Calon Makmum Putra Kyai

Calon Makmum Putra Kyai
Liburan Alim dan Nar ah: Berbagi Janji dengan Ipar


__ADS_3

Mar ah menangis di hadapan nafik. baru kali ini dia merasa tidak berguna sama sekali. nafik bingung mau menghibur bagaimana . ucapan menghibur dan rayuan alim tidak mampu menghilangkan kesedihan nya dama sekali.


nafik hanya bisa jadi pendengar. mendengar curhatan cuitan dan keluhan mar ah memang labil dalam melewati sebuah masalah tidak bisa cuek selalu berlebihan dalam berfikir.


"dek.... aku takut tidak bisa hamil" mar ah cerita dengan sedih berurai air mata.


"mbak sudah periksa?" selidik nafik.


"belom...." jawab mar ah jujur.


"datang bulan mu lancar?" tanya nafik lagi seperti detektif.


"lancar. ... baik" jawab mar ah lesu.


"lalu kerana apa mbak khawatir? kalo semua baik baik saja jangan kawatir." nafik binggung dengan pikiran pesimis iparnya itu.


"aku takut mas meningalkan ku" tiba tiba mar ah menangis.


"kalo dia berani aku sendiri yang akan patahkan kaki nya" ancam nafik serius


"kamu sadis sekali dek...." gumam mar ah sambil menghapus air matanya.


"kan masih ada jalan lain... lagi pula baru setahun. ... aku saja 2 tahun baru ada ini... calon buah hati kami" hibur nafik mengelus perutnya.


"itu karena kalian tinggal jauhan.... mana mungki satu si sini dan satu di sana bisa hamil" mar ah mulai tenang dan menangapi omongan nafik dengan semangat.

__ADS_1


"di transfer... fia sms dan cet..." canda nafik garing.


"ha... ha.. ha... aneh2 lho dek" mar ah tertawa mengelegak.


"ter tawalah mbak kalo itu bisa menghilangkan kesedihan mu karena anak" pikir nafii bicara dengan dirinya sendiri bermonolog.


"aku sama mas yang tinggal bersama saja belom jadi. kalian yang jauh masak bisa.... paling itu hasil kalian setelah di sini" goda mar ah setelah mood nya setabil.


"memang..." jawab nafik jujur.


"berarti di indo kalian ngapain " selidik mar ah kepo.


"pake pengaman" nafik tak mau rahasianya terbongkar. biar itu jadi rahasianya alwi dan ALLAH saja.


"oh... iya.. adek kan mesti kuliah kalo kemarin langsung hamil mestinya kita tidak di sini saat ini" kata mar ah setelah berfikir panjang.


" tapi boleh kan aku ikut ngrawat si gus kecil setelah dia lahir...." mar ah memohon.


"boleh. ..." naf is setuju begitu saja.


" janji ya...." pinta mar ah.


"inshaalloh...." nafik menyanggupi.


"aku senang sekali... hai gus kecil ... ini kholah mar... akan ikut merawat mu dan sayang padamu" mar ah meyapa calon bayi nafik dan mengelus perut sang adik yang mulai membuncit.

__ADS_1


"iya. . kholah...." nafik meniru anak kecil seolah olah bayinya yang bicara


" semoga kelak... kamu jadi orang besar.. dan bisa banggain bibi dan mimi mu dengan wajah yang terangkat karena bangga memiliki putra yang sholeh." doa mar ah untuk bayi nafik.


"amin....sukroan khalah....mar ..." jawa nafik merasa masygul.


nafik memandang iba pada sahabatnya itu. ada sebersit kesedihan di mata itu. pikiran yang terlalu mudah terpengaruh kesedihan yang selalu di pendam sendiri kini nafik hanya bisa berdoa semoga kakak nya bisa bersabar melalui semua cobaan ini. selalu bisa bersyukur dengan apa yang di karuniakan pada mereka. mau berwujut kebahagiaan kesediaan ataupun cobaan.


di sisi lain alim juga menatap . dengan pemandangan yang masigul itu. tidak habis pikir bagaimana bisa sang istri begitu sangat lemah. dia membutuhkan banyak dukungan untung sang adik bisa menghibur dengan cara nya sendiri.


alwi melihat itu nampak kecewa bagaimana bisa dengan mudah sangnistri memberi janji yang mungkin kelak akan sulit merekan tepati. mungkin saat ini niat itu terkesan bercanda tapi apa nafik tidak berfikir kalo suatu saat mar ah menuntut janji untuk minta putra mereka. kekecewaan itu menjadi kemarahan dan nafik tidak tau akan kemalut yang di alami suaminya kini


entah apa yang akan terjadi selanjutnya tidak ada yang tau.


(cuma author yang tau)


mar ah nampak senyum bahagia. melihat keinginan nya akan terkabul ikut merawat sang gus kecil kelak. keinginan yang sebenarnya sederhana tidak ada niat untuk memiliki ataupun memita. tapi di bolehkan ikut merawat sang gus saja sudah mengembalikan semangat dan harapan nya untuk memiliki anak sendiri.


.


.


.


.

__ADS_1


.....


__ADS_2