Brother And Love

Brother And Love
bab51- Perang(Klara)..


__ADS_3

Mita berdiri di atas balkon kamarnya, dengan segelas susu hangat di depannya, cuaca semangkin malam, begitu juga hujan semangkin lama semangkin deras.


Mata memicing melihat tingkah seorang cowok dengan penampilan acak acakan di tengah guyuran hujan, "Aneh!" ucap Mita tapi masih memperhatikan tingkah laku orang yang ia lihat di depan sana.


"Kak Ari?" Mita mengelap kaca matanya dan memandangi cowok itu, memastikan jika itu Ari atau bukan. "Lagi ada masalah kali ya! sampe segitunya?" Tanya Mita pada dirinya sendiri dan masuk ke dalam kamarnya mengambil jaket kulit miliknya, dan tak lapu mengambil payung di atas lemarinya.


Tap..


Tap..


Suara langkah kaki Mita yang berlari di tangga, "Mau kemana sayang?" Dewi mengeleng melihat Mita yang tak mendengar perkataannya.


"Mau kemana sayang!" Panggil Dewi lagi, yang mengejar Mita yang akan membuka pintu. "Eh.. ! bunda!" Mita mengelus elus dadanya kaget ketika sang Bunda memanggil dengan suara keras.


"Mau keluar bentar bun!" Sebelah mengatakan itu Mita langsung membuka pintu rumahnya, "Nanti aja sayang masih hujan!" peringat sang bunda kepada Mita. "Bentar aja bun..!" Saut nya yang sudah membuka payung dan berlari kecil setelah menutup pagar rumahnya.


"Astaga! masih ujan, gak mau diantar?" jerit Dewi, namun tak ada jawaban. Mita sudah terlalu pergi dan tak mendengar suara Sang Bunda sama sekali karena terhalang hujan yang sangat deras.


"Ngapain coba ujan-ujanan? Penampilan pun dah kaya orang utan, acak acakan!" kesal Mita pada Ari, ketika melihat Ari yang sudah di depannya dengan posisi yang membelakangi nya."


Mita berjalan pelan mendekati Ari.


"Ah..!" Ari mengacak rambutnya prustasi, "Mau lo apa?" Tanya Ari dan langsung membalik ke belakang, karna merasa Mira yang masih mengikutinya sejak tadi.


Mita yang mendapat bentakan dari Ari, langsung gugup ingin menjawab, tapi bukannya menjawab malah meninggikan tanganya yang memegai payung, bermaksud untuk melindungi Ari dari derasnya hujan. "Kok main ujan?"


Pertanyaan yang aneh menutup Ari. Ari menolak dirinya di tutupi oleh payung, "Gue dah terlanjur basah, percuma juga kalo di kasih payung! Lo sendiri ngapain?" Tanya Ari yang melihat Mita dengan ekspresi lucu saat memakai celana tidur bergambar dora emon.


"Kok malah ketawa?" tanya Mita dengan mimik ngengir nya. "Karna gue lo lucu!" Jawab Ari dan memberhentikan tawanya."


Mita mendelik karena tiba-tiba kebelet pipis. ''Kenapa?" Ari bertanya ketika melihat wajah Mita yang seakan menahan sesuatu.

__ADS_1


Mita diam sambil merapatkan kedua pahanya, dengan mimik menahan. "Kenapa? Ari memegang kedua bahu Mita dengan genggaman kuat. "Au..!" Kesal Mita ketika Ari menggenggam kuat kedua bahunya sedang kebelet nya udah gak tahan lagi ketika mendapat perlakuan Ari.


"Gu.. gue mau pipis!" Mita berlari setelah mengatakan itu, sedang payung nya jatuh di depan Ari. "Ha.. haha.." Ari tertawa kecil setelah mendengar jawaban dari Mita, dan menggeleng melihat Mita berlari tah kemana.


"Lama ya?" Kini Ari berdiri di salah satu pohon rindang di pinggiran jalan. di jawab Ari dengan gelengan kepala. Mita kembali dengan keadaan basah kuyup sama halnya dengan Ari saat ini.


"Cari apa?" Ari heran melihat tingkah Mita yang mondar mandir seakan mencari sesuatu. " "Payung!" jawab Mita masih dengan mondar mandir mencari. "Udah gue kasih ke orang lain! Jawaban Ari membuat Mita kesel, gimana gak kesal itu patung pemberian Bella yang di berikan kepada Mita sekitar satu tahun lalu.



Di sekolah.


Mita lagi pokus pokusnya membaca tiba-tiba Jeni merampas buku yang sedang dibacanya. Saat ini sedang penjas, seisi kelas keluar kelas berganti pakaian karena akan belajar di lapangan. terkecuali Jeni, dan Mita. Mita mendapat hukuman tiga kali putaran lapangan dan denda sepuluh ribu. itu semua emang udah ke sepakatan kelas meraka. jika pertemuan sekali lagi gak bawa baju, maka akan dobble dendanya. sama seperti Jeni saat ini, ini udah yang kedua kalinya gak bawa baju. jadi dia putar lapangan dua kali lipat, begitu pula dendanya.


Mita memandang Jeni dengan kesal. "Beliin gue minum, sama tisu satu!" pintanya dengan wajah merah penuh keringat terus mengalir di wajahnya.


Mita mengangguk dan berjalan keluar kelas menuju kantin. Sesampai nya di kantin, Mita langsung memesan Es dan tisu sesui yang di pinta oleh Jeni. "Buat apaan tisu?" Mita membalik melihat orang yang bertanya kepadanya.


"Jeni?" Tanya Bella memastikan. Mita masih menutup mulutnya dan menggeleng sebagai jawaban. "Mereka masih sering ngatur ngatur lo?" Tanya Bella dengan wajah yang susah terlihat kesal.


"Awas kalian tiga! kena sama gue, kalo Mita mungkin bisa di kerjain tapi gue, jangan mimpi!" kesal Bella dengan berbalik arah menuju kelas Mita.


Setelah mengambil minuman dan tisu Mita berlari mengejar Bella yang berjalan cepat menuju lapangan. "Bel.. bella..!" Panggil Mita dengan langkah kaki cepat. Mata Bella menuju pada sosok Klara yang sedang tertawa bersama Mei, dengan kaki disilangkan dan tangan kiri memegai ponsel, sedang tangan kanannya di kusuk oleh Mei.


"woi..! Gue peringati sekali lagi sama lo, janan pernah ganggu Mita apalagi nyuruh nyuruh Mita!" Bella berucap sambil menunjuk nunjuk muka Klara dan Mai secara bergantian.


Klara yang sedang duduk satai langsung berdiri begitu juga Mei, "Mulut lo di jaga, jangan asal ngomong main ceplas ceplos aja, apalagi pakai tunjuk tunjuk segala! muka gue mahal gak cocok sama jari tangan lo yang nunjuk nunjuk muka gue, bisa gatal jadinya!" Jawab Klara sambil menggaruk garuk wajah nya seakan benaran gatal, begitu juga Mai, ia ikut ikutan mengaruk wajahnya padahal gak tau apa tujuannya.


Dira yang emang ratunya kepo dan josib langsung merekam suara secara diam diam dengan menyimpan ponselnya di kantong celana, dan mendekati Bella.


"Bel..!" Pangil Mita yang sekarang sudah ada si belakang Mita. "Oh.. Jadi si cupu si tukang pitnah yang suka ngadu sama mbaknya ini. Klara menunjuk Mita dan Bella bergantian. "Jaga mulut lo, Mita gak cupu, gak pitnah, apalagi ngadu! mungkin itu cuma perasaan lo aja yang merasa geram sama Mita, emang selama ini salah Mita apa?" tanya Bella dengan rasa keselnya.

__ADS_1


"Bel, gue gak ada di suruh mereka, gue cuma beliin minuman ini untuk Jeni, bukan mereka! ucap Mita berbisik tepat di telinga Bella.


"Emang ya, masih sempat sempatnya juga, ngadu yang gak jelas!" Mei ikut berbicara.


"Hahaha.. Cewek modelan cupu kek lo, kok masih bisa bisanya ya idup, padahal gak ada yang mau lo idup" ejek Klara sambil menunjuk nunjuk Mita. "Bakal seru nih!" batin Dira.


"Burr.. "


Dengan sengaja Bella menyiram muka Klara dengan es yang yang tadi di beli sama Mita. "Bell.. " ucap Mita gak percaya atas kelakuan Bella. "Ini gak seberapa sama yang lo lakukan ke Mita selama ini, dan lo!" Bella menunjuk Mei disamping Klara.


"Bella menyiram gantian ke arah Mei, ini balasan untuk orang seperti kalian, ini balasan dari Mita, ingat ini gak seberapa!" Bella berucap dengan lantang dan melempar sisa minuman ke Klara. Klara yang mendapat ini semua gak terima ia mengejar Bella dan Mita yang sudah pergi. "Ini juga belum seberapa dengan selama ini!" Klara menjambak Mita dan Bella dan menyatukan kepala keduanya dari belakang. bukan hanya sekali tapi berkali kali.


"Gila si Klara kalah main, main jambak!"


"Klara belum tau aja kekuatan si Bella, gue gak sabar liat kelanjutannya, pasti sampe sujud sujud tuh anak."


"Baru juga gue tegang liat Klara di gituin sama Bella, udah mangkin tegang aja mata gue liat kelakuan Klara.


"Si Mei gak bisa apa apa, diem aja bawaannya.


Ucap demi ucap tentang Klara jadi gunjingan para siswa/i yang melihat pertengkaran antara


Klara dan Bella termasuk Mita dan juga Mei.


"Bella, dengan tangan nya yang cepat, langsung membalik dan balik menjambak Klara dengan tak kalah kuat, sampe di putar putar Bella, Bella gak peduli lagi dengan suasana kelilingnya, tujuan satu sekarang ini, cuma ingin buat Klara menjadi kapok, kapok, dan kapok.


Mei dengan bodohnya mengadu kejadian ini kepada guru pembimbing olahraga yang baru saja turun dari motor, emang sedari dari pak Eka meminta para murid nya agar belajar sendiri, karena ia akan pulang ke rumah karena ada kepentingan mendadak. dengan cepat pula Pak Eka langsung menuju ke tempat di mana adanya pertengkaran antar para siswi.


"Bege, si Mei, kok malah ngadu tuh anak, padahal dia juga masuk terlibat dalam agenda kejadian. emang tipis pemikiran anak seperti keluaran dia!" Cibir Dira dalam hati.


Setelah terpisah, ke empat orang itu pun di bawa ke ruang bk, tak lupa Jeni juga masuk dalam masalah ini.

__ADS_1


__ADS_2