Calon Makmum Putra Kyai

Calon Makmum Putra Kyai
Penjelasan Alim dan Mar ah pada Alwi.


__ADS_3

Ahirnya semua tau dengan kemarahan Alwi. apa lagi nampak sangat jelas perubahan sikap nya. alim tau kekhawatiran alwi saat mendengar ucapan janji sang adik pada istrinya. tapi dia tau keadaan mental mereka.


mar ah yang cenderung labil dalam berfikir selalu mudah terpengaruh dengan ucapan orang lain. gampang sedih bisa di bilang sangat cengeng dalam. menyikapi semua masalah . selalu menangis jika ada sesuatu yang membuat sedih .


sedang nafik sangat mandiri dengan semua kedaan. bahkan kelewatan mandiri. sedari kecil tinggal jauh dari orangtua. ikut beberapa kerabat dan tinggal di pondok semua kesedihan ketakutan kekhawatiran sudah menjadi mekanan sehari hari.


apa lagi sekarang alwi yang nampak sangat posesif terhadap sang istri nafik selalu bisa meladeni dengan perasaan santai dan dengan senang hati.


"al..... kalian sedang bertengkar?" tanya alim yang duduk di sebrang alwi.


"oh... tidak kak" alwi berusaha menutupi.


"jangan bohong al... Beberapa hari ini aku lihat kamu selalu diam dan cuek pada nafik" alim yang kenal alwi tau gelagat iparnya itu.


"sekarang sudah tidak kak..." jujur alwi.


"benar?" alim menegaskan kecurigaan.


" iya..." alwi menegaskan.


"dia sedang hamil al kadang emosi nya labil kamu harus sabar" kata alim bijak.


"bukan dia yang labil. .. tapi aku" pikir alwi sambil senyum tipis.


"memang kak alim tau apa.... kami tidak ada masalah?" tanya alwi.


"kamu sekarang bisa menyembunyikan tapi gelagat kamu tidak bisa di tutupi" juju alim sangat tau seakan akan dia bisa membaca pikiran.


"sudah klir kak...." jujur alwi dengan tetap ingin menutupi.


"atau sebenar semua itu karena ucapan naf yang janji pada istriku mengenai bayi kalian?" tebak alim alwi tersentak.


"benar kah gus has?" mar ah yang baru datang ikut nyaut.


ada semburat kekhawatiran di wajah nya. apa yang dia lakukan sudah melukai hati alwi. mar ah jadi merasa bersalah.

__ADS_1


"sudah jangan di bahas lagi!" mohon alwi menenagkan.


"tapi kami harus mejelaskan biar tidak ada masalah" kata alim bijak dia akhirnya tau.


"afwan. ya gus...." mar ah melas.


"tidak apa mbak aku yang terlalu sensitif menyikapinya" jawab alwi berusaha menenangkan.


"aku hanya ingin di izinkan boleh menyayanginya tidak untuk ambil anak kalian" penjelasan mar ah


"tu.. dengar al" pinta alim.


"manaf sudah mengatakan itu" setuju alwi atas penjelasan alim


"maaf al... keadaan mbakmu memang begitu" alim menarik nafas. mencari kelegaan di dirinya.


"afwan ya mas... merepotkan mu" mar ah menangis. selalu begitu senang sedih selalu ada air mata.


ada semburat kesedihan di wajah mar semua tentang kekurangan nya. alim melihat itu menarik duduk sang istri di sisinya. merangkul dan menenagkan.


Bagaimana alim melewati semuanya selama ini. memikirkanya saja alwi tidak sanggup. kini dia sangat bersyukur ada sosok bidadari yang selalu menjadi pemenang dalam emosinya. selalu dewasa dalam menyilapi kemanjaan nya. alwi sungguh sangat beruntung.


"hei kenapa ada tangis tangis?" nafik yang baru datang merasa heran.


"ah tidak" mar ah menghapus air mata di bantu sang suami.


"mbak bilang kalo kak alim nakal biar aku jewer!" ancam nafik menatap dengan tatapan smiks pada kakak kesayangannya.


" tidak dek..... mbak mu.." alim berusaha menjelaskan tapi terpotong ucapan istrinya


"jangan. .. nanti mas kesakitan" ucap mar manja


"aduh... manjanya" ledek nafik.


"kalo bidadari mau manja sini!" tawar alwi main mata pada sang istri alim hanya senyum melihat kelakuan alwi.

__ADS_1


"nggak.. sama habib jadinya nggak manja. .." protes nafik.


"ayo... sini!" perintah alwi menyaut lengan nafik.


"habib...." protes nafik kesal.


alwi menarik nafik kepangkuanya. dengan cepat direngkuh hangat di dekapan dada nya. dan nafik sedikit meronta karena paksaan suaminya. ida dan kholil yang baru keluar dari kamar pun melonggo melihat adegan itu.


"habib lepas dilihat orang" nafik meronta


"kenapa?" tanya alwi.


"malu. .. bib" nafik menutup mukanya.


"ngapain malu.... kalo mereka pigin lakuin sendiri sama pasangan masing masing. ... lowong mereka punya sendiri sendiri " alasan alwi tak peduli.


"dasar mesum" bisik nafik


"jangan bisik zaujah..... nanti habib bisa kepingin" nafik mendelik menatap suaminya. rasanya ingin nabok sama sandal biar diam.


"aduh. .. mesranya lewati yang baru kawin" ledek alim ida dan kholil saling menatap geje.


mereka ngobrol hangat sampai malam. akhirnya alwi melepas pelukan saat nafik selalu meronta. gerakan dan gesekan itu meronta kan iman nya dan alwi tidak sabar menerkam bidadari nya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2