saat melihat beberapa orang menendang kearahnya, "Mereka kok seram banget sih liatnya, kaya liat psikopat aja!" Ujar Mita dengan terus berjalan.
"Hai Mbak, dengan Mbak Mita ya?" Tanya seorang pelayan wanita dengan nada sopan.
Mita tersenyum kecil melihat orang yang menyapanya barusan. "Iya Kak, ada apa?" Tanya Mita balik
"Ikut saya Mbak!" Ujarnya dengan berjalan mendahului Mita. Mita masih diam di tempat melihat orang yang tadi mengajaknya. Pelayan itu berbalik badan dan berjalan menghampiri Mita yang masih diam di tempat.
"Mas Ari lagi nunggu di ruang dua Mbak, biar saya antar ke atas ya Mbak, soalnya saya di suruh mengatar Mbak ke atas!" Ucap nya lagi.
Dengan terpaksa akhirnya Mita pun mengikuti arah pelayan yang membawa nya ke atas. "Mau ngajak ketemuan kenapa harus pake muter muter segala sih jalanya!" Ujar Mita dengan ekspresi kesal. "Mbak lama lagi gak si?" Tanya Mita dengan menahan haus. Jujur saja ia merasa haus karna tak ada minum sejak tadi, apalagi ia dari rumah ke tempat ini dengan terburu buru, hal ini membuatnya leleh dan haus.
"Dah sampai kok mbak!" Ucapnya dan meninggalkan Mita begitu saja.
Mita berjalan pelan memasuki ruangan yang terlihat sunyi itu. matanya Mita menatap orang yang duduk di bagian tengah namun di paling pinggir. Mita tersenyum kala Ari melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Lama ya kak nunggunya?" Tanya Mita dengan meletakkan tasnya di atas meja. lalu langsung duduk di depen Ari.
"Lumayan, sekitar satu jam!" Jawab Ari dengan melihat jam di tangan nya sekilas. Lalu kembali melihat ke arah Mita.
Mita menyingkirkan rambutnya yang sedikit berantakan, tanganya meraba raba seisi tas, ia sedang mencarai dimana keberadaan ikat rambutnya. setelah selesai mengikat rambutnya dengan rapih, Mita membenarkan posisi duduknya agar terasa nyaman.
...
Sejujurnya Ari merasa tegang saat ini, ia sedang merancang bagimana caranya ia mengatakan apa yang ia simpan selama ini. Lama ia menyusun dengan kata kata indah serta ucapan manis yang nantinya akan bagus didengar.
Saat ia menatap ke arah jendela. Tak sengaja ia melihat Mita yang datang dengan terburu buru.
Ia pun tersenyum kecil melihat wajahnya Mita dari sini. Ari pun berinisyatip mengirimi pesan untuk Mita, tak perlu waktu lama pesan nya pun di balas. Matanya terus saja memantau keberadaan Mita dari atas. Ia merasa senang dan juga tegang karna bentar lagi, Mita akan berada di hadapannya.
Matanya tertuju pada sosok cewek yang sedang sedari tadi di pikirkan olehnya. Ari tersenyum kecil melihat nya begitu juga dengan yang dilihatnya.
Matanya Ari tak lepas dari gerek gerik Mita di depannya. Mita berdeham dengan tangan tangan di lipat di atas meja. "Jangan serius banget Kak liantnya, ntar suka lagi sama Mita!" Mita berucap dengan candaan.
"Apa gue lo anggap bercanda?" Tanya Ari dengan tatapan serius nya. Hal ini membuat Mita menjadi diam. Benar apa yang di ucapkan Ari di depannya. Jika Ari sedang bercanda, ia tak pernah mengatakan kata suka, dan Mita juga merasa Ari itu tipekal cowok yang sulit untuk di ajak bercanda.
"Gue suka dan sayang sama lo Mita, gue berharap lo bisa mengerti dan memahami apa yang gue maksud dari ucapan gue ini, gue harap lo juga memiliki tujuan yang sama dengan gue!" Ujar Ari dengan ekspresi datarnya.
Mita masih diam tanpa ada niat akan menjawab. ia menghela nafas seraya menundukkan kepalanya.
"Gue sayang sama lo Mita, lo orang pertama yang buat gue berubah, lo orang pertama yang buat gue jatuh cinta, gue rasa kita memiliki rasa yang sama, gue cinta sama lo Mita, kita sejalan dan satu tujuan!" Ucap Ari lagi.
Mita menatap Ari di depannya dengan muka tak kalah tajam.
"Rasa suka Kakak ke Mita itu beda kak, Rasa sayang nya ke kakak bahkan melebihi kata cinta itu, Mita juga kak, Mita juga memiliki rasa yang sama dengan kakak, namun itu hanya rasa sayang antara... kita, itu bukan cinta yang berakhir dengan status yang bisa di bilang dengan jodoh, kita bisa bersama kak, kita bisa saling menyukai, kita juga bisa saling memiliki, dan juga kita sejalan kak. namun tidak satu tujuan... " Mita berucap di akhir dengan suara pelan.
"Namun makna dari semuanya itu beda jauh dengan cinta yang ada di pikiran kakak. Kita itu sama kak. Mita berucap dengan suara tertahan.
__ADS_1
"Cinta, dan sayang kakak hanya cinta dan sayang terhadap seorang adik kandungmu ini kak, bukan cinta yang bisa menjadi penopang hidupmu !" Ucap Mita dalam hati.
Matanya Ari tak luput dari wajahnya Mita. "Apa yang lo pikir Mita, jika kita saling suka saling sayang, tapi kenapa sikap dan jawaban lo..
Seandainya, yang saat ini mengucapkan itu adalah Bayu, mungkin Mita bakal senang dan bahagia rasanya. tapi situasi saat ini berbeda, yang mengatakan nya adalah Kakak Mita sendiri, ini hal yang sulit kak buat Mita, dan Mita yakin kakak bisa mengerti nantinya.
"Mita angkat telepon dulu ya kak!" Pamit Mita yang langsung meninggalkan Ari di tempatnya.
Tak lama panggilan telepon pun berakhir, yak Matanya Mita mulai mengeluarkan air di pelopak matanya, nafasnya memburu, ia merasa bersalah karna tak ada si didekat Bundanya saat seperti ini. setelah merasa sedikit tenang, Mita berjalan ke arah Ari berada.
Tanpa berucap sama sekali, Mita pergi begitu saja dengan langkah yang capat.
Ari memandangi kepergian Mita dengan rasa campur aduk, apa sebegitu gak sukanya lo sama gue, sampai bisa lupa kalo lo pergi tanpa berucap selamat tinggal ke gue!" Ucap Ari yang menghela nafas dengan tatapan lurus ke depan
...
Tap..
Tap..
Suara langkah kakinya Mita terdengar jelas di sebuah ruangan yang tampak tengang. "Bunda gimana pak?" Tanya Mita dengan ekspresi penuh dengan kekhawatiran.
Pak dede malah melihat ke arah istrinya. Bik susi berjalan mendekati Mita dan mengajaknya duduk di tempat tunggu. Mita mengikuti saja apa yang di lakukan oleh Bik susi padanya.
"Masih dalam kondisi pemeriksaan Non, bentar lagi kita bisa dengar sama sama ya!" Ujar Bik susi yang tau wajahnya Mita. "Kok bisa, kok bisa tiba tiba bik?" Tanya Mita dengan wajah yang tak bisa di bilang biasa biasa saja.
"Tadi sebelum pigi ke Cafe, Bunda kembali ke kamar non, tapi pas belum sampai di kamar, tiba tiba aja Bunda jatuh non, dan yang bikin bibik takut lagi, wajahnya Bunda pucat banget non," Ujar Bik susi yang menjelaskan panjang lebar.
Mita langsung berdiri kala pintu ruang rawat bundanya di buka. "Bagaimana pak?" Tanya Mita yang tak sabaran.
Dokter Ando, sekaligus ayah dari dokter spesialis Mita dulu itu menghela nafas dengan kasar. "Kamu ikut saya!" Ujarnya dan berjalan mendahului Mita. Melihat kepergian itu, Mita menatap Bik susi dengan penuh rasa bingung.
__ADS_1
"Ayo bik!" Ajak Mita yang langsung menarik tangan artnya itu menuju ruang Dokter Alvin.