
Nafik ingin berjalan cepat tapi kondisi perut nya tidak memungkinkan. ihsan mengikuti lanagkah nafik yang pelan berjalan di belakang nafik dengan sedikit jarak. pemuda itu yang selalu menyupir mobil alwi jika pergi kemana mana.
"nama kamu siapa?" tanya nafik pada ihsan saat berjalan.
"ihsan umi... muhammad ihsanuddin." dengan gugup ihsan menjawab pertanyaan nafik. pemuda itu sudah banyak mendengar tentang betapa istimewa istri guru nya itu.
"dari mana?" nafik lanjut bertanya. mungkin kalau dulu nafik akan menjauhi lawan jenisnya tapi kini dia seorang ibu bagi para santri tidak boleh pilih kasih
"kendal umi...." jawab ihsan
"sudah lama di pesantren?" tanya nafik lagi walau tidak penting. tapi basa basi saja.
"kurang lebih 5 tahun sejak kyai mendirikan pondok ini" ihsan menjelaskan
"oh... lumayan juga.... masih sekolah?" sepertinya nafik banyak bertanya agar ihsan tidak begitu sungkan dan gugup.
"madrasah umi tingkat alfiah... sambil kuliah tingkat pertama juga" jawab ihsan
"oh.... bagus. . biar semua imbang. .. ini masih jauh kah....?" nafik penasaran kenapa dari tadi belom juga sampai dan menjumpai habib nya.
"sebentar lagi umi.... Setelah gerbang dalam itu kalau lewat dapur dalem lebih dekat" ihsan menjelaskan.
"oh... jadi kita berputar?" nafik baru sadar setelah berjalan jauh.
ihsan membuka pintu yang memisahkan kompleks putra dan putri yang di beri gerbang gapura berpintu kayu. nafik segera masuk mengikuti ihsan yang sudah masuk ke dalam pintu.
sudah ada satu komplek pondok putri tapi sekarang sudah hampir tidak muat lagi. Karena dari awal alwi tidak menerima santri wati. dan kini membangun lagi sekalian dengan aula yang besar untuk acara muhasabah.
kehadiran ihsan menarik perhatian para santri pasalnya santri putra di larang masuk selain yang berkepentingan. tapi semua demi mengantar istri gurunya. siapa yang tidak kenal ihsan dia salah satu santri dhalem yang di percaya.
__ADS_1
kehadiran nafik menarik perhatian apa lagi kini dia menampakkan diri dengan penampilan yang mempesona dengan pakaian sar i nya. semua menatap kagum dan penasaran gerangan siapa wanita elegan dan cantik itu.
Akhirnya mereka sampai di area konstruksi. nampak alwi sedang memeriksa keadaan pembangunan. Dia masih santai dengan pakaian kebesarannya sarung dengan atasan kaus panjang dan kupluk putihnya.
nafik tersenyum memendam rindu melihat habib nya sibuk memberitahukan arahan pada para pekerja.
"umi tunggu di sini... biar saya panggil kan abi...." ihsañ menawarkan diri untuk memangil alwi.
"tidak usah... biar saya kesana" nafik berjalan terus seakan dia tidak sabar untuk jumpa dengan habibinya.
"tapi umi..." ihsan menahan ucapanya saat sebuah tangan kuat menepuk bahunya.
nafik tidak menggubris sama sekali ucapan ihsan. pemuda itu nampak sangat khawatir sekali . nafik terus mendekat dengan mengnggkat sedikit bajunya.
"biar kan dia ihsan mulai sekarang kamu harus terbiasa meladeni umi nafik yang memang agak sulit di ikuti" kata alim yang tiba tiba ada di samping ihsan.
"iya... dia sedang mengandung. .. tapi kalau bukan karena diri sendiri alwi pun tidak akan bisa melarangnya" alim menjelaskan semua nya. pada orang kepercayaan alwi selain manan dan ridho.
"begitu ya gus, ....." ihsan mengiyakan.
"mulai sekarang kamu harus terbiasa" pinta alim pada insan.
"baik....." ihsan. setuju.
nafik sudah sangat dekat semuanya sudah sadar dengan kehadirannya kecuali sang suami. alwi masih sibuk dengan telepon kesana kemari untuk memesan bahan bangunan. semuanya berbisik bisik penasaran dengan kehadiran wanita cantik di dekat mereka. Mereka bisik bisik mengutarakan kekaguman.
alwi belom sadar dengan kehadiran nafik yang sudah berdiri di belakangnya. sedang alim dan ihsan hanya memperhatikan dari kejauhan saja.
Beberapa hari ini alwi sudah merasa aneh. apa lagi saat merasa melihat sang istri berlalu duduk di sebuah mobil saat baru pergi dari Jepara. tapi saat di telepon nafik masih berusaha sewajarnya meladeni sang suami.
__ADS_1
tapi hari ini perasaan alwi semakin terasa aneh sejak pagi bangun tidur tadi. seperti rasa rindu yang mendalam pada sang kekasih. iya alwi sangat rindu bidadarinya.
"assalamualaikum habibinya nafik?" salam nafik setelah alwi selesai telepon dan menyimpan hpnya di saku kaos.
"waa...alaikum. .. salam.... bidadari" jawab alwi gugup sambail berputar lalu menatap wajah ayu yang dari tadi berdiri di belakangnya.
seuntai senyuman idah terukir di bibir nafik melihat kekagetan sang suami. wajah tampan itu pucat dengan ekspresi kaget dan bingung dia seperti ngebleng tidak percaya dengan kehadiran bidadarinya yang sudah ada di hadapannya. seakan akan cuma mimpi di siang bolong tidak mungkin menjadi nyata.
"habib tidak mau peluk zaujah kah?" tanya nafik sambil merentangkan ke dua tangan nya lebar lebar.
"ini benar kamu zaujah...." alwi masih diam membatu belum percaya.
"iya zaujie... ini zaujah" jawab nafik dengan di iringi anggukan.
setelah sadar dia tidak bermimpi alwi lalu merengkuh bidadarinya. seakan sudah tidak peduli dengan semua orang yang ada sana semua menatap kaget dengan apa yang di lakukan sang kyai muda kebanggaan mereka.
alim menjelaskan siapa sebenarnya nafik. mereka pun mengerti dengan kerinduan yang di alami kedua nya. karena alwi sudah lupa di mana kini mereka berada. adegan penuh rindu itu kini jadi tontonan. bukan cuma para pekerja tapi para santrinnya.
alwi semakin erat merengguh sang bidadari. nafik yang begitu rindu juga tidak menolak saat pelukan kecupan rindu dia dapatkan. hanya ingin kerinduan ini hilang untuk sesaat biar saja saling merengkuh penuh dengan rasa cinta.
kini semua sekarang penasaran karena mereka di tempat umum.
.
.
.
.
__ADS_1