
Mar ah dan tiar dengan jantung yang berdegup kencang pergi menuju dhalem untuk menemui alim disana. walo dengan perasaan tidak menentu mar ah membulatkan tekatnya untuk menerima ajakan taaruf alim.
sedang alim tak kalah nervesnya jantunnya pon berdegup lebih kencang berharap harap cemas takut kalo pujaan hatinya akan menolak.
"tenang kak jangan gugup" alwi menenangkan.
"kamu sih nggak ngrasain al. ..." alim gugup dan mengingat kan.
"kak yang aku rasain waktu itu lebih tegang lagi...." alwi tak mau kalah mungkin benar apa yang di alami alim belom seberapa di banding alwi.
"ya ..kalian enak langsung akat...." alim masih mengelak.
"kakak kalo mau juga boleh...." pancing alwi
" aku hanya ingin mendapat dia dengan cara normal..." alim nyolot
"jadi menurutmu pernikahanku tak normal?" alwi mengerutkan dahi.
" kalo normal kau tak akan di sini...." ejek alim
" aku sudah janji padanya kalo dia hamil aku akan tingalkan semuanya.... dan segera menyusulnya" alwi serius
"la memang sudah ada tanda?" alim kepo
"belom....." alwi jujur
"kalian sudah menikah 2 bulan seharus nya sudah ada tanda tanda. ..kan . ." alim menaik turunkan alisny
" kakak apa sih...." alwi tak enak untuk bicara
__ADS_1
"jangan2 kau menundanya ya... karena dia mau pergi kuliah...." alwi ketahuan.
" ya... rencana awal gitu..... tapi dia marah dan bilang aku tidak menginginkannya menjadi ibu anak anakku jadi terjadilah. ..." alwi cerita menunduk kan kepalnya.
"al....al.... hebat juga kamu....." alim tertawa menepok bahu alwi.
" ha...ha...ha..." ke duanya tertawa
keakrapan yang membuat iri semua orang .obrolan terhenti saat maar dan tiar datang lewat pintu samping di dampingi umi mahmudah. keduanya di pertemukan di ruang keluarga tempat alwi dan alim barada.
"assalamualaikum. ..." salam mar ah. dan tiar
" waalaikum salam. ...ayo duduk nduk(sebutan anak perempuan)" jawab umi dan mempersilah mereka duduk.
"trimakasih umi....." jawab ke duanya.
"baik kholah. .." tiar segera berpaling.
tiar pergi mencari barang yang di minta umi mudah.sedangkan obrolan ringan mulai agar tidak ada ketegangan. alim di biarkan ngobrol dengan mar ah. mereka saling menanyakan kabar.
"apa kabar ukhti. ..." sapa alim
"Alkhamdulillah akhi.... sehat.... akhi sendiri?" jawab mar ah dia sudah berani memangil akhi bukan gus.
"selalu dalam lindungan ALLOH." jawab alim senang melihat respon maar mau memangilnya akhi.
"maar tentu kamu sudah taukan dengan niat gus ipol datang kemari jauh jauh" tanya umi
" iya umi...." jawab mar ah menundukkan kepala.
__ADS_1
" kalo begitu kalia bicarakan lah kami akan jadi saksi" ucap umi.
" monggo gus...." alwi mempersilahkan.
" bagaimana ukhti jawaban mu dengan permintaan ku tempo hari?" alim berdegup kencang jantungnya serasa bingung takut berharap semua campur aduk jadi satu.
" sa...ya. setuju akhi.... mari kita taaruf..." mar ah menjawab degan terbata bata.
" Alkhamdulillah. ... " jawab semua tiar yang baru gabung dengan ana dan mar ah merasa senang lalu memeluk mar ah bahagia.
" semoga lancar aak" alwi menyalami alim dan memeluknya.
" syukron. ..." alim senang tapi perjuangannya belom usai.
" afwan..." jawab alwi.
" semoga niat baik kalian lancar menuju pernikahan tak ada halangan apa pun...." doa umi.
''amiiin....." jawab semuanya.
umi memberikan sebuah hadiah yang di titipkan nafik pada beliau. Sebuah gelang tangan yang indah. saat itu umi bingung kenapa nafik menitip barang itu. nafik yng bilang kalo kakaknya datang minta tolong cari jodoh mohon memberikan barang itu sebagai tanda restu.
mendengar cerita tentang umi mar ah ,tiar dan ana mulai terharu. tadinya mar ah takut sahabatnya tidak setuju.
.
.
.
__ADS_1