Calon Makmum Putra Kyai

Calon Makmum Putra Kyai
Melihat Kecantikan Ning Ida.


__ADS_3

Kholil menuruti keinginan alwi dan nafik untuk melamar ida secara pribadi. kholil sudah mengabari kaluarganya tentang rencana pernikahan nya. saat tau siapa calon menantu mereka semua keluarga sangat kaget apalagi dengan status ida. tapi alwi membatu meyahkinkan mereka agar meristui hubungan ini.


saat ini kholil sedang berkunjung kerumah ida. membawa misi besar dalam hidupnya. misi mejalin cinta di jalan Alloh. nafik sudah sibuk di dapur menyiapkan makan malam.


sedang kholil sedang duduk gelisah di sofa dekat alwi. ida balom keluar di dalam kamar dia juga nampak gugup. dengan acara yang di atur kakaknya itu.


"lil... aku ingin memastikan sesuatu dulu !" kata alwi serius dengan raut muka yang tegas.


"apa itu ustaz....?" tanya kholil kawatir.


"aku ingin kamu berjanji!" pinta alwi.


"janji....,?" kholil bertaya tanya.


"seandainya wajah ida itu buruk tidak sesuai ekspetasimu kamu tidak boleh menggagalkan pinangan mu" lanjut alwi mengetes.


"apa...maksud udtaz?" kholil biggung.


"maksudku sebelom ku izinkan melihat wajah adik ku kuingin kamu berjanji tetap akan menikahinya walo ada kecacatan dalam fisiknya!" urai alwi panjang lebar.


"kecacatan....?" kholil biggung


"iya... kalo kamu memang ragu mundurlah sekarang. ... dari pada setelah mekihat ida kamu kecewa dan ida menjadi sakit hati ...lebih baik ku pastikan dulu keseriusan mu?" kata alwi serius dan tegas.


nafik yang datang nampak senyum miring di balik cadarnya sambil menaruh minuman dan cemilan di meja. melihat ada ekspresi aneh di wajah kholil. dia nenahan tawa nya.


"habib.... kamu benar. .. sebaiknya pastikan keyakinan akhi kholil dulu" nafik mengikuti permainan suaminya.


"bagaimana kaholil?" alwi menuntut jawaban segera dari kholil.


"ini hanya pikiran seorang kakak yang khawatir akhi...." kata nafik.


"memang ida tidak bercadar saat di Indonesia. .. saat dia mengikuti ku memakai cadar akupun menghargai putusanya.... keburukan kekurangan akan terbuka setelah kamu melihatnya dengan langsung..... maka kami beri arahan agar kamu tak menyesal dan kecewa" cerita nafik.


kholil masih diam membisu. kepala tertuduk kedua tangannya di tangkupkan sudah mulai basah karna keringat. takut bingung grogi semua memupuk di kepalanya.


pikiranya mulai mencerna kata kata alwi dan nafik berusaha mencari jawaban akan semua yang dia alami.


"YA ALLAH. .. KENAPA KAU HADAPKAN AKU DENGAN PERMASALAHAN YANG BEGITU RUMIT. AKU HANYA INGIN BERJALAN BERSAMANYA DI JALANMU..... APA AKU SALAH KALO MEMILIKI KEINGINAN YANG SEMPURNA.

__ADS_1


TAPI RASA INI SEMAKIN MENYAKITKAN BILA HATUS KEHILANGAN LAGI.


BERI HAMBAMU INI KEKUATAN UNTUK MENJALANI SEMUA PERNASALAHAN INI.


AMIIIIN" suara hati kholil.


setelah pikirannya mulai tenang dan jernih kholil mulai memantapkan hati. ekpresi wajahnya pun mulai berubah. dan dia sudah memutuskan apa pun yang ada di diri ida itu kelebihan atau kekurangan akan dia terima dengan lapang dada.


"aku janji tidak akan kecewa. .. kalo begitu aku akan melihat nya setelah menikah saja" jawab kholil optimis


"apa?" alwi kaget.


"itu tak boleh akhi. .. jangan membeli kucing dalam karung. .. kami tak mau kalo nanti kau menyesal" tolak nafik degan ide kholi.


"aku tak akan menyesal aku sudah yahkin" lanjut kholil.


"tapi ida akan kecewa...." kata nafik lirih.


"kenapa dia kecewa?" kholil biggung


"tandanya kau tak mau melihat dan mendengarkan kami" jawab alwi khawatir.


"makanya jangan buru buru ambil keputusan" kata nafik yang duduk di sebelah alwi.


"dengarkan baik baik!... Selama ini ida punya rutinitas khusus yang tidak bisa di hilangkan begitu saja. " urai nafik.


" aku akan coba menyesuaikan" jawab kholil yakin.


"dia tidak bisa nengurus rumah" tambah alwi melanjutkan.


"aku bisa masak dan mencuci" jawab kholil


"dia tidak pernah melihat dunia luar" lajut alwi menegaskan


"itu malah. ... bagus" kholil senang.


"wajahnya cacat ada luka bakar" kata alwi lebih spesifik.


" tidak masalah hanya aku yang akan lihat" kholil mulai rilek senyum walaupun di paksa.

__ADS_1


" bagai mana bibi sudah ikhlas" tanya nafik


" kok zaujie sedih ya zaujah" kta alwi manja pada sang istri.


"aduuuh yang mau kehilangan adik... begitu pula dulu persaan kak alim bib... apa lagi mesti dia yang jadi wali nikah kita." ledek nafik melirik sang kekasih.


"habib malah tak bisa bayangin zaujah.... ya sudah Panggil ida kemari dan kita makan siang bersama" alwi senyum ramah.


" baiklah..." naf setuju


nafik masuk kamar memangil ida yang sudah siap dan tampil cantik. ida tak kalah grogi dengan kholil. saat keluar dia mengengam erat tangan nafik .


" tenang dek.... dia tidak akan mundur lagi" hibur nafik.


"tapi aku takut dia kecewa " ida khawatir.


"jangan berkebihan.... bisa jadi kenyataan." gurau nafik saat turun


"mbak....." gerutu ida.


" ha..ha..ha.... aduh yang kawin" ucap nafik meledek ida.


ida berdiri di belakang kholil yang sudah duduk di meja makan bersama alwi dan nafik sudah duduk di sebelah alwi setelah meladeni suaminya. saat kholil akan mengambil makanan piringnya di ambil ida. menik keduanya bertemu. seuntai senyum indah terukir di sama.


wajah putih ayu.. pipi merona merah bak buah ceri. senyum tersengih dari bibir tebal padat. hidung lumayan mancung. tata letak komposisi mata hidung dan mulut yang pas membetuk tatanan yang indah. semua itu anugrah ALLAH.


"mashaAllah...." desis kholil pelan.


"alhamdulillah " kata alwi dan nafik saling melepas senyum.


"bagaimana akhi....."tanya alwi.


"sungguh Allah telah menganugrahi ciptaaya denga begitu sempurna..." ucap kholil takjub.


sedang ida nampak sibuk mengambil makanan di piring kholil. pipi nya berubah merah semerah tomat karena pujian.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2