
nafik sudah beberapa hari di Kudus dan Jepara. rindu pada sang putra sudah hilang kini rindu pada habibinya sudah semakin memuncak.
alim hasan dan husain mengantar kepergian nafik dan faz. demi menghemat waktu mereka memilih pakai pesawat. tadinya nafik ingin pergi sendirian hanya dengan faz. tapi orang tua dan mertuanya tidak mengizinkan nafik pergi sendiri dengan keadaan seperti sekarang yang sedang hamil besar karena kembar. Mereka ingin nafik tinggal tapi tidak bisa melarang sang putri untuk pergi al hasil kini nafik ada di atas pesawat menuju Jakarta.
setelah landing mereka segera mencari taxi. kini taxi onlaine mereka baru keluar saja keluar dari bandara dan akan menuju ke tempat alwi. tidak banyak barang yang di bawa nafik karena semua sudah dia kirim kan supaya tidak repot.
faz selalu berceloteh sudah tidak sabar bisa bertemu sang bibi dan memberi kejutan dengan kembalinya sang mimi. Dia yang selama di pesawat tidur kini malah antusias bercerita bayak kegiatan selama tinggal dengan ammun dan kahalah nya. si kembar selalu senang menggoda dan faz akan merajuk. walau baru beberapa kali bertemu keponakan mereka si kembar sangat sayang dan faz sudah bisa mengakrabkan diri dengan siapa saja.
"faz... kamu mau punya adik laki laki atau perempuan?" tanya hasan melihat faz berdiri di jok tengah dengan sang mimi. dan si kembar duduk di belakang alim di depan samping draiver.
"dua.... duanya" jawab faz lancar.
" tidak cowok saja nanti bisa di ajak main perang" gantian husain yang bertanya.
"nggak faz mau punya adik 2 cowok dan cewek... 2 ammun.. 2" jujur faz sambil main mobilanya.
"Bener mbak.... sepasang?" hasan yang penasaran bertanya pada sang kakak ipar.
"inshaallah... menurut hasil USG begitu" jawab nafik membenarkan adanya
"wah... kak alwi tokcer ya. .." canda hasan. dan semua tertawa mendengar candaan pemuda itu.
"his di dengar faz..." protes nafik tidak senang.
__ADS_1
"bibi tok cer......" celoteh faz polos.
"iya kan faz... buktinya kamu akan langsung punya dua adik. ...." lagi lagi ganti husain yang menambahinya.
"he..eh..." faz mengangguk dengan polos
"hasan.. husain.... lihat faz ni ngikutin kalian...." alim yang dari tadi diam ikut angkat suara.
"kalian... mengajari apa... " nafik mengidik mendengar candaan adiknya
"afwan... afwan...." kata hasan husain kompak bareng.
"anak ini. .. kita mesti hati hati bicara di depan anak kecil...." gerutu alim mengingat kan.
tak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di pondok al azhar alim meminta mobil parkir di depan rumah alwi. Sebuah rumah minimalis 2 lantai yang sederhana. seperti kepribadian alwi itu sendiri.
nafik melihat tempat itu dengan seksama. alim mengucap salam di depan pintu namun bukan alwi yang keluar melainkan seorang santri dalem yang ikut bantu bantu alwi. santri itu sudah begitu faham alim yang datang adalah ipar dan pemuda kembar itu adalah adik sang kyai muda.
"di mana kyai mu....?" tanya alim sambil duduk si sofa dan seorang santri lain keluar membawa minum.
"beliau di area pembangunan gus...." jawab santri yang bernama ihsan itu.
"bisa antarkan saya kesana....?" pinta nafik tidak sabar untuk ingin menemui sang habibi. santri itu malah bingung mendengar permintaan nafik.
__ADS_1
"antarkan beliau menemui kyai alwi.. ini istri beliau nafik dan fazha putranya" kata alim pemuda itu lalu menundukkan kepala dengan hormat.
"oh.. assalamualaikum umi... selamat datang kok kyai tidak bilang kalau umi akan datang" ucap ihsan merasa bersalah.
" waalaikum salam.... ini karena mendadak bisa antar saya sekarang?" nafik menjawab salam itu.
"baik mari saya antar. .. " kata ihsan mempersilakan nafik.
"faz... kamu di sini sama ammun2 mu ya" pinta nafik pada sang putra yang asik bercanda dengan papannya.
"naam...." faz setuju.
nafik berjalan mengikuti ihsan nenuju area pembangunan di pondok putri yang semakin bertambah santri nya.
.
.
.
.
.
__ADS_1