
Semua anggota inti keluarga sudah datang tiba di mesir sore tadi. kini semua kumpul di rumah ammun Ibrahim sedang alwidan nafik akan tinggal di apartmen mereka besama alim dan mar untuk menginap. ida sudah ada bersama keluarga.
suasana ramai hanggat apa lagi setelah melihat perut nafik yang membesar membuat mereka merasa sangat heboh. bundan juga ikut di rombongan itu tanpa ayah. karna alim ikut mesti ada yang jaga pesantren. nafik di hujani banyak perhatian wejangan dan pesan pesan seputar kehamilan.
sedang abi memberi alwi nasihat seputar tanggung jawab menjadi seorang ayah. yang punya beban tangung jawab yang lebih sebagai seorang pria. apa lagi dengan megiatan ang di lakukan nafik.
setelah membicarakan tentang anak obrolan berganti dengan persiapn pernikahan ida. semua tangung jawab di lakukan oleh alwi dan kholil sendiri.
tadi mereka sudah kenalan dengan calon pengantin pria kholil pun masih di sana. biar lebih mengenal anggota keluarga calon istrinya. ternyata tidak seperti yang di khawatirkan kholil . dia takut akan terlalu rikuh dan sungkan. tap melihat mereka menerima dengan tangan terbuka membuat kholil senang bukan kepalang. apa lagi dari tadi abi selalu memuji nya pada hal alwi hanya menceritakan sedikit tentang kholil. abi merasa sudah tenang bisa menitipkan sang putri tercinta. usia tidak masalah yang penting keseriusan dan tangung jawab. itulah yang di lihat abi dari khoil.
"mas kenal mbak ida dari mana?" tanya hasan mengakrabkan diri.
"dari mbak naf" jawab kholil tegas
"mas kebal mbak naf?" husain jadi kepo.
"kami teman smp di semarang" jawab kholil jujur.
"temen.... apa demen" goda hasan yang memang dua yang agak lenjeh.
plaaaaak....
sebuah gulunga koran mendarat di kepala hasan sedang husain cuma nyengir lihat kembaran nya.
"aduh. .. ak... sakit" hasan meng aduh.
__ADS_1
" iya nih.... sadisnya nggak ilang ilang" grutu husain
"mbak naf... kak al nakal nih..." hasan mengadu merajuk pada nafik.
"kenapa?" tanya nafik manis.
"masak aku di pukul pakai ini" hasan menunjuk koran yang terlinting yang ada di depan alwi.
"abi.... bibi... ingat istri lagi bunting. .. jangan kasar kasar. .. nanti walatnya niru" ujar sarkasme nafik
"nggak.... cuma mengendalikan mimi sayang" bela alwi pada diri sendiri. saat hasan mau salah ucap.
"sukurin...." hasan meledek alwi.
"kunciin di luar mbak. ... jangan biarin tidur di kamar" koar hasan lagi.
hasan husain bengong melihat ekspresi nafik mode marah. Setelah hamil dia mudah emosi dan moodnya mudah berubah rubah.
obrolan berlanjut lagi menghangatkan suasana. hasan dan husain selalu bisa mencairkan suasana dengan celotehan riang gaya mereka.
"mas kholil masih kuliah?" tanya husain
"iya...semester 8." jawan kholil singkat.
"usia mas?" lanjut hasan
__ADS_1
"20....." jawab kholil cepat.
"wah beda 3thn dong dari mbak ida" kata hasan
"tuaan mbak ida?" husai ingin pastikan.
"iya...ya... mbak.... mbak ida sadar nggak mbak nikah sama brondong?" husan mulai nelancarkan aksinya.
" berondong?" tanya ida tidak faham.
"iya... kak kholil kan lebih Muda dari mbak... nggak malu?" ledek sang adik.
si kembar meledek habis habisan kakak nya karena punya suami brondong. kholil merasa malu dengan ledekan calon adik iparnya. tapi ida yang sudah kenal dan hapal dengan adik nya hanya senyum meladeni si kembar.
"kenapa mesti malu....? yang penting itu bukan berapa usia tapi seberapa dia dewasa. tanggung jawab sebagai seorang muslim. ... yang tahu hukum sareat." bela ida mati mati an.
"terima kasih. ...." ucap kholil.
"ah... nggak seru...." hasañ kecewa dengan respons sang kakak.
"dasar kalian" protes ida pada sang adik
semua hanya bisa geleng geleng dengan tingkah anank itu. Sebagai orangtua hanya bisa ikut bahagia melihat anak anak mereka tumbuh dewasa. dewasa dalam arti sebenarnya bukan cuma fisik tapi juga pikiran dan pengetahuan.
.
__ADS_1
.
.