Calon Makmum Putra Kyai

Calon Makmum Putra Kyai
SARAT DARI NAFIK


__ADS_3

Ajakan berbesan amar dianggap sebuah canda oleh semuanya. amar yang suka bercanda kurang serius selalu diremehkan semua. tapi kalo sudah membicarakan bisnis dan keluarga dia sangat serius dan tidak main main.


"aku serius alwi.... tidak sedang bercanda." ucap amar menatap tajam pada alwi sahabat sekaligus koleganya.


"miminya faz" alwi melihat sang istri menuntut sebuah jawaban atau persetujuan tentang ajakan amar.


"bibi lihat wajah amar itu aneh kan?" nafik juga melihat amar berbeda dari biasanya.


"am... tapi faz masih bayi baru juga lahir" elak alwi tapi tetap dengan niat untuk tidak menyakiti mantan rival nya itu.


"mumpung masih bayi..... biar kita sebagai orang tua bisa mengarahkan." kata amar lagi sambil menatap lembut pada bayi faz yang terlelap hangat di gendongan tiara.


"kita tunggu nanti dia besar ya am.... " bujuk alwi menjawab keseriusan amar tentang keinginannya.


" lagi pula mas amar juga belom punya anak kenapa membicarakan perjodohan" ucap kholil yang duduk di sebelah ida di sofa


"baru juga kawin mas... sudah mokirin masa depan anak yang belom ada. ya kalo nanti anak pertama kalian perempuan kalo laki laki ngimana hayo?" ida ikut ambil suara.


"iya mas amar... kita bicarakan kalo kamu sudah pinya anak perempuan" nafik mengganti pangilan pada amar untuk menghormati pria yang pernah di jodoh kan dengan nya itu.


"yang anak pertama kita harus cewek. ..." bujuk amar pada tiara. tiara bingung dengan kengototan sang suami kalo punya keinginan selalu berusaha mewujudkanya


"ya mana bisa tau mas.... hamil saja belom lagian mas ngotot banget sih. ... faz kan baru juga lahir" tiara lama lama sangat gemas. berasa ingin memukul kepala suaminya yang suka sembarangan kalo bicara.

__ADS_1


"kan ada caranya yang... biar abinya naggak cari kolega lain yang.... keluarga naf rata rata menikah karna di jodahkan apa sayang naggak mau berbesan sama ustadz besar?" amar masih ngotot.


"ya... mau mas... tapi" omongan tiara terpotong karena berfikir.


"perjodohan kan banyak yang gagal... karena tidak cocok" ungkap ida terus terang.


"contoh nya gus alim dan mas...." tambah kholil. menatap tajam amar. dia mulai jangah dengan kengototan amar tentang faz.


" pokoknya. .. faz harus berjodoh dengan anakku kelak" harap amar dengan memaksa.


"kalo anak mu laki laki?" tanya alwi.


"nanti adiknya sampai aku punya anak perempuan" amar ngotot.


"faz keburu tua dong" ucap nafik sambil menculos lucu.


"hus..... sudah" alwi mulai kesal


"ha...ha...ha...."


ruangan itu mulai rame hangat. keinginan amar sangatlah benar. Dia ingin mengobati rasa kecewa dan kehilangan gadis istimewa macam nafik. memang dia sangat tidak pantas untuk wanita sesempurna nafik. Wanita yang punya pikiran bebas dan beraklak mulia. banyak hal yang tidak diketahui tentang keistimewaan nafik.


karena tidak bisa. mengalah kan kengototan amar nafik memberikan sarat. yang mungkin sangat menantang dan menyenangkan keinginan amar untuk berbesan dengan nya dan alwi.

__ADS_1


"mas. .... aku setuju dengan idemu" ucap nafik tiba tiba. membuat semua kaget. terutama alwi yang tidak begitu senang dengan perjodohan. Dia seperti troma dengan kisah sang istri


"sungguh naf?" tanya amar ingin memastikan keseriusan kata nafik.


"zaujah... faz" alwi tertahan dengan remasan tangan nafik di lengan nya dan tatapan sendu wanita tercinta nya yang mengisyaratkan banyak kata.


"tapi. ... kalo nanti faz atau putrinmu punya keinginan sendiri kita tidak boleh memaksakan kehendak" ucap nafik sedikit memberi batasan.


"baiklah. .." amar setuju tanpa banyak alasan.


"dan... kalo kamu punya putri... aku sendiri yang akan mendidik nya" lanjut nafik. tentu dia tidak ingin gadis itu kelak memiliki sifat seperti ayah nya maka nafik menawarkannya diri.


"aku malah sangat senang ... benar kan sayang" amar lebih senang dan semangat.


"iya mas. .. mbak nafik serius kan akan mendidik sendiri anakku kelak" tiara butuh kepastian dan saat nafik dan alwi mengangguk tiar senang bukan kepalang.


"iya.. mbak...." jawab nafik serius tanpa ada alasan mendasari yang rumit di balik semua persetujuan nya kali ini.


semburat kesenangan terukir di.wajah amar dan tiara. dan alwi tau yang di ucapkan sang istri sudah dia pikir dengan benar dan matang. jadi dia tidak akan protes atau masalah akan semakin ruyam.....


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2