
Pagi ini nafik sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan seperti biasa walaupun lebih sering ida yang melakukan semua kegiatan pagi itu. tapi kali ini dia ingin menyiapkan sarapan untuk suaminya.
alwi sudah bangun dan sudah siap dengan setelan kemeja yang rapi penampilan yang lama dia tinggalkan. datang menghampiri sang istri yang sedang sibuk di dapur. dengan pelan menghampiri sang istri menyusupkan tangan kepinggang ramping istrinya hingga nafik tersentak kaget dengan kegiatan itu maklum karena terlalu lama tidak di sentuh membuatnya sedikit terhenyak.
" astaghfirullahaladzim... habib..." nafik tersentak kaget karena ulah alwi.
" masa begitu saja bidadari kaget?" alwi senyum menggoda sang istri.
"habis habib tiba tiba saja meluk meluk...." protes nafik menutupi kegugupan nya.
"yah.... kan masih kangen..." alasan alwi merapat dekapanya.
" masak....?" goda nafik menggoda sang suami yang tidak mau melepaskan diri nya lama lama nafik menikmati juga.
"Bener. ... kangen banget malah....." alwi merapat kan pelukan itu semakin erat.
" iya deh terserah habib saja.... tapi lepas dulu. .. masaknya belom selesai" pinta nafik memohon dia takut ida akan tiba tiba muncul. bisa malu kan pagi pagi sudah pacaran.
" masak apa sih....?" alwi menurut. Dia melepas dekapan.
" tumis capcai... habib duduk sudah kubuatjan kopi" pinta nafik menujukan secangkir kopi hitam kesukaan alwi.
"baiklah...." alwi menurut dan duduk di meja makan.
aroma wangi menusuk hidung. penampilan rapi dan rambut di sisir klimis mengingatkan nafik saat alwu jadi gurunya juga berpenampilan seperti itu. nafik pun menatap dengan penasaran . alwi duduk asyik memainkan gejetnya dan sesekali menyeruput kopi yang di buat kan sang istri.
" habib mau kemana sudah rapi..?" nafik penasaran melihat suaminya yang sudah sibuk dengan gejetnya.
"habib mau interviu kerja.." jawab alwu semangat penuh senyum merekah.
" secepat itu...? habib kan baru datang kemarin?" nafik kaget tak percaya dengan pengakuan sang suami.
"lebih cepat lebih baik.... kita kan butuh biaya. .. kalo habib tak kerja mau kasih kamu makan apa?" jawab alwi sarkasme menatap tajam sang istri.
"kapan habib kirim lamaran?" slidik nafik.
" temen habib yang deftarin.... dan kasih rekomen" jawab alwi jujur menerangkan.
"nepotisme dong......" cletuk nafik dengan masih sibuk masak sambil sesekali melihat sang suami
"ha...ha...ha...cuma memanfaatkan kaneksi dengan maksimal" respon alwi tertawa dengan cletukan istrinya.
__ADS_1
"oh..... dasar. ...." nafik merasa sangat gemas sekali mendengar tawa renyah itu
"kalo habib tidak segera cari kerja pasti bosan ditinggal sendiri di aparteman. kamu... ida sibuk kuliah.... masak habib. santai 2.. kan niat tinggal ya mesti cari nafkah...." ulas alwi panjang lebar menjelaskan pada sang istri.
"habis bilangnya besok.... datangnya kemarin...." grutu nafik masih kesal dengan sang suami sambil menata makanan di meja makan.
" kan di bilang surpraise...... sudah kangen" alwi menatap istrinya memasang wajah tanpa barsalah dan senyum manis.
" kalo begitu bilang kangen..... di minta tinggal nyusul tak mau... lalu kenapa sekarang berubah pikiran?" nafik mencurahkan emosi. karena selama ini alwi nemang menolak tinggal karena alasan konyol.
" ya pingin sama sama kamu... bidadari" alwi menggoda mengedipkan mata menggoda sang bidadari berharap rasa kesal nya hilang.
"huh...pasti belajar ngombal dari amar tu....." tebak nafik mulai luluh
"aku tidak mau jauh jauh lagi darimu. .... aku takut kau akan melupakan ku karena terlalu lama terpisah" alwi meraih tangan istrinya di remas kuat.
"habibi......" Panggil nafik mesra.
suasana tiba tiba jadi hening. hanya ada suara detak jantung mereka berdua yang memenuhi perasaan ke duanya. hanya saling menatap membuat deru jantung semakin cepat. seperti saat sedang jatuh cinta . nafik semakin gelisah tak bisa menahan deru di dadanya.
" habib akan bekerja di mana?" nafik mengalihkan suasana agar kegugupan sedikit hilang.
"di kedutaan.... ada lowongan staf. .. dan sebuah kampos bagus yang mana zaujah?" tanya alwi minta pertimbangan.
"heemmm......" alwi menggunakan kepala mengerti.
" habib pilih yang nama?" nafik menatap menanyakan pilihan alwi
"pilih selalu bersamu....." alwi mulai gombal lagi.
"habibi....." nafik melotot menatap suaminya geram rasanya ingin dia ketok kepala alwi dengan centong tapi takut dosa dan jadi istri durhaka.
"ha....ha....ha... aduh lucunya bidadariku" alwi mencubit pipi nafik lalu mencuri sebuah kecupan di pipi merah merons itu.
"au.... sakit bib...." triak nafik
"biar... tambah merah...." alwi gemas mengelus pipi itu lagi.
"siapa yang rekomendasi habib...." nafik masih penasaran.
"ayah...." jawab alwi pendek.
__ADS_1
"ayah.... bukankah habib di jakarta 1 tahun ini" nafik tak percaya.
"iya... habib di jakarta tapi bukan alasan jauh dari keluarga kan?" al wi menjawab dengan pertanyaan lain.
"tumben....." nafik masih tak percaya.
"kok begitu?" alwi bertanya.
" ayah kan paling sulit di mengerti. .. jangan jangan itu alasan agar nafik mau pulang ya?" slidik nafik pada alwi.
"tidak begitu bidadari. ..." hibur alwi
"lalu...." nafik menatap suaminya sendu.
"ya semua agar kita bisa bersama.. ayah tak sepicik itu" alwi menjelaskan dengan senyum kulum.
"oh.... ceritanya sudah bisa ambil hatinya mertua nih.... bib....?" goda nafik.
" masak cuma begitu tidak bisa siapa dulu alwi...." alwi sombong dan sok songongnya muncul.
"sombong.... " protes nafik.
"cuma sama kamu sombongnya" goda alwi
" jadi benerya.... habib tidak pulang sebelom aku lulus!" nafik ingin memastikan.
" iya.... zaujah" alei meyakinkan.
"lalu.... urusan di jakarta?" nafik penasaran.
"biar amar yang hendel selama habib disini.... karena masih masa pembangunan" jawab alwi semangat.
"semoga pilihanmu... itu yang terbaik ya bibi" nafik senyum hatinya terenyuh
"Inshaalloh...." janji akei.
.
.
.
__ADS_1
.
.