Calon Makmum Putra Kyai

Calon Makmum Putra Kyai
Fazha Sayang Sama Mimi


__ADS_3

Beberapa hari lagi alwi akan kembali ke Indonesia. kini alwi dan nafik mulai memberikan pengertian pada sang putra. anak sekecil itu sudah mengerti kegundahan kedua orang tuanya.


faz kecil yang bermain sendiri asyik duduk di lantai. sambil mendorong mobilanya faz bersolawat sambil sebisanya. mulut kecil itu selalu ber celoteh tiada henti. mama sedang masak di dapur menyiapkan makan malam. kebetulan nafik kerja di rumah sambil menyelesaikan skripsi nya.


"faz. .." Panggil bibi yang baru pulang dari kampus.


"bibi..... salim" tawar sang putra sambil mengulur kan tangan minta salaman.


"assalamualaikum putra bibi yang pintar" sang bibi menurut menyalami tangan kecil sang putra faz dengan takzim menciumi tangan sang abi.


"wa. alikum..calam mana jajan?" jawab salam faz dengan suara agak cadel .dia langsung menagih minta jajan. karena setiap faz ikut mengajar para mahasiswa akan membawa jajan dan mainan demi menarik perhatian sang putra ustadz mereka.


"jajan. .. jajan apa?" alwi pura lupa


"pem en... paz mau pemen...." tagih faz dengan glendotan di kaki sang abi.


"nanti kalo mimi tau bisa marah nak...." bibi mengaitkannya. nafik selalu marah kalo sang putra makna makan sembarangan.


"aahaass... paz mau pemen...... ha...nhh..hik...." faz menangis mencari perhatian.


" faz... ada apa?" tanya mimi yang muncul dari dapur masih dengan epron kebanggaan ibu rumah tangga.


"ada apa nak. ... kok manggis" mimi menganhkat tubuh kecil sang putra dalam gendongannya. menanti keterangan sang putra.


"bibi tidak. .. kasih pemen. ... mi. ha..." faz mengadu pada sang mimi.


" ya sudah nanti mimi kasih puding mau.... mimi buat puding lho nak!" mimi membujuk dengan cara nya sendiri

__ADS_1


" puding pa....?" tiba faz berhenti merengek mendengar kata puding. faz suka yang manis manis.


"mangga" jawa mimi singkat sambil mendudukkan faz di kursi makan khusus nya.


"alhamdulillah. ... diam juga. ... memang mesti mimi yang nenangin" ucap syukur alwi dan duduk di kursi lain di samping sang putra.


"bibi sih. ... selalu manjain anak" nafik mulai mengeluarkan mode mimi siaga dan pemarah.


"mimi.... puding. ..." tagih faz.


"afwan mimi......" untuk menghalau kemarahan sang istri. alwi memberi kecupan di pipi sang istri.


"paz juga mau. .. cium... mimi" ucap faz yang melihat keromantisan bibi miminya.


"lihat... bib... putramu.... sudah sering bilang jangan di depan faz" mode mimi.marah dan gemas alwi mengaruk lehernya yang tidak gatal.


"habib....." nafik gemas dengan tingkah suaminya itu.


"mi....paz. .. mau cium...." kata daz lagi membuyarkan kesibukan bibi dan miminya.


"sini sini. .. boleh. ...." nafik mendekat kan wajahnya. faz mencium pipi kiri miminya di ikuti alwi tak mau ketinggalan momen dia mencium pipi kanan nafik lagi.


" paz sayang sama mimi. ..." celoteh anah 3 tahun itu.


"faz....." nafik haru mendengar nya.


"nanti lo.. paz ikut bibi.... mimi jangan kangen ya....!" lanjut faz bicara pada sang mimi di sela sela makan puding.

__ADS_1


"faz....." desah sang mimi haru


"paz ..... juga akan kangen. tapi tidak akan mengis lagi. .. paz janji" jujur anak itu tidak tau kalo ucapannya sudah membuat sang mim menang haru karenanya.


"anak soleh.... nanti mimi akan segera pulang juga kok bersama kita nak" hibur alwi faz dengan cuek melanjutkan lagi makan nya.


alwi melihat sang istri sudah mulai melo. airmata sudah membasahi seluruh pipi nya. yang tak bercadar.


rasanya ada sebongkah batu dihantam kan kedada nafik. sakit dan sesak. anak sekecil itu tau akan perasaan yang menyakitkan. alwi meraih sang istri dalam dekapan berharap bekesedihan mereda dan hilang seketika.


sedang faz asik makan puding kegemaran tanpa terusik tangisan sang suami, mimi yang tidak terdengar sama sekali. hanya bulir air mata yang membasahi pipi nya.


"ternyata sesakit ini perasaan mereka bib... zaujah merasa sangat berdosa selalu mementingkan keinginan sendiri" nafik ingat ayah bundanya. dia baru tau rasa takut jauh dan kehilangan anak. kini nafik merasakan sendiri.


" itu namanya takdir bidadari jangan di pikirkan" hibur alwi sambil mendekap nafik


suasana kembali hangat alwi dan nafik menemani sang putra makan sambil bercerita sediri ala anak anak.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2