
" bib kita mau kemana....?" nafik berpegang erat di pinggang suaminya dan melaju cepet di jalan raya.
"refresinag pusing di ganggu anak terus...." jawab alwi meng gas motornya.
mendengar jawaban itu nafik tersenyum. ya akhir akhir sang suami sudah banyak mengeluh tentang adiknya pada sang istri. mereka selalu merepotkan dan membuat nafik kelelahan .
tapi nafik tak mengeluh dia melakukan dengan senang hati selama ini. dia yang anak bungsu yang notabennya memiliki sifat manja kini menjelma menjadi kakak ipar yang sabar dan penyayang pada adik adiknya.
hanya saja hal itu tidak membuat alwi senang. karena dia ingin menikmati masa pernikahanya sebagai pengantin baru sebelom nanti bidadarinya pergi untuk menuntut ilmu di luar negri.
makanya hari ini dia putuskan untuk mengajak sang istri jalan hanya berdua tanpa ada gangguan apapon.
motor yang mereka kendarai mulai naik gunung. jalan miring menanjak tak menghalangi perjalanan laju motor alwi. pemandangan hutan hijau di penuhi pepohonan yang rindang dan asri.
mereka kini sampai di sebiah wisata air terjun. air terjun monthel yang terkanal di kawadan itu. di kaki gunung muria sebuar air terjun yang indah dengan pemandangan hijau yang menyejukkan. udara segar melegakan pernapasan. suara air yang jatuh dari puncak menenangkan sanubari. ciptatan air yang terhempas angin trrbang menyejukkan di tambah udara dingin menghilangkan kegelisahan.
kini alwi dan nafik sedang duduk berdua di atas batu besar. alwi yang duduk di belakang sedang duduk memeluk mesra istrinya. dia sudah tidak perduli dengan protesan sang bidadari . alwi hanya ingin membuat momen indah bersama sebelom kekasihnya pergi.
" bib...." panggil nafik.
"heemmmm..." alwi merespon.
"ada apa. ..?" tanya nafikm
" tidak ada. .." jawab alwi ringan.
__ADS_1
hsuuuuuf...naf meng hela nafas
" bib setelah aku pergi. ... tolong jenguk ayah bunda ya!" pinta nafik tiba tiba
"tentu saja.. kini mereka orang tuaku juga" alwi setuju.
"kalo habib bosan.... kadang ikutlah kakak tour....!" nafik memberi saran.
" memang boleh...?" selidik alwi.
" boleh.... asal jangan tebar pesona saja" mendengar ucapan nafik alwi tersenyum
"astagfirullah hal azim... kok zaujah bicara begitu?" alwi beristigfar.
"habib tak akan mungkin tebar pesona karena hatiku sudah kau renggut semua bidadariku" nafik tersentuh mendengar uraian alwi
"inshaalloh. .. bidadariku" janji alwi
mau bicara rasanya bibirnya kelu. sesak di dadanya rasanya berat jika ia harus neningalkan kekasihnya sendiri.
tangung jawab sebagai istri akan dia abaikan begitu saja. dulu saat dia punya keputusan tentang pendidikanya kenapa mudah. tapi kini rasa nya sangat berat. nafik juga tau kini suaminya mungkin memiliki rasa yang sama. berat untuk pisah dan hidup berjauhan.
alwi tidak mau ego sendiri dengan keputusan melarang bidadarinya pergi. Ia tau selama ini sudah banyak hal yang di lalui nafik untuk menuju jalan ini. dia sudah memilih jalan yang terjal dengan menikahi alwi. tapi bagi nafik tidak ada kata menyesal .dia akan nenyesal jika yang dia pilih tidak terbaik untuknya.
"aku.. akan menunggumu zaujah... kau adalah segalanya" alwi makin mengeratkan pelukan ya.
__ADS_1
"kau juga harus menjaga kehormatanmu... menjaga kepercayaan ku.menjaga jati dirimu" pinta alwi sambil menaruh dagunya di bahu sang istri.
" inshaalloh. .. ya habibal qolbi" janji nafik.
" dan jika memang selama zaujah pergi.... habib tidak bisa menahan diri... aku ikhlas untukmu mencari istri lagi. .. tapi ku mohon jagan ceraikan aku"naf susah payah mengucapkan kalimat itu
sedang alwi bak di sambar petir di siang bolong. Bagaimana istri nya bisa bicara hal seperti itu. dengan cepat di putar tubuh naf di tatap lekat lekat wajah iti.
"apa maksut dari perkataanmu,?" alwi mulai emosi dia merengangkan pelukan.
"aku akan pergi lama habib 5tahun itu bukan waktu yang sebentar" bibir nafik gemetar.
" aku tak akan melakukan hal sepicik itu... kau baru minta tentang menjaga cinta amanah kepercayaan tapi sekarang kau menyarankan poligami" muka alwi sudah merah tapi dia masih menahan nada bicara nya.
"aku bilang andai habib..... kalo hal itu aku sarankan tapi kau tak menghendaki pasti takkan terjadi. ... kalo pon aku melarang tapi kau menginginkan pasti terjadi.... karena tidak ada kewajiban suami harus izin untuk menikah lagi dari istri pertama. aku hanya tidak mau egois karena semua adalah hakmu....aku hanya jaga jaga kalo suatu saat hal ini harus ter jadi" alwi menarik nafik dalam dekapannya
nafik pon sudah tidak bisa mebahan diri lagi untuk tidak menangis . ia tumpahkan semua air matanya.
" lagi pula siapa yang berai menjadi madu auliya umi nafik jihan. dia harus selefel dengan mu...." hibur alwi
alwi tau ucapan sang istri sebagai opsi untuk menghilangkan keraguan nya sediri. dari pada menghawatirkan alwi yang dia tinggalkan
.
.
__ADS_1
.
.